
Dari tingkah laku Alisia sebenarnya Marvin sudah tahu jawabannya seperti apa. Namun, ia ingin lebih memastikan keyakinannya bahwa Alisia menikahinya bukan karena keinginannya.
Marvin berdeham sekejap untuk mengambil aba-aba dalam menjawab pertanyaan Andrian.
"Sebenarnya saya sengaja menikahkan Alisia dengan kamu. Mungkin ini bukan keinginannya Alisia," ungkap Marvin.
Begitu berat untuk Marvin membicakan semuanya. Ia tahu setelah mendengar kebenaranya mungkin Andrian akan merasa kecewa kepadanya. Sedetik kemudian, ia mengalihkan pandangannya dari Andrian.
"Alisia kecil dengan Alisia sekarang sangat jauh berbeda. Dulu, dia anak yang penurut, ceria, penuh sopan santun. Tetapi sekarang dia tidak lagi sama seperti dulu. Saya sengaja menikahkan dia dengan kamu karena saya tidak ingin Alisia terjerumus ke dalam pergaulan yang salah, dan saya percaya kamu adalah laki-laki yang tepat untuk Alisia," lanjut Marvin menjelaskan.
Sebenarnya ia sama sekali tidak ingin memberi tahu Andrian, akan tetapi sikap Alisia tidak memberi Marvin pilihan untuk membicarakan sejujurnya kepada Andrian.
"Pergaulan yang salah?" Andrian mengerutkan kedua alisnya.
"Iya. Semasa SMA nya Alisia bergaul dengan orang-orang yang membuatnya lupa diri. Saya takut jika nanti dia kuliah, dia akan lebih terjerumus lagi," jelas Marvin.
Ia teringat kembali pada beberapa cetakan foto yang isinya potret Alisia dengan seorang laki-laki yang dianggapnya itu adalah perilaku yang tidak senonoh dan sudah di luar batas wajar.
Sebagai seorang anak, Andrian juga memahami kekhawatiran orang tuanya seperti apa kepadanya. Begitu pun dengan kekhawatiran Marvin kepada Alisia. Namun, di sisi lain ia merasa sedikit kecewa karena kejujuran ini terungkap setelah dirinya menikah dengan Alisia.
"Jadi, saya mohon kepada kamu untuk sebisa mungkin menjaga Alisia. Dia sudah tidak bisa lagi diatur oleh saya. Buat dia jatuh cinta sama kamu," lanjut Marvin menatap Andrian dengan serius.
Apa yang dipikirkan Andrian ternyata sama sekali tidak salah menyangka. Sikap Alisia yang begitu kecut membuatnya sampai menanyakan hal tersebut kepada Marvin.
"Dari sikap Alisia, padahal kami dulu adalah teman baik, bahkan mungkin sahabat. Tapi sekarang terlihat seperti orang asing yang sama sekali tidak mengenali saya. Kenapa ya, Om?" tanya Andrian keheranan.
Baginya, bukan permasalahan yang besar saat ternyata Alisia dengan terpaksa dijodohkan dengan dirinya. Namun, satu hal yang ia tidak mengerti mengapa seolah-olah Alisia sama sekali tidak mengenalinya.
"Dan ketika acara pernikahan kemarin pun Alisia seolah tidak mengenal Papa dan Mama saya. Padahal dulu dia sering sekali main ke rumah kami," lanjut Andrian bertanya-tanya.
Seketika Marvin pun merasa aneh. Padahal, dulu Alisia sangat menginginkan pasangan seperti Andrian. Akan tetapi sekarang dilihat dari sikapnya sangat bertolak belakang.
Marvin terdiam sejenak. Ia berusaha memutar ingatannya pada masa lalunya.
"Apa benturan waktu itu membuat Alisia hilang ingatan?"
Marvin berusaha mengingat-ingat masa kecil Alisia. Sementara Andrian terperangah dan semakin penasaran dengan ucapan Marvin.
"Maksud, Om?" selidik Andrian.
"Dulu ketika Alisia berusia lima tahun dia sempat terjauh dari tangga. Sampai waktu itu kepalanya mengalami pendarahan berat," ungkap Marvin.
Ketika Alisia berusia empat tahun ia menghabiskan waktu mainnya dengan Andrian. Namun, ketika Andrian dan orang tuanya pindah rumah, tidak ada lagi yang menemaninya bermain.
"Ketika Alisia lima tahun? Waktu itu saya udah pindah rumah," sambung Andrian pun berusaha mengingat-ingat.
Sebagai laki-laki yang sudah lanjut usia, Marvin sekuat mungkin untuk mengingat-ingat kembali masa di mana Alisia sempat terjatuh dari tangga.
__ADS_1
Ia memejamkan matanya dan mencoba mengulang kembali ingatannya.
"Mungkin ini butuh waktu untuk Alisia mengingat semuanya," ucap seorang dokter sesaat setelah menangani operasi Alisia.
"Saya ingat," ucap Marvin terkejut dan membuka matanya.
"Dulu dokter yang menangani operasi Alisia bilang bahwa Alisia membutuhkan waktu untuk mengingat semuanya," lanjut Marvin.
Ia pun tidak menyangka bahwa ucapan dokter itu adalah pertanda bahwa Alisia telah kehilangan ingatannya.
Sungguh, ini di luar dugaan bagi Andrian. Akan sangat sulit untuk membuat Alisia jatuh cinta kepadanya. Namun, meski begitu ia tidak akan menyerah begitu saja kepada Alisia. Janji yang ia ucapkan ketika pernikahannya dengan Alisia akan ia pegang sampai akhir hayatnya.
"Iya, gak salah lagi waktu Alisia lima tahun dia kehilangan ingatannya, yang mungkin dia pun tidak ingat kepada kamu," ujar Marvin melanjutkan.
