Setitik Cahaya Selepas Gelap

Setitik Cahaya Selepas Gelap
Bertahan atau Tinggalkan


__ADS_3

"Syafiq jangan ambil mainanku!" teriak seorang gadis kecil kepada laki-laki yang sedang membawa mainannya.


"Ayo kejar aku kalau kamu mau ambil mainan ini." ucap anak kecil itu sembari terus berlari. Gadis kecil itu terus berlari mengejar anak itu. Dia berharap dapat merebut kembali mainannya. Gadis kecil itu terus berlari dengan kencang. Hingga pada akhirnya dia kehilangan keseimbangannya. Dia terjatuh ditanah cukup keras. Mengakibatkan kakinya terluka dan mengeluarkan darah.


"Aduh...sakit...hiks...hiks...hiks..." rintih gadis kecil itu disela tangisnya. Anak kecil yang berlari itu pun segera menghentikan langkahnya. Dia menatap ke arah gadis kecil itu. Dia mendapati gadis kecil itu terjatuh sambil menangis. Dia segera menghampiri gadis kecil itu.


"Kamu kenapa? Kamu nggak papa kan?" tanya anak kecil itu sambil berjongkok dihadapan gadis kecil itu.


"Kaki Chayra sakit...hiks...hiks..." ucap gadis kecil itu yang masih menangis. Anak kecil itu menatap gadis kecil itu dengan perasaan iba sekaligus merasa bersalah. Andaikan saja dia tidak merebut mainan gadis kecil itu. Pasti gadis kecil itu tidak terluka.


"Maafin Syafiq. Syafiq nggak sengaja." ucap anak kecil itu dengan perasaan bersalahnya.


"Sini biar aku gendong aja. Biar Chayra nggak sakit lagi." lanjut anak kecil itu. Gadis kecil itu hanya mengangguk. Anak kecil itu segera menggendong gadis kecil itu dipunggungnya. Setelah itu dia mengantar gadis kecil itu pulang ke rumah.


***


Disebuah taman kota ada seorang gadis tengah duduk dikursi taman sembari menatap hamparan bunga yang indah. Sejak kecil dia sering datang ke taman itu bersama sahabat kecilnya. Namun beberapa tahun ini dia hanya datang sendiri ke taman itu. Sejak kepergian sahabat kecilnya, dia tidak seceria dulu. Banyak yang berubah pada dirinya. Jika dulu dia periang, maka sekarang dia pendiam. Dia jarang sekali tersenyum dengan lepas. Yang dia perlihatkan hanyalah senyum yang penuh dengan beban.


Dia. Chayra Fayyola Nadhifa. Yang kini masih duduk termenung dikursi taman. Menikmati hari menjelang senja. Pikirannya teratur memikirkan kebahagiaan dimasa kecilnya. Sejak kepergian sahabat kecilnya, dia berharap bisa bertemu dengan sahabatnya itu. Jujur dia sangat merindukannya. Sampai kini tidak ada seorang pun yang bisa menggantikan posisi sahabat kecilnya itu.


"Setiap kali gue dateng ke taman ini. Gue selalu ngerasa kalau lo ada disini juga. Coba aja dulu lo nggak pindah. Mungkin detik ini gue masih bisa liat lo." ucap Chayra yang kini tengah menatap gelang ditangannya.


"Syafiq. Apa lo disana masih ingat sama gue. Ingat masalalu kita yang penuh kebahagiaan. Cuma lo yang bisa buat gue ketawa lepas lagi. Gue selalu berdoa semoga suatu saat nanti kita bertemu. Gue harap lo masih inget gue." lanjut Chayra. Tanpa terasa dia meneteskan air matanya. Entah mengapa setiap dia mengingat sosok Syafiq dia selalu menangis.


***


Pagi ini Chayra telah sampai didepan pintu gerbang sekolahnya. Dia merupakan salah satu murid di SMA Merah Putih. Saat ini dia duduk di kelas 12 IPS 2. Chayra juga salah satu murid populer disekolahannya. Dia terkenal akan sikapnya yang baik, ramah, dan mudah bergaul dengan siapapun.


