
Ceklek...
"Wah gue kira Lo udah lupa punya teman disini!"
"Apaan sih."
"Lo kemana aja Aksa, Lo tau gue disini sendirian, gila Lo ya gak bertanggung jawab banget, gue kayak gini gara gara Lo nih."
"Heh gara gara mulut Lo tu, makanya lain kali jangan ngomong sembarangan, kena karma kan Lo."
"Kejam nya kamu wahai sahabat ku...Huaaa."
"Udah ah stop drama nya. Cape gue ngeladenin drama Lo tiap waktu, Bay."
"Hehe... Iya iya. Btw, habis dari mana sih, lama amat gak muncul muncul."
"Habis bantuin Bunda Arum tadi. Gue juga ketemu sama Anara."
"Anara? Cewe taman belakang itu, beneran anaknya Bu Arum?"
"Iya, ternyata dia emang lagi sakit. Tadi, gak sengaja ketemu di lorong, Bunda Arum hampir pingsan, mungkin terlalu stress mikirin kondisi anak nya. Jadi, gue antar in aja ke kamar anak nya."
"Halah bilang aja Lo kepo juga kan sama anak nya, bilang aja Lo mau ketemu kan."
"Dah lah malas gue ngomong sama Lo, percuma."
"Eh eh pundungan banget sih Lo, heran deh gue. Ya udah lanjutin terus gimana setelah ketemu."
"Gak gimana gimana sih. Masih canggung, dan dia nya juga masih lumayan cuek. Tapi..."
"Tapi apa? Hah apa? kenapa berhenti, sa?"
"Tapi... Udah deh Lo mending istirahat jangan kepo terus, gak baik buat kesehatan."
"Yah sa, gitu doang, sumpah Lo gak asik banget, sa... Cerita lagi dong."
"Bayu sahabat ku yang paling tampan, kalau di liat dari ujung sedotan, please jangan kepo lagi oke. Kalau masih kepo juga gue pergi nih, biarin Lo sendirian di Rumah Sakit ini gak ada yang ngurus."
"Buset Ancaman Lo sa, iya iya gue gak kepo lagi."
Aksa pun hanya tertawa kecil melihat sahabat nya itu. Bayu memang ada saja tingkah dan kelakuannya, padahal sedang sakit, tapi rasa kepo nya masih saja besar, oh iya tidak lupa drama nya juga.
Aksa tidak ingin dulu banyak menceritakan tentang Anara kepada Bayu. Karna, sahabat nya mulut nya tidak bisa diam, semakin banyak dia tau, semakin banyak juga pertanyaannya, Aksa tidak sanggup, apalagi kalau Bayu tau apa yang sedang Aksa rasakan, perasaan aneh yang membuat jantungnya berdegup kencang.
__ADS_1
Sore hari pun tiba. Bayu sudah diizinkan pulang, Syukur nya luka di kepala Bayu tidak terlalu parah. Kata dokter Bayu pingsan karna shock aja, memang palu yang mengenai kepala Bayu pun, palu ukuran kecil. Walaupun begitu, Aksa sangat khawatir sahabat nya ini kenapa napa.
Setelah sampai mengantar Bayu ke kost an nya, Aksa pun langsung melanjutkan perjalanan untuk pulang. Di perjalanan Aksa hanya teringat satu orang, siapa lagi kalau bukan Anara, gadis yang menganggu pikiran dan bahkan perasaannya saat ini.
'Apa perasaan ini perasaan jatuh cinta? Atau hanya rasa penasaran saja?'
...****************...
1 bulan kemudian.
Sudah satu bulan berlalu, belum ada kemajuan pendekatan Antara Aksa dan Anara. Oh ya, tentang Anara, ia sudah keluar dari rumah sakit 2 Minggu yang lalu. Cukup lama Anara berada di Rumah Sakit. Karna, selain memulihkan kondisi tubuh nya, ia juga sekalian terapi memulihkan mentalnya.
Memang sudah 2 minggu semenjak Anara pulang, Aksa belum pernah melihat Anara ke Taman Belakang. Padahal, Aksa sangat ingin melihat gadis itu. Aksa berfikir Anara tidak ke taman belakang lagi, mungkin saja karna dia sudah tau kalau Aksa sering memperhatikannya.
