Setitik Cahaya Selepas Gelap

Setitik Cahaya Selepas Gelap
Mencoba Merelakan


__ADS_3

Ardian terus berjalan menyusuri koridor di sekolah. Dia sama sekali tidak memiliki tujuan, yang terpenting dia bisa melupakan kejadian di UkS tadi. Dimana dia melihat Chayra memegang tangan Syafiq. Saat itu juga ada bagian tubuhnya yang merasakan sakit. Entah apa yang sedang terjadi pada dirinya.


Ditengah perjalanan tiba-tiba saja handphonenya berbunyi pertanda ada panggilan masuk. Ardian segera menghentikan langkahnya dan menjawab telepon tersebut. Dan ternyata telepon itu dari Afnan.


"Entar malem elo datang ke rumah gue. Gue nggak mau sampai lo telat. Satu lagi, gue nggak mau sampai Chayra tau." ucap Afnan disebrang sana. Ardian hanya bisa menghela nafasnya mendengar permintaan dari sahabatnya itu.


"Mau sampai kapan lo sembunyiin status lo dari Chayra. Lagian lo sama dia udah putuskan. Lebih baik lo jujur sama dia. Sebelum dia benar-benar marah sama lo." saran Ardian. Justru sarannya diabaikan oleh Afnan. Afnan masih enggan memberitahu yang sebenarnya. Bahkan yang ada dipikirannya dia tidak ingin melihat Chayra dan Khansa bertengkar.


"Bukan gue nggak mau ngasih tau. Tapi lo taukan Khansa itu sahabat Chayra. Gue nggak mau ngerusak persahabatan mereka." jelas Afnan.


"Terserah lo deh. Yang penting gue udah ngingetin lo." ucap Ardian lelah menghadapi sikap Afnan yang keras kepala itu. Setelah itu Afnan pun memutuskan sambungan telepon dengan Ardian.


Ketika Ardian ingin melanjutkan langkahnya. Dari arah kanan ada seseorang yang menghadang langkahnya. Dia adalah Syafiq. Syafiq terus saja menatap ke arah Ardian dengan tatapan tajamnya. Karena merasa risih dengan dengan tatapan itu, Ardian pun menanyakan alasan Syafiq menghadang langkahnya.


"Ngapain lo ngehadang langkah gue?"


"Lo sama Afnan nyembunyiin apa dibelakang Chayra? Gue yakin itu bukan masalah sepele kan?" tanya Syafiq penuh selidik.


"Itu bukan urusan lo." jawab Ardian ketus.


"Jelas itu menjadi urusan gue. Apalagi ini menyangkut Chayra." balas Syafiq yang terus mendesak Ardian. Kali ini Ardian tidak merespon ucapan Syafiq. Tanpa sepatah kata pun Ardian segera pergi dari hadapan Syafiq. Dengan perasaan yang begitu kesal dia menatap kepergian Ardian.


"Tanpa lo kasih tau yang sebenarnya, gue yang akan cari tau sendiri kebenarannya." batin Syafiq.


***


Malam ini Chayra sedang berada di kamarnya. Sejak sepulang sekolah tadi dia merasakan ada sesuatu yang akan terjadi. Membuat perasaannya semakin tidak enak. Sampai detik ini pun Chayra masih mencoba untuk menghubungi Afnan. Tetapi tetap saja dia tidak menjawab panggilannya. Begitu pula dengan Khansa yang ikut menghilang. Sebenarnya ada apa dengan dua orang itu. Mengapa mereka tiba-tiba menghilang dan sulit untuk dihubungi.


Beberapa menit kemudian handphone Chayra berdering pertanda ada panggilan masuk. Dia segera mengambil handphonenya, dan berharap Afnan yang menghubunginya. Namun ternyata dugaannya salah. Dilayarnya tertera nama Syafiq. Dengan perasaan malas Chayra menjawab panggilan dari Syafiq.


"Gue mau ketemu sama lo sekarang." ucap Syafiq to the point. Tumben sekali dia mengajak Chayra bertemu malam-malam seperti ini.


"Ada apa kok tumben?" tanya Chayra penasaran.


"Gue mau nunjukin sesuatu sama lo. Ini tentang Afnan. Pokonya gue tunggu lo di tempat biasa." ucap Syafiq. Setelah itu dia segera memutuskan sambungan teleponnya.


Mendengar ucapan dari Syafiq membuat Chayra terdiam mematung. Bagaimana bisa Syafiq mengetahui sesuatu tentang Afnan? Dari mana dia bisa mengetahuinya? Dari pada dia menerka-nerka tidak jelas. Dia pun segera bersiap untuk pergi menemui Syafiq.

__ADS_1


***


Sampailah Chayra di tempat Syafiq mengajak dirinya untuk bertemu. Dia melihat Syafiq sedang duduk sendirian di kursi panjang di taman itu. Dia pun segera menghampiri Syafiq dan duduk disamping Syafiq.


"Ngapain lo ngajakin gue ketemuan disini?" tanya Chayra.


"Gue mau ngajakin lo ketemuan sama Khansa dan Afnan." ucap Syafiq menatap Chayra dengan lekat.


