Setitik Cahaya Selepas Gelap

Setitik Cahaya Selepas Gelap
Curiga


__ADS_3

Seseorang itu terus berjalan, namun pandangannya tidak lepas dari Chayra. Saat itu juga dia mengambil langkah untuk menghampiri Chayra yang sedang duduk bersama dengan sahabatnya. Sampai ditempat Chayra, justru Chayra mengabaikan kehadirannya. Meskipun kedua sahabatnya telah menyuruh Chayra untuk menoleh ke arah samping. Tapi sepertinya Chayra tidak ingin melakukannya.


Chayra merasa situasi disekelilingnya mulai membuatnya tidak nyaman. Dia mencoba untuk melirik disekelilingnya. Benar saja semua penghuni kantin menatap ke arahnya. Itu karena seseorang yang berdiri disampingnya. Orang yang secara tidak langsung ingin Chayra hindari. Chayra pun memutuskan untuk meninggalkan kantin. Tetapi baru dua langkah sudah ada seseorang yang menggenggam tangannya. Sepontan saja dia berhenti dan menatap orang itu dengan tajam.


"Kenapa kamu mau pergi gitu aja?" tanya orang itu yang masih menggenggam tangan Chayra.


"Itu bukan urusan kamu. Mendingan sekarang kamu lepasin tangan aku." ucap Chayra dingin. Orang itu pun segera melepas genggaman tangannya.


"Kenapa kamu berubah Ra? Apa aku pernah punya salah sama kamu?" tanya orang itu.


"Elo yang tiba-tiba dateng dihidup gue, dan sekarang lo dateng dengan membawa masalah. Harusnya gue yang tanya kayak gitu sama lo. Selama ini lo kemana aja ngilang nggak ada kabar? Lo yang mulai berubah." ucap Chayra dengan perasaan kesalnya. Setelah itu pun Chayra pergi meninggalkan kantin. Orang itu pun berniat untuk mengejar Chayra, namun Kedua sahabat Chayra mencegah dirinya.


"Mendingan buat sementara waktu lo jauhin dulu Chayra. Pikirannya saat ini lagi kacau. Gue tau lo pengen selalu ada buat Chayra, tapi untuk saat ini biarin dia sendiri dulu. Kita udah tau lo itu sebenarnya sahabat baik Chayra. Tapi gue minta tolong sama lo jauhin dulu Chayra. Lo nggak maukan Chayra semakin benci sama lo." jelas Khansa pada orang itu yang tak lain adalah Syafiq.


"Atas dasar apa Chayra ngebenci gue. Padahal kita baru beberapa hari ketemu." elak Syafiq.


"karena lo penyebab dia putus sama Afnan." jelas Talina dengam emosi. Sejenak Syafiq terdiam. Apa Chayra menyalahkan dirinya karena membuat hubungan Chayra dan Afnan putus? Sedangkan Syafiq merasa tidak melakukan apapun pada Chayra maupun Afnan.


Ketika Chayra hendak keluar melewati pintu kantin tersebut. Tiba-tiba ada seseorang yang mencekal pergelangan tangannya dari arah samping. Chayra pun segera menatap orang itu dengan tajam. Sedangkan orang itu hanya menatap santai pada Chayra.


"Lo nggak perlu nyalahin dia. Semua terjadi karena gue." ucap orang itu, dia adalah Afnan. Cahyra segera melepaskan tangannya dari genggaman Afnan.


"Lo bilangn karena dia hubungan kita kayak gini. Apa gue salah kalau gue juga ikut nyalahin dia?" ucap Chayra penuh penekanan. Tanpa menunggu balasan dari Afnan, Chayra segera pergi menjauh dari Afnan.


"Adanya dia atau enggak, kita tetap bakalan putus. Maafin gue Ra." ucap Afnan sembari menatap kepergian Chayra.


***


"Semua ini terjadi bukan sepenuhnya salah Syafiq. Justru permasalahannya ada diantara lo sama Afnan." ucap Ardian yang duduk disamping Chayra. Saat itu juga Chayra langsung menatap ke arah Ardian dengan tajam. Dia sama sekai tidak mengerti arah pembicaraan Ardian. Tiba-tiba saja dia datang menghampiri Chayra yang sedang duduk sendiri dikursi taman. Dan dia langsung mengatakan hal itu.