Hari ini Aksa pulang kerja lebih awal. Ia memutuskan untuk kembali saja ke kost an, karna ia sangat lelah. sesampainya di kost an Aksa langsung mandi, setelah itu makan. Karna hari sudah mulai sore, dan cuaca sangat bagus, Aksa memutuskan untuk bersantai di taman belakang, menikmati indahnya sore sambil minum kopi.
Saat sedang menikmati indah nya sore dan nikmat nya kopi. Tiba tiba saja, Aksa melihat sosok yang sangat ia nantikan, Yap Anara, Aksa melihat Anara datang dari pintu belakang rumah Bunda Arum. Dari jarak yang tidak begitu jauh Aksa bisa melihat Anara seperti nya lebih fresh dari sebelum nya, Anara juga membawa sebuah papan lukis dan beberapa alat lukis lainnya.
'Akhirnya,' batin Aksa.
Posisi Aksa saat ini tentu saja tidak begitu terlihat oleh Anara. Karna Aksa duduk di bangku taman belakang yang tepat di belakang kost kost an, sedangkan Anara berada di taman belakang yang tepat di belakang rumah nya.
Aksa hanya menyaksikan Anara yang sedang melukis. Sepertinya mood Anara saat ini sedang baik. Aksa melihat Anara tampak bahagia saat sedang melukis.
'eh eh.. duh..'
"Aku boleh bantu?"
"Aksa..Eee.. Boleh."
Aksa pun membantu Anara mengambil kuas cat nya yang jatuh ke tanah. Anara kesulitan mengambil nya, karna posisi dia yang duduk di kursi roda, dan tidak bisa terlalu menunduk untuk mengambil kuas nya.
"Nih kuas nya."
"Terimakasih, Aksa."
"Sama sama, Anara."
Hening...
"Eum.. Anara,"-Anara menoleh dan Aksa melanjutkan ucapannya-" Boleh aku liat kamu melukis?"
"Hm.. karna kamu udah nolongin aku, jadi untuk kali ini boleh."
__ADS_1
Aksa tersenyum bahagia. Karna, akhirnya iya mulai bisa lebih dekat sama Anara, walaupun hanya sebatas ini.
"Lukisan kamu cantik. Seperti yang melukis nya."
"Jangan gombal. Aku tidak suka."
"Eh.. sorry sorry, gak gombal tapi fakta."
Anara hanya menghela nafas dan menggelengkan kepalanya pelan. Dan suasana kembali hening. Tapi, tak lama kemudian Aksa kembali berbicara.
"Anara, boleh aku tanya sesuatu?"
"Boleh."
"Kenapa kamu gak mau berteman lagi dengan Dimas, Raka dan Leon?"
"Aku tidak ingin merepotkan mereka."
"Memang nya mereka bilang, kalau mereka merasa repot berteman sama kamu?"
"Aku ini cacat Aksa, Aku lumpuh, Aku sakit sakit an, bagaimana bisa aku berteman sama mereka, aku juga tidak ingin mereka celaka seperti yang lain," jawab Anara, dengan nada yang sedikit tinggi.
"Celaka? Yang lain? Maksud kamu?"
"Sudah lah jangan banyak bertanya, aku mau masuk saja ke rumah. Sudah tidak mood untuk melukis."
"E-eh maaf, maaf Anara. Aku tidak bermaksud untuk menyinggung mu atau membuat kamu tidak nyaman."
"Tidak apa apa,"-sambil Anara menggerakkan roda kursi nya dan mulai berjalan ke arah rumahnya-"Aksa, Aku juga merindukan bermain bersama mereka, sampai kan salam ku untuk mereka."
Anara pun langsung pergi dan masuk ke dalam rumahnya. Aksa masih terdiam di kursi itu, ia mencerna segala ucapannya Anara.
Tapi, ntah bagaimana Aksa malah semakin ingin mendekati Anara. Seperti ada rasa ingin menjadi warna baru di hidup Anara.
'Anara sepertinya hidup mu saat ini penuh dengan rasa trauma. padahal, aku bisa liat bagaimana senyum mu yang indah itu saat melukis.'
Tanpa, Aksa dan Anara sadari, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka sedari tadi.
____________________________________________________________
Halo! Terimakasih sudah membaca cerita ini :)
Mohon support nya ya dengan like, comment and rate! Jika berkenan mari follow juga akun aku♡
__ADS_1
Cerita ini akan update setiap hari jam 20.00 WIB ya! Jangan sampai terlewatkan dan nantikan terus chapter selanjutnya. Bye bye salam AuGhi (。♡‿♡。)