Tepat saat dia hendak melewati pintu gerbang sekolahan itu. Dari arah belakang ada seseorang yang tiba-tiba merangkulnya. Sepontan Chayra langsung menatap ke arah orang itu.


"Selamat pagi Bidadariku." ucap orang itu dengan senyuman yang begitu manis.


"Pagi juga Pangeran Nyeselin." balas Chayra sembari tertawa.


"Kok nyeselin sih? Kalau nyeselin ngapain kamu mau pacaran sama aku?" tanya orang itu dengan raut wajahnya yang dibuat kesal. Dia adalah Afnan Atma Purnama. Dia merupakan kekasih seorang Chayra. Mereka telah menjalin hubungan cukup lama. Kurang lebih satu tahun. Mereka juga menjadi pasangan yang paling romantis disekolahan ini..


"Nggak usah ngambek gitu. Kamu tu paling nggak bisa kalau ngambek sama aku." balas Chayra sembari merangkul lengan Afnan.


"Udah mulai pinter nih ngerayunya sekarang." ucap Afnan dengan senyum manisnya. Sembari mengacak-acak rambut Chayra.


***


Sesampainya dikelas, Chayra segera menghampiri sahabatnya yang sedang duduk termenung sendirian. Setelah Chayra duduk disamping sahabatnya, ternyata dia belum menyadari kehadiran Chayra. Dia sedang melamun.


"Ini masih pagi udah ngelamun. Ngelamunin apa lo?" tanya Chayra cukup keras. Hingga membuat sahabatnya terkejut. Sedangkan Chayra hanya tertawa.


"Bisa nggak sih kalau lo dateng tu nggak ngagetin gue. Kalau gue serangan jantung gimana?" ucap sahabat Chayra dengan kesalnya.

__ADS_1


"Iya deh maaf." balas Chayra sembari memeluk sahabatnya dari samping.


Khansa. Sahabat Chayra di SMA Merah Putih. Dia memiliki sikap yang jauh berbeda dari Chayra. Bisa dibilang Khansa itu orangnya jutek, dingin, dan suka marah-marah tidak jelas. Hampir satu sekolahan takut dengan sikap dingin seorang Khansa. Hanya Chayra lah yang mampu memahami sikap Khansa. Dan mereka telah menjalin persahabatan cukup lama.


Selain Khansa, Chayra juga memiliki satu sahabat lagi. Dia bernama Talina. Talina ini berbeda dengan teman-teman yang lainnya. Kenapa? Sebab dari segi penampilannya saja berbeda. Yap, Talina lebih suka memakai pakaian yang tertutup. Karena dia berasal dari keluarga yang menjunjung tinggi nilai agama. Selain itu Talina merupakan satu-satunya murid perempuan yang memakai jilbab. Itulah sekilas mengenai kedua sahabat Chayra di SMA Merah Putih.


Beberapa menit kemudian Talina datang dan segera menghampiri sahabat-sahabatnya. Dia pun duduk dibangku tepat dihadapan bangkunya Chayra dan Khansa. Talina segera duduk menghadap ke arah mereka.


"Tumben Sa tuh muka kelihatan galau gitu. Lagi ada masalah?" tanya Talina sembari tertawa.


"Kalian tu ya bukannya nenangin gue malah bikin mood gue ancur aja." ucap Khansa dengan kesal.


"Udah lah. Dari pada lo bete gitu nggak jelas. Mending besok malam kita pergi ke mall aja gimana?" usul Chayra.


"Boleh tapi lo nggak boleh bawa pacar lo." ucap Khansa dengan senyum liciknya. Seketika Chayra memanyunkan bibirnya. Membuat kedua sahabatnya tertawa.


"Kalau itu gue juga setuju." balas Talina sambil bertos ria dengan Khansa. Sedangkan Chayra hanya bisa menahan emosinya.


***


Tepat pukul 15.00 WIB, semua murid SMA Merah Putih telah membubarkan diri. Termasuk dengan Chayra. Kini Chayra sedang berjalan menyusuri koridor yang mulai sepi. Maklumlah hampir semua murid telah meninggalkan sekolah. Kini tujuannya adalah pergi ke kelas 12 IPA 1. Yang mana merupakan kelas kekasihnya. Tepatnya terletak dilantai tiga. Sedangkan kelasnya terletak dilantai dasar.


