
Mentari begitu hangat menyapa pagi. Sinarnya mampu menguatkan jiwa-jiwa yang sedang menanggung beban kehidupan begitu berat. Namun, tidak dengan Alisia. Beberapa menit lagi ia akan masuk ke dalam kehidupan yang menurutnya lebih pantas disebut neraka.
Tangannya mengepal begitu kuat dengan sempurna. Benih-benih kebencian semakin tertanam di dalam hatinya, apalagi kepada seorang laki-laki yang kini sedang duduk di pinggirnya.
Seumur hidup Alisia tidak akan pernah memaafkan Marvin dan laki-laki yang bersedia dinikahkan dengannya.
"Andrian Raka Ramatha bin Setyo Kusuma saya nikahkan dan kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Alisia Tsabina dengan maskawin tersebut, tunai," ucap wali dari mempelai perempuan.
"Saya terima nikah dan kawinnya Alisia Tsabina binti Marvin Gumelar dengan maskawin tersebut, tunai."
"Sah?"
"Sah. Alhamdulillah," jawab semua orang yang berada di situ sembari dipenuhi rasa suka cita.
Sementara tidak dengan Alisia. Perasaannya begitu membara saat mendengar Andrian mengucapkan kabul beberapa detik yang lalu. Namun, ia juga tidak ada pilihan selain dari berdiam diri dan terpaksa menyetujui pernikahan yang tidak diinginkannya ini.
Ini adalah mimpi terburuk dalam hidupnya. Bahkan, rasanya ia ingin mengutuk laki-laki yang terlihat begitu bahagia saat dinikahkan dengannya. Alisia sama sekali tidak tahu bahwa laki-laki yang kini telah resmi menjadi suaminya adalah teman kecilnya dulu.
Sementara Andrian melirik ke arah Alisia dengan tatapan penuh kebahagiaan. Teman kecilnya dulu kini berada tepat di sampingnya dan telah resmi menjadi istrinya.
Cantik sekali kamu, Alisia.
Andrian tersenyum begitu manis melihat kecantikkan Alisia yang tidak pernah luntur sedari kecil. Meskipun sudah hampir lima belas tahun tidak pernah ketemu dengan Alisia, namun perasaan suka nya kepada Alisia masih begitu kuat dalam hatinya.
Tidak berlangsung lama para tamu undangan pulang kembali ke rumahnya. Sedangkan Marvin dan keluarga Setyo berbincang-bincang begitu hangat di ruang keluarga, termasuk dengan Andrian. Sementara Alisia tidak ikut kumpul keluarga, ia lebih dulu masuk ke kamarnya.
"Alisia kok gak ikut kumpul?" tanya Gina. Istri Setyo.
"Mungkin dia sedang mempersiapkan dirinya. Semalaman dia gak tidur juga, mungkin kelelahan," jawab Marvin meyakinkan.
Meski sebenarnya Marvin tahu bahwa Alisia sangat tidak menginginkan pernikahan ini. Namun, tidak ada pilihan lain bagi Marvin selain menikahkannya.
"Saya percaya kamu bisa menjaga Alisia dengan baik," ucap Marvin mengalihkan pembicaraan.
"Iya, Om. Doakan saja semoga saya bisa menjaga Alisia," sahut Andrian tersenyum begitu manis.
Bagi Andrian rasanya seperti mimpi saat ia menikah dengan Alisia. Perasaan suka kepada Alisia yang sedari kecil ia pendam begitu dalam, kini telah menjadi kenyataan yang begitu membahagiakan. Saat mengucapkan kabul, dalam hatinya Andrian telah berjanji sehidup semati untuk menjaga Alisia.
"Untuk beberapa hari ke depan kamu tinggal di sini dulu ya. Saya secepatnya akan carikan rumah baru untuk kamu dan Alisia di Yogyakarta. Kamu lanjut dengan kuliah kamu dan katanya Alisia juga ingin melanjutkan pendidikannya. Kamu bimbing aja dia ya," ungkap Marvin.
"Mmm, tidak usah repot-repot, Om. Saya juga di sana tinggal di rumah yang Papa berikan," tolak Andrian.
Setyo dan Gina hanya tersenyum dan menyimak pembicaraan Marvin dan Andrian.
__ADS_1
"Udah gapapa. Biar saya carikan rumah baru. Supaya Alisia juga betah," paksa Marvin dengan sedikit mengecilkan volume suaranya.
"Gimana, Set? Kamu setuju?" tanya Marvin sambil tertawa kecil.
"Setuju. Saya setuju banget. Saya juga percaya Andrian bisa menjaga Alisia dengan baik," jawab Setyo.
Obrolan Marvin dan keluarga Setyo terus tersambung. Ada begitu banyak pembahasan dan rencana-rencana yang Marvin bicarakan kepada keluarga Setyo. Begitu pun sebaliknya.
Setelah sekian lama, dilihatnya jam di dinding sudah menunjukkan pukul 18:30 WIB. Setyo dan Gina pun berniat untuk pamit pulang kepada Marvin.
"Mama sama papa pulang dulu ya, Sayang. Kamu jaga baik-baik Alisia. Awas aja ya kalau kamu bikin dia nangis, kamu yang akan mama marahin," jelas Gina kepada Andrian.
