Separuh Sayapku Patah

Separuh Sayapku Patah
BAB 5


__ADS_3

Keesokan harinya Mala bangun dan pergi mandi. Tak seceria biasanya Mala terlihat murung dengan wajahnya.


Seusai mandi berganti seragam dan menuju kedapur.


"Mau sarapan apa Mala?" tanya budhe.


"Nggak mau" jawab Mala singkat.


"Yaudah bawa bekal aja ya" tawar budhe sambil membuatkan susu yang sebelumnya memang sudah ayah beritahu.


Tak bersuara lagi, Mala meminum susunya dan segera berangkat kesekolah.


Sesampainya disekolah Mala tampak lesu dan tak bersemangat.


"Mala kamu sakit?" tanya Arini cemas.


"Nggak papa Rin" jawab Mala sambil melipat tangannya dimeja dan menyembunyikan mukanya dilipatan itu.


"Mau kekantin nggak?" tanya Arini sedikit takut dengan sikap Mala hari itu.


"Aku nitip minum aja boleh. Lagi mager banget buat turun" jawab Mala sambil memandang Arini.


"Baiklah kamu tunggu disini ya" jawab Arini sambil berlalu meninggalkan Mala dikelas sendiri.


Sesampainya dikantin Arini membungkus siomay dan dua es jeruk. Ia berniat makan dikelas bersama Mala. Karena melihat Arini kekantin sendiri Ridho yang saat itu sedang dikantin menghampiri Arini.


"Lohhh Rin sendirian. Mala mana?" tanya Ridho sambil menepuk pundak Arini.


Sontak Arini terkejut.


"Dikelas Kak" jawab Arini sambil membayar jajanannya.


"Sakit?" tanya Ridho cemas.


"Enggak tau kak tadi dia terlihat nggak bersemangat aja, yaudah aku balik kekelas ya kak" jawab Arini sambil meninggalkan Ridho.


Hari demi hari berlalu, bahkan sudah berbulan-bulan ia tak menemukan lagi sosok ibunya didekatnya. Mala menjadi sosok yang dingin dan pendiam setelah kepergian ibunya. Ia tak seceria biasa dan tak pernah kekantin bersama Arini bahkan pulang pun ia tak mau bersama Ridho. Ketika Ridho berusaha menghampirinya dikelas Mala selalu menghindar. Ia hanya mau berbicara dengan Arini itu pun sepatah dua patah kata.


Sepulang sekolah, saat Mala hendak mengayuh sepedanya tiba-tiba ada 3 orang cewek, mungkin kakak kelas menghadang Mala di luar gerbang sekolah.


"Ada apa kak?" tanya Mala sambil turun dari sepedannya.


"Hey anak kecil. Aku lihat akhir-akhir ini kamu makin deket sama Ridho sampe nyamperin kekelas segala?" tanya satu cewek diantara mereka.

__ADS_1


"Aku ingetin yaa jangan deketin Ridho, Ridho itu cwok aku" lanjutnya.


"Apa apaan, nggak usah ngada-ngada. siapa juga yang mau sama cewek centil kek kamu" ujar seorang dari arah belakang dan bergerak mendekati mereka berempat.


"Agni kakak kelas yang cantikkk aku kasih tau ya sama kamu aku nggak mau sama kamu" jawab Ridho seraya merebut lengan Mala yang sebelumnya dipegang oleh Agni.


Agni adalah anak kelas 9.


"Kakak kakakku.. minggir ya aku mau pulang dan sedang nggak ada mood buat berantem. Dan aku bilangin ya mending kalian fokus deh udah mau ujian nggak usah pacar-pacaran kalian juga masih kecil" sahut Mala ketus dan meninggalkan mereka semua.


Mala memang dilarang oleh ayah untuk pacaran selain itu tidak baik untuk anak seusianya itu juga mengganggu konsentrasinya belajar.


Sesampainya dirumah Mala pun hanya mengunci diri dikamar keluar hanya untuk mandi dan berangkat sekolah. Makanpun budhe harus mengantarkan kekamarnya.


"Kamu sebaiknya bujuk Mala" ujar Budhe kepada Ayah


"Sudah berapa minggu Mala seperti ini, nanti malah jarak kamu sama Mala semakin jauh" lanjut budhe.


"Aku bingung mbak gimana jelasin ke Mala" sahut ayah.