"Maksud lo apa ngomong kayak gitu?" tanya Chayra.


"Ra gue cuma nggak mau lo terus-terusan nyalahin Syafiq. Bukannya dka itu sahabat lo dari kecil, harusnya lo percaya sama dia. Dia mana tega ngebuat hubungan lo sama Afnan hancur. Justru masalahnya ada pada Afnan sendiri." jawab Ardian.


"Gue nggak punya bukti buat nyalahin orang lain selain Syafiq. Karena Afnan sendiri yang terang-terangan nyalahin dia. Otomatis gue juga mikir kayak gitu. Coba deb lo pikir dulu sebelum dia dateng hubungan gue sama Afnan baik-baik aja. Tapi setelah dia datang semuanya berakhir kayak gini." jelas Chayra mencoba menahan emosinya.


Sejenak Ardian terdiam, dia tidak menyangka bahwa Chayra begitu percaya kepada Afnan. Hingga dia sulit melihat mana yang benar dan mana yang salah.


"Gue cuma mau lo tau. Dia dateng kesini cuma ingin memperbaiki persahabatan kalian yang mulai renggang. Ra, gue perduli sama lo gue nggak mau lo nyesel ngelakuin hal ini sama Syafiq." ucap Ardian mulai emosi.


"Dari mana lo tau itu semua?" tanya Chayra tak suka.


"Itu sama sekali nggak penting gue tau dari mana." jawab Ardian.


"Sekali lagi gue bilang sama lo jangan salahin gue. Disini gue cuma butuh pelampiasan, dan gue nggak tau mana yang salah dan mana yang benar. Gue bingung Ar." ucap Chayra.


"Selagi Afnan belum jujur yang sebenarnya. Gue nggak akan berhenti buat nyalahin Syafiq. Terserah lo mau niali gue egois atau jahat. Gue nggak perduli." lanjut Chayra.


"Harusnya orang yang pantas lo salahin itu gue bukan Syafiq. Karena cuma gue yang tau alasan Afnan putusin lo. Gue harap kedepannya lo nggak nyesel ngelakuin hal ini." ucap Ardian. Setelah itu Ardian pergi meninggalkan Chayra seorang diri ditaman sekolah itu.

__ADS_1


Chayra hanya bisa menatap kepergian Ardian dengan perasaan campur aduk. Dia terlalu bodoh dalam menyikapi masalah seperti ini. Dari lubuk hatinya yang paling dalam sebenarnya dia tidak ingin menyalahkan Syafiq. Tapi semuanya telah terlanjur. Sebenarnya Chayra juga tidak ingin melakukan hal ini kepada Syafiq. Ya apa yang Ardian bilang semuanya memang benar. Tapi apalah dayanya, egonya lebih besar dibanding perasaannya. Nasi sudah jadi bubur. Semuanya sudah terjadi dan tkdak bisa diputar lagi.


"Apa yang harus gue lakuin?" tanya Chayra pada dirinya sendiri sembari mengusap wajahnya dengan kasar.


"Ardian benar, titik masalahnya ada pada Afnan sendiri. Gue harus minta penjelasan dari Afnan langsung." lanjut Chayra.


***


Kini Chayra memutuskan untuk pergi menemui Afnan. Sepanjang perjalanan menuju kelas Afnan, banyak pasang mata yang menatap ke arahnya. Mungkin berita tentang putusnya hubungan dirinya dengan Afnan telah tersebar seantero sekolah ini. Namun Chayra sama sekali tidak memperdulikan semua tatapan-tatapan itu. Dia hanya fokus untuk bertemu dengan Afnan.


Sesampainya Chayra didepan kelas 12 IPA 1, langkah Chayra dihadang oleh dua orang cowok. Chayra sama sekali tidak mengenal kedua cowok itu.


"Tumben banget lo kesini. Udahlah mending lo terima aja kalau lo diputusin Afnan. Lagian masih ada kita yang jomblo kok." ucap salah satu cowok itu. Chayra pun hanya terdiam, dia sama sekali tidak berniat untuk meladeni ucapan orang tidak jelas itu.


"Mendingan sekarang lo panggilin Afnan, gue mau ketemu sama dia." ucap Chayra dengan nada dinginnya.


"Afnan nggak ada dikelas, tadi dia ijin buat pulang. Katanya dia lagi sakit. Tapi gue nggak tau juga sih." balas salah satu cowok itu.