"Bagaimana mungkin? Pantas aja Alisia melihat saya seperti melihat orang asing," ucap Andrian.
Alisia kini sudah berusia sembilan belas tahun. Jarak dari usia lima tahun sampai pada sembilan belas tahun itu sangat jauh, dan semenjak itu Alisia sama sekali tidak pernah ketemu dengan Andrian. Jadi, wajar saja jika sekarang Andrian terlihat seperti orang asing di mata Alisia.
Kini, tidak ada pilihan lain bagi Andrian selain dari berusaha sekuat mungkin untuk membuat Alisia jatuh cinta kepadanya. Apalagi sekarang mereka sudah sah menjadi sepasang suami istri. Apa pun alasannya Andrian harus tetap mempertahankan hubungannya dengan Alisia.
"Baiklah kalau begitu, Om. Saya akan berusaha untuk membuat Alisia kembali mengingat saya," lanjut Andrian.
Di sisi lain, Alisia ternyata masih berusaha untuk menelepon Edgar yang masih menjadi kekasihnya.
"Hallo, Edgar lo ke mana aja? Gue ngehubungin lo dari kemarin tapi nomor lo gak bisa dihubungi terus."
"Maaf, Sayang. Kemarin gue sibuk banget ngurus-ngurus persyaratan kuliah. Makanya gue sampai lupa waktu."
"Jadi lo lupa juga sama gue?"
"Ya enggak gitu maksudnya. Ya udah, sekarang kita ketemu ya biar gue jelasin semuanya. Gue tunggu lo di rumah."
Telepon itu terputus. Alisia langsung secepatnya bergegas mandi dan bersiap-siap untuk menemui Edgar. Tanpa rasa malu sedikit pun, ia tidak memikirkan bahwa dirinya sudah memiliki suami.
Alisia adalah tipe perempuan yang sangat suka merawat diri. Ia pun sangat suka merias diri. Itulah mengapa Alisia selain terlihat cantik, ia juga terlihat bersih dan terawat.
Dengan memakai jeans warna biru muda dan atasan floral model sabrina yang simple akan tetapi terlihat anggun, juga dengan sneakers putih yang dikenakannya. Alisia tidak suka berpenampilan terlalu girly, maka dari itu ia tidak suka memakai high heels, melainkan lebih suka dan merasa nyaman memakai sneakers. Sungguh, terlihat sangat pas dan menarik bagi siapa pun yang melihatnya.
Perlahan tapi pasti Alisia menuruni anak tangga tanpa mempedulikan seperti apa nanti reaksi Marvin dan Andrian saat melihatnya.
"Mau ke mana kamu, Alis?" tanya Marvin yang masih duduk di meja makan bersama Andrian.
Seketika Andrian langsung mengarahkan pandangannya pada Alisia.
"Mau keluar," jawab Alisia singkat.
"Keluar ke mana?" selidik Marvin.
__ADS_1
"Ya terserah Alisia lah. Orang Papa juga terserah Papa nikahin Alisia sama orang lain," ketus Alisia.
Seolah tidak ada lagi tersisa rasa hormat dari Alisia untuk Marvin.
"Ya udah, kalau gitu Andrian nemenin Alisia dulu ya, Om," pamit Andrian sembari bangkit dari duduknya.
"Eh, eh, siapa yang nyuruh lo nganterin gue?" tanya Alisia terkejut.
"Ya udah, temenin Alisia! Jangan sampai dia ke mana-mana," suruh Marvin kepada Andrian.
"Denger gak sih? Gue gak nyuruh lo nganterin gue." Alisia terkekeh agar Andrian tidak mengantarnya.
Namun, Andrian lebih terkekeh untuk mengantarkan Alisia. Ia harus menjaga Alisia ke manapun Alisia pergi. Apalagi saat mengetahui bahwa pergaulan Alisia yang salah, ia tidak membiarkan Alisia lebih terjerumus lagi.
"Nyebelin banget sih," gerutu Alisia.
Tanpa basa-basi Alisia langsung bergegas dan Andrian pun mengikutinya dari belakang.
"Mau ke mana?" Andrian berusaha bertanya sembari mengendarai mobilnya.
"Kan tadi udah gue bilang, terserah gue," jawab Alisia sinis.
"Ya udah, kalau gitu gak bakalan di anterin," sambung Andrian menghentikan laju mobilnya.
Alisia melirik Andrian dengan tatapan penuh kekesalan.
"Ya udah, gue mau turun di sini. Lo pikir gue mau dianterin sama lo?"
Seperti tidak mau kalah dengan apa yang dilakukan oleh Andrian, Alisia pun berniat untuk turun dari mobil.
"Eh, jangan! Ya udah, ini maju lagi," cegah Andrian.
Dengan terpaksa ia harus mengalah dan menuruti semua perkataan Alisia.
Keduanya terdiam sejenak. Kursi mobil yang diduduki oleh Alisia rasanya seperti kursi yang terbuat dari bahan yang begitu panas. Membuat Alisia merasa tidak betah, apalagi saat nanti ia bertemu dengan Edgar. Alasan apa yang harus ia jelaskan pada Edgar.
Alisia melirik ke arah Andrian. Sementara Andrian fokus mengendarai mobilnya.
"Inget ya lo kalau nanti gue ketemu seseorang, lo jangan bilang ke dia kalau kita udah nikah," ketus Alisia.
(*)
SEMOGA SUKA YA GUYS. ❤
JANGAN LUPA LIKE, KOMEN, RATE, DAN VOTE NYA JUGA YA.
SAMPAI JUMPA DI BAB SELANJUTNYA. ❤
__ADS_1