She' Is

She' Is
PDKT


__ADS_3

Galaksi menghela nafas berat, meyakinkan langkahnya menuju rumah gadis yang berhasil merebut perhatiannya satu minggu yang lalu. Dengan hati hati Galaksi menekan bel yang beada di samping kanan pintu rumah dengan nuansa klasik itu. Ini bukan pertama kalinya Galaksi berkunjung di rumah ini karena  tiga tahun yang lalu ia pernah datang kesini, bersama kedua orang tuanya untuk melayat istri dira yang tiada.


Pintu terbuka memperlihatkan sosok wanita paruh baya, yang kemudian mempersilakan Galaksi


untuk duduk di sofa. Galaksi heran, kenapa rumah ini begitu sunyi, bahkan hanya


terdengar suara pancuran kolam ikan yang berada tak jauh dari tempat ia duduk.


Rasa penasaran galaksi membuatnya mendekati kolam itu, kolam dengan diameter 4x10m^2, yang berisi sekitar 30 ikan koi dan 4 kura kura, dengan dalam perkiraan hanya  setengah meter. Suasana di rumah ini begitu menenangkan,


“Wih ada cogan.” Galaksi menengok ke arah sumber suara, Galaksi berharap itu Aurora, Namun ternyata bukan. Gadis itu memiliki rambut yang panjang, mungkin sampai pinggang, ia hanya mengenakan kaos kebesaran dan celana pendek atas lutut.


“Auroranya ada?” Galaksi berdiri merapihkan pakaiannya. Bukannya menjawab gadis itu malah menjulurkan tangannya.


“Gisel!” Galaksi membalas uluran tangan gadis itu


“Galaksi!”


“Rara masih ada kelas, 1 Jam lagi baru selesai, mau tunggu atau pulang?” Gishel melipat kedua tangannya di depan dada, berlagak sok keren.


“Tunggu aja deh,” Galaksi duduk di sofa sambil mengeluarkan benda persegi panjang yang ada di kantongnya. Banyak pesan masuk, namun tak ada yang penting. Ia menegmbalikan benda itu ke dalam kantong.


“Perasaan rara nggak pernah punya temen, apalagi temen cowok.” Gishel duduk di kursi goyang yang berada di sisi kanan sofa panjang yang Galaksi duduki.


“Mungkin gue bakal jadi yang pertama.” Galaksi berucap dengan penuh percaya diri.  Galaksi menatap sekitar, galaksi menyadari satu hal semua yang ada di ruangan ini, sangat menyejukkan mata.


Wanita paruh baya itu kembali lagi sambil membawa dua cangkir teh,  sebuah poci mungil dan toples kecil berisikan

__ADS_1


gula batu. Setelah meletakkan semuanya wanita itu pergi tanpa mengucapkan sepatah kata. Kemudian gishel mengambil teh terebut, meminumnya sembari menggoyangkan kursi goyangnya


“Gue selalu suka rumah yang bikin gue selalu tenang ini.” Ucap ghisel memejamkan matanya.


Galaksi meneguk teh itu pelan, rasanya segar, berbeda dengan teh yang ia minum di rumah, benar kata ghisel, teh ini memberikan kesan ketenangan.


“Siapanya rara?” tanya galaksi penasaran, karena setahunya Aurora anak tunggal


“Sahabat rara dari kecil, gue rasa rara sama lo belum sedeket itu.” Gisel menaruh tehnya lalu memusatkan perhatian kepada Galaksi, pria tampan yang di akui ketampanannya oleh gisel sendiri.


“Sedeket apa?” Tanya Galaksi heran


“Sedeket lo bisa manggil Aurora dengan sebutan rara.” Kini pernyataan gisel kembali menimbulkan tanya, haruskan ia dekat dulu dengan aurora baru bisa menyebutnya dengan nama panggilan rara


“Harus sedeket apa?” tanya Galaksi lagi bingung, sungguh ia tak memahami Aurora


“Harus sedeket rara ngasih tau kenapa dia sekolah di rumah.” Jawab Gisel, Galaksi terdiam, ia memikirkan cara untuk dekat dengan Aurora.


“Mau?” Tanya Galaksi yang terkejut.


