
Pagi kini telah menyapa, namun Chayra belum bangun dari tidur lelapnya. Terdengar suara ketukan dari kamar Chayra. Beberapa kali seseorang itu mengetuk namun tak mendapat jawaban dari Chayra. Seseorang itu pun memutuskan untuk masuk ke kamar Chayra. Disana beliau melihat putrinya sedang tertidur dengan pulas. Bunda menghampiri Chayra dan membelai rambut Chayra. Hingga membuat Chayra terusik dari tidurnya dan membuka matanya.
"Bunda." ucap Chayra khas bangun tidur, dia pun bangun dari tidurnya dan menatap Bundanya.
"Hari ini kamu mau berangkat sekolah atau izin?" tanya Bunda dengan lembut.
"Chayra mau berangkat Bun." jawab Chayra. Setelah itu Bunda menyuruh Chayra untuk bersiap-siap.
"Bunda tunggu kamu dibawah. Jangan lama-lama." ucap Bunda. Kemudian Bunda beranjak pergi meninggalkan kamar Chayra.
***
Setelah semua siap, Chayra segera berangkat ke sekolah. Untuk kali ini dia lebih memilih berangkat menggunakan angkutan umum. Meskipun Rey terus memaksanya untuk mengantar Chayra. Namun Chayra memberi alasan bahwa dirinya ingin sendiri. Dengan berat hati kedua orang tua Chayra dan Rey menijinkan Chayra berangkat sekolah sendiri.
Ketika berada di pekarangan rumah, Chayra melihat seseorang berdiri didepan pintu gerbang. Dia tidak bisa melihat siapa pria itu dengan jelas. Sebab pria berdiri membelakangi pintu gerbang. Tak ingin terlalu lama menerka, Chayra segera menghampiri pria itu.
Mendengar suara pintu gerbang terbuka, pria itu segera menatap ke arah sumber suara. Dia tersenyum melihat orang yang ditunggu akhirnya keluar juga. Berbeda dengan Chayra yang menatap kesal ke arah orang itu.
"Ngapain lo kesini? Belum puas juga nyembunyiin kebenaran soal Afnan. Lo tau itu salah tapi masih aja lo lakuin." ucap Chayra kesal dengan sikap pria itu. Belum sempat pria itu menjelaskan, Chayra lebih dulu meninggalkan pria itu. Dengan cepat pria itu meraih salah satu tangan Chayra. Membuat Chayra menghentikan langkahnya dan menatap ke arah pria itu.
"Lepasin tangan gue. Ardian!" bentak Chayra pada pria itu.
"Gue mau jelasin semuanya sama lo. Ikut gue." ucap Ardian sambil menarik tangan Chayra agar dia mengikuti Ardian. Chayra berusaha untuk memberontak, namun tenaganya tak sebanding dengan Ardian. Mau tidak mau dia harus pasrah kemana Ardian akan membawanya.
***
"Dari awal gue nggak mau nutupin semua ini dari lo. Tapi karena Afnan sendiri yang minta jadi gue nggak berhak buat nolak dia. Lagi pula gue nggak punya hak buat ngasih tau semua ini ke elo." jelas Ardian pada Chayra. Kini mereka sedang berada disebuah cafe yang tidak jauh dari sekolahan mereka. Chayra hanya mendengar penjelasan Ardian dengan malas.
"Ra berhenti marah atau benci sama Afnan dan Khansa. Mereka melakukan semua ini karena permintaan orang tua mereka." lanjut Ardian.
"Sekarang nggak ada pengaruhnya kan gue mau benci sama mereka atau enggak. Semuanya juga udah terjadi." balas Chayra.
"Tapi seenggaknya lo jangan ngehindar dari gue." ucap Ardian dengan serius. Chayra menatap heran pada Ardian.
"Emang kenapa kalau gue ikut benci sama lo?" tanya Chayra.