Rencananya hari ini Chayra dan Afnan berniat untuk pulang bersama. Seperti biasanya, Afnan selalu mengantar Chayra pulang. Bahkan hampir setiap hari. Mungkin sebagian orang akan berpikir apa nggak bosen? Tapi itulah mereka, hubungan mereka masih baik-baik saja hingga saat ini. Meskipun telah terjalin cukup lama.


Sampai didepan ruang kelas 12 IPA 1, langkah Chayra mendadak terhenti. Sebab ada seseorang yang memanggil namanya. Chayra segera mencari sumber suara tersebut. Ternyata dia adalah Adnan Albert Ardian. Salah satu sahabat baik Afnan.


"Tumben kesini Ra? Biasanya paling males kalau kesini." tanya Ardian. Sebab dia sangat tau kalau Chayra paling malas pergi ke kelas Afnan. Dengan alasan terlalu jauh dan capek harus naik tangga.


"Ardian! Kok malah ngelamun sih." lanjut Chayra.


"Eh... Enggak kok. Mending sekarang lo turun aja. Biar gue yang nyuruh Afnan buat temuin lo dibawah." ucap Ardian.


"Males gue kalau mesti turun sendirian. Mana ini udah mulai sepi lagi. Gue kan nggak berani." ucap Chayra yang terdengar manja di telinga Ardian. Entah mengapa sikap Chayra selalu berubah saat bersama Ardian. Dia menjadi lebih manja.


"Ya udah gue temenin. Ntar gue telepon Afnan buat temuin lo diparkiran sekolah." balas Ardian.


"Emangnya Afnan lagi sibuk apa sampai gue nggak boleh masuk. Atau didalam lagi ada Klara?" tanya Chayra penasaran. Akhirnya Ardian menjawab dengan anggukan kepala, walaupun terlihat ragu-ragu.


Sedikit informasi tentang Klara. Sejak dulu Klara adalah musuh Chayra. Kenapa? Karena Klara tidak suka dengan hubungan Chayra dan Afnan. Bahkan Klara selalu membuat hubungan Chayra dan Afnan putus. Tetapi selalu saja gagal. Namun hal itu justru tidak membuatnya jera. Karena Klara punya seribu satu cara untuk menghancurkan hubungan Afnan dan Chayra.


"Udah mending sekarang kita turun aja. Gue yakin Afnan pasti bisa ngatasin Klara itu." ucap Ardian berusaha menenangkan Chayra. Setelah itu Ardian segera menarik tangan Chayra untuk mengajaknya turun. Chayra pun mengikuti langkah Ardian dengan perasaan sedikit khawatir pada Afnan.


***


Lima belas menit kemudian Chayra telah sampai dirumahnya dengan diantar oleh Afnan. Sampai saat ini Chayra masih penasaran dengan apa yang Afnan lakukan bersama Klara. Sebenarnya dia ingin menanyakan kepada Afnan. Tapi dia takut menyinggung perasaan Afnan. Namun jika dia tidak menanyakan hal itu dia akan semakin penasaran.


"Ra!" teriak Afnan membuyarkan lamunan Chayra. Dia merasa terkejut dengan suara Afnan yang cukup keras.

__ADS_1


"Afnan! Kalau ngomong nggak usah teriak. Bikin orang kaget aja." ucap Chayra dengan kesal.


"Siapa suruh kamu ngelamun. Lagi mikirin apa sampai ngelamun gitu?" tanya Afnan. Sejenak Chayra terdiam sebelum menjawab pertanyaan dari Afnan.


"Tadi kenapa kamu pulangnya lama, biasanya kamu pulang paling on time?" tanya Chayra penuh selidik.


"Em... Tadi aku ada urusan sebentar jadi pulangnya agak telat." jawab Afnan dengan raut wajahnya sedang menyembunyikan sesuatu.


"Kamu nggak lagi bohongkan Nan?" selidik Chayra sembari menatap Afnan dengan tajam.


