
Malam ini Chayra sedang berada di kamarnya. Sedari tadi dia terus saja berdiri didepan jendela kamarnya. Sembari menatap langit yang gelap. Sedangkan tangannya memegang sebuah handphone. Dia memang mencoba menghubungi Khansa maupun Afnan. Akan tetapi tak ada satupun panggilannya terjawab oleh dua orang itu. Membuat Chayra semakin yakin jika memang Khansa dan Afnan sedang menyembunyikannya sesuatu darinya. Tapi apa?
"Gue ngancem lo karena gue perduli sama lo. Gue nggak pengen lo ditikung sama sahabat lo sendiri." ucap Klara kala itu. Ucapan itu masih terngiang ditelinga Chayra. Dia semakin merasa jika Afnan dan Khansa memang memiliki hubungan.
Chayra segera menelpon Talina untuk meminta pendapat. Beberapa menit kemudian Talina menjawab telepon dari Chayra. Chayra pun segera menanyakan kabar tentang Khansa kepada Talina.
"Tadi sih Khansa cuma bilang ke gue kalau dalam waktu tiga hari ini dia nggak masuk sekolah." jelas Talina melalaui sambungan telepon.
"Emang parah banget sakitnya sampai tiga hari nggak masuk sekolah?" tanya Chayra.
"Gue nggak tau pasti sih Ra." jawab Talina.
"Gue heran kenapa dia nggak ngabarin gue juga? Dia malah ngabarin lo aja. Malahan gue telepon dia berkali-kali tapi nggak diangkat." ucap Chayra sedikit kesal. Tidak biasanya Khansa bersikap seperti ini. Biasanya jika terjadi sesuatu Khansa selalu memberitahu Chayra dan Talina. Tapi sekarang mengapa hanya Talina yang dia hubungi? Memang ada yang tidak beres dengan Khansa.
"Kita ambil positifnya aja Ra. Udah dulu ya Ra, gue masih ada urusan nih. Mendingan besok kita bahas lagi di sekolahan. Udah dulu ya." ucap Talina. Chayra hanya diam tanpa memperdulikan ucapan Talina. Setelah itu Talina memutuskan sambungan teleponnya.
Chayra pun berjalan menuju tempat tidurnya, dia segera menghempaskan tubuhnya di atas tempat tidur. Kepalanya pun terasa sedikit pusing. Mungkin karena beberapa hari ini dia terlalu memikirkan sikap Afnan yang berubah. Bahkan setelah mereka putus, Afnan sama sekali tidak menghubungi dirinya. Untuk bertemu pun juga tidak pernah. Hanya waktu kejadian di kantin dia bertemu dengan Afnan. Setelah itu dia sama sekali tidak bertemu dengan Afnan. Dia seolah menghilang bagai ditelan bumi.
Apa kabar kamu yang dulu. Kamu yang selalu perhatian denganku. Perduli denganku. Yang selalu membuatku tersenyum dengan segala tingkah konyolmu. Tapi sekarang semuanya telah berubah. Kamu tak lagi perhatian. Tak lagi perduli denganku. Sikapmu kini berubah dingin kepadaku. Kita berawal dengan baik-baik saja. Tetapi kita mengakhirinya dengan tidak baik-baik saja. Aku merindukan kamu yang dulu.
***
Pagi ini Chayra telah bersiap dengan pakaian seragam sekolahnya. Setelah itu dia pergi ke ruang makan untuk sarapan bersama keluarganya. Seperti biasa bunda, ayah, dan Rey telah menunggu kedatangan Chayra. Sesampainya diruang makan Chayra memilih disamping kakaknya.
"Chayra, ayah ingin bicara penting sama kamu." ucap ayahnya menghentikan aktivitas Chayra mengambil nasi. Chayra segera menatap ke arah ayahnya dengan tatapan bertanya.
"Ayah cuma minta sama kamu buat jauhin Syafiq. Ayah nggak mau kamu deket-deket sama dia. Apalagi sampai menjalin persahabatan sama dia." ucap ayah dengan tegas.
"Memangnya kenapa Yah? Bukannya Ayah sama Bunda tidak mempermasalahkan Chayra dekat dengan siapa saja?" tanya Chayra bingung.
