Separuh Sayapku Patah

Separuh Sayapku Patah
BAB 4


__ADS_3

Waktu menunjukkan pukul 14.00, waktunya anak-anak pulang sekolah. Mala segera menuju keparkiran sepeda.


"Jadi ditemenin Kak Ridho?" tanya Arini sambil menuruni tangga bersama Mala.


"Belum tahu juga. Katanya sih ketemua dibawah" ujar Mala


Tak lama ia lihat Ridho sudah siap diatas sepeda berjejeran dengan sepeda Mala.


"Kalo gitu aku duluan ya Mal", ujar Arini sambil melambaikan tangan kepada Mala setelah melihat sosok Ridho telah menunggu Mala.


Mala pun berjalan mendekati Ridho dan menakki sepedanya.


"Ayoookkk" ajak Ridho dan Mala mengangguk.


Searah dengan jalan kerumah mereka terdapat toko buku. Mereka pun masuk dan membeli perlengkapan yang dibutuhlan Mala.


"Udah ini aja?" tanya Ridho saat keluat dari toko buku.


"Iyaa cuma itu yang dibutuhkan untuk kelas kak" ujar Mala.


"Yaudah pulang yuk takut dicariin ibuk" sambung Mala.


Mereka berdua pun mengayuh sepedanya menuju rumah, seperti biasa dipersimpangan jalan Ridho pamit dan Mala melaju ke rumahnya.


"Assallamuallaikum", sapa Mala sambil mengetuk pintu. Sudah berkali-kali Mala mengetuk pintu tapi tak ada jawaban.


Tak lama kemudian tetangganya pun keluar menghampiri Mala.


"Ehh dek Mala udah pulang tadi ibunya pamit mau pergi sebentar gitu dan ini kunci rumahnya" ujar bu Pri tetangga sebelah rumah sambil menyerahkan kunci ke Mala.


"Ohh iya budhe makasih" jawab Mala sambil menerima kunci tersebut.


Mala segera membuka pintu dan masuk kerumah. Seperti biasa Mala segera mandi dan merebahkan diri. Mala berpikir tak biasanya ibunya pergi mendadak seperti ini.


Mala mengambil koleksi novelnya ia membacanya sebagai penghibur hati yang gelisah.


Tak lama kemudian ayah Mala pulang.


"Assalamuallaikum" sapa ayah dari luar.


"Waallaikumsalam" jawab Mala sambil keluar dari kamar.


"Ibu kemana yah?" tanya Mala barangkali ayah tahu.


"Lhoo kan ayah baru pulang sayang, memang tak ada dirumah? Dika?" tanya Ayah


"Dika sama ibu" sambung Mala.


"Nanti biar ayah hubungi ibumu, sekarang ayah mau mandi tolong buatkan kopi ya" perintah ayah sembari menuju kekamar mandi


Mala pun menuju ke dapur membuatkan kopi ayahnya.


***


Malam hari setelah sholat Magrib. Mala hanya makan bersama ayahnya. Mala merasa sangat sedih melihat keadaan ini. Mala takut jika ayah dan ibunya menyembunyikan sesuatu darinya.


"Bagaimana yah ibu?" tanya Mala memecah keheningan


"Ibumu dirumah nenek sayang, katanya nenek sakit jadi ibumu sementara disana merawat nenek", jawab ayah.


Mala segera menyelesaikan makanya dan menuju kekamarnya. Tak lama kemudian ia tertidur.


Keesokan harinya. Kini ini adalah hari pertama Mala memakai pakaian biru putihnya lengkap dengan hijab biru yang menjuntai membuatnya tampak anggun.


"Sarapan dulu sayang" ujar ayah saat melihat Mala keluar dari kamar.


"Ibu kapan pulang yah?" tanya Mala. Ia memang Mala belum boleh menggunakan handpone sendiri untuk usiannya yang belum terlalu penting penggunaannya.


"Belum tahu sayang" jawab ayah sambil meletakan susu diatas meja.

__ADS_1


"Mau sarapan nasi apa roti?" sambung ayah.


"Roti aja yah" jawab Mala.


Mala merasakan perasaannya tak enak sejak ibunya tak dirumah. Mala takut terjadi hal yang tidak-tidak.


"Ayah antar ya hari ini" tawar ayah.


"Ayahkan juga ingin tahu sekolah kamu" sambung ayah.


"baik yah" jawab Mala..


Akhirnya hari itu Mala diantar ayah menaiki sepeda motornya berangkat kesekolah. Sesampainya disekolah. Mala mencium tangan ayahnya dan masuk kedalam sekolahan.


"Assalamuallikum Mala masuk ya yah. Ayah hati-hati" ujar Mala sambil mencium tangan ayahnya


"Waallaikumsalam.. kamu yang rajin ya sekolahnya" jawab ayah lalu pergi meninggalkan Mala.


"Hay Mal.. tumben dianter" sapa Arini dari belakang yang mengagetkan Mala.


"Iya nihh ayahku ingin mengantarku" jawab Mala.


Mereka berdua pun berjalan menuju kekelasnya.


Mala merasa tak bersemangat hari itu. Entah karena apa yang pasti hari-hari Mala merasa hambar seperti ada yang kurang dalam dirinya.


Tak terasa pelajaran hari pertama berjalan begitu cepat. Sudah tiba waktunya pulang sekolah. Mala dengan lunglai menuruni tangga. Hari itu arini ada jadwal piket jadi Mala harus berjalan sendiri sampai gerbang.


"Aku pulang naik apa" gumam Mala.


"Kringgg kringg... Mal kok nggak bawa sepeda?" tanya Ridho sontak mengagetkan Mala.


"Tadi dianter ayah Kak" jawab Mala.


