
Kini galaksi tengah terduduk diam di ruang organisasi siswa intera sekolah, ia berpikir keras untuk bisa satu langkah lebih maju mendekati aurora. Hingga satu ide terlintas di dalam pikirannya, lalu ia bergegas untuk segera menemui aurora
“hai ra, pulang bareng yuk!” ucap galaksi berjalan di samping aurora yang jalan terburu buru karena malu jadi pusat perhatian
“gak!” ucap aurora dingin meninggalkan galaksi.
Aurora sedang menunggu bus di halte, namun tiba tiba, hujan lebat turun sudah hampir setengah jam ia menunggu namun bus tak kunjung lewat, ternyata ia melupakan sesuatu, sekolah ini berada jauh dari jalan utama, wajar saja jika tak ada bus yang melintas.
Geram, aurora memutuskan untuk menerobos hujan agar ia bisa cepat kembali ke rumah nyamannya, tak berselang lama ia tak merasakan rintikan hujan yang seharusnya membasahi dirinya, ia menengok ke atas, sebuah payngung transparan melindunginya dari rintikan hujan yang menguyur badannya, karena penasaran ia mencari tahu darimana payung itu berasal,Aurora memutar badannya, galaksi, pria itu basah kuyup sambil memayungi aurora yang berada setengah meter di depannya.
“jangan hujan hujanan, nanti sakit.” Ucap galaksi meraih tangan aurora lalu mengenggamkannya pada payung yang ia bawa. ia tersenyum lalu mengambilkan sebuah hoodie dari tasnya, dan memakaikannya ke leher aurora. “biar enggak dingin.” Lalu Galaksi pergi meningakan aurora.
Aurora bergegas memakai hoodie itu karena merasa dingin di seluruh hidupnya, hangat, wangi parfum galaksi masih tercium. Di balik pohon galaksi tersenyum memandang aurora,”haruskah gue gini terus ra, biar lo nggak risih?” dalam hatinya galaksi bertanya tanya.
Keesokan paginya galaksi jatuh sakit, ayahnya sudah pergi keluar kota tanpa sepengetahuan galaksi, keempat sahabatnya menemani galaksi, katanya sih setia kawan, namun itu hanya alasan agar mereka semua dapat membolos sekolah, hampa rasanya jika tak ada galaksi di sekolah,
Sementara itu aurora mencari galaksi untuk mengembalikan hoodienya, namun aurora tak menemukan galaksi di manapun, hingga ia beranya pada sahabatnya gisel
“Kok nggak sama jio?”
“Jio nggak berangkat, galaksi sakit.”
“Galaksi sakit?”
“iya katanya kemaren dia abis ujan ujanan, dia juga pake motor si wajar kalo kehujanan.”
“galaksi yang sakit kok jio yang nggak berangkat?”
“nemenin galaksi lah galaksi orang tuanya kan sibuk”
“cie tanya tanya galaksi”
“gue mau balikin hoodinya, kemaren dia ngasih ini sama payung.”
“owh dia sakit gara gara lo ra”
“lah kok gue si, dia sendiri yang hujan hujanan.”
__ADS_1
“lo tengokin kek sebagai tanda terimakasuh buat payung sama kehangatan yang galaksi berikan.”
“brisik lo!”
Aurora mengetok pintu rumah mewah itu, besar sangat besar, seperti di film film, mewah kesan pertama yang aurora dapat saat pertama kali melihat rumah galaksi. Tak selang berapa lama seorang pria membukakan pintu tersebut
Terkejutnya randy saat melihat aurora tengah berdiri di depan pintu sambil membawa bingkisan parsel buah dan buket bunga. Bukan aurora yang ingin memerikan semua ini, tapi gisel, sahabatnya yang meyuruh aurora untuk memberikan buket bunga dan parsel buah yang di rasa aurora sangat berlebihan.
“masuk ra, galaksinya lagi di kamar” rendy mengantarkan aurora sampai ke kamar galaksi, kmar yang cukup berisik yang di penuhi candaan ketiga temannya.
Semua tercengang melihat kehadiran aurora lalu semua meninggalkan ruagan itu dan hanya menyisakan galaksi dan aurora saja di kamarnya, keempat sahabatnya memantau mereka berdua dari cctv
“gue denger lo sakit gara gara gue”
“Bukan gara gara lo kok, guenya aja yang lagi ngak sehat wajtu ujan ujanan.”
