Setitik Cahaya Selepas Gelap

Setitik Cahaya Selepas Gelap
Masalalu Telah Kembali


__ADS_3

Pagi ini Chayra telah bersiap dengan pakaian seragam sekolahnya. Kali ini dia membiarkan rambutnya terurai panjang. Karena biasanya dia selalu mengikat rambutnya. Setelah semuanya siap, Chayra pun segera pergi ke ruang makan.


Sesampainya disana ternyata bunda, ayah, dan kakaknya sudah menunggunya. Chayra pun menghampiri mereka dan duduk disamping kakaknya.


"Tadi ada kurir yang ngirimi ini buat lo." ucap Rey, tak lain adalah kakaknya Chayra. Chayra menatap ke arah Rey dengan tatapan bertanya.


"Terima aja dulu, ntar lo juga tau siapa pengirimnya." lanjut Rey sembari menyerahkan amplop besar berwarna coklat itu. Dengan ragu Chayra menerima amplop itu. Dia pun segera memasukkannya ke dalam tas sekolahnya.


"Sayang kalau kira-kira isinya nggak jelas. Atau ancaman buat kamu. Kamu harus cepet bilang ke Ayah atau Bunda." ucap bunda. Chayra hanya merespon dengan anggukan. Mereka pun melanjutkan sarapan dengan suasana hening.


***


"Lo nggak usah terlalu mikirin hal itu. Gue cuma minta sama lo jangan sampai Bunda atau Ayah tau tentang isi amplop itu." ucap Rey. Saat ini Rey sedang mengantar Chayra ke sekolah menggunakan mobil miliknya. Sebenarnya Rey jarang sekali mengantar Chayra. Tapi jika ada sesuatu yang penting dan itu menyangkut dengan Chayra. Rey pasti mengantar Chayra, seperti sekarang ini.


"Kenapa emangnya Kak?" tanya Chayra penasaran.


"Lo juga nanti bakalan tau setelah lo buka amplop itu." jawab Rey.


"Kenapa nggak kasih tau sekarang aja sih Kak?" tanya Chayra semakin penasaran.


"Udah deh nggak usah ngebantah." balas Rey.


"Iya deh." ucap Chayra pasrah.


Dia semakin penasaran dengan pengirim itu. Apa dia sangat berpengaruh pada keluarganya? Sampai Rey melarang Chayra memberitahu pada orang tuanya. Tunggu. Apa Rey tau tentang pengirim itu? Jangan-jangan dia memang udah tau. Lantas kenapa Rey tidak langsung memberitahu Chayra.


Chayra pun menatap ke arah Rey dengan tajam. Sadar akan tatapan tajam dari adiknya. Rey membalas tatapan Chayra.


"Kenapa lo liatin gue kayak gitu? Iya gue tau kalau gue itu ganteng." ucap Rey dengan pedenya. Sedangkan Chayra hanya memutar bola matanya jengah.


"Lo sebenernya udah taukan siapa pengirim amplop itu?" tanya Chayra serius.


"Udah." jawab Rey dengan santai.


"Siapa?" tanya Chayra penasaran.


"Males gue kasih taunya. Ntar juga lo bakalan tau." jawab Rey.


Chayra hanya bisa menghembuskan nafas lelahnya. Cobaan buat Chayra memiliki kakak yang nyebelin. Lebih parahnya sikap Rey itu begitu bar-bar.


***


Sesampainya disekolahan, Chayra bergegas pergi ke taman sekolahan. Disana dia duduk dikursi taman seorang diri. Setelah itu dia pun membuka isi amplop yang tadi diberikan oleh Rey. Yang pertama dia ambil adalah sebuah foto. Foto yang kembali mengingatkannya pada kejadian masalalu. Yah, dia kembali mengingat seseorang yang selama ini dia rindukan.


Chayra kembali mengecek isi amplop itu. Ternyata didalamnya ada sebuah surat. Dia segera membaca isi surat tersebut.


"Tunggu aku. Aku akan kembali. Dari Syafiq." batin Chayra membaca isi surat itu.


