Setitik Cahaya Selepas Gelap

Setitik Cahaya Selepas Gelap
Putus


__ADS_3

Seperti biasanya Chayra selalu pulang sekolah bersama Afnan. Namun kali ini keadaan berbeda dari biasanya. Jika biasanya Afnan selalu mengantar Chayra menggunakan motornya. Tapi kali ini dia memilih mengantar Chayra menggunakan mobil milik Ardian. Entah alasan apa yang membuat Afnan memilih mengantarnya menggunakan mobil. Bisa dibilang ini untuk pertama kalinya.


Sepanjang perjalanan pun mereka hanya berdiam. Tidak ada diantara mereka yang berniat untuk memecahkan keheningan. Sejak tadi Chayra merasa aneh dengan keadaan ini. Tidak biasanya Afnan mendiamkan dirinya seperti ini. Setiap kali mereka bertemu pasti ada saja yang mereka bicarakan. Tapi kali ini terasa berbeda. Seperti ada jarak diantara mereka berdua.


"Kamu kenapa kok diem aja dari tadi? Apa kamu punya masalah?" tanya Chayra yang sudah tidak tahan lagi dengan situasi seperti ini. Tetapi Afnan sama sekali tidak merespon pertanyaannya. Bahkan untuk menoleh ke arah Chayra pun tidak.


"Afnan kalau aku punya salah sama kamu. Tolong jelasin apa salah aku. Jangan kamu diam kayak gini." ucap Chayra serius.


"Apa kamu bisa jelasin siapa cowok yang kamu temuin dita.man sekolah tadi." ujar Afnan tanpa memandang Chayra. Jelas diwajahnya tersirat rasa kekecewaannya. Meskipun Afnan berusaha memasang raut datarnya.


Chayra hanya memandang Afnan dengan perasaan terkejut. Sekarang dia tau mengapa sejak tadi Afnan hanya mendiamkan dirinya. Ternyata Afnan sedang cemburu.


"Dia cuma temen kok nggak lebih." balas Chayra dengan tenang. Tiba-tiba Afnan menghentikan mobilnya secara mendadak. Beruntung saat itu jalanan sedang sepi. Tapi tetap saja membuat Chayra merasa terkejut. Dia pun langsung menatap Afnan dengan tajam. Ternyata Afnan juga menatap ke arahnya tak kalah tajam juga.


"Kamu bilang temen. Mana ada temen yang berani pegang tangan, terus pegang-pegang kepala kamu. Gak ada temen kaya gitu." bentak Afnan membuat Chayra merasa takut.


"Aku yakin kalian pasti punya hubungan kan. Udahlah Ra jujur aja kalau kamu udah bosen sama hubungan ini." lanjut Afnan dengan emosi.


"Kamu dengerin aku, aku nggak pernah ada hubungan apapun sama cowok lain kecuali kamu. Dan asal kamu tahu. Aku nggak pernah berpikiran buat main belakang sama kamu. Harusnya kamu dengerin dulu penjelasan aku bukan langsung marah kayak gini." ucap Chayra tak kalah emosi.


"Udahlah nggak ada yang perlu dijelasin lagi." bentak Afnan lagi.


"Oke kalau itu emang mau kamu." ucap Chayra. Setelah itu Chayra keluar dari mobil dengan perasaan kesal. Sedangkan Afnan sama sekali tidak berniat untuk mencegah kepergian Chayra. Dia masih dengan ego nya yang menuduh Chayra bermain di belakangnya.


"Maafin gue Ra. Gue nggak bermaksud buat nyakitin lo kayak gini. Maafin gue, gue terlalu egois." batin Afnan.


***


Sampailah Chayra didepan rumahnya. Ketika dia hendak membuka pintu gerbang. Tiba-tiba dari arah belakang ada seseorang yang menarik lengan Chayra. Membuat Chayra menghadap ke arah orang itu. Melihat kehadiran orang itu membuat Chayra sedikit terkejut.


"Lo ngapain ke sini?" tanya Chayra pada orang itu.


"Lo nggak papa kan?" tanya balik orang itu.


"Seperti yang lo liat sekarang." jawab Chayra tidak ingin memberikan jawaban yang sebenarnya.