“Mungkin lo nggak sadar kita itu satu sekolah,” ucap Gisel berhati hati


“Iya kah?” Galaksi terkejut karena tak pernah melihat gisel sebelumnya, lalu galaksi memutar ingatannya saat bermain ke kelas lain, benar dugaan Galaksi, ia selalu di kerumuni oleh banyak orang, pantas Galaksi tak pernah melihat gadis tersebut.


“Waktu SMP juga, kita satu sekolah, bahkan Auora juga pernah satu SMP sama lo.” Benarkah? Galaksi mencoba mengingat ingat lagi masa SMPnya, namun... sulit dan akhirnya Galaksi menyerah.


“sorry gue nggak inget.” Galaksi terheran heran mengapa susah sekali mengingat ingat masa SMP, yang ia ingat hanya ia pernah kesini waktu SMP, itu saja, tak ada kenangan pada masa SMP, padahal ia ingat jelas kenangan waktu SD.

__ADS_1


“E... gue bantuin lo pdkt sama Aurora, lo bantuin gue pdkt sama Jio.” Ucap Gisel, karena sejak smp Gisel menyimpan rasa pada Jio, pria humoris yang ekspresionis. Galaksi tersenyum, ada juga wanita yang menyukai jio. Gisel menjulurkan tangan sebagai tanda kesepakatan mereka berdua. Galaksi membalas uluran tangan itu dengan mantap.


Mereka mengobrol panjang lebar, Galaksi bercerita tentang tingkah laku jio yang berhasil mengundang gelak tawa Gisel,bukankah orang yang kau sukai menjadi topik pembicaraan paling asik di obrolkan? Tak terasa satu jam telah berlalu.


Aurora turun dari kamarnya yang berada di lantai dua lalu menghampiri sumber suara yang menggema di rumahnya. Aurora sampai di ruang tamu, lagi lagi ia melihat kali kali itu sedang tertawa bersama orang terdekatnya. Aurora tak suka, ada orang asing yang mencampuri kehidupannya.


“Hai ra, katanya sepidol lu habis, beli yuk mumpung ad yang nganterin nih.”  Celetuk gisel tanpa persetujuan Galaksi. Aurora membenarkan kacamatanya yang melorot.


“Gue siap siap dulu.”Ucap Aurora lalu meninggalkan ruangan, Galaksi pikir aurora akan menolak, namun dugaannya salah. Kalau oleh jujur Manusia yang satu ini sulit di mengerti.


Aurora dan Gisel tinggal satu rumah, gisel kesepian di rumahnya karena orang tuanya sibuk bekerja, jadi Gisel pikir tidak apa apa kalau ia tinggal di rumah Aurora untuk mengusir rasa kesepiannya dan juga menemani Aurora yang setiap saat selalu merasa kesepian.kini keduanya tengah berada di satu ruangan yang sama yaitu kamar Aurora. kamar yang tertata rapih dengan semua barang yang berada pada tempatnya, tak seperti kamar gisel yang selalu berantakan meski berkali kali di bereskan.


"Tumben Ra mau diajak jalan."gisel berias di depan cermin


"Lo suka sama Galaksi, terus mau jalan sama dia tapi lo malu kan makannya ngajak gue." terang Aurora merapihkan bajunya. Gisel terdiam, lalu tertawa beberapa detik setelahnya.


"Gue sukanya Jio, temennya Galaksi, bukan sama Galaksinya. Galaksi itu suka sama lo ra." Gisel kembali memakai riasannya.


"Tapi gue enggak suka sama Galaksi." Jawaban itu berhasil membuat senyum di wajah Gisel luntur.


"Kenapa?"


"Dia Terlalu ikut campur, gue nggak suka."


"Ra, dia itu suka sama lo, jadi dia bakal cari tau lebih tentang lo."


"Kenapa dia suka sama gue?"

__ADS_1


"Yang namanya cinta, nggak ada yang tau ra, lo tau kan galaksi orangnya gimana? gue yakin kalo dia bisa milih mau sukak sama lo, dia nggak bakal suka sama orang yang biasa aja kayak lo ra, dia pasti bakal pilih orang terbaik yang ada di hidupnya, dan pastinya orang itu juga sukak balik sama Galaksi. jadi maksud gue lo paham kan?" Terang Gisel panjang lebar.


"Kalo dia suka sama gue, gue harus apa?"


__ADS_2