"Syafiq. Dia akan kembali. Apa dia benar-benar akan kembali? Lalu selama ini dia masih ingat dengan Chayra. Padahal selama ini Chayra berpikir bahwa dia telah melupakan dirinya. Gue kangen banget sama lo. Gue udah nggak sabar pengen ketemu sama lo." ucap Chayra sambil mengusap foto dirinya dan Syafiq di masa kecil.


Tanpa Chayra sadari ada seseorang yang duduk disampingnya. Diam-diam orang itu mencoba mengintip foto yang ada ditangan Chayra. Saat itu juga Chayra sadar akan kehadiran seseorang disampingnya.


"Lo ngapain disini?" tanya Chayra terkejut akan kehadiran Ardian disampingnya.


"Ya gue pengen nyamperin lo aja. Btw itu foto siapa, kok gue liat lo kayak seneng banget liat foto itu?" tanya Ardian mulai penasaran.

__ADS_1


"Enggak penting kok. Ya udah gue mau ke kelas dulu." balas Chayra sambil mengemasi barang-barangnya.


Ardian hanya bisa menatap kepergian Chayra, tanpa berniat untuk mencegahnya. Dia semakin penasaran dengan foto yang dipegang oleh Chayra tadi.


"Gue jadi penasaran sama foto itu. Siapa sih orang yang ada difoto itu?" batin Ardian semakin penasaran. Dia pun berniat untuk menyelidiki foto itu.


***


Didalam ruang kelas 12 IPS 2, Khansa sedang duduk dibangkunya sendiri. Seperti biasanya Khansa selalu datang lebih awal dibanding dengan sahabat-sahabatnya. Hal itu telah menjadi kebiasaan Khansa sedari dulu.


Ketika dia sedang fokus dengan buku dihadapannya. Tiba-tiba ada seseorang yang masuk dan duduk disampingi Khansa. Khansa pun menatap orang itu dengan tajam.


"Ngapain lo kesini? Lo mau cari Chayra? Dia belum dateng." ucap Khansa pada orang itu dengan nada kesal.


"Gue kesini bukan mau cari Chayra. Tapi gue mau cari lo." jawab orang itu dengan santai.


"Ngapain lo nyari gue?" tanya Khansa dengan heran. Tidak biasanya Afnan datang ke kelasnya untuk mencari dirinya. Biasanya dia selalu mencari keberadaan Chayra.


"Gue mau buat perjanjian sama lo." ucap orang itu, lebih tepatnha Afnan. Khansa hanya merespon ucapan Afnan dengan raut wajah bertanya. Dia menunggu Afnan melanjutkan ucapannya.


"Setelah gue menikah sama lo, gue mau lo jangan pernah ngelarang gue buat ngelakuin apapun. Dan lo harus ngebiarin gue buat pacaran sama Chayra. Karena sampai kapan pun gue nggak akan pernah buat putusin dia. Satu lagi gue mau semua orang tau tentang hubungan kita. Apalagi Chayra." ucap Afnan memperingati.


Sedangkan Khansa hanya bisa menghembuskan nafas lelahnya. Dia tau jika Afnan dan Chayra saling mencintai. Dia juga tau bahwa cinta Afnan kepada Chayra begitu besar. Tapi apa yang sekarang Khansa lakukan. Tanpa sengaja dia akan menghancurkan hubungan Afnan dan Chayra. Andaikan orang tuanya tidak menjodohkan dirinya dengan Afnan. Entah bagaimana jika Chayra tau yang sebenarnya tentang hubungan dirinya dengan Afnan. Dia tidak mau dicap sebagai penikung.


"Gue juga nggak mau Chayra tau tentang masalah ini. Gue nggak mau ngebuat sahabat gue benci sama gue." balas Khansa menyetujui usul dari Afnan.


Dari arah pintu masuk, Chayra melihat Afnan dan Khansa sedang berbicara. Dia pun menghampiri kekasihnya dan sahabatnya itu. Melihat kedatangan Chayra, Afnan segera berdiri dan merangkul Chayra. Chayra hanya menatap heran ke arah Afnan. Sebab dia jarang sekali melihat Afnan dan Khansa berbicara serius seperti tadi.


"Tumben kamu ngobrol sama Khansa. Biasanya kalau ketemu udah kayak kucing sama anjing. Tadi aku liat kalian keliatannya ngomongin hal serius. Lagi ngomongin apa sih?" tanya Chayra sembari menatap Afnan dan Khansa bergantian. Afnan pun mengelus kepala Chayra dengan pelan.