"Itu memang, terkecuali dengan Syafiq. Ayah tidak suka kamu dekat dengan dia." jawab ayah. Chayra semakin bingung, mengapa tiba-tiba ayahnya melarang dirinya untuk berhubungan dengan Syafiq.
"Apa alasannya Yah?" tanya Chayra lagi.
"Turuti apa kata Ayah. Ini semua demi kebaikan kamu." ucap ayahnya dengan nada tinggi. Itu pertanda bila keinginan ayahnya tidak bisa di bantah lagi.
"Kalau gitu Chayra berangkat dulu." ucap Chayra sambil bangun dari tempat duduknya.
"Sarapan dulu Ra." ucap bunda Chayra.
"Chayra masih kenyang." ucap Chayra sambil berlalu meninggalkan ruang makan dengan perasaan campur aduk.
"Rey kamu kejar adik kamu." perintah ayah kepada Rey. Tanpa membantah ucapan ayahnya Rey segera pergi menyusul adiknya.
***
Saat langkah Chayra sampai di depan rumah, Rey segera meraih tangan Chayra. Chayra pun segera menghentikan langkahnya dan menatap ke arah Rey.
__ADS_1
"Kenapa lo nggak sarapan dulu? Ini masih terlalu pagi buat lo pergi sekolah?" tanya Rey.
"Bukan urusan lo." ucap Chayra. Setelah itu Chayra melanjutkan langkahnya. Namun lagi-lagi Rey menghadang langkahnya.
"Kenapa lagi sih Kak?" tanya Chayra dengan kesal.
"Kalau lo nggak mau makan di rumah, kita cari makan diluar aja. Gue nggak mau lo berangkat sekolah dalam keadaan perut lo yang kosong. Kalau lo pingsan gimana?" ucap Rey. Namun Chayra tetap menolak permintaan Rey. Dia tetap bersi keras untuk pergi ke sekolahan.
"Ok, kalau gitu gue anter lo ke sekolah." ucap Rey.
"Kalau lo nganter gue terus kuliah lo gimana? Bukannya lo ada kuliah pagi." ucap Chayra mengingatkan Rey.
"Mendingan gue telat daripada lo kenapa-napa di jalan. Udah cepetan berangkat sekarang." ucap Rey sambil menarik tangan Chayra, menuju ke arah mobil. Chayra hanya mengikuti langkah Rey tanpa banyak protes.
***
Ketika berada didalam mobil pun Chayra dan Rey hanya saling diam. Sesekali Rey melirik ke arah Chayra, dan dia mendapati adiknya tengah melamun. Sebenarnya Rey memperhatikan sikap Chayra yang akhir-akhir ini berubah. Dia sering mengurung diri di kamar, bahkan wajahnya terlihat murung. Seperti ada beban berat yang Chayra pikirkan.
"Ra, lo ngelamunin apaan sih? Gue perhatiin akhir-akhir ini lo banyak ngelamun nggak kayak dulu." tanya Rey penasaran. Chayra pun langsung menoleh ke arah Rey yang masih fokus menyetir.
"Nggak papa kok Kak." jawab Chayra.
"Kalau lo emang ada masalah lo boleh cerita ke gue. Gue pasti bantuin lo." ucap Rey menasehati.
"Beneran Kak gue nggak papa kok. Lo nggak perlu ngawatirin gue. Kalau ada apa-apa pasti gue langsung bilang ke elo." ucap Chayra menyakinkan Rey. Rey hanya bisa menghembuskan nafasnya lelah. Jika sudah begini dia tidak bisa memaksa Chayra.
"Ra tunggu bentar." panggil Rey. Chayra pun menoleh ke arah Rey.
"Kenapa Kak?" tanya Chayra.
"Kalau ada apa-apa nanti langsung telepon Kakak ya. Gue nggak mau lo kenapa-napa." ucap Rey mengingatkan Chayra. Chayra pun hanya menjawabnya dengan anggukan. Setelah itu dia turun dari mobil Rey.
