SIHIR CINTA IVORA

SIHIR CINTA IVORA
DOSEN KILLER


__ADS_3

...****************...


...****************...


"vo , jam kedua cabut yukk , " usul aina yang duduk di sebelahku , belum sempat aku menjawab sebuah spidol mendarat tepat di kepala aina , gubrakk aina terjatuh dari kursinya , seketika semua yang ada di ruangan tertawa melihat aina yang terduduk di lantai .


Mungkin aina lupa , kalo yang tengah mengajar adalah seorang dosen killer yang banyak di takuti mahasiswa seperti kami .


"kamu , dan kamu selesai pelajaran ikut ke ruangan saya" . Nada dingin serta tajam yang terucap dari sang dosen killer sukses membuat kami membeku .


"mampuss kita naa , mana dosen rese lagi nih " dengan sedikit gemetar aku membantu aina duduk kembali ke kursinya.


"dan kamu"


Aku clangak clinguk , duhh ni dosen ngomong ama siapa ?


"iya kamu , yang saya maksud" ujar pak dosen lagi masih fokus dengan laptop.


"s-sa-saya pak?"


"ya" . Huh dingin sekali jawabannya.


"tolong kamu jabarkan yang saya jelaskan tadi "


Alamaakkk....


tadi pak dosen ini jelasin apa ? Aku sama sekali gak mudeng , ya gimana mau mudeng orang dari tadi aku asyik melamun . Aku menggaruk kepalaku yang seketika gatal , sambil melirik aina dengan penuh permohonan ku colek lengannya, sialnya aina hanya bisa menggidikan bahunya lalu menatapku iba.. bagaimana ini?


akhirnya aku hanya bisa pasrah ketika sang dosen killer menunjuk ke arah pintu . Yaa pasrah untuk bahagia , yess akhirnya aku lolos tidak ikut mata kuliahnya hari ini hihihihi. gegas aku menuju ke arah kantin . Rio , sang pujaan hati ternyata sudah ada disana . Ya Rio adalah kekasihku sejak jaman sekolah menengah atas , dulu aku bertemu dengannya pertama kali ketika sama - sama lompat pagar akibat terlambat masuk sekolah . Waktu itu rok dan lututku robek tergores pinggiran pagar yang lumayan tajam , lalu rio meminjamkan celana olahraganya untuk ku pakai , dari situlah benih - benih cinta akhirnya beranak pinak bersemi bergelora hingga sekarang eeciyeeehh...


"ayank , kenapa mukanya cemberut gituh"


"bete ayank , sama dosen killer " ku pastikan bibirku maju 5 senti biar terlihat imut dimatanya.


"ohh , udah ah jangan cemberut gitu , nanti cantiknya ilang " ujarnya sambil mencubit pipiku , duhh meleleh adek bang.


drrrttt .. Drrrttt... Drrtttt..


ponselku berkedip - kedip , gegas ku balikan ponselku , pasti ayah yang menelpon . Aku heran , ayah tak pernah bosan berusaha mengajakku makan malam bersama keluarga temannya , tujuannya tentu saja untuk mengenalkan aku dengan anak temannya itu . Siapa tahu cocok . Ucapan ayah begitu terngiang di telingaku.


"angkat ayank , siapa tahu penting " ujar rio


"spam kok ayank, kayanya nomor pinjol" elakku..

__ADS_1


Lantas aku kembali menikmati bakso kesukaanku..


Tiba tiba..


Blugg..


sebuah tangan memukul pundakku kencang.


Plung.... bakso ku yang malang terjun bebas ke lantai , mana tinggal satu satunya lagi... Hiikks


"awwwgg... siapa berani beraninya luu yaa cari ga.. Ra gara am...a gue " teriakku kencang, namun langsung menciut ternyata yang menepuk pundakku adalah aina , dan di sebelahnya adalah dosen killer tadi . Lantas tanpa acuh si dosen tersebut langsung melenggok pergi seolah tidak mempedulikan aku yang masih shock merenguni bakso.


"lu ngapain malah pacaran disini , hayo ke ruangan pak tama"


Astaga aku baru ingat kalo tadi disuruh keruangannya , kemudian aku dan aina bergegas menyusul pak tama ke ruangannya setelah berpamitan dengan Rio .


...****************...


Aku dan aina berdiri di depan pintu ruangan pak tama , ragu - ragu untuk masuk atau pun mengetuk pintu terlebih dahulu .


