Si Penyembuh Luka!

Si Penyembuh Luka!
Chapter delapan : Masa lalu mu


__ADS_3

"YUHUU!!" teriak seseorang, yang membuat seisi kantor terdiam, dan mengalihkan pandangannya ke arah orang yang berteriak itu.


"Heh Lo kenapa si bay?" tegur Aksa, pada Bayu. Ya, yang barusan berteriak adalah Bayu ntah apa yang membuat nya sampai sebegitu gembira.


"Kita di Kasik cuti tahun baru 2 Minggu woy!" ucap Bayu dengan sangat gembira.


"Hah? Kok tumben?" tanya salah satu pegawai lain.


"Iya, karna pencapaian penjualan kita tahun ini melebih target 20% jadi pak Bagas Kasik kita bonus cuti akhir tahun, 1 Minggu, plus cuti biasa 1 Minggu, jadi 2 Minggu deh," jelas Bayu kepada yang lainnya juga.


"Aaa... Hore... Yey!..." ucap para pegawai secara bersamaan.


Oh ya, Aksa dan Bayu bekerja di sebuah perusahaan penerbit buku, jelas nya buku komersial, seperti buku novel, pantun, dll buku yang di khusus kan untuk hiburan ( non Academic ). Aksa bekerja di bagian Account Marketing, yang mengurus segala proses promosi sampai penjualan buku.


...****************...


Akhirnya waktu jam pulang kerja pun tiba. Hari terakhir kerja sebelum libur panjang tahun baru.


"Huh... Akhirnya bisa istirahat dan santai juga," ucap Aksa.


"Eh sa," tegur Bayu sambil menepuk pundak Aksa.


"Eum.. Apa?" jawab Aksa.


"Liburan Lo kemana nih?"


"Kayak gak tau gue aja Lo. Ya gak kemana mana lh, mending istirahat in ni badan, udah cape tiap hari kerja, butuh istirahat panjang," jawab Aksa.


"Huh! Gak seru Lo. Ya udah deh 1 Minggu ini gue mau pulang ke rumah nyokap dulu, kangen juga gue sama nyokap. Lo gak mau ikut gue?" tutur Bayu.


"Eum.. Gak deh, makasih bay. Gue salam aja sama nyokap ya." jawab Aksa.


"Oke deh. Iya ntar gue salam in. Dia pasti rindu sih sama Lo, secara Lo lebih kayak anak nya di banding gue," ejek Bayu.


Aksa hanya tersenyum kecil. Memang Aksa pun sengaja memberi ruang pada Bayu dan mama nya. Karena, semenjak kematian ibu nya Aksa, mama Bayu lebih banyak memperhatikan Aksa, karna memang mereka sudah seperti keluarga.


"Sorry ya bay," ucap Aksa tiba tiba.


"Dih apaan sih Lo, tiba tiba minta maaf, emang Lo ada salah," balas Bayu.


"Nyokap jadi kurang perhatian sama Lo karna gue," ucap Aksa.


"Apa sih sa, lebay Lo.. Lo itu udah kayak saudara gue sendiri, emak gue ya emak Lo juga. Udah deh gak usah merasa bersalah gitu," jelas Bayu.


"Thanks bay."


"Iya.. udah ah gue pulang, bye. Baik baik ya Lo disini, eh kesempatan nih buat deketin Anara," pamit Bayu, sambil langsung berjalan keluar.

__ADS_1


"Lo juga!" teriak Aksa.


Bayu pun hanya melambaikan tangannya tanpa menghadap ke Aksa lagi. Aksa pun hanya tersenyum kecil, mengingat saran terakhir Bayu.


'Apa salah nya di coba ya kan,' batin Aksa.


...****************...


Sudah hari ke tiga liburan, Aksa hanya berdiam diri di kamar, melakukan kegiatan yang itu itu saja, sangat membosankan. Tetapi, Aksa merasa badannya lebih enakkan karna dia betul betul beristirahat. Hari ini Aksa akhirnya memutuskan untuk jalan jalan di taman belakang.


'Hm.. Daripada bosen begini, jalan jalan ke taman belakang aja kali ya,' batin Aksa.


Aksa pun bersiap siap, dan keluar dari kamarnya. Ketika keluar kamar ia melihat ada Dimas juga sedang ingin menutup pintu kamar nya, seperti nya ia mau pergi.


"Eh dim," tegur Aksa.


"Eh sa, mau kemana?" balas Dimas, dengan sebuah pertanyaan juga.


"jalan ke taman belakang. Bosen di kamar Mulu gue, udah tiga hari," jawab Aksa.


"Haha... Iya deh. Kek nya gue liat tadi ada Anara deh di sana," ucap Dimas.


"Oh iya.. Eh btw Lo mau kemana, pakai bawa koper segala?" tanya Aksa.


"Oh ini.. Gue mah balik ke rumah nyokap bokap bentar, 3 harian paling. Biasa lah udah ribut mereka, gue libur kerja tapi gak pulang pulang," jelas Dimas.


"Oh gitu.. Hati hati ya, gue lanjut ke bawah duluan," pamit Aksa.


Aksa pun menuruni tangga. Ia sedikit sedih, karna ia rindu juga sama orang tua nya yang telah tiada. Ia rindu di suruh pulang ke rumah saat waktu libur kerja.