***
Sampailah Chayra di ruang kelas 12 IPS 2. Disana Chayra hanya mendapati Talina yang sedang duduk di bangkunya dengan sebuah buku dihadapannya. Biasanya saat dia berangkat dia langsung melihat Khansa. Sebab Khansa selalu berangkat lebih awal. Namun sekarang dia tidak melihat Khansa, apa mungkin dia terlambat atau memang tidak berangkat sekolah?
Chayra segera menghampiri Talina dan duduk disamping Talina. Melihat kehadiran Chayra, Talina langsung menutup bukunya dan menatap ke arah Chayra.
"Hari ini Khansa nggak berangkat?" tanya Chayra pada Talina.
"Dia kan izin tiga hari. Mungkin lusa baru berangkat dia." jelas Talina.
"Sorry gue lupa. Gue jadi pengen ke rumah dia, lo mau ikut nggak." ajak Chayra.
"Katanya dia lagi nggak di rumah. Jadi mending besok aja kalau mau ke rumahnya. Soalnya dia bilang gitu ke gue." ucap Talina. Setelah mendapat penjelasan dari Talina, Chayra segera mengeluarkan buku novelnya. Namun pikirannya tetap saja curiga dengan Khansa. Talina melihat ke arah Chayra dengan tatapan aneh. Dia merasa hari ini Chayra berbeda dari hari biasanya. Biasanya dia selalu ceria, tapi hari ini dia nampak lesu dan pucat.
"Ra apa lo sakit?" tanya Talina mulai khawatir. Sedangkan Chayra hanya menjawab dengan gelengan kepala. Tetapi fokusnya masih tertuju pada novel dihadapannya.
__ADS_1
"Tapi muka lo pucet gitu." lanjut Talina.
"Gue nggak papa Na." ucap Chayra menyakinkan Talina. Saat itu juga Talina mencoba percaya pada Chayra. Kalau sudah seperti ini Chayra sangat sulit untuk didesak. Jadi dia harus percaya saja, ya meskipun dia sangat tau kalau saat ini Chayra tidak sedang baik-baik saja.
Beberapa menit kemudian guru mata pelajaran Bahasa Indonesia telah memasuki ruang kelas 12 IPS 2. Suasana yang awalnya bising kini mulai tenang. Setelah mengucapkan salam guru itu segera memberikan materi untuk murid-muridnya. Saat memberi materi, tanpa sengaja guru itu menatap ke arah Chayra yang sedang menunduk dengan wajah yang begitu pucat. Guru tersebut menghampiri Chayra.
"Chayra apa kamu sedang sakit?" tanya Bu Citra selaku guru Bahasa Indonesia di kelas Chayra. Chayra segera menatap ke arah Bu Citra..
"Saya baik-baik saja Bu." jawab Chayra.
"Lebih baik kamu istirahat di UKS. Wajah kamu itu pucat banget. Ibu cuma nggak mau terjadi sesuatu sama kamu." ucap Bu Citra.
"Tapi Bu..."
"Udah Chayra, Ibu tau kamu lagi sakit lebih baik kamu istirahat di UKS." ucap Bu Citra memotong pembicaraan Chayra. Dengan terpaksa Chayra pergi ke ruang UKS seorang diri. Sebab Bu Citra tidak menijinkan Talina menemani Chayra. Padahal Talina ingin sekali mememani Chayra. Namun apalah dayanya tidak bisa melawan perintah Bu Citra.
***
Chayra pun akhirnya berjalan sendirian menuju ruang UKS. Ketika dia sedang berjalan di koridor sekolah. Syafiq melihat Chayra berjalan seorang diri dengan wajah yang begitu pucat. Dengan perasaan khawatir dia pun mengikuti Chayra dengan jarak yang lumayan jauh.
Sesampainya didepan ruang UkS, Chayra segera masuk. Sedangkan Syafiq masih terus memperhatikan Chayra. Dia sampai berpikir apakah Chayra sakit. Dia ingin sekali menghampiri Chayra. Namun orang tua Chayra melarang dirinya untuk dekat-dekat dengan Chayra. Dia terus berpikir apakah dia akan menghampiri Chayra atau tidak. Bukan Syafiq namanya kalau dia menyerah begitu saja.