"Gue nggak bisa jauh dari lo." ucap Ardian. Sepontan membuat Chayra terkejut. Apa maksud Ardian? Mengapa dia bisa mengucapkan hal itu?
Tanpa sepatah kata Chayra pergi meninggalkan Ardian. Ardian berusaha untuk menahan Chayra, namun Chayra bersi keras tetap pergi. Kini perasaanya semakin berantakan setelah mendengar ucapan yang semestinya tak diucapkan oleh Ardian. Saat ini dia benar-benar tidak tau harus bersikap seperti apa. Semuanya berubah begitu cepat.
***
Ketika berada didalam kelas, Chayra melihat kedua sahabatnya sedang berbincang. Talina yang melihat kehadiran Chayra segera menyuruh Chayra untuk bergabung bersama. Chayra mengabaikan ajakan Talina, dia memilih duduk dibangku paling belakang dan diujung. Melihat sikap Chayra yang berubah drastis membuat Talina dan Khansa terkejut. Khansa mencoba untuk menatap ke arah Chayra, namun Chayra hanya mengabaikan dengan menatap ke arah lain.
__ADS_1
Khansa pun berjalan ke arah Chayra. Dia ingin sekali menyelesaikan masalahnya dengan Chayra. Jujur dia tidak bisa bila harus bermusuhan dengan sahabatnya sendiri. Chayra yang melihat kehadiran Khansa segera menelangkupkan kepalanya menggunakan kedua tangannya sebagai timpuan. Melihat tindakan Chayra seolah tidak ingin melihat wajahnya, Khansa pun memegang tangan Chayra.
"Maafin gue Ra. Kasih gue kesempatan buat jelasin semuanya." ucap Khansa merasa bersalah. Chayra hanya diam menahan kekesalannya. Chayra bangkit dari tempat duduknya lalu menatap tajam ke arah Khansa.
"Apa dengan lo jelasin semuanya bisa ngembaliin keadaan seperti semula. Atau lo bisa ngembaliin Afnan ke gue lagi. Enggak kan. Jadi sia-sia aja lo jelasin semuanya." ucap Chayra. Setelah itu Chayra berlalu pergi begitu saja. Beberapa kali Khansa meneriaki Chayra agar Chayra menghentikan langkahnya. Namun justru Chayra terus berjalan tanpa memperdulikan sekitarnya.
***
Syafiq berjalan menghampiri Ardian dan Afnan yang sedang duduk dibangku mereka. Sesampainya dibangku Ardian, Syafiq segera menggebrak meja dengan cukup keras. Membuat seisi kelas menatap ke arahnya. Termasuk Ardian dan Afnan. Merasa tidak terima dengan kelakuan Syafiq, Afnan berdiri dari tempat duduknya dan menatap tajam ke arah Syafiq. Secara terang-teangan Syafiq membalas tatapan tajam Afnan.
"Ngapain lo nyamperin gue. Belum puas juga lo bongkar rahasia kita." ucap Afnan mulai emosi.
"Gue mau kalian berdua jauhin Chayra. Udah cukup kalian buat Chayra menderita. Untuk kali ini gue nggak akan biarin itu terjadi." ucap Syafiq memperingatkan.
"Lo siapa berani-beraninya ngelarang gue." ucap Afnan sambil menarik kerah Syafiq. Syafiq hanya terdiam tanpa ingin menjawab. Tentu saja hal itu semakin membuat Afnan kesal. Tanpa aba-aba Afnan memukul wajah Syafiq dengan kencang. Membuat sudut bibirnya mengeluarkan darah.
Ardian berusaha untuk melerai pertengkaran mereka. Syukurlah saat itu Afnan tidak melawan ketika Ardian melerai mereka.
"Ingat itu belum seberapa." ucap Afnan sembari melangkah keluar kelas. Begitu juga Ardian yang ikut melangkah keluar. Sedangkan Syafiq hanya menatap tajam ke arah mereka berdua.