"Yakin cuma itu. Kok aku nggak percaya ya." ucap Chayra ingin menggoda Afnan. Afnan pun semakin mengeratkan rangkulannya pada Chayra.


"Ya udah kalau nggak percaya." balas Afnan pura-pura ngambek.


Khansa hanya bisa melihat tingkah mereka dengan senyum mirisnya. Dia tidak sanggup bila Chayra akan tau yang sebenarnya. Untuk membayangkan saja dia tidak ingin.


"Kalau mau pacaran jangan disini. Inget ini masih dilingkungan sekolahan. Kalian mau dapet hukuman cuma gara-gara pacaran didalam kelas." ucap Khansa mengingatkan. Afnan pun melepaskan rangkulannya dari pundak Chayra. Setelah itu dia pun pergi meninggalkan ruang kelas 12 IPS 2. Chayra hanya menatap kepergian Afnan. Setelah itu dia duduk disamping Khansa.


***


Bel pertanda istirahat telah berbunyi. Semua murid segera berhamburan keluar kelas. Termasuk Chayra dan kedua sahabatnya. Mereka pun segera berjalan menuju ke kantin sekolahan untuk mengisi perut kosong mereka. Sesampainya dikantin, mereka segera memesan makanan yang mereka inginkan. Sembari menunggu makanan mereka datang mereka pun berbincang.


"Eh entar malem jadikan pergi ke mall?" tanya Talina memecahkan keheningan.


"Jadilah kita kan udah lama nggak main bareng." jawab Chayra penuh semangat.


"Iyalah lo kan sibuk sama pacar lo. Mana sempet lo jalan sama kita." ucap Khansa menyindir Chayra. Sedangkan Chayra hanya memanyunkan bibirnya mendengar ucapan Khansa. Talina pun membalas kelakuan mereka dengan tertawa.


"Lo harus ingat. Jangan sampai lo bawa Afnan. Gue males liat dia." lanjut Khansa memgingatkan Chayra.


Beberapa menit kemudian ada seseorang datang menghampiri Chayra. Sangat terlihat bila gadis itu sedang marah. Terbukti dia datang sambil memukul meja dengan cukup keras. Hingga membuat Chayra dan teman-temannya terkejut. Sepontan Chayra langsung menatap ke arah orang itu.


"Ngapain lo dateng-dateng langsung gebrak meja. Lo pikir kita nggak kaget apa." ucap Chayra pada gadis itu dengan keras.


"Nggak usah banyak ngomong lo. Gue peringatin sama lo. Lo jauhin Afnan atau hidup lo nggak aman disekolahan ini." ucap gadis itu yang tak lain adalah Klara. Merasa tidak Terima dengan perkataan Klara. Chayra segera berdiri dan menatap tajam ke arah Klara.

__ADS_1


"Jangan lo pikir gue takut sama semua ancaman kuno lo. Gue nggak perduli sama semua ucapan lo. Ngerti lo!" kata Chayra penuh penekanan.


"Gue ngancem lo karena gue perduli sama lo. Gue nggak mau lo ditikung sama sahabat lo sendiri." balas Klara sambil tersenyum licik.


Chayra menatap Klara dengan tatapan bertanya.


"Maksud lo apa?" tanya Chayra dengan keras. Sedangkan Klara masih tersenyum dengan lici. Bahkan dia enggan membalas ucapan Chayra. Melihat perselisihan mereka berdua membuat Talina merasa risih.


"Udahlah kalian nggak malu apa jadi pusat perhatian semua orang." ucap Talina. Namun mereka berdua tidak memperdulikan ucapan Talina.


"Dan lo Klara mendingan sekarang lo pergi dari sini." tegur Talina pada Klara. Tanpa sepatah kata pun Klara segera pergi meninggalkan mereka bertiga.


Chayra dan Talina pun kembali duduk diposisi mereka semula. Tetapi Chayra menatap ke arah Khansa. Biasanya jika Klara mengganggu Chayra, Khansa orang pertama yang membela Chayra.


"Lo kenapa Sa kok dari tadi diem aja?" tanya Chayra penasaran.