Marvin dan Setyo tertawa bersama melihat Gina menceramahi Andrian.
"Oh, iya. Andrian kalau bisa jangan dulu malam pertama ya. Takutnya Alisia belum siap," sambung Marvin menyindir.
Gina dan Setyo turut serta tertawa mendengar sindiran dari Marvin.
Andrian hanya tersenyum melihat tingkah keluarganya dan Marvin. Ia begitu bahagia saat melihat kehangatan kedua keluarganya.
"Biar papa nanti yang ngomong sama dosen kamu ya. Untuk beberapa hari ke depan kamu di sini dulu aja," ucap Setyo.
Sejurus kemudian Setyo dan Gina berpamitan pada Marvin dan Andrian. Bagi Setyo perjodohan ini adalah perjodohan yang sangat ia nanti-nantikan. Bukan karena kekayaan Marvin yang sangat melimpah, akan tetapi karena ia pun merasa bahwa Alisia lah yang tepat menjadi menantunya.
Marvin melambaikan tangannya dan tersenyum melepas kepulangan Setyo dan Gina.
Sejurus kemudian, Marvin dan Andrian kembali masuk rumah.
"Mmm, ada kamar kosong gak, Om?" tanya Andrian hati-hati.
"Kamar kosong? Buat apa?" tanya Marvin heran.
"Mmmm, anu, Om. Buat saya tidur malam ini," jawab Andrian ragu.
Ia belum siap jika harus sekamar langsung dengan Alisia. Meski dirinya begitu dekat dengan Alisia ketika kecil, akan tetapi ia tetap merasa begitu canggung.
"Astaga, kamu tidur bareng sama Alisia. Gak usah beda kamar."
Marvin menggelengkan kepalanya. Bahkan, saat sudah sah pun Marvin tidak menyangka bahwa Andrian menyetujui perjodohan itu bukan karena nafsu. Terbukti dari Andrian yang ingin memisahkan diri dari Alisia. Ia merasa pilihannya sudah sangat tepat.
"Tapi, Om--"
"Udah gak usah tapi-tapian," potong Marvin.
__ADS_1
"Alisia pasti sudah menunggu kamu di kamarnya," lanjut Marvin meyakinkan Andrian.
"Baiklah kalau gitu, Om."
Dengan terpaksa Andrian menyetujui perintah Marvin untuk tidur sekamar dengan Alisia.
"Ya udah, saya ke kamar dulu ya. Ingat, perlakukan malam ini Alisia dengan baik. Jangan terlalu kasar mainnya," ujar Marvin berbisik kepada Andrian.
Sedangkan Andrian hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya. Sejurus kemudian ia berjalan menaiki anak tangga menuju kamar Alisia. Sementara koper bajunya dibawakan oleh Vino yang mengikutinya dari belakang.
"Kamar Alisia sebelah mana?" tanya Andrian.
"Tuan lanjut saja, nanti saya tunjukkan di mana kamar Non Alisia," jawab Vino dengan suara yang begitu hormat.
Andrian terus melanjutkan langkahnya dengan dipenuhi rasa yang ia sendiri tidak bisa menjelaskan seperti apa. Bahagia bercampur takut mengiringi langkahnya menuju kamar Alisia.
"Di sini Tuan kamarnya," kata Vino sesaat setelah berada di depan kamar Alisia.
"Oke. Terima kasih," ujar Andrian sambil tersenyum.
Pintu kamar itu terhias dengan hiasan yang begitu indah. Seperti kamar pengantin biasanya yang sengaja dihias agar malam pertamanya menjadi malam sangat membahagiakan.
Ditariknya napasnya begitu dalam dan perlahan dikeluarkannya. Andrian mengumpulkan keberanian untuk membuka pintu kamar Alisia. Sedetik kemudian, dengan sangat hati-hati Andrian membuka pintu itu.
Dilihatnya Alisia sedang mengikat rambutnya dan menghadap ke cermin. Seketika Andrian teringat masa kecilnya dulu, saat Alisia menyuruhnya untuk mengikat rambutnya.
Tanpa sadar senyumnya menyungging di bibirnya dengan begitu manis saat melihat Alisia pun ternyata memerhatikannya di pantulan cermin itu. Andrian berusaha agar semuanya terlihat baik-baik saja. Sejurus kemudian, ia menutup pintu kamar.
"Lo harus tenang Andrian," ucap Andrian dengan suara yang begitu pelan. Ia berusaha untuk lebih menenangkan dirinya.
"Dibayar berapa lo sama bokap gue sampai bersedia dinikahin sama gue?"
Belum saja Andrian membalikkan badannya setelah menutup pintu kamar, ia sudah mendapat pertanyaan yang begitu mengagetkan dirinya.
(*)
SEMOGA SUKA YA, GUYS. ❤
INSYA ALLAH AKAN UPDATE SETIAP HARI.
JANGAN LUPA VOTE SAMA KOMENTARNYA BIAR AUTHOR LEBIH BAIK LAGI.
SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA. ❤❤
__ADS_1
OH IYA, KENALAN LEBIH DEKAT SAMA AUTHOR YUK. DI Ig: @Ulfah_Khoi