***
Ketika Ardian dan Afnan berada didekat taman sekolah. Afnan menghentikan langkahnhya dan menatap seseorang yang sedang duduk sendiri di taman. Dia bisa merasakan jika seseorang itu sedang bersedih. Terlihat dia menangis hingga sesegukan. Afnan merasa tidak tega melihat cewek itu, dia ingin sekali menghampiri. Namun cewek itu pasti marah jika Afnan menghampirinya.
Ardian yang berada disamping Afnan merasa heran mengapa dia menghentikan langkahnya. Saking penasaran Ardian mengikuti arah pandang Afnan. Hingga Ardian menemukan Chayra yang sedang duduk sendiri di taman sambil menangis.
"Nggak mungkin gue samperin dia. Jelas banget kemarin dia marah sama gue. Jadi gue minta tolong sama lo buat hibur dia. Gue nggak mau liat dia sedih terua gara-gara gue." jelas Afnan. Ardian ingin sekali membantu Afnan tetapi dirinya juga dibenci oleh Chayra. Jadi dia tidak yakin kalau Chayra menerima kehadirannya.
"Kesalahan lo nggak sebanding sama kesalahan gue. Gue yakin Chayra bakalan maafin lo. Plis kali ini bantuin gue lagi. Gue cuma pengen lo selalu ada buat Chayra." bujuk Afnan.
"Tapi Chayra juga masih sama gue. Gue takut dia makin benci sama gue." ucap Ardian sedikit ragu. Namun Afnan terus saja membujuk Ardian agar menuruti permintaannya. Hingga pada akhirnya Ardian pun menuruti permintaan Afnan.
Ketika Ardian baru melangkah beberapa meter. Tiba-tiba saja langkahnya terhenti, dia melihat Chayra telah menyandarkan kepalanya dipundak Syafiq. Ya, dia kalah cepat dengan Syafiq. Saat itu juga Ardian merasa tidak rela jika melihat Chayra dengan Syafiq. Mungkinkah dia sedang cemburu? Apakah Ardian mulai menyukai Chayra? Sampai saat ini pun dia belum mengerti dengan perasaannya sendiri.
***
Pagi kini telah berganti sore yang sedikit mendung. Tak berapa lama kemudian hujan turun membasahi bumi begitu deras. Sedangkan kini Chayra terjebak di halte bus dekat sekolahannya. Dia pun lupa untuk membawa payung. Mana hari semakin gelap, jika Chayra menunggu hujan reda mungkin sampai malam. Akhirnya dia memutuskan untuk menerjang hujan itu. Ketika dia keluar dari halte dan hendak berlari. Tiba-tiba tali sepatunya terlepas. Sehingga membuat Chayra mau tidak mau harus menali sepatunya. Dan membiarkan tubuhnya basah karena air hujan.
Beberapa menit kemudian dia tidak merasakan tubuhnya terkena air hujan. Karena penasaran dia pun berdiri dan mengangkat kepalanya. Betapa terkejutnya dia ketika melihat Ardian sedang memayungi dirinya menggunakan jaket. Tanpa mereka sadari, mereka beradu pandang cukup lama.
"Lo mau pulang atau lo mau mandangi gue." ucap Ardian memecahkan keheningan.
"Ya pulanglah. Gue bisa pulang sendiri." ucap Chayra dingin.
__ADS_1
"Lo yakin mau pulang hujan-hujan gini. Udah mendingan sekarang lo gue anterin pulang." saran Ardian.
"Terserah." jawab Chayra. Untuk pertama kalinya dia malas untuk berdebat dengan Ardian. Akhirnya mereka pun pulang bersama.
Sesampainya didepan rumah Chayra. Chayra langsung menyuruh Ardian untuk masuk ke rumah. Karena dia melihat Ardian yang basah kuyup.
"Nggak usah Ra, gue langsung pulang aja." ucap Ardian.
