Separuh Sayapku Patah

Separuh Sayapku Patah
BAB 3


__ADS_3

Sesampainya dirumah Mala memarkirkan sepedannya disamping rumah dan masuk kedalam rumah.


"Assalamuallaikum.. Mala pulang", Ujar Mala sambil memasuki rumahnya.


"Waallaikumsalam.. ", sahut ibunya dari dalam rumah.


Malapun menemui ibunya didalam dan mencium punggung tangannya.


"Langsung mandi terus makan sana" perintah ibunya yang sedang menyuapi Dika


"Iyaa bu" jawab Mala sembari masuk ke kamar untuk meletakkan tas dan pergi mandi.


Seusai mandi Mala pun makan. Tak lama kemudian terlihat ayahnya pulang.


"Assalamuallaikum", sapa Ayah


"Waallaikumsalam" jawab Mala dan Ibu serempak.


"Tumben pulang awal yah?" tanya Mala masih berada dimeja makan.


"Iyaa sayang, capek pengen cepet-cepet pulang" jawab Ayah


"Jangan buru-buru makannya Ayah mandi dulu terus nanti ikut makan" sambung ayah.


Tak lama kemudian ayah menyusul kemeja makan setelah selesai mandi.


"Gimana sekolah kamu sayang. Udah dapet temen baru? tanya Ayah sambil menuang sayur ke piring


"Ada yah ada Arini, Gita sama Auda. terus Mala juga kenal sama kakak kelas anggota OSIS gitu yah" jelas Mala.


"Kamu ikut ekskul OSIS?", tanya Ayah


"Kenapa Mala harus ikut?" tanya Mala ingin tahu


"Menjadi anggota OSIS itu menyenangkan, belajar bertanggung jawab dan juga ada nilai plus tersendiri sayang". jelas Ayah


"Jadi ayah menyarankan agar Mala ikut ekskul tersebut?" tanya Mala.


"Iya Mala. selagi kegiatannya tidak terlalu mengganggu tujuan utama kamu sekolah, dan itu pun juga tergantung minat kamu" jelas Ayah


"Kalau Mala ambil 2 ekskul diluar ekskul wajib Pramuka boleh yah?" tanya Mala


"Boleh sayang, asal tadi tidak mengganggu fokus sekolah kamu" jawab ayah


Tanpa berkata Mala hanya mengangguk dan menyelesaikan makanya. Tak lupa seusai makan Mala mencuci semua piring.


Terlihat ayah dan ibu memasuki kamar. Mala mendengar kedua orangtuanya sedang berbicara. Tak terdengar apa yang mereka bicarakan tapi suasana terlihat tak nyaman.


Mala segera menyelesaikan mencuci piring dan segera menuju kekamarnya.


Tak lama kemudian ia melihat ayah keluar dari kamar dengan wajah kusut. Mala hanya berani menatap tanpa berkata. Mala pun merebahkan diri di kamar sambil menatapi langit-langit kamarnya.


"Mbak..." panggil Dika mengejutkan Mala


"Ehhh sayang kenapa? sini sini", jawab Mala sambil melambaikan tangan ke Dika.


"Ibu menangis Mbak". jawab Dika sambil mendekati Mala


Dika masih terlalu kecil untuk melihat hal tersebut. Mala pun menggendong Dika menuju kekamar Ibunya.


Didapatinya sosok ibunya sedang menangis di tepi tempat tidur.


"Ada apa bu?" tanya Mala sambil memangku Dika dan mengelus punggung ibunya.

__ADS_1


"Tak apa sayang, sudah mau magrib. Pergi wudhu dan sholat sana" jawab ibu.


Mala pun menganggukan kepala dan pergi meninggalkan ibunya di kamar. Kali ini tak ada sholat berjamaah karena tak ia lihat ayahnya dirumah.


Mala menangis dalam sujudnya. Ia takut karena kedua orangtuanya sedang tidak baik. Ia mencoba menetralkan pikiran untuk tidak berpikir macam-macam. Usai sholat Mala kembali merebahkan diri, tak lama kemudian ia tertidur.


Dikala tengah terhanyut dalam mimpi tiba-tiba Mala merasakan usapan tangan di kepalanya.


"Ayaaah.. " ucap Mala sedikit serak sambil membuka matanya


"Kenapa tidur pakai mukena?" tanya ayah yang saat itu Mala memang belum melepas mukenanya.


Mala hanya tersenyum..


"Pergi wudhu lanjut sholat Isya' dan tidurlah". perintah ayah sambil kembali mengusap kepala Mala.


Mala pun mengambil wudhu dan sholat kemudian kembali untuk tidur karena memang ia sangat lelah hari itu. Saat Mala akan memejamkan mata Dika kembali masuk kekamarnya.


"Mbakk Dika tidur sini ya" ujar Dika.


"Kenapa? " tanya Mala


"Takut sama ayah" jawab Dika.


Akhirnya malam itu Dika tidur bersama Mala.


Keesokkan harinya Mala bangun lebih awal. Lalu menuju kekamar mandi untuk mandi.


"Dika masih tidur Mal? " tanya ibu sambil menyiapkan sarapan


"Ada apa sebenarnya bu?" tanya Mala kesal karena berulang kali bertanya tak ada jawaban dari ibunya.


"Kamu cukup fokus sekolah saja Mal. Jangan memikirkan hal lain." jawab Ibu


"Mala berangkat" ujar Mala sambil mencium tangan ayah dan ibunya seusai sarapan pagi itu. Khas dengan kucir duanya Mala melesat ke sekolah dengan sepedanya. Hari terakhir MPLS.