“bagus deh, nih gue bawain parsel buah sama buket bunga, gue nggak tau yang mana yang lebih lo suka, jadi gue beli semua, ini hoodie lo, makasih banyak.”
“Iya”
“Gue anter ra”
“Nggak usah lo masih sakit”
“Supir gue yang anter, seengaknya gue tau kalo lo man sampe rumah”
“Nggak perlu, gue bisa sendiri”
“Gue mohon,jangan buat gue hawatir”
“Gue nggak nyuruh lo buat hawatir”
“Seandainya gue bisa nggak hawatir sama lo, mungkin nggak gini ceritanya ra”
“Yaudah terserah lo aja” galaksi segera menelfon supir pribadinya untuk segera mengantarkan aurora
Lalu keempatnya segera menghampiri galaksi
__ADS_1
“cie.... yang di jengukin gebetannya” rendy tersenyum jahil ke arah galaksi
“wah kayaknya lo harus sakit dulu deh ga, baru aurora mau mandang lo.”
“ge nggak mau ngerepotin dia.”
“aneh lu”
Keesokan paginya galaksi sudag bisa memulai aktifitasnya seperti biasa, ia dan keempat sabatnya kompakmengumpulkan tugas di ruang guru
Hingga.....
“Ra kamu memang pinter, tapi materi kamu sudah jauh ketinggalan, saya harap kamu bisa minta tolong kepada galaksi untuk jadi guru pembimbing kamu di luar sekolah.”
“kenapa gaksi bu?”
“karena galaksi adalah murid kepercayaan ibu, dan ibu percaya kalau galaksi mampu membimbing kamu dalam ketinggalan pelajaran”
Galaksi yang melihatnya dari sudut lain kantor hanya terdiam, lalu beberapa saat kemudia dia pergi meninggalkan ruang guru diikuti oleh empat dayang setianya.
Benar dugaan galaksi, aurora mendatingnya dengn raut wajah marah
“mau lo apa si? Lo maksa bu endang buat jadiin lo sebagai guru gue di luar sekolah”
“gue tau lo kaya, gue tau lo punya kuasa, tapi bisa nggak sih lo nggak neken gue terus kaya gini”
“maksudnya?”
“gue tau lo pinter, nggak mungkin lo nggak tau maksud gue.”
“jadi pertama apa yang gue lakuin sampe neken lo? Kedua gue nggak pernah nyuruh guru buat lakuin apa yang gue mau, nggak sopan, dan yang ketiga, terlalu banyak kemungkinan di dalem otak gue, sampe gue nggak tau mana yang bener dan mana yang salah”
“lo ngekuin ini semua buat bikin gue suka sama lo kan, gue di minta sekolah sama aya, lo jemput gue, lo sakit gara gara gue, dan sekarang lo jadi guru gue. Terlalu banyak kebetulan yang buat mau nggak mau gue harus lewatin waktu bareng lo.”
“gue tau ra gue terlalu suka sam lo, tapi, gue nggak akan maksa lo buat deket sama gue, kalo lo mau gue deketin ya gue deketin, kalo enggak, ya gue mundur, gue sadar diri, gue nggak taukenapa yah lo tiba tiba nyuruh lo sekolah, tadi pagi, gue cuma iseng lewat depan rumah lo, berharap bisa ketemu sama lo, dan kenapa gue sakit, itu bukan salah lo a, gue sendiri yang milih buat sakit, daripada liat lo sakit, masalah guru, gue nggak tau kenapa bu endang milih gue jadi guru lo, dia juga nggak bilang bilang dulu sama gue, lo pikir gue mau? Nggak ra, gue nggak mau lo risih dengan adanya keberadaan gue, tenang aja kok ra, gue bakal bilang sama bu endang kalo gue nggak bisa.”
Galaksi bergegas meninggalkan kantin, ia tak suka dirinya menjadi tontonan orang, bahkan terlihat buruk di hadapan orang banyak, ia harus menjadi sebaik mungkin agar ia terus dikenal menjadi siswa teladan.
__ADS_1