
Gadis manis bertubuh mungil ini kembali bermain piano di cafe tempat ayahnya bekerja,
setiap nada yang ia mainkan sungguh menyentuh hati. Aurora tak peduli akan kejadian kemarin sore yang sukses membuatnya hilang muka di depan putra pemilik cafe tempat ayahnya bekerja.
Aurora mengakhiri permainannya dengan sempurna, lalu detik berikutnya, sorakan dan tepukan tangan
terdengar, sebagai tanda apresiasi pengunjung atas permainan Aurora yang mengesankan. Aurora menuruni panggung lalu menemui ayahnya untuk berpamitan pulang,.
Namun suasana hatinya berubah ketika melihat seorang pria yang sedang duduk di samping
ayahnya sambil bercanda gurau dan menikmati secangkir kopi dingin. Raut wajah Aurora berubah masam, Pandangannya menjadi dingin, lalu ia mendekati ayahnya
“Ayah!” lirih aurora menghentikan pembicaraan kedua pria tersebut.
Hening
Keduanya menengok ke arah sumber suara
“Eh Rara, sini Ra ikut ngobrol!” satu hal yang perlu kalian tau tentang Aurora, ia tak pernah menolak permintaan ayahnya.
Dengan segan Aurora menarik kursi lalu duduk di samping ayahnya, Aurora menatap sinis Galaksi yang terus tersenyum, entah untuknya atau ayahnya.
“Galaksi, ini Rara anak om, Rara ini Galaksi anak dari pemilik cafe ini.”
“Om kok enggak pernah cerita kalau punya anak secantik Aurora.” Lalu keduanya tertawa dalam batin Aurora “Apanya yang lucu?”
“Kalau boleh tau Rara sekolah di mana om?” tanya Galaksi, Aurora tak senang dengan Galaksi yang menyebut namanya Rara, karena nama panggilan itu hanya untuk orang terdekatnya.
“Rara sekolah di rumah karena...” belum usai Ayahnya berbicara Aurora memotong pembicaraan ayahnya.
“Cukup yah!” ucap Aurora dengan nada yang dingin.
“Maaf ya ini privasinya rara Jadi om nggak bisa cerita banyak.” Dira merasa tak enak kepada Galaksi.
“Yah Rara mau pulang dulu,”
__ADS_1
“Biar Galaksi Yang anter om!”
“Enggak usah.”
“Biar Galaksi yang antar ra, biar ayah juga tenang.” Aurora pergi tanpa menjawab, Dira memberi tanda kepada Galaksi untuk segera menyusul Aurora.
Suasana mobil sangat sunyi, berkali kali Galaksi mencoba mengobrol dengan Aurora namun tak
ada jawaban. Iya mobil, alvaro sengaja menggunakan mobil agar bisa menggobrol
bersama Aurora, namun sepertinya semua usahanya sia sia.
Untuk pertama kalinya Galaksi sangat ingin dekat dengan seseorang, kemarin ia bertanya dengan
teman temannya mengapa ia sangat tertarik pada seseorang, bukan jawaban yang ia
dapatkan, namun justru ledekan yang ia dapatkan.
******
“Hai a’a Galaksi!” Ucap Jio dengan nada menggoda galaksi sambil menirukan suara wanita
“Gimana rencananya? Lancar...?” Tambah Davin
“Gue bingung.” Jawab Galaksi
“wow a’a Galaksi bingung.” Ucap Jio lalu menghampiri Galaksi dan david yang tengah duduk di sofa
“Mending ikut Olimpiade fisika deh daripada kayak gini.” Untuk pertama kalinya pikiran Galaksi kacau, Pikiran yang sudah berjalan dan tertata seperti kereta ini sekarang bertabrakan satu sama lain, semua teorinya tak ada yang masuk, ia bingung harus melakuan apa, apakah ia harus melakukan riset dulu baru dapat keretanya berjalan lagi seperti sedia kala?
"Gue harus apa?" Tanya Galaksi
"Lo cerita ke kita, gue tau otak kita nggak sebanding sama lo." Jawab Davin
"Maksud lo kita Be*o gitu?" Potong Jio
__ADS_1
"Bisa di bilang begitu, Tapi kita bakal coba yang terbaik kok biar lo enggak bingung lagi. Ucap Davin mencoba sebijaksana mungkin.
Galaksi mulai bercerita, namun ketika ia selesai bercerita gelak tawa dari keempat sahabatnya terdengar sangat lantang.
" Ngomong sama patung hidup dong.... " Ucap Jio sambil tertawa terbahak-bahak dan sesekali memukul sofa kosong di sebelahnya. Tak jauh beda dengan ketiga orang lainnya.
Kini Galaksi kembali di bingungkan oleh keempat Temannya "salah apa lagi nih? " Batin Galaksi.
"Wah selamat bro, lo udah ngerasain apa itu cinta!" ucap Davin menepuk bahu Galaksi sambil berekspresi terharu berlebih.
"Cinta? Secepat itukah? " Galaksi heran biasanya dalam film yang ia tonton bersama keempat temannya, cinta itu datang perlahan namun mematikan. sementara sekarang Hanya 3 menit saat ia melihat Aurora melantunkan nada nada yang indah dengan pianonya? Apakah itu pantas di sebut cinta?
"Yah lo mah, gue liat orang lewat aja langsung jatuh cinta." Aldo duduk di karpet sambil menyalakan televisi.
"Yeu.... itu mah lonya aja yang gampangan" Balas Randy rebahan di sofa.
"Tapi menurut gue bukan cinta si, baru sebatas tertarik. " Ucap Gavin mencoba berpikir dengan keras, walaupun ia tau otaknya tak bisa di ajak berpikir keras.
"Udah pdkt aja!" Celetuk Jio
"Enak banget kalo ngomong, pdkt tuh butuh mental!" Jawab Galaksi spontan
"Lo salah, pdkt itu butuh keyakinan, kalo lo suka sama dia kejar, jangan biarkan masa muda lo lenyap begitu saja!" Tutur Randy memberi nasihat
kalau boleh jujur Nasehat Randy tak berlaku pada Galaksi, karena Galaksi sudah sangat bahagia dengan kehidupannya yang sekarang, tanpa mengenal cinta.
"Duh gue nggak bisa!" ucap Galaksi membayangkan perubahan yang akan ia lewati.
"Lo kan suka tantangan, Anggap aja ini tantangan buat lo! lo bisa naklukin cinta pertama lo." Ucap Gavin, mungkin Gavin satu satunya teman Galaksi yang sedikit memiliki pemikiran yang jernih.
"ok gue Terima tantangannya." Ucap Galaksi penuh kemantapan.
......Cast......
__ADS_1
...Gabriella Aurora Adinata...