"Lalu ini dijemput?" tanya Ridho.


"Entah Kak .. jam segini ayah juga belum pulang dari kerja" jawab Mala.


"Enggak usah kak Makasih" tolak Mala halus.


"Kamu mau jalan? jauh lo Mal" jawab Ridho.


Akhirnya setelah berpikir-pikir Mala pun mengiyakan ajakan Ridho. Iya berdiri di belakang Ridho karena memang tidak ada jok dibelakang.


"Pegangan ya Mal" ujar Ridho dengan wajah kegirangan.


"Pelan-pelan yaa kak" jawab Mala sedilit takut.


Mereka pun melaju kerumah Mala. Setibanya dirumah. Mala melihat pintu rumahnya terbuka.


"Sampai sini saja kak", ujar Mala sambil turun dari sepeda.


"Oke Mal aku langsung pulang ya" jawab Ridho


"Makasih ya kak" balas Mala.


Ridho hanya tersenyum dan berlalu meninggalkan Mala.


"Assalamuallikum" sapa Mala sambil memasuki kamar.


"Wallaikumsalam" jawab seorang didalam rumah.


"Budhe... Lohh kapan budhe datang? kok bisa masuk? tanya Mala bingung sambil mencium tangan budhe nya. Budhe Arni adalah kakak dari ayah.


"Kamu lupa ini kan rumah peninggalan nenek kamu" jawab Budhe. Mala pun membenarkan ucapan budhenya jadi wajar budhe masih menyimpan kunci.


"Kamu sudah makan?" tanya Budhe


"Belum budhe. Budhe sama siapa?' tanya Mala.

__ADS_1


"Sama mbak Offi" jawab Budhe.


"Yaudah Mala mandi dulu ya budhe" jawab Mala lalu meninggalkan Budhe dan menuju kamar mandi.


Tak lama kemudian ayah pulang.


"Lohhh mbak katanya nanti sore?" tanya ayah kepada Budhe Arni.


"Iyaa tadinya mau sore tapi takutnya kemaleman tibanya" jawab budhe.


Budhe Arni adalah kakak kandung ayah Ia memiliki 3 orang anak dan semuanya sudah menikah dan tinggal bersama keluarganya kecuali mbak Offi yang masih kelas 3 SMK, Budhe adalah single parent karena suaminya meninggal.


Ayah pun duduk disampin budhe tak terlihat sedang berbisik-bisik.


"Tolong bantu aku merawat Mala mbak" ujar ayah lirih


"Kenapa tak kau ceritakan sama Mala. apa tidak menambah masalah kalau dia semakin lama tahu?" jawab budhe sama lirihnya.


"Mala masih labil mbak belum waktu yang tepat." sambung ayah


"Lalu anakmu Dika dimana?" tanya budhe


"Dia bersama ibunya, Dika masih terlalu kecil dia masih butuh ibunya mbak" jawab ayah.


Mala hanya memperhatikan ayahnya dari meja makan, Karena apa yang mereka bicarakan tak terdengar olehnya.


Seusai makan Mala menuju kamarnya untuk mengerjakan tugas. Tiba-tiba kantuk datang.


Karena Mala sedang libur halangan tak ada yang membangunkan Mala karena mereka paham Mala mungkin lelah.


"Mala... nggak makan dulu" tanya budhe sambil mengusap punggung Mala.


"Ehh iya budhe habis ini Mala makan" jawab Mala yang memang ia merasa perutnya lapar.


Seusai makan Mala menuju kekamarnya. Ia melihat budhe dan mbak Offi sudah tidur karena hari itu memang sudah malam.


Saat sedang ingin merebahkan tubuhnya tiba-tiba Mala mendengar teriakan dan benda jatuh.


"Taakkk... kenapa selalu menyalahkanku mas?" suara itu terisak.


"Kamu hanya kurang bersyukur.. kamu kurang menghargai perjuanganku" jawab laki-laki itu yang ia tahu itu suara ayahnya.


Mala pun segera berlari kekamar ayahnya.


Mala melihat ibunya ada disana bersama ayahnya sedang bertengkar dan ada sebatang pisau ditangan ibu. Terlihat Dika dipelukan ayah menangis.


Mala hanya bisa menangis didepan pintu.


"Ayah ibu... " teriak Mala sambil terisak.


Tak lama kemudian budhe datang untuk melerai ayah dan ibu. Mbak Offi tampak memeluk Mala yang menangis di pinggir pintu.


"Pergi kamu silahkan kamu pergi dengan laki-laki itu. Kamu kira aku tak tahu apa yang sudah kamu lakukan dibelakangku" ujar ayah dengan emosi.


"Kemarikan Dika dia anakku" jawab Ibu sambil berusaha merebut Dika dari pelukan ayah.


"Dia anak-anakku, aku bisa merawatnya tanpamu" jawab ayaah dengan nada tinggi.


Tanpa berkata ibu pun pergi dengan tas ditangannya. Mala mangis sejadi-jadinya.


"ibu..... ibu.... jangan tinggalin Mala bu... " isak Mala sambil tersimpuh dilantai.


Tak menghiraukan ucapan Mala ibunya telah berlalu.


Ayah pun menghampiri Mala dan memeluknya bersama dengan Dika.


"Tenang sayang" ujar ayah.


Mala pun berlari kekamarnya. Ia menangis sejadi-jadinya dibalik bantalnya. Ia tahu ini bukan kali pertama ayah dan ibunya seperti itu. Sejak Dika masih dalam kandungan sampai sekarang sudah kesekian kali Mala menyaksikannya. Namun baru kali ini ia melihat ibunya pergi.

__ADS_1


Mala merasa sesak dan lelah menangis semalam hingga akhirnya dia tertidur.


__ADS_2