Sengaja Mencintaimu Untuk Kausia-siakan

Sengaja Mencintaimu Untuk Kausia-siakan
Kebencian Alisia


__ADS_3

Sontak Andrian terperangah mendengar suara Alisia yang menggedor-gedor pintu kamar mandi. Padahal ia baru saja menyabuni badannya dan mengeramasi rambutnya.


"Iya sebentar, gue belum beres," teriak Andrian.


"Cepetan buka pintunya!" Alisia masih menggedor-gedor pintu kamar mandi.


"Gue belum beres mandinya," sahut Andrian mempercepat mandinya.


"Pokoknya cepetan buka atau gue dobrak nih pintunya?" Alisia terkekeh. Ia tidak bisa menunggu Andrian lebih lama lagi.


Dengan sigap Andrian langsung mematikan shower kamar mandi. Baru saja ia membuka kunci pintu kamar mandi itu, Alisia dengan cepat langsung mendorong pintu itu.


"Iya sebentar--" ucap Andrian.


Matanya terbuka begitu lebar diiringi dengan mulutnya yang sedikit terbuka.


"Apa yang gue lihat barusan?"


Secepat kilat Alisia membalikkan badannya membelakangi Andrian sesaat setelah melihat Andrian tidak memakai baju sehelai pun. Kedua tangannya menutupi wajahnya.


"Lo yang sopan dikit dong!" sergah Alisia.


Bukannya meminta maaf, Alisia malah mengumpati Andrian.


"Ya gue belum sempat pake handuk, lo udah mendorong pintunya," sambung Andrian yang baru saja selesai memakai handuk.


"Makanya cepetan pakai handuknya!" suruh Alisia memaksa.


"Gue udah pakai handuk," ucap Andrian singkat.


Alisia mengarahkan pandangannya ke sisi kanan, akan tetapi belum membalikkan kembali badannya.


"Beneran lo?"


"Beneran. Lihat aja sendiri!" suruh Andrian.


Dengan begitu hati-hati Alisia membalikkan badannya dan memejamkan matanya. Ia tidak ingin melihat sesuatu yang tidak sengaja tadi ia lihat begitu jelas. Perlahan Alisia membuka matanya dan terlihat Andrian sudah memakai handuk.


"Kenapa?" tanya Andrian datar.


Sebenarnya ia ingin sekali tertawa melihat tingkah laku Alisia yang menurutnya begitu lucu. Namun, ia berusaha untuk menahan tawanya.


"Lo nyebelin ya. Berani-beraninya lo sama gue," umpat Alisia dengan raut wajah kesal.


Andrian mengangkat kedua alisnya.


"Maksud lo?" Andrian sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan oleh Alisia.


"Ngapain lo mandi pagi-pagi?" tanya Alisia.


Ia masih menyangka bahwa semalam Andrian telah menyentuhnya.


"Emangnya gue gak boleh mandi pagi-pagi?" tanya Andrian keheranan.


Pertanyaan Alisia membuat Andrian kebingungan. Sedari tadi menggedor-gedor pintu kamar mandi hanya untuk menanyakan sesuatu yang tidak penting sama sekali.


"Ya boleh, tapi buat apa lo mandi pagi-pagi?"


Alisia kebingungan sendiri dengan pertanyaannya. Sementara Andrian menatap Alisia dengan tatapan penuh tanda tanya.


"Maksud gue, lo nyentuh gue kan semalam?" tukas Alisia.

__ADS_1


Tidak ada bukti sama sekali yang menunjukkan Andrian telah menyentuh Alisia, akan tetapi Alisia menuduhnya karena melihat Andrian mandi pagi-pagi. Sungguh, konyol sekali.


Andrian mengerutkan kedua alisnya, sedetik kemudian ia tertawa terbahak-bahak sembari menggelengkan kepala.


"Kenapa lo ketawa? Gak ada yang nyuruh ketawa," ujar Alisia semakin kesal.


Perlahan Andrian berjalan keluar dari kamar mandi dan mendekati Alisia.


"Lo mau gue sentuh?" tanya Andrian sembari memaksa mundur Alisia.


Saat sedang seperti ini, bagi Andrian melihat Alisia semakin membuatnya jatuh cinta.


"Lo jangan berani-berani ya nyentuh gue! Gue laporin ke Papa lo," ancam Alisia.


"Jadi kenapa nuduh gue nyentuh lo?"


Andrian masih berjalan maju, begitu pun dengan Alisia yang berjalan mundur karena Andrian semakin mendekatinya.


"Ada bukti gue nyentuh lo?" tanya Andrian.


"Ya gak ada, ya tapi lo harusnya jangan mandi pagi-pagi," jawab Alisia dengan suara yang kelimpungan.


Andrian semakin membuka matanya lebar-lebar, ia tidak kuat menahan tawanya melihat tingkah Alisia.


"Jadi maksud lo kalau gue mandi pagi-pagi gue semalam udah nyentuh lo?"


Alisia tidak bisa lagi berjalan mundur, badannya sudah berada tepat di depan tembok kamar. Sedangkan kedua tangan Andrian lurus menyentuh tembok, seolah tidak mengizinkan Alisia untuk pergi.


"Bukan gitu maksud gue." Alisia membela diri. Ia tetap tidak mau kalah.


"Jadi?" selidik Andrian mendekatkan wajahnya ke Alisia.


"Ya, gak ada jadi-jadian," jawab Alisia.


Andai lo tahu betapa bahagianya gue saat memandangi lo seperti ini. Dulu kita hanya sebatas teman kecil yang kemudian terpisahkan, sekarang lo telah jadi pendamping hidup gue, batin Andrian.


