
...****************...
...****************...
"saya terima nikahnya ivora keizia hanin binti wijaya hanin , dengan mas kawin tersebut Tunai" .
"sah" .
"alhamdulillah"
sahutan menggema memenuhi ruangan seakan mengiringi statusku yang resmi berubah menjadi istri dari DIFTA HUTAMA ADRIAN , dosen killerku sendiri. Tak pernah terbayangkan sebelumnya , aku harus menikah dengan orang yang tidak aku kenal baik , bayangan menikah dengan pujaan hati gugur seketika bersamaan dengan penghianatan Rio . Sekarang aku bertekad untuk bahagia dengan kehidupanku yang baru .
Ku lirik es batu di sampingku , dia hanya bergeming , tidak berniat melihatku sama sekali. Ah gemas sekali , awas saja akan ku buat kau jatuh cinta .
"loh kok bengong ? , di cium dong tangan suaminya " ucapan dari pak penghulu mengagetkanku , rupanya dari tadi tangan pak tama sudah terulur ke arahku . Gegas ku sambut uluran tangannya dengan sedikit kikuk , dannn....
Chesss...
sebuah kecupan lembut sukses mendarat di keningku. aduhh jantungku meronta ronta hendak keluar .. Dan apa itu , pak tama tersenyum seraya menatapku dengan penuh cinta di matanya , entah kemana es batunya tadi .
"gausah ge er , ini cuma formalitas " bisik pak tama .
"beneran juga gak apa apa kok " balasku sambil berbisik, lantas ku berikan senyuman termanis yang ku punya , sambil berkata dalam hati hayo lohh meleleh gak tuhh.
gegas pak tama memalingkan wajahnya dengan ekspresi yang entahlah .
Menjelang malam akhirnya acara pernikahan pun selesai , tak ada resepsi mewah , karena aku dan pak tama kompak untuk memprivasi masalah pernikahan ini , dari kalangan temanku sendiri cuma aina yang ku beritahu , jadilah pernikahan kami ini hanya di hadiri oleh kedua belah keluarga besar dan kalangan terdekat saja.
Aku sedang membersihkan riasanku , sementara pak tama entahlah , dari tadi dia belum keluar juga dari kamar mandi , mungkin dia semedi . Atau ada hal lain ?
__ADS_1
"pakk , lama amat di dalam , gantian dong ?! " teriakku
Hening..
"pakk " ku ulangi lagi
Masih hening juga.
karena penasaran , aku berinisiatif untuk menengok ke kamar mandi , baru saja aku hendak menggeser pintu tiba-tiba.
ceklekk.
"ngapain? Mau ngintip saya!?" wajah pak tama muncul beriringan dengan wangi segar semerbak khas sabun mandi , astaga naga pak tama tampan sekali rupanya.
"dasar aneh " umpatnya , seraya berlalu
...****************...
Sambil bernyanyi ria , aku menggosok badanku yang seharian ini terasa lengket , di tambah lagi kebaya yang ku pakai memang agak sedikit sempit , karena mendadak aku tidak sempat memesan kebaya yang sesuai ukuranku , untungnya ibu masih ada kebaya dulu waktu menikah dengan ayah . Dan bergitulah perlungsuran terjadi . Kebaya ibu akhirnya lungsur kepadaku .
Setelah habis bernyanyi 3 lagu , akhirnya aku keluar dari kamar mandi , ku lihat pak tama sedang menata bantal di karpet bulu di bawah kasurku . aku berjalan perlahan ke arah lemari bajuku , sial sekali tadi aku lupa membawa baju ganti , dengan hanya mengenakan handuk aku hanya bisa berdo'a semoga pak tama tidak melihatku.
Jangan noleh , jangan noleh , jangan nolehh.. Jangan ...
"Aaaaaaaaaakkkkk" .. Aku dan pak tama kompak berteriak ketika pak tama membalikkan badannya . Sementara itu disisi lain dengan sekuat tenaga aku memegang handukk agar tidak terlepas.