"Gue tau lo sedang nggak baik-baik aja. Lo sama Afnan lagi ada masalah kan?" tanya orang itu tak lain adalah Ardian.


Sebenarnya sejak tadi Ardian mengikuti Afnan dan Chayra. Karena semenjak Afnan meminjam mobilnya, Ardian langsung berpikiran jika Afnan dan Chayra sedang memiliki masalah. Dia tau jika Afnan sedang emosi maka sangat sulit untuk Afnan menahan emosinya. Hingga membuat Ardian berniat mengikuti Afnan dan Chayra. Meskipun dia tau Afnan tidak akan berani melukai Chayra. Tetap saja dia khawatir.


Sampai detik ini Chayra masih terdiam, dia masih belum menjawab pertanyaan dari Ardian. Sedangkan Ardian setia menunggu sampai Chayra benar-benar siap untuk menjawab pertanyaannya. Namun Chayra justru menangis. Melihat Chayra menangis membuat Ardian merasa iba. Sepontan Ardian memeluk Chayra supaya Chayra merasa tenang.


"Kalau lo pengen nangis, nangis aja Ra. Kalau dengan menangis bikin lo sedikit lega." ucap Ardian dengan lembut sembari memeluk Chayra.


"Gue putus sama Afnan, Ar." ucap Chayra disela tangisnya. Mendengar penuturan dari Chayra membuat Ardian terkejut. Dia tidak menyangka kalau Chayra dan Afnan putus.


"Udah tenang Ra. Gue yakin hubungan kalian akan kembali seperti semula. Mungkin karena kalian berdua sedang emosi, makanya kalian sulit berpikir dengan dingin." ucap Ardian memberikan nasihat. Namun Chayra tidak membalas apapun. Yang bisa dia lakukan adalah menangis dipelukan Ardian.


Memang sejak dulu Ardian lah yang selalu menjadi penengah diantara hubungan mereka. Dia selalu ada untuk Chayra maupun Afnan. Dia memang sahabat yang paling baik, dan menurut Chayra, Ardian adalah laki-laki yang dewasa. Itu sebabnya Chayra begitu dekat dengan Ardian. Dia seperti kakak bagi Chayra.

__ADS_1


***


Malam hari Chayra sedang berada Dikamarnya. Sejak sepulang sekolah tadi memang Chayra tidak keluar dari kamarnya. Bahkan kedua orang tuanya telah membujuk Chayra agar Chayra mau keluar dari kamarnya. Namun usaha mereka gagal. Sampai saat ini pun Chayra masih enggan untuk keluar dari kamarnya. Pikirannya masih teratur memikirkan tentang kejadian tadi siang. Dia tidak menyangka kalau kedekatannya dengan Syafiq sangat berpengaruh pada hubungannya dengan Afnan.


"Entah ini kesalahaan siapa, atau mungkin kita yang kurang dewasa dalam menghadapi masalah ini. Gue nggak nyangka kalau hubungan gue sama Afnan bakalan berakhir seperti ini." batin Chayra.


Beberapa menit kemudian terdengar suara pintu diketuk oleh seseorang. Belum sempat Chayra menyuruh orang itu masuk, namun orang itu lebih dulu membuka pintu dan masuk ke kamar Chayra. Dia pun menghampiri Chayra, dan duduk disamping Chayra. Sedangkan Chayra hanya menatap lurus kedepan tanpa memperdulikan orang yang ada disampingnya itu.


"Gimana lo udah ketemu sama Syafiq?" tanya orang itu. Dia adalah Rey, kakaknya Chayra.


"Udah." jawab Chayra singkat. Rey pun hanya menatap Chayra dengan heran.


"Lo nggak seneng kalau dia balik? Bukannya dari dulu lo selalu berharap buat dia bisa balik lagi?" tanya Rey.


"Itu dulu. Kalau tau akhirnya kayak gini mendingan dia nggak usah balik aja." jawab Chayra tidak berminat.


"Lo ada masalah apa sama Syafiq?" tanya Rey semakin penasaran.


"Gara-gara dia gue putus sama Afnan." jawab Chayra apa adanya. Sedangkan Rey hanya tersenyum mendengar penjelasan adiknya itu.