Afnan sakit? Perasaan tadi Chayra baru bertemu Afnan, dan dia terlihat baik-baik saja. Dia yakin ada sesuatu yang Afnan sembunyiin darinya.


"Kalau gitu gue mau ketemu sama Ardian." ucap Chayra.


"Oke gue panggilin." ucap salah satu cowok itu. Dia pun segera masuk kelas untuk memanggil Ardian.


Beberapa menit Ardian datang menghampiri Chayra yang sedang duduk dikursi panjang depan kelasnya. Ardian pun duduk disamping Chayra dan menatap ke arah Chayra. Sedangkan Chayra hanya menatap lurus ke depan.


"Ada apa Ra kok nyariin gue?" tanya Ardian. Seketika Chayra menatap ke arah Ardian.


"Ardian kok lo malah diem. Apa lo tau kemana Afnan pergi? Atau jangan-jangan lo emamg tau kemana pergi kemana, terus lo nggak mau ngasih tau ke gue." lanjut Chayra.


"Bukan gitu Ra, tapi gue nggak mau ngelukai perasaan lo. Mendingan kalau lo mau ketemu sama Afnan lo telepon dia. Ajak dia ketemuan aja." saran Ardian.


"Ar, mendingan sekarang lo jujur sama gue. Apa yang sebenarnya Afnan sembunyiin dari gue. Gue yakin lo pasti tau semuanya tentang Afnan." ucap Chayra.


"Gue nggak bisa ngasih tau lo apapun. Yang berhak ngasih tau lo itu Afnan sendiri. Suatu saat nanti pasti Afnan bakalan ngasih tau ke elo." balas Ardian.


"Gue maunya sekarang. Bukan nanti, besok, atau lusa, atau kapanpun itu." ucap Chayra dengan keras.


"Gue tegasin lagi Ra. Gue nggak bisa ngasih tau apapun tentang Afnan ke elo. Terserah lo mau benci sama gue. Tapi gue tetep pegang janji gue sama dia buat nggak ngasih tau siapapun. Termasuk lo. Maafin gue Ra." ucap Ardian.


Setelah itu Ardian pergi meninggalkan Chayra, lalu masuk ke kelasnya. Sedangkan Chayra merasa kesal dengan sikap Ardian yang selalu berpegang teguh pada janjinya itu. Memang tidak ada yang salah dengan sikap Ardian. Hanya saja Chayra tidak suka pada sikap Ardian yang selalu menepati janjinya itu disaat seperti ini. Itulah Ardian.


"Ok fine, Ardian emang nggak bisa diandelin." ucap Chayra dengan kesal. Chayra pun berjalan menjauh dari kelas 12 IPA 1. Ditengah perjalanan dia berpapasan dengan Syafiq. Namun Chayra memang sengaja tidak menatap ke arahnya. Sedangkan Syafiq menatap Chayra yang hendak berjalan melewatinya. Tiba-tiba Syafiq meraih tangan Chayra dari samping. Membuat Chayra menghentikan langkahnya dan menatap tajam ke arah Syafiq.


"Kenapa?" tanya Chayra dingin.


"Lo masih marah sama gue?" tanya Syafiq.


"Sampai detik ini gue masih belum mendapatkan kebenarannya. Jadi gue masih nganggep lo penyebab semua ini." balas Chayra.

__ADS_1


"Sampai kapan Ra? Ra kita itu sahabat dari kecil. Kita udah pisah lama, dan sekarang tiba-tiba tanpa alasan yang jelas lo marah sama gue." ucap Syafiq. Tanpa membalas perkataan Syafiq, Chayra segera pergi dari hadapan Syafiq. Sedangkan Syafiq hanya bisa menatap kepergian Chayra.


***


Didalam ruang kelas 12 IPS 2, Chayra melihat Talina sedang duduk dibangkunya seorang diri. Dia segera menghampiri Talina dan duduk disamping Talina. Dia menatap ke arah Chayra dengan tatapan kesalnya.


"Dari mana sih lo gue cariin dari tadi? Gue kesepian tau nggak ada lo berdua." ucap Talina dengan kesal.


"Sorry tadi gue ada urusan bentar. Emang Khansa kemana kok tasnya nggak ada di kelas?" tanya Chayra.