"Ngapain lo ngajakin gue ketemu mereka?" tanya Chayra lagi.


"Lo nggak curiga kalau Khansa sama Afnan memiliki hubungan." jelas Syafiq. Chayra hanya terdiam. Jelas dia curiga jika Khansa dan Afnan memiliki hubungan.


"Mendingan sekarang kita pergi ke rumah Afnan." ucap Syafiq. Kemudian dia bangun dari tempat duduknya, lalu dia menarik tangan Chayra. Mereka pun pergi menuju rumah Afnan.


Sesampainya didepan rumah Afnan, Chayra segera turun dari mobil Syafiq. Tubuhnya tiba-tiba merasa kaku. Pandangannya terus saja menatap ke arah rumah Afnan yang didekor dengan indah. Layaknya acara pernikahan pada umumnya. Chayra berusaha untuk tidak berpikiran buruk tentang Afnan. Mungkin saja itu pernikahan saudaranya.


Syafiq menghampiri Chayra dan merangkulnya. Berharap dia bisa menenangkan Chayra. Tak ingin berlama-lama didepan, Syafiq mengajak Chayra masuk ke rumah Afnan, dan memastikan apa yang sedang terjadi. Seiring dengan langkah kaki Chayra menuju rumah itu. Semakin perasaanya tidak menentu. Banyak pikiran liar yang masuk ke otaknya.


Langkah Chayra terhenti tepat didepan pintu masuk rumah itu. Dia mendengar seseorang mengucapkan ijab kabul. Suara pria itu terdengar tidak asing ditelinganya. Dia seperti mengenal baik pria itu. Namun dia tidak yakin siapa orang itu. Syafiq yang berdiri disamping Chayra kembali menuntun Chayra untuk masuk lebih dalam ke rumah itu.


Terdengar suara SAH dengan begitu keras, bertepatan saat Chayra berhasil memasuki rumah itu. Pandangannya tidak lepas dari pria yang mengucapkan ijab kabul. Amarah, kesal, kecewa, semuanya bercampur menjadi satu dalam batinnya. Semuanya sulit untuk dipercaya. Semua terjadi diluar dugaannya. Chayra mencoba menahan air matanya, namun air mata itu berhasil lolos. Kini pandangannya beradu dengan pria itu. Bahkan mempelai wanita juga menatap ke arahnya. Sangat terlihat jelas jika mereka menatap Chayra dengan terkejut. Sedangkan Chayra menatap mereka dengan nanar.


"Maafin gue Ra, harusnya gue nggak bawa lo ke sini." ucap Syafiq sambil menghapus air mata Chayra. Chayra berusaha menyingkirkan kedua tangan Syafiq dari pipinya.


"Gue pengen sendiri. Lo jangan ikutin gue." ucap Chayra. Setelah itu Chayra pergi dari rumah itu. Yang dia butuhkan hanya sendiri tanpa seorang pun.


***


Sampailah Chayra disebuah taman yang tidak begitu banyak pengunjung. Dia segera duduk dikursi taman yang telah disediakan. Dia berharap jika kejadian yang baru saja dia alami itu hanya ilusi semata. Tapi keadaan kembali menyadarkan jika semua ini nyata.


"Kenapa kalian nggak jujur sama gue dari awal? Kenapa lo tega nyakitin gue Nan? Gue benci sama kalian. Gue benci!" teriak Chayra meluapkan emosinya. Air matanya kini berjatuhan semakin deras. Untuk pertama kalinya dia merasa di khianati oleh sahabat dan pacarnya sendiri.


Tanpa Chayra sadari ada seseorang yang duduk disampingnya. Dia adalah Afnan yang masih mengenakan pakaian pengantin lengkap dengan atributnya. Dia terus menatap Chayra dengan tatapan bersalah. Namun Chayra terus menatap ke depan. Tanpa perduli seseorang yang duduk disampingnya.


"Maafin gue Ra, harusnya gue jujur sama lo dari awal." ucap Afnan yang masih memandang Chayra.


"Gue nggak mau denger penjelasan apapun dari lo. Gue rasa apa yang gue liat udah cukup jelas. Jangan pernah lo temuin gue lagi. Gue nggak mau ngeliat muka lo." ucap Chayra tanpa menatap Afnan.

__ADS_1


Chayra pun beranjak dari tempat duduknya. Dia perlahan menjauh dari Afnan. Namun dengan cepat Afnan menarik tangan Chayra dan membuat Chayra jatuh ke dalam pelukannya.


"Maafin gue Ra. Maafin gue, gue nggak bisa nepatin janji gue. Maaf Ra." kata itulah yang selalu Afnan ucapkan. Chayra merasakan pelukan Afnan begitu erat.


Kini pertahanan Chayra runtuh dalam pelukan Afnan dia menangis dengan sesegukan. Inilah pelukan yang selama ini dia rindukan. Pelukan yang beberapa hari telah menghilang. Dan mungkin ini menjadi pelukan yang terakhir Chayra rasakan dari Afnan. Dia akan berusaha merelakan Afnan hidup bahagia dengan Khansa.


Chayra segera melepaskan pelukan Afnan, dia pun menatap tajam ke arah Afnan.