"elu gih ketok " ujarku


"elu aja "


"eluu"


"eluu"


, sebenarnya beliau lebih pantas di panggil mas dari pada bapak , karena usianya tidak jauh berbeda dari kami , bahkan mas tama eh pak tama juga baru saja menyelesaikan s2 nya di universitas ternama di luar negeri sana.


"masuk" singkatnya


Seperti kebo yang di cocok hidungnya kami beriringan masuk ke ruangan pak tama. Aroma maskulin dari parfumnya menguar di hidungku.. aduh wanginya seakan mengajak berumah tangga..


"maaf pak , ada apa ya kok kita di panggil" ..


Pak tama tidak menjawab pertanyaanku melainkan mengeluarkan 2 buah kertas dan buku absensi dari lacinya.


"coba kalian liat nama kalian di absensi " ujarnya


Aku meneguk ludah , rupanya absensi ku dan aina untuk mata kuliah pak tama kacau sekali .. banyak sekali tanda silang disana, padahal kami selalu menitip absen lewat Ratih , tapi rupanya pak tama mengabsen satu persatu mahasiswanya... Kacau..


"sebagai gantinya , silahkan kalian jabarkan history of anglo saxon di kertas ini " pak tama mengulurkan masing masing kertas ke aku dan aina. Kami saling berpandangan sedih , berbicara dalam hati, gimana nih..

__ADS_1


Detik berlalu menit berganti ,jam mulai merangkak ke kanan .. Belum ada satu coretan pun di kertas kamu selain tulisan "the history of anglo saxon" .


"ok cukup , sini kumpulkan" ujar pak tama


Keningnya mengerenyit ketika melihat kertas dengan yang masih kosong tersebut . Sementara kami menatap takut - takut ke arah beliau.


"baiklah , saya maklumi mungkin kalian tidak fokus , maka saya tunggu tugas ini minggu depan untuk di kumpulkan , sertakan sumber dan di jilid , di tulis dengan tangan jangan lupa ".. Whaaatt ??? Tulis tangan?? Gempor dong eyke..


"kalian boleh keluar" ucapnya acuh tak acuh.


"parah banget tuh pak tama , masa harus tulis tangan sih ?" keluhku


"iya nih , gak asik banget jadi dosen" timpal aina


"ganteng - ganteng sadis " sambungnya lagi


"kaya gak pernah jadi mahasiswa aja , gak ada hati , pantesan jomblo , pada gak kuat kali ama sikapnya yang kaku kaya gitu " . Ujarku menggebu - gebu


"suuuttt" bisik aina , sambil melirikan matanya memberi kode.


"apasihhh "


"udah puas ngomongin saya? " tiba tiba pak tama muncul , aku baru sadar kalau kami masih berada tepat di depan ruangannya..


"gak pak , belum.. Ehh " aku keceplosan.


"lanjutin "


"pak jangan galak - galak , nanti jatuh cinta sama saya gimana ? " bisikku , entah keberanian dari mana aku bisa mengatakan itu yang pasti aku pe de. Hohoho


"mimpi" cetusnya sambil berlalu , dasar es batu.


...****************...


"ivora keizia hanin " langkah ku yang hendak masuk ke kamar seketika berhenti mendengar nama lengkapku di sebutkan . Siapa lagi pelakunya kalo bukan bapak Wijaya hanin alias ayahku yang paling ganteng sejagat raya itu.


"inggih paduka" sautku .


Seperti biasa ibu dan ayah akan mendesakku untuk ikut dalam acara makan malam bersama keluarga temannya , dan sebagai mana biasanya aku akan menolak dengan beribu alasan , mulai dari sakit , pusing ,meriang , sampai pura pura ketiduran .


"tapi ayah , vora gak bisa ikut soalnyaa....."


"apa ? Meriang? Sakit ? , basi ! . Pokonya malam ini kamu harus ikut temenin ibu sama ayah titik" ucap ayah

__ADS_1


Aku tidak dapat membantah kali ini, soalnya ayah sepertinya sudah hafal semua alibiku.. Ya Tuhan semoga nanti ujan deras.. Cuma itu penyelamatku . Namun rupanya doa ayah lebih kuat , sorenya langit tampak cerah secerah wajah ayah dan ibu ketika aku bilang mau ikut.


__ADS_2