Tanpa sadar Andrian senyum-senyum sendiri sembari memandangi Alisia.


Ngapain nih orang senyum-senyum lihat gue? batin Alisia.


Meskipun bangun tidur, tapi masih kelihatan cantik sekali, batin Andrian.


Perlahan ia semakin mendekatkan dirinya pada Alisia. Memandangi Alisia dari jarak yang sangat dekat membuatnya refleks mendekatkan bibirnya ke bibir Alisia.


Toktoktok ...


Terdengar suara ketukan pintu kamar yang membuat Alisia dan Andrian terkejut. Sejurus kemudian, Andrian langsung menjauhi Alisia dan bergegas membuka pintu kamar.


"Untung gue selamat," kata Alisia mengelus dadanya.


"Maaf, Tuan. Tadi Tuan Marvin menyuruh Tuan Andrian dan Non Alisia untuk sarapan bareng," ucap salah satu pembantu yang ada di rumah itu.


"Oke. Lima menit lagi saya bersama Alisia turun," sambung Andrian.


Sedetik kemudian, ia bergegas memakai baju dan bersiap-siap untuk sarapan bareng dengan Marvin.


"Selamat pagi, Sayang," sapa Marvin saat melihat Alisia dan Andrian berjalan mendekatinya.


Alisia tidak membalas sama sekali sapaan dari Marvin. Bahkan, untuk membalasnya dengan senyuman pun tidak sama sekali. Sampai kapan pun ia akan membenci Marvin dan Andrian.


"Pagi, Om," sapa Andrian sembari tersenyum penuh hormat.

__ADS_1


Sejurus kemudian, Andrian dan Alisia mengambil bagian duduk di dekat Marvin.


"Saya sudah siapkan rumah di Yogyakarta untuk kalian berdua. Jadi, nanti kalian bisa tinggal di rumah itu, biar lebih nyaman dan Andrian dekat ke kampus juga," jelas Marvin.


Kini Marvin tidak lagi merasa takut Alisia akan terjerumus ke dalam pergaulan yang lebih kelam. Karena baginya, melihat putri semata wayangnya dijaga oleh seorang laik-laki seperti Andrian adalah pilihan terbaiknya.


"Wah, padahal tidak usah repot-repot, Om," sambung Andrian sambil mengambil segelas air putih dan meminumnya.


"Gak usah pura-pura nolak lo, udah dapat bayaran gede karena mau di nikahin sama gue? Eh, sekarang dapat rumah juga. Enak banget hidup lo," tukas Alisia sinis.


Sontak Marvin melirik ke arah Alisia dan terlihat raut wajah Alisia yang begitu pahit.


"Alis! Jaga mulut kamu!" sergah Marvin.


Belum saja beranjak siang, Alisia sudah mulai memancing keributan. Sikap Alisia benar-benar membuat Andrian semakin kebingungan. Ia tidak mengerti mengapa dari tadi malam Alisia terus-menerus membicarakan bahwa dirinya menikahi Alisia karena sebuah bayaran.


"Mulut Alis dari tadi dijaga kok. Gak lari ke mana-mana," sahut Alis dengan santai sambil mengunyah sepotong roti tawar yang berisi daging dan keju.


"Alis!"


Suara Marvin semakin tinggi. Tingkah Alisia membuat Marvin menjadi marah.


"Sudah, Om, sudah. Gak enak kalau lagi makan tapi malah diisi dengan perdebatan," cegah Andrian berusaha menenangkan Marvin.


"So baik lo. Males gue," lirik Alisia dengan tatapan begitu sinis kepada Andrian.


Tanpa basa-basi Alisia langsung pergi meninggalkan meja makan. Seperti tidak pernah diajarkan sopan santun. Datang tanpa menyapa, pergi tanpa pamit.


"Alis! Ke mana kamu?" teriak Marvin melirik ke arah Alisia.


"Alis!"


"Sudah Om gapapa. Jangan dikejar!" cegah Andrian menggenggam tangan kanan Marvin yang berniat menyusul Alisia.


"Tapi Alisia sudah keterlaluan," sergah Marvin.


"Sudah, Om. Mungkin Alisia lagi badmood aja hari ini atau mungkin Alisia lagi halangan," lanjutnya.


Sekali lagi Andrian berusaha agar Marvin tidak memarahi Alisia. Namun, di balik itu semua ia pun merasa ada kejanggalan yang tidak ia ketahui mengapa sikap Alisia berubah begitu drastis.


Marvin kembali duduk dan untuk sekejap ia memejamkan matanya dan menarik napas dalam-dalam.


"Maafin sikap Alisia ya," ucap Marvin.


"Gapapa, Om. Santai aja."


Dari semalam sebenarnya ia ingin menanyakan hal ini pada Marvin, akan tetapi ia takut pertanyaannya menyinggung perasaan Marvin.


"Mmmm, Andrian mau nanya, Om," lanjut Andrian dengan suara yang begitu hati-hati.


"Iya nanya apa?" tanya Marvin kembali.


"Mohon maaf nih sebelumnya, apakah Alisia bersedia menikah dengan saya itu karena keinginannya?" tanya Andrian menyelidiki.


DEGH!


Seketika Marvin langsung teringat pada Setyo. Malam itu ia berpesan kepada Setyo agar tidak pernah memberi tahu Andrian mengapa mereka menjodohkannya. Termasuk masa lalu Alisia yang dianggapnya sudah di luar batas wajar.


(*)


SEMOGA SUKA YA GUYS. ❤

__ADS_1


JANGAN LUPA VOTE, LIKE, DAN KOMENNYA BUAT DUKUNG AUTHOR.


SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA. ❤


__ADS_2