"Aku anggap ini pertemuan terakhir kita. Setelah itu aku nggak akan ganggu hidup kamu lagi. Begitu sebaliknya. Aku harap kamu bisa mengerti keadaan ku saat ini. Semoga kalian bisa hidup bahagia." ucap Chayra berusaha tidak menangis dihadapan Afnan. Dia segera pergi meninggalkan Afnan. Kali ini Afnan membiarkan Chayra pergi. Dia tau kondisi Chayra saat ini sedang tidak baik-baik saja. Kini dia sedang rapuh. Bahkan sama halnya dengan Afnan. Dia begitu rapuh melihat Chayra seolah membenci dirinya. Kini biarlah waktu yang memulihkan keadaan hati mereka. Berharap waktu juga dapat memberikan kebahagiaan kepada mereka.


***


Air matanya tak juga kunjung berhenti menetes, meskipun beberapa kali Chayra mencoba menghapusnya. Rasanya sulit menerima situasi seperti ini. Jika ujung-ujungnya hati yang menjadi korbannya. Dia mencoba untuk mengikhlaskan semuanya. Tetapi semuanya terasa begitu berat. Dadanya begitu sesak seperti ada batu besad yang menghimpit dirinya. Kepercayaan yang dia bangun selama ini runtuh dengan mudahnya. Bukan akhir seperti ini yang dia inginkan. Dia ingin semuanya berakhir bahagia. Bukan seperti ini.


Chayra mulai berjalan meja belajarnya. Dia pun duduk di kursi belajarnya. Tangannya terulur untuk membuka laci dibawah meja belajar. Dia mengambil kotak berukuran sedang dengan motif hati. Dia segera membuka isi kotak tersebut. Dengan berat hati dia mengambil beberapa lembar foto dirinya bersama Afnan. Disana mereka tampak bahagia menikmati kebersamaaan mereka. Chayra mengamati satu persatu foto itu dengan linangan air mata. Pikirannya terukir jelas menggambarkan moment dimana saat Chayra dan Afnan masih bersama. Kini semua itu tinggal kenangan.


"Gue harap gue cepet bisa ngelupain lo. Gue nggak mau larut dalam kesedihan kayak gini. Kenapa lo tega sama gue Nan." ucap Chayra disela isak tangisnya.


Suara ketukan pintu terdedengar dari luar kamar Chayra. Dengan segera Chayra menghapus air matanya. Beberapa saat kemudian Rey masuk dan menghampiri adiknya yang sedang duduk di kursi belajar. Rey pun mengusap pundak Chayra, seolah dia merasakan apa yang Chayra rasakan.


"Kalau lo mau nangis, nangis aja kalau itu bisa membuat lo sedikit lega." ucap Rey menenangkan adiknya. Sebab dia melihat adiknya pulang dengan keadaan yang bisa dikatakan tidak baik-baik saja. Saat itu Syafiq menelpon Rey dan menjelaskan keadaan Chayra yang sebenarnya.


Chayra dari tempat duduknya dan langsung memeluk kakaknya. Yang dia butuhkan saat ini adalah pelukan seseorang dan kini pelukan kakaknya lah yang bisa membuatnya tenang. Rey membalas pelukan Chayra dengan erat. Dan membiarkan Chayra menangis dalam pelukannya.


Merasa tidak tega melihat adiknya yang terus menangis. Rey mengajak Chayra untuk duduk ditepian tempat tidur. Dengan telaten Rey menghapus air mata yang membasahi pipi Chayra.


"Udah sekarang kamu nggak boleh sedih lagi. Udah cukup kamu nangisnya. Tuh liat mata kamu bengkak udah kayak habis dihajar orang sekampung." hibur Rey sembari tertawa. Chayra yang mendengar perkataan Rey merasa kesal dan langsung memukul lengan Rey.


"Kak aku boleh minta tolong sama lo nggak?" tanya Chayra serius.


"Apa?" tanya Rey penasaran.


"Aku mau pindah sekolah Kak. Aku nggak mau sekolah di SMA Merah Putih lagi." ucap Chayra. Awalnya Rey terkejut mendengar perkataan adiknya itu. Kemudian dia memberikan pengertian kepada Chayra.


"Chayra kamu pertimbangkan lagi. Kamu itu udah kelas tiga dan bentar lagi ujian. Jangan kamu gegabah buat pindah. Jangan karena alasan Afnan kamu jadi punya pikiran buat pindah. Coba kamu pikirkan lagi. Kalau kamu pindah itu sama saja kamu lari dari masalah. Kamu harus kuat Ra, Kakak yakin kamu orang yang kuat." ucap Rey memberikan nasihat.


"Selama Kakak masih disini. Kakak akan bantuin kamu." lanjut Rey.

__ADS_1


Setelah mendengar apa yang Rey katakan membuat Chayra sadar. Bagaimana pun dia harus tetap bersekolah di SMA Merah Putih. Yang harus dia lakukan adalah belajar merelakan yang telah terjadi. Dia harus membuktikan pada semuanya bahwa dia kuat. Dia tidak lemah seperti yang orang lain pikirkan.


__ADS_2