'Huh... Udah ikhlas sa, Lo pasti nanti nemuin kebahagian yang lain,' batin Aksa.


...****************...


Sudah setengah jam Aksa di taman tapi ia tidak melihat tanda tanda ada nya Anara disini.


'Apa mungkin Dimas salah liat ya,' batin Aksa.


Tetapi tidak lama kemudian, ada seseorang yang menegur Aksa.


"Aksa," tegur seseorang itu.


Aksa pun menoleh ke sumber suara. "Eh Bunda Arum," jawab Aksa. Yang ternyata orang itu adalah Bunda Arum.


"Sendirian aja, Bunda boleh duduk disini?" tanya Bunda.


"Boleh Bun.. Hehe iya, sendiri aja, yang lain pada balik kampung Bun," jelas Aksa.

__ADS_1


"Oh gitu," jawab Bunda.


"Eum.. Anara mana Bun?" tanya Aksa, dengan sedikit gugup.


"Ada, nanti dia kesini, tadi dia udah di taman, cuman dia pengen mandi dulu katanya," jelas Bunda.


Aksa pun hanya mengangguk pelan.


"Nak Aksa," panggil Bunda.


"Iya Bun," jawab Aksa.


"Semenjak dia bertemu kamu, seperti nya banyak perubahan dalam diri Anara. Boleh Bunda minta tolong?" ucap bunda, sembari memberikan pertanyaan pada Aksa.


"Boleh Bun, Aksa perlu bantu Bunda apa?" jawab Aksa.


"Bantu Anara untuk pulih. Ia tidak lumpuh seutuhnya, sebenarnya kata dokter, harusnya Anara sudah sembuh saat ini, tapi karna tidak ada nya rasa semangat dan ikhlas dalam diri Anara atas semua yang terjadi, makanya dia tidak bisa jalan sampai saat ini," jelas Bunda.


"Aksa akan bantu Anara.. Tapi, kalau boleh Aksa tau sebenarnya apa yang terjadi pada Anara, Bun?" tanya Aksa, dengan sedikit hati hati, karna ia tau hal ini pasti sangat sensitif dan privasi.


"3 tahun lalu Anara mengalami kecelakaan bersama tunangannya, tunangannya meninggal di tempat, sedangkan Anara kritis selama 4 bulan. Bunda saat itu, sudah sangat pasrah kalau memang Anara harus meninggal kan bunda, karna memang kondisinya yang sangat parah," jelas Bunda, berhenti sejenak sambil menahan air mata nya yang sudah menggenang.


"Tetapi, sebuah keajaiban datang, Anara sadar dari koma nya. Bunda sangat bahagia dan bersyukur, Tuhan tidak mengambil Anara dari hidup bunda, karna Anara lah satu satu nya keluarga yang bunda punya,"-sambil menoleh ke arah Aksa-"tapi, ketika Anara tau tunangannya sudah tiada dan dirinya mengalami kelumpuhan, ia langsung depresi berat," lanjut Bunda.


"Maaf Bun Aksa potong.. Ayah Anara?" tanya Aksa.


"Ayah Anara sudah meninggal saat Anara SMP, dan itu juga terjadi Karna kecelakaan, kecelakaan itu juga terjadi tepat di depan Anara, saat ayah nya hendak menjemput Anara," jelas Bunda.


"Jadi, singkat nya Anara mengalami depresi berat karna ia merasa bersalah atas kematian ayah nya dan juga tunangannya?" tanya Aksa.


"Ia nak.. Maka dari itu hampir 2 tahun lebih Anara bahkan tak ingin berbicara sama siapapun. Hingga beberapa bulan sebelum kamu kesini, tiba tiba dia sering ke taman belakang untuk melukis, tapi ntah kenapa, tiba tiba dia malah mengalami mimpi tragedi itu dan berakhir dia drop waktu itu," jelas Bunda lagi.


"Jadi begitu,"-ucap Aksa sambil menatap Bunda-"Bun, Aksa akan bantu Anara untuk pulih, Aksa janji."


"Terimakasih ya nak," ucap Bunda, dengan mata nya yang sudah berlinang air mata.


Saat ini Aksa mulai mengerti mengapa Anara waktu itu bilang bahwa dirinya tidak ingin menyakiti siapa pun lagi, itu semua karna Anara meyakinkan dirinya, bahwa dia lah penyebab kematian ayah dan tunangannya.


Ntah mengapa setelah mendengar cerita dari Bunda, Aksa malah semakin ingin mendekati Anara dan membantu Anara pulih. Aksa seperti ingin melihat seperti apa Anara yang dulu, Anara yang manis dan ceria seperti yang di katakan sahabat sahabat nya Anara pada Aksa.


Setelah, Aksa dan Bunda selesai bercerita, tiba tiba seseorang menegur mereka.


"Bunda..Aksa..," tegur seseorang itu.


______________________________________________________


Halo! Terimakasih sudah membaca cerita ini :)

__ADS_1


Mohon support nya ya dengan like, comment and rate! Jika berkenan mari follow juga akun aku♡


Cerita ini akan update setiap hari jam 20.00 WIB ya! Jangan sampai terlewatkan dan nantikan terus chapter selanjutnya. Bye bye salam AuGhi (⁠。⁠♡⁠‿⁠♡⁠。⁠)


__ADS_2