Kini Chayra sedang membaringkan tubuhnya diatas tempat tidur. Pikirannya tak henti-henti memikirkan hubungan Khansa dan Afnan. Ditambah lagi perasaannya kini mulai tidak enak. Dia pun mengambil telepon yang berada diatas nakas. Dengan cepat dia mencoba untuk menghubungi Afnan. Berharap dia kali ini dia menjawab telepon dari Chayra. Beberapa kali dia mencoba untuk menghubungi Afnan. Tetapi Afnan tidak menjawab satu pun panggilan darinya. Akhirnya Chayra menyerah untuk menghubungi Afnan. Dia pun kembali menaruh handphonenya diatas nakas. Setelah itu dia mencoba untuk memejamkan matanya. Sebab kepalanya terasa semakin pusing. Mungkin karena dia terlalu memikirkan hal-hal yang seharusnya tidak dia pikirkan.
"Lo lagi sakit?" tanya seseorang yang tiba-tiba sudah berdiri disamping tempat tidur Chayra. Chayra segera membuka matanya, lalu menatap ke arah orang itu.
"Gue nggak papa." jawab Chayra dengan nada dinginnya. Seseorang itu hanya tersenyum mendengar jawaban dari Chayra.
"Kalau lo baik-baik aja ngapain lo di UKS. Lo bolos pelajaran?" tuduh orang itu.
"Enak aja. Emang gurunya aja yang lebay nyuruh gue buat istirahat di UKS." sanggah Chayra tak terima dengan tuduhan orang itu, alias Syafiq.
"Tapi emang sih wajah lo pucat banget. Pasti tadi lo belum sarapan kan. Lo mau apa biar gue beliin." ucap Syafiq mulai khawatir. Sebab dia melihat wajah Chayra yqng begitu pucat.
Chayra pun hanya menjawab dengan gelengan kepala. Memang saat ini dia tidak memiliki selera untuk makan. Rasanya dia ingin segera pulang dan pergi menemui Afnan untuk mencari tau kebenararan yang selama ini Afnan sembunyikan.
"Ra. Lo masih marah sama gue, dan lo juga masih nyalahin gue." ucap Syafiq mengganti topik pembicaraannya. Chayra yang awalnya menatap lurus ke depan, kini mulai menatap tajam ke arah Syafiq.
"Sampai kapan Ra lo nyalahin gue. Jujur gue rindu sama sikap yang dulu ke gue. Gue pengen kita kayak dulu lagi." lanjut Syafiq. Chayra masih terdiam, dia bingung harus menjawab apa. Dari lubuk hatinya yang paling dalam dia sebenarnya ingin menjalin persahabatan kembali dengan Syafiq. Namun sampai detik ini dia masih belum mengetahui alasan yang jelas mengapa Afnan memutuskan hubungan dengan Chayra.
"Kasih gue waktu buat gue buktiin kalau lo emang nggak ada sangkut pautnya tentang putusnya hubungan gue sama Afnan." jelas Chayra. Sedangkan Syafiq hanya bisa menundukkan kepalanya. Ya dia sedih dan bingung bagaimana membuktikan pada Chayra, bahwa dirinya tidak ada sangkut pautnya.
"Gue harap lo mau bersabar sebentar lagi." ucap Chayra sembari menggenggam tangan Syafiq. Syafiq pun menatap ke arah Chayra dengan tatapan tak percaya. Chayra hanya membalas tatapan Syafiq dengan tersenyum.
Diluar UKS ada seseorang tengah berdiri menatap Chayra dan Syafiq dari balik jendela UKS. Dia melihat Chayra menggenggam tangan Syafiq. Saat itu juga dia merasakan sakit didalam tubuhnya. Entah perasaan apa itu. Dia hanya merasa tidak rela bila Chayra menggenggam tangan laki-kaki lain.
Setelah itu dia pun pergi meninggalkan ruang UKS dengan perasaan yang begitu kecewa. Baru pertama kali dia merasakan kecewa dengan sikap Chayra. Sepertinya ada sesuatu yang aneh terjadi pada dirinya. Tapi apa?
__ADS_1