"Akhirnya lo putus juga sama Afnan. Asal lo tau, lo tu nggak pantes pacaran sama Afnan. Mending lo pacaran sama Syafiq. Atau kalau nggak pacaran sama Ardian. Gue perhatiin Ardian juga perhatian banget sama lo." jelas Rey. Chayra pun menatap tajam ke arah kakaknya itu.


"Gue sama mereka itu cuma sahabat. Nggak mungkin gue pacaran sama salah satu dari mereka." bantah Chayra.


"Jangan ngomong kayak gitu. Entar ujungnya lo suka sama salah satu diantara mereka."


"Mendingan lo keluar aja deh daripada lo disini cuma bikin kepala gue panas. Asal lo tau gue nggak butuh saran lo." usir Chayra kepada Rey.


Setelah kepergian Rey dari kamarnya dia merasa sangat lelah. Dia pun membaringkan tubuhnya diatas tempat tidurnya. Dengan posisi terlentang. Dia masih sangat berharap jika hubungannya dengan Afnan bisa kembali diperbaiki. Tapi apakah harapan itu masih ada? Atau hanya tinggal angan semata. Biarkan waktu yang akan menjawab semuannya.


***


Kini Afnan sedang berada di salah satu restoran mewah yang ada di Jakarta. Kali ini dia tidak datang sendiri, melainkan bersama calon istrinya. Khansa. Rencananya mereka akan membahas tentang konsep pernikahan mereka. Itu pun mereka lakukan atas dasar permintaan kedua orang tua mereka. Andaikan bisa memilih mereka tidak ingin ditempatkan diposisi seperti ini. Mereka hanya ingin menikah dengan orang yang benar-benar mereka cintai.


"Lo yakin akan tetap meneruskan pernikahan Ini?" tanya Khansa disela keheningan mereka. Sedangkan Afnan hanya menjawab dengan anggukan kepala.


"Terus Chayra?" tanya lagi Khansa. Kali ini Afnan langsung menatap ke arah Khansa. Jujur dia masih enggan bila harus membahas hubungannya dengan Chayra.


"Gue sama dia udah putus." jawab Afnan berusaha sesantai mungkin. Padahal hatinya masih berduka.


"Kok bisa?" ucap Khansa terkejut.


"Gue tau kalau gue sama Chayra nggak mungkin bisa bersama. Sedangkan gue sama lo bakalan nikah. Gue nggak mau nyakitin dia terlalu dalam, dan gue bakalan belajar buat mencintai lo." jelas Afnan.


Khansa tidak menyangka jika Afnan akan memilih jalan seperti ini. Dia tau jalan yang dipilih Afnan bukanlah jalan yang mudah. Apalagi Afnan dan Chayra saling mencintai. Khansa tau sampai detik ini Afnan masih sangat mencintai Chayra. Lantas bagaimana Afnan bisa belajar mencintai dirinya? Sedangkan hati dan pikiran Afnan masih terpaut tentang Chayra.


"Lebih baik kita batalin rencana pernikahan ini. Gue tau lo cinta banget sama Chayra. Gue cuma nggak mau nyiksa perasaan lo sendiri." ucap Khansa.


"Nggak bisa. Gue nggak bisa nentang permintaan kedua orang tua gue. Gue yakin pilihan mereka adalah yang terbaik buat gue. Sa bantu gue buat ngelupain Chayra." ucap Afnan sembari menggenggam tangan Khansa.

__ADS_1


"Gue nggak bisa janji. Tapi gue akan berusaha buat bantuin lo ngelupain Chayra." balas Khansa sembari tersenyum. Afnan pun membalas senyum Khansa.


Tentang cinta, tidak ada seorang pun yang tau akhir dari sebuah cinta. Manusia tidak bisa memilih dengan siapa mereka akan menjatuhkan cintanya. Cinta itu sebuah misteri yang sulit dijelaskan. Terkadang cinta itu juga menjebak. Menjebak seseorang untuk bertahan atau meninggalkan.


***


Pagi ini Chayra berangkat sekolah dengan perasaan yang begitu kacau. Dia masih berharap kejadian kemarin adalah sebuah mimpi buruk. Tapi kenyataannya kejadian itu memang benar-benar terjadi. Sampai detik ini Chayra masih bingung dimana letak kesalahannya. Hingga membuat Afnan memutuskan hubungan dengannya. Entah bagaimana dia begitu yakin jika Afnan memang sengaja memutuskan hubungan dengan Chayra.