Sesampainya di sekolah Mala segera menuju kekelas.


Hari terakhir memang tidak ada kegiatan. Hanya pengambilan buku diperpus, dan pembagian jadwal pelajaran.


"Pagi Rin" sapa Mala.


"Pagii Mal. Oiyaa hari ini pendaftaran ekskul. Kamu mau daftar apa Mala? tanya Arini


"Mungkin akan masuk OSIS dan Drumband aku Rin, bagaimana denganmu?" tanya Mala sambil duduk disebelah Arini.


"Kamu nggak capek kalo ambil 2 ekskul sekaligus apalagi ada ekskul wajib" jawab Arini


"Ekskul wajib hanya untuk kelas 7 saja. Kelas 8-9 kan nggak ada Rin" sahut Mala.


Arini hanya menganggukan kepala.


"Aku akan ambil Bahasa dulu mungkin Mal, karena aku suka menulis" sambung Arini.


Tak lama kemudian bel berbunyi dan wali kelas masuk kekelas.


"Selamat pagi anak-anak" sapa Ibu Guru.


"Pagiii bu" jawab anak-anak serempak.


"Hari ini ibu akan membagikan selebaran untuk jadwal pelajaran dan juga selebaran daftar buku yang harus kalian ambil diperpustakaan" jelas Ibu Guru.


"Sebelumnya kita akan mengadakan pemilihan Ketua kelas. Siapa yang bersedia menjadi ketua kelas atau kita undi?" sambung Ibu Guru sambil mengambil spidol whiteboard untuk menulis di papan.

__ADS_1


Tak satupun mengangkat tangan. Tak lama kemudian ada seorang cowok mengangkat tangannya.


"Saya bu" jawab anak tersebut.


"Bagus Okto." jawab Ibu Guru.


Dan kini giliran Okto yang menunjuk anggotanya. Semua berjalan baik dan lucu karena kadang ada yang tidak bersedia namun Ibu guru tetap menulis namanya.


Akhirnya anak-anak dapat mengenal lebih dekat teman sekelasnya.


Mala mendapat jatah menjadi sekretaris karena terlihat tulisannya yang rapi dan Arini menjadi seksi kebersihan.


"Nanti seusai kegiatan sekretaris tolong buat susunan organisasi rangkap 2 ya, satu dipasang dikelas satu lagi serahkan pada saya" ujar Ibu Guru sambil mengemasi buku dimeja..


"Kalian bisa mengambil buku seusai dengan jatah ya" jawab Ibu Guru sambil meninggalkan kelas.


Setelah menanyakan kekelas sebelah kini tiba giliran kelas Mala untuk mengambil buku. Semua anak menuju ke perpustakaan. Mereka menemui guru perpus untuk mendapatkan buku dan memperoleh tanda tangan tanda bukti telah mengambil buku


"Banyak banget ya Mal?" tanya Arini terlihat keberatan membopong bukunya.


"Makanya makan yang banyak biar cepet gede" sahut Mala sedikit meledek.


"Wahhh kamu ya Mal seneng banget ngeledekin aku" sahut Arini.


Debukk...


Mala dan Arini terjatuh dan buku mereka berserakan.


"Kalian nggak papa" tanya seorang tersebut tak lain adalah Kak Ridho dan Dafa.


"Haduhhh Kak sakit.. " jawab Arini sambil membereskan buku.


"Iyaaa iyaa maaf ini nih Dafa ngajakin bercanda mulu" jawab Ridho sambil membantu mereka membereskan buku.


"Gini aja karena kak Ridho yang menabrak kita sampai jatuh kalian bantuin bawa buku sampe kelas, berat tau" celetuk Arini dan Mala spontan menyenggol badan Arini.


"Baiklah hal kecil itu" jawab Ridho.


Akhirnya Ridho dan Dafa membantu Mala dan Arini membawa bukunya. Setibanya dikelas semua isi kelas tampak memperhatikan mereka berdua yang berjalan sambil dibuntuti kakak kelas.


"Makasih ya Kak" ujar Mala disertai Ridho dan Dafa meletakkan buku di meja mereka.


"sama-sama. Oiyaa udah istirahat juga kan kekantin yuk" ajak Ridho.


Mala mengangguk dan menggandeng tangan Arini untuk mengikuti Ridho kekantin, yang saat itu memang ia sudah lapar.


"Ohhh iya Rin pulang sekolah temani aku ketoko buku bisa nggak?" tanya Mala sabelum meminum es jeruk yang ia pesan


"Besok aja Mal. Hari ini belum ijin juga. pastinya aku sudah dijemput." sahut Arini menjelaskan.


"Wahhh gimana ya.. bukannya besok harus mengumpulkan struktur organisasi" jawab Mala.


"Jadi aku mau bikin yang bagus untuk ditempel dikelas" sambung Mala sambil menyendok siomay kemulutnya.


"Boleh aku temani" tawar Ridho.


"Eitsss ,,, " sambung Dafa sambil tertawa.


"Nggak gini lo kan rumah aku sama Mala searah jadi bisa sekalian gitu" sahut Ridho yang ia tau mukanya sudah seperti tomat matang.


"Enggak usah kak nanti merepotkanmu" jawab Mala.


"Enggak Mal hari ini nggak ada acara atau les juga" sahut Ridho.

__ADS_1


Mala mengangguk isyarat mengiyakan. dan mereka melanjutkan makan sebelum bel berbunyi.


__ADS_2