"Iya Chayra mana pernah aku bohong sama kamu." ucap Afnan sembari membelai rambut Chayra dengan lembut.


"Udahlah Nan nggak usah bohong lagi. Aku tau semuanya yang kamu lakuin sepulang sekolah tadi." ucap Chayra. Seketika Afnan terlihat berpikir sejenak sebelum membalas ucapan Chayra.


"Sebenernya tadi Klara nyamperin aku. Mau nggak mau aku harus ladenin dia dulu kalau nggak kamu tau sendiri dia gimana orangnya. Tapi kamu tenang aja, kamu tetap jadi prioritasku." balas Afnan sembari merangkul Chayra.


"Kalau disuruh gombalin emang juara ya kamu. Pantes aja cewek-cewek pada ngelirik kamu." sindir Chayra. Namun Afnan hanya tersenyum, dia tau kekasihnya saat ini sedang cemburu pada dirinya.


"Termasuk kamu." balas Afnan. Chayra pun mencubit pinggang Afnan cukup keras. Membuat Afnan meringis kesakitan.


"Makanya jangan sok kecakepan." ucap Chayra dengan kesal.


"Tapi emang cakep kan." ujar Afnan sembari tertawa. Lagi-lagi Afnan memang sangat suka melihat Chayra merasa kesal kepada dirinya. Karena menurut Afnan kekesalan Chayra adalah tanda cinta Chayra pada dirinya. Setelah itu Afnan pamit kepada Chayra untuk pulang ke rumah sebab hari mulai senja. Chayra pun mengijinkan Afnan untuk pulang. Walaupun sebenarnya dia masih sangat merindukan Afnan.


***


Senja yang indah kini telah berganti malam yang begitu gelap. Malam ini Afnan berencana untuk bertemu Ardian di sebuah Club malam. Sepuluh menit Afnan telah menanti kedatangan Ardian dengan ditemani sebotol minuman berakohol. Sudah menjadi kebiasaan seorang Afnan minum minuman berakohol itu. Bahkan hebatnya dia tidak merasa mabuk meskipun dia menghabiskan beberapa botol.


Beberapa menit kemudian Ardian datang, dan segera duduk dihadapan Afnan. Setelah itu Ardian memesan minuman yang sama dengan Afnan.


"Tumben lo ngajakin gue ketemuan. Ada yang pengen lo bicarain sama gue?" tanya Ardian setelah memesan minumannya.


"Ini menyangkut hubungan gue sama Chayra." jawab Afnan berusaha tenang. Sedangkan Ardian hanya menatap Afnan, dan masih belum mengerti arah pembicaraan sahabatnya itu.


"Orang tua gue udah jodohin gue sama cewek lain. Mungkin dalam waktu dekat ini gue bakalan nikah sama cewek ini." lanjut Afnan.


"Terus hubungan lo sama Chayra gimana? Lo mau putusin dia?" tanya Ardian tidak percaya.


"Nggak mungkin gue putusin dia secara gue masih cinta sama dia. Tapi gue juga nggak mau nyakitin dia lebih dalam lagi." jawab Afnan.


"Terus keputusan lo apa?" tanya Ardian. Afnan terlihat sedang berpikir sebelum mengambil keputusan. Jujur dia sebenarnya bimbang, dia sama sekali tidak ingin memutuskan hubungannya dengan Chayra. Tetapi disatu sisi dia harus melakukan hal itu. Karena dia tidak ingin melukai perasaan Chayra lebih dalam lagi.


"Gue bakalan putusin Chayra, dan gue bakalan jauhin dia. Jadi gue minta tolong sama lo buat bantuin gue." jelas Afnan.


"Gue pasti bantuin lo. Tapi kalau boleh gue tau siapa cewek yang dijodohin sama lo?" tanya Ardian penasaran.


"Sahabatnya Chayra." jawab Afnan dengan lemah. Mendengar jawaban dari Afnan membuat Ardian terdiam. Apa itu artinya Afnan akan menikah dengan salah satu sahabatnya Chayra? Lantas siapa yang akan menikah dengan Afnan? Khansa? Atau Talina?

__ADS_1


***


Bersambung...


__ADS_2