"Gue harap gue cepet bisa ngelupain lo Nan. Gue harus bisa bangkit lagi, gue nggak mau terlihat lemah dihadapan siapapun." batin Chayra.


Kedua sahabat Chayra pun sampai dikelas, mereka segera menghampiri Chayra yang sedang duduk termenung. Khansa yakin saat ini kondisi Chayra sedang tidak baik-baik saja. Meskipun Chayra mencoba menyembunyikan dibalik wajahnya yang datar itu.


"Tumben Ra jam segini udah dikelas aja?" tanya Talina heran.


"Lagi pengen aja." jawab Chayra singkat.


"Lo kan biasanya selalu berduaan dulu sama Afnan. Apa lo lagi ada masalah?" tanya Talina. Bukannya menjawab pertanyaan Talina, Chayra justru menatap tajam ke arah sahabatnya itu. Khansa pun memberi kode kepada Talina untuk membahas tentang hal itu.


Sebenarnya Talina tau jika Chayra dan Afnan sudah putus. Itu karena Khansa sendiri yang memberitahunya. Namun Talina ingin mendengar sendiri alasan dari Chayra mengakhiri hubungan mereka.


"Gue udah putus sama dia." jawab Chayra dengan singkat.


"Kenapa?" tanya Talina semakin penasaran.


"Kalian nggak perlu tau alasannya. Biar gue sama Afnan aja yang tau." jawab Chayra.


"Gue yakin Ra lo pasti bisa dapetin pengganti yang lebih baik dari Afnan. Gue tau lo cewek yang kuat. Lo pasti bisa ngedepin ini semua." ucap Talina sembari memeluk Chayra dari samping.


"Makasih Na udah mau ngertiin gue." balas Chayra.


Sedangkan Khansa hanya bisa menatap kedua sahabatnya dengan tatapan yang miris. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana jika Chayra tau, bahwa karena dirinya lah Afnan memutuskan Chayra. Namun serapat apapun Khansa menyembunyikan bangkai tetap akan tercium juga. Cepat atau lambat semuanya akan terbongkar juga.


"Lo ngapain Sa dari tadi diem aja?" tanya Chayra yang melihat Khansa melamun.


"Enggak papa kok. Oya tadi gue denger-denger ada anak baru di sekolahan ini. Itu bener nggak sih?" tanya Khansa mencoba mengalihkan topik pembicaraan.


"Tumben lo ngomongin anak baru. Biasanya lo paling cuek sama hal kayak gituan. Apa jangan-jangan nih anak baru ganteng banget ya. Makanya sampai lo ngomongin dia." sindir Talina sembari tertawa. Chayra pun ikut tertawa mendengar ucapan Talina.


"Enggak lah. Gue kan cuma mastiin aja. Siapa tau kalian tau soal ini." ucap Khansa mencoba mengelak.


"Udahlah nggak usah ngelak Sa. Bilang aja kalau lo udah bosen jomblo." ucap Chayra yang ikut menjahili sahabatnya itu. Khansa pun merasa kesal melihat kedua sahabatnya terus menyudutkan dirinya. Sedangkan kedua sahabatnya merasa puas bisa menjahili Khansa.


***


Ketika jam istirahat sedang berlangsung, Chayra dan sahabatnya sedang berada dikantin. Disana mereka sedang menikmati makanan mereka sembari berbincang. Ditengah senda gurau mereka, tiba-tiba keadaan kantin menjadi lebih riuh dari biasanya. Mereka pun segera melihat ke arah sumber pembuat keributan itu.


Betapa terkejutnya ketika Chayra melihat seorang laki-laki tengah berjalan dengan pesonanya. Chayra tidak menyangka bila orang itu akan satu sekolahan dengannya. Orang yang pertama kali membuat masalah dihubungan Chayra dan Afnan.


"Pantes lo tadi bahas tentang anak baru itu. Ternyata dia cogan, tapi pesonanya ngalahin para cogan lain disekolah ini." goda Talina namun diabaikan kedua sahabatnya.

__ADS_1


***


Bersambung


__ADS_2