"Lalu bagaimana Ani istrimu. apa ada kabar?" tanya budhe


"Tak ada komunikasi lagi" sahut ayah.


"Mala buka pintunya nak. Ayoo makan yuk" ujar ayah sambil mengetuk pintu kamar Mala.


"Ayah kangen nihhh makan bareng anak ayah" sambung ayah.


Mala pun keluar dari kamar dengan mata sembab.


"Jangan nangis sayang, ayah minta maaf" ujar ayah sambil mengusap kepala Mala


"Kenapa ayah nggak bisa nyegah ibu agar tidak pergi, kenapa ayah justru menyuruh ibu pergi yah.. ayah udah nggak sayang ibu, ayah nggak sayang Mala ayah nggak sayang Dika" ucap Mala terisak dan spontan ayah memeluk Mala.


"Sayang... bukan ayah nggak sayang ibu. Tapi ayah lebih sayang sama Mala dan Dika" jawab ayah sambil memeluk dan mengusap kepala Mala.


"Mana buktinya yah... kita butuh ibu yah kini ibu nggak ada lagi buat kita yah" jawab Mala semakin terisak.


Malapun melepas pelukannya dan masuk kekamar lagi. ia mengunci kamarnya dan menangis ditepi tempat tidur.


Karena lelah menagis Mala pun tertidur.


Tengah malam Mala terbangun dan ingin kebelakang, ia keluar kamar dan menuju kekamar mandi. saat kembali dari kamar mandi ia tak sengaja melihat ayahnya terduduk ditepi tempat tidur sambil menundukkan kepala. Ia melihat ayahnya menangis dari celah kain gorden depan kamar ayahnya.

__ADS_1


Tak terasa air mata Mala ikut menetes. Hatinya terasa perih ia tau ucapannya tadi terlewat batas dengan ayahnya tapi ia sendiri juga tak tau harus bersikap seperti apa. Ia merasa kini ialah yang jahat kepada Ayahnya.


Mala segera kembali kekamar sebelum ayahnya tau keberadaannya.


Keesokan harinya Mala bangun dan segera mandi dan memakai segaramnya.


Seusai berbenah Mala menuju dapur dan mengambil susu.


"Mau sarapan Mal?" tanya Budhe senang karena setelah berbulan-bulan Mala tak mau sarapan.


"Nasi goreng ya budhe separuhnyaa bawa buat bekal" sahut Mala sambil meminum susunya.


Dengan senang hati Budhe membuatkan sarapan Mala.


"Mau ayah anter?" tanya ayah dari belakang.


"Nggak usah yah nanti Mala bingung lagi pulangnya." sahut Mala.


"Ohh iya yah minggu depan Mala ada kemah yah" sambung Mala saat teringat pengumuman kemarin.


"Wahhh asik dong. nanti ayah antar" jawab ayah senang karena Mala sudah mau berbicara seperti biasa.


Seusai sarapan Mala pun berangkat sekolah. Tak lupa ia cium tangan ayah dan Budhenya. Sebenarnya rumah budhe tidak terlalu jauh dari rumah, tapi ayah mau budhe membantunya merawat Mala dan Dika dan Mbak Offi berangkat sekolah dari rumah Mala.


Setibanya di sekolah Mala segera kekelasnya. Sebenarnya Mala belum sepenuhnya kembali ceria seperti dulu hanya dia sekarang bisa lebih mengkondisikan diri.


"Mala .... " teriak kak Ridho dari belakang diujung tangga.


Mala menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya.


"Ada apa Kak?" tanya Mala lalu menundukkan kepalanya. Ia tak mau Ridho tau matanya yang masih sembab.


"Kamu kenapa Mal.. kayaknya menghindari aku terus" tanya Ridho.


"Enggak kok" jawab Mala


"Tatap aku lah Mal.. aku disini" jawab Ridho sambil mendongakkan kepala Mala dengan kedua tangannya.


"Kamu habis nangis?" tanya Ridho.


"Enggak kak" Mala segera melepaskan diri dan berlari meninggalkan Ridho.


Sesampainya dikelas Mala segera duduk dan terdiam dia tau detak jantungnya sangat cepat saat bertatapan dengan Ridho. Lebih malunya Ridho tahu dirinya baru saja menangis.

__ADS_1


__ADS_2