"Tadi dia bilang cuma mau ijin pulang. Katanya badannya nggak enak." jelas Talina. Entah mengapa dia tidak percaya dengan penjelasan Talina. Dia semakin curiga apa Khansa menyembunyikan sesuatu darinya. Perasaan tadi dia melihat Khansa baik-baik saja.


"Kok gue nggak percaya ya. Gue malah yakin kalau Khansa itu pergi sama Afnan." ucap Chayra.


"Kok lo bisa mikir gitu." ucap Talina tak habis pikir.


"Tadi gue habis ke kelasnya Afnan, tapi dia nggak ada. Katanya dia ijin pulang karena sakit. Terus sekarang Khansa nggak ada di kelas. Terus lo bilang dia sakit. Nggak mungkin kebetulan banget mereka mendadak sakit. Padahal gue liat mereka sehat-sehat aja." jelas Chayra.


"Nggak usah nething dulu Ra. Siapa tau ini memang kebetulan aja." sanggah Talina.


"Mending lo telepon Khansa, terus gue telepon Afnan. Kalau mereka berdua nggak angkat telepon kita. Kemungkinan mereka lagi pergi bareng. Tapi kalau salah satu dari mereka angkat telepon dari kita. Ok gue anggap hal ini kebetulan." usul Chayra.


"Mereka pun melakukan aksinya untuk menelpon Khansa dan Afnan. Panggilan pertama mereka tidak menjawabnya. Chayra dan Talina pun terus mencoba menghubungi Khansa dan Afnan. Namun hasilnya tetap sama, tidak ada jawaban dari mereka. Bahkan mereka telah menelpon Afnan dan Khansa lebih dari sepuluh kali.


"Gue makin yakin mereka nyembunyiin sesuatu dari kita." ucap Chayra dengan kesal.


"Dari pada kita nething mending besok kita tanya langsung sama Khansa." usul Talina.


"Ok gue setuju." ucap Chayra.


"Tapi gue tetep yakin kalau Afnan dan Khansa sedang menyembunyikan sesuatu. Tapi apa? Gue harus selidiki semua ini." batin Chayra.


***


Malam ini Syafiq berniat untuk pergi menemui Chayra. Dia pun memutuskan untuk datang ke rumah Chayra. Sesampainya didepan rumah Chayra, Syafiq segera mengetuk pintu. Tak lama pintu itu pun terbuka, dan memperlihatkan seorang wanita paruh baya. Tak lain adalah bundanya Chayra. Bunda Chayra hanya menatap Syafiq dengan tajam.


"Ada keperluan apa kamu datang ke rumah saya?" tanya bunda dengan tidak suka.


"Saya ingin bertemu dengan Chayra, Tante." jawab Syafiq dengan sopan.


"Jauhi anak saya. Jangan pernah kamu bertemu ataupun berteman dengan anak saya." ucap bunda dengan keras.


.


"Tapi Tan. Saya dan Chayra sudah berteman lama. Kenapa saya tidak boleh bertemu dengan Chayra." ucap Syafiq.


"Tanyakan pada keluarga kamu." balas bunda. Setelah itu bunda segera menutup pintu dengan keras. Dia sama sekali tidak mengerti mengapa bunda melarang Syafiq bertemu dengan Chayra. Padahal Dulu hubungannya dengan keluarga Chayra begitu dekat. Namun beberapa tahun ini memang hubungannya dengan keluarga Chayra sedikit bermasalah.


Sebenarnya ada hal yang tidak diketahui oleh Syafiq. Tentang alasan keluarga Chayra membenci keluarga Syafiq. Itu disebabkan karena dulu keluarga Syafiq hampir saja membuat keluarga Chayra bangkrut. Sebab dahulu mereka bersaing untuk memenangkan tender. Hingga pada akhirnya keluarga Syafiq yang memenangkannya. Bahkan akibat kekalahan itu hampir saja membuat keluarga Chayra bangkrut. Karena hal hal itulah yang membuat keluarga Chayra membenci keluarga Syafiq.

__ADS_1


Syafiq pun memutuskan untuk pulang kerumah dengar tangan kosong. Harapannya kini tak sesuai lagi dengan kenyataan. Dia merasa makin kesini makin terlalu banyak hal yang membuat dirinya dan Chayra jauh.


"Apa ini pertanda kalau gue sama Chayra nggak bisa bersama lagi." batin Syafiq.


__ADS_2