"Lo itu emang susah banget ya dibilangin." ucap Chayra. Tanpa menunggu perkataan dari Ardian. Chayra langsung menarik tangan Ardian dan mengajaknya masuk rumah.
"Lo tunggu disini bentar." ucap Chayra setelah mereka sampai di ruang tamu. Kemudian Chayra menuju kamarnya dan mencari pakaian kering untuk Ardian.
Selama sepuluh menit Chayra membersihkan badannya. Dia pun segera pergi untuk menemui Ardian sembari membawa pakaian untuk milik kakaknya. Sampai disana Chayra segera menyerahkan pakaian itu kepada Ardian.
"Lo ganti pakaian lo daripada lo sakit." ucap Chayra.
"Makasih Ra." balas Ardian. Chayra hanya meresponnya dengan anggukan.
***
Malam ini Chayra sedang berada di taman samping rumahnya bersama Ardian. Disana mereka duduk di kursi yang telah disediakan. Ketika itu Chayra lebih memilih untuk menikmati pemandangan diatas langit. Berbeda dengan Ardian yang lebih memilih menatap Chayra. Dia sendiri tidak mengerti mengapa akhir-akhir ini dia lebih senang menatap Chayra. Terasa lebih tenang dan nyaman. Rasanya begitu sulit untuk dijelaskan.
Sadar akan tatapan Ardian yang terus mengarah ke Chayra. Chayra pun membalas tatapan Ardian, seketika Ardian menatap ke arah lain.
"Lo ngapain sih ngeliatin gue dari tadi?" tanya Chayra, kesal.
"Gue cuma mastiin aja lo masih dalam mode marah atau enggak." jawab Ardian bergurau.
"Ngapain gue marah sama orang nggak ada gunanya kan." balas Chayra.
"Jadi elo udah nggak marah lagi sama gue?" tanya Ardian.
"Enggaklah, mana bisa gue marah lama-lama sama lo." jawab Chayra apa adanya. Dia memang tidak bisa marah pada Ardian. Karena hanya Ardian lah yang bisa mengerti kondisi Chayra saat ini.
"Kalau sama Afnan." lanjut Ardian. Namun Chayra hanya terdiam. Dia masih bingung dengan perasaannya sendiri. Kalau boleh jujur satu sisi dia bisa merelakan Afnan. Tetapi satu sisi yang lain masih enggan memaafkan Afnan. Mungkin dia hanya butuh waktu untuk membiasakan. Dengan begitu dia akan terbiasa melihat Khansa dan Afnan. Perlahan dia bisa melupakan cintanya pada Afnan.
"Udah sana mending lo pulang. Sudah malam soalnya." ucap Chayra mencoba mengelak dari pertanyaan Ardian.
"Iya deh gue pulang. Sampai ketemu di sekolahan besok." ucap Ardian. Sebelum Ardian melangkah pergi, dia mengacak-acak rambut Chayra. Hingga membuat sang empu marah. Setelah itu Ardian bergegas pergi sebelum dia mendapatkan amukan dari Chayra. Chayra hanya bisa menatap kepergian Ardian dengan perasaan begitu kesal.
Saat Chayra masih berada di taman. Tanpa sengaja dia mendengar seseorang sedang berbicara melalui sambungan telepon. Suara seseorang itu terdengar begitu jelas ditelinga Chayra. Karena penasaran Chayra pun menguping pembicaraan orang itu.
"Saya mau tau gimana pun caranya kamu harus buat anak muda itu berhenti mendekati anak saya. Mengerti kamu." ucap orang itu dengan tegas.
__ADS_1
Suara itu tidak asing ditelinga Chayra. Chayra mencoba untuk menoleh ke sumber suara itu. Betapa terkejutnya ketika Chayra mendapati ayahnya lah yang berbicara lewat telepon itu. Lantas siapa anak muda yang dimaksud ayah? Mengapa ayah bisa senekat itu?
Bersambung...