
...****************...
...****************...
orang tuaku sepertinya benar - benar menyiapkan malam ini dengan sempurna , bahkan perias khusus di datangkan untuk merias wajahku . Jeng sisy namanya.
Huachiimm...
Aku bersin - bersin ketika jeng sisy mengusapkan kuas sapu jagatnya ke wajahku.
"aduhh maaf ya jeng , anak saya ini aslinya laki jadi agak susah di dandani " , ujar ibu yang duduk di sofa sambil melihatku di rias , lebih tepatnya mengawasi .
"iyaa sis , eyke paham kok " jeng sisy mengedipkan sebelah matanya.
"by the way , OP dimana sis? Kok bisa sempurna gitu bentukannya ? " lanjut jeng sisy sambil menotol wajahku dengan .... Entahlah , serbuk kelap kelip pokoknya .
"di kandang Rambo jeng.. Hahahahah" mereka pun tertawa bersama . Ya Jeng sisy yang sudah lama akrab dengan ibu tentu saja tahu siapa rambo . ya rambo adalah nama kuda kesayangan ayah .
"nahh.. sudah selesai "
Lantas jeng sisy membalikan kursi agar aku bisa melihat wajahku di cermin . Sementara ibu mengucapkan terima kasih kepada jeng sisy dan menyelesaikan pembayarannya.
"ibuuuuuuu , buuuuuuk ...." teriakku panik
Seketika ibu yang sudah berada di depan pintu kamar langsung berbalik menatap heran ke arahku . kenapa lagi nih anak? mungkin itu yang ada di batinnya . Hihihi
"apa si vo ? kamu tuh lama lama bikin ibuk jantungan deh " omelnya
"i ituu -tuu di kaca siapaa?" tanyaku terbata bata
"loh kenapa vo?"
"CANTIK" hahahahaha.
"olaaah.. Kamu tuu yaa" Tak ayal tangan ibu replek mencubit lemak perutku.. Aww.
...****************...
__ADS_1
Akhirnya , selepas magrib kami bertiga bersiap berangkat ke tujuan . Aku mengakui maha karya tangan jeng sisy memang luar biasa , wajahku yang biasanya kusam , jadi bersinar cerah , secerah wajah - wajah yang habis gajian . Hihihi Sebernarnya tadi aku berharap riasannya gagal total , atau malah terlihat seperti ondel - ondel , biar anak teman ayah ilfil terhadap ku dan tidak ada pertemuan lagi , biarlah ini jadi pertemuan pertama dan terakhir. Ceileehh.
"udah sih vo . Kamu tiap ada kaca ngaca mulu , kapan kita berangkatnya " ujar ayah yang sudah siap membuka pintu mobil . Hari ini spesial kita akan di sopiri langsung oleh ayah karena pak hamid , sopir keluarga sedang cuti melahirkan . Eh maksudnya istrinya yang melahirkan .
Ayah melajukan mobil dengan kecepatan sedang , sepertinya lalu lintas seakan ikut merestui pertemuan ini , yang biasanya macet kini lumayan senggang . Hingga tak butuh waktu berjam jam untuk kami sampai ke tujuan.
Kami berbelok ke sebuah restoran yang cukup ternama di tengah kota "DIFTA'S KITCHEN" nama yang tertera di depan restoran tersebut . Ayah langsung menuju ke meja resepsionis untuk menanyakan meja nomer meja yang di pesan temannya.
"dengan pak wijaya hanin ya ? langsung ke atas saja pak , sudah di tunggu vvip nomer 2 sebelah kiri "
Setelah mengucapakan terima kasih , kami di tuntun oleh salah seorang pramu untuk ke tempat yang di maksud , lantai atas ini berkonsep outdoor dengan pemandangan kota di bawahnya , terdapat sebuah kolam kecil berisi ikan hias di tengah taman mini yang berbatasan dengan ruangan - ruangan berisi soffa yang dindingnya full kaca yang menghadap ke arah perkotaan , di setiap ruangan juga terdapat layar televisi yang entah untuk apa . Ini sebenarnya mau makan apa ujinyali . Kesannya kaya makan di atas gedung .. Hihi ah terserah author aja lah ya.
Tepat di ruangan kaca nomer 2 , rupanya teman ayah dan keluarganya sudah menunggu disana . aduhh berat sekali langkahku sepertinya .
"gunarto hutama adrian " tegur ayah sambil memeluk sahabatnya itu .