"k- k- kamu ngapain"? Tanya pak tama sambil kembali berbalik membelakangiku. ah apa sekalian ku isengin ya ?
"mau ambil baju , pak tama jangan liat - liat , ntar nafsu loh"
__ADS_1
"dasar aneh , saya gak liatin kamu , mending saya liatin monyet "
"yaudah kenapa gak nikahin monyet aja pak " . Sautku sambil menaikan alis
"udah , nih emaknya monyet malahan " sungutnya
tak lama terdengar suara ketokan pintu , rupanya ibu menyuruh bi sum memanggil kami untuk makan malam . pak tama beranjak terlebih dahulu , sementara aku nanti menyusul . Di depan kaca ku lihat pantulan wajahku yang masih sama , hanya beda status saja , ehh ? Btw kata orang - orang aku ini cantik , entah cantik dari sebelah mananya , pokonya cantik . anehnya pak tama tampaknya tidak tertarik sama sekali dengan ku , melihat pun ogah - ogahan . Apa jangan - jangan dia....... Iiiewwwhh . Amit - amit . aku menggeleng - gelengkan kepala sambil terus mengusap perut ...
"kenapa kamu ? Kerasukan ? "
Tak ada angin dan hujan , tiba-tiba pak tama sudah berdiri di belakangku , loh bukannya tadi udah turun ya ?
"e.ehh bapakk , gak kok ini saya lagi ngusir bayangan bapak yang muter mulu di kepala saya " ku keluarkan jurus gombal tipis-tipis , siapa tau dia mencair.
"bapak ngapain masih disini, nungguin saya ya? Takut banget istrinya yang cantik ini kelaperan hehe "
"issh saya disuruh manggil kamu , cepetan turun , gak udah geer " ujarnya seraya berlalu , kabur nih yee .. Hihihi
...****************...
meja makan kali ini terlihat ramai , rupanya om widodo dan tante feny berencana menginap , eh tunggu , sepertinya bukan cuma om widodo dan istrinya , ada juga anaknya alias sepupu lucknut ku Tiwi . Ayah memang memiliki dua orang adik, om widodo dan tante Tika , tante tika sudah lama tinggal di luar negeri bersama suami dan anaknya . Makanya nikahanku ini beliau tidak bisa hadir , karena suami dan anaknya tidak mungkin bisa cuti secara mendadak . Jadilah keluarga om widodo saja yang hadir , sementara keluarga ibu, sudah langsung pulang selepas tadi.
aku menyapa semua anggota di meja makan , tak lupa sengaja ku pamerkan rambutku yang basah , lalu kemudian duduk manis di samping pak tama . Sementara Tiwi menatap malas ke arahku , lalu beralih ke pak tama .
"baiklah karena sudah lengkap semuanya , mari kita makan, sebelumnya , nak difta , kenalkan ini om widodo , adik ayah ini tante feny istrinya , dan yang cantik ini anaknya Tiwi ." ayah mengawali makan malam dengan memperkenalkan anggota keluarga . Tampak pak tama menyalimi satu persatu yang tadi di kenalkan ayah , hingga giliran Tiwi keduanya tampak tegang , air muka keduanya terlihat berubah , ada apa ini ?? Ah apa peduliku . Mungkin pak tama baru ini melihat manusia serupa hantu.
Tak lama acara makan malam pun di mulai , tak ada yang bersuara , kecuali ibu yang sesekali mengobrol dengan tante feny . Ku perhatikan Tiwi sesekali mencuri pandang ke arah pak tama , sementara pak tama sudah kembali ke setelan awal , menjadi es batu.
Aku dan tiwi hanya selisih hitungan bulan saja , dari dulu memang kami musuh bebuyutan . Aku tidak suka Tiwi , lebih tepatnya benci dengan sikapnya yang egois , mau menang sendiri , dan ingin selalu di ratukan. Selain itu dia juga punya rasa iri di atas rata - rata manusia normal . awal mula rasa benciku terhadap tiwi ketika masih sama-sama di bangku sekolah menengah atas . Waktu itu.......
__ADS_1