"Gue nggak papa." balas Khansa singkat. Chayra segera menatap Talina untuk meminta penjelasan. Namun Talina hanya menggendikan bahunya. Chayra semakin yakin jika saat ini Khansa sedang memiliki masalah. Tapi apa? Entahlah mungkin nanti atau besok dia akan cerita. Begitu lah yang dipikirkan Chayra.


***


Malam yang indah kini telah menyapa dengan hadirnya bintang dan bulan yang bersinar dengan terang. Sesuai dengan janji kepada sahabat-sahabatnya. Malam ini dia telah bersiap untuk pergi ke mall. Sebelum dia berangkat ke mall, terlebih dahulu dia berpamitan pada kedua orang tuanya. Chayra pun segera menghampiri ayah dan bundanya. Kebetulan sekali mereka sedang berada diruang keluarga bersama Rey.


"tumben pakaian lo rapi. Mau pergi kemana lo?" tanya Rey penuh selidik.


"Kepo lo." balas Chayra sembari terus berjalan menghampiri kedua orang tuanya dan duduk disamping bundanya.


"Kalian berdua tu ya kalau ketemu nggak pernah akur." ucap bunda kepada Chayra dan Rey.


"Kak Rey yang mulai duluan tuh Bun." elak Chayra.


"Enak aja kalau ngomong." sanggah Rey dengan raut wajah kesalnya. Melihat kelakuan kedua anaknya membuat ayah dan bunda geleng-geleng kepala tak habis pikir.


"Udah-udah." lerai ayah.


"Chayra malam-malam begini kamu mau pergi kemana?" tanya ayah dengan serius.


"Chayra mau pergi ke mall Yah. Sama Khansa, sama Talina." jawab Chayra. Mendengar kata Talina membuat Rey menatap ke arah Chayra dengan tajam.


Sadar akan tatapan tajam yang dilayangkan oleh Rey membuat Chayra membalas tatapan Rey.


"Talina ikut?" tanya Rey serius. Sedikit informasi. Sebenarnya sudah lama Rey menyukai Talina. Meskipun Rey tidak pernah mengatakan pada Chayra. Tapi Chayra tau dari sikap Rey kepada Talina. Bisa dibilang dia sangat perhatian kepada Talina. Bahkan perhatiannya melebihi perhatian Rey pada dirinya. Sayangnya sampai sekarang Rey tidal berani untuk mengungkapkan perasannya pada Talina. Chayra sendiri pun tidak tau apa alasannya.


"Kenapa? Lo mau ikut? Sorry kali ini gue nggak ngajakin lo." balas Chayra. Tanpa menunggu balasan lagi dari Rey. Chayra segera mencium punggung tangan kedua orang tuanya. Dia pun segera melangkah dengan menggunakan jurus seribu langkah. Melihat kelakuan adiknya membuat Rey naik darah.


"Awas lo ya!" teriak Rey setelah Chayra meninggalkan ruang keluarganya.


***


Sesampainya didepan mall, Chayra segera turun dari taksi yang ditumpanginya. Dia segera berlari menghampiri sahabatnya yang telah menunggu kedatangannya. Kedua sahabatnya pun tersenyum melihat kedatangan Chayra. Setelah itu mereka pun masuk ke dalam mall itu. Belum ada lima langkah dari pintu masuk. Tiba-tiba langkah Chayra terhenti, bahkan membuat kedua sahabatnya menghentikan langkah mereka.


Chayra hanya menatap ke arah depan dengan tajam. Entah apa yang baru saja dia lihat? Rasanya dia seperti melihat seseorang yang mirip dengan seseorang dimasalalunya. Yah, orang itu baru saja melintas dihadapannya. Itulah mengapa dia menghentikan langkahnya. Jika memang benar orang itu orang yang Chayra kenal. Lantas mengapa orang itu tidak menyapanya. Bahkan saat itu dia sedang bersama dengan wanita lain. Yang Chayra sendiri belum tau jelas siapa wanita itu.


"Syafiq. Apa benar itu lo? Tapi kalau itu emang elo, kenapa lo nggak nyapa gue? Apa lo udah lupa sama gue?" batin Chayra penuh tanya.


***

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2