"ohh wijaya hanin , boloku , gimana gimana ? 15 tahun loh akhirnya ketemu juga " guraunya , kemudian matanya beralih ke arahku dan ibu sambil tersenyum
"alah too too , baru 15 hari kok wes kangen hahaha"
"i - i iya om saya ivora" ucapku sambil menundukan badan sedikit .
"yaudah ini kenalke istri om , panggil aja tante fira "
"oh iya , halo tante " ujarku
"halo sayang , cantik sekali rupanya , anak sampean sis"
Aduh pipiku bersemu merah di puji begitu oleh tante. Tante fira ternyata sudah akrab dengan ibu , rupanya hanya aku yang sama sekali belum mengenal siapapun disini. Agak lama berbasa basi sampai aku menyadari bahwa ternyata om gunarto dan tante fira hanya datang berdua . Berarti aku aman , tidak harus bertemu dengan anaknya. yesss
"ma , itu si difta coba di telpon lagi , udah sampai mana?" ujar om gunarto ke tante fira
"sebentar lagi sampai kayaknya pah , tadi bilang udah di lampu merah depan " sahut tante fira
"aduuh anak itu , padahal udah di kabarin dari jauh jauh hari lohh jay , tapi ya namanya anak sibuk begini lah " om gunarto berujar ke ayah
"ah gak apa - apa loh too , namanya anak muda , dulu kaupun begitu toh heheh " saut ayah
__ADS_1
Kemudian cerita berlanjut ke masa muda ayah dan om gunarto , rupanya mereka adalah CE ES setia dari jaman sekolah, mereka bahkan sering di katakan kembar karena saking akrabnya . Bahkan jika ada salah satu yang tidak masuk sekolah maka dapat di pastikan yang satunya juga tidak akan ada di kelas , bahkan pernah kakek dan nenek dulu sampai pusing nyari ayah dan om gunarto yang tidak kunjung pulang hingga magrib, ternyata mereka malah ketiduran di kandang sapi milik keluarga om gunarto. Konyol bukan ?..
Cerita baru berhenti ketika seseorang masuk mengucapkan salam .
"asalamualaikum"
"difta.. Hayu sini sini nak , papa kenalin sama temen papa ". Antusias om gunarto.
Kemudian lelaki itu menyalami kami satu persatu. Tepat giliran ku tiba tiba .
"kamu " ujar kami berbarengan .
Omaygod . Rupanya anak om gunarto tak lain dan tak bukan adalah pak Tama si dosen killer yang dingin melebihi kutub utara itu. Aduhh kepala ku tiba tiba pusing , apakah aku harus pingsan pemirsa ???
"lohh udah saling kenal to ternyat too" .. ujar ayah kepada om gunarto
"wah cocok kalo begitu " saut om gun.
Kami sama sama membuang pandangan . mit amitt
Kemudian makan malam pun di mulai , aku memperhatikan pak Tama yang dingin seperti biasanya , ah kenapa hatiku jadi deg deg an begini . Hari ini dia mengenakan jas hitam dengan celana bahan senada , pas sekali di tubuhnya , tanpa kaca mata , rambutnya pun di sisir dengan model yang sedikit berbeda ketika ia mengajar . suamiable ternyata . Namun seketika wajah Rio terlintas di mataku . Aku menggeleng gelengkan kepala . Tetap Rio juaranya.
"vo , kamu jangan kesambet disini , nanti ayah malu" bisik tiba - tiba . Aku hanya tersenyum kikuk ketika menyadari bahwa semua mata sedang memandang ke arahku .
"aduhh , maaf om tante tadi ada gajah di kepala ivora "
kok gajah? aduhh kok jadi ngalantur begini , ibu melotot tangannya sudah siap menggapai lemak perutku.
"hahah ah sudahlah , oh iya , ivora berkuliah di universita mana ? " tanya om gunarto mungkin untuk mencairkan suasana yang akward.
"di univ XXXX om " sautku
"lohh difta juga mengajar di sana lohh.. betul ini cocok ini jay" om gunarto dan ayah tampaknya antusias sekali ketika mengetahui aku dan pak Tama berada di universitas yang sama. Sementara dari tadi pak Tama hanya diam saja . Huuh kaku sekali .
"jadi gini . Difta dan Ivora , kami sebagai orang tua ingin mengatakan sesuatu kepada kalian , semoga kalian dapat menerima ini semua . sebenarnya kalian berdua sudah kami jodohkan sedari kecil !" .
Jedeeerrr .. Seperti ada petir menyambar di kepalaku.
__ADS_1