
Memulai hari dengan semangat sudah biasa dilakukan oleh para pegawai yang melakukan pekerjaanya di dalam pusat perbelanjaan, salah satunya Lina yang harus bersiap diri berangkat kerja karena pertokoan akan dibuka dalam beberapa jam kemudian.
Lina adalah pegawai kantoran yang bekerja di perusahaan retail kenamaan dan dirinya menjalani kehidupan dengan cara bekerja keras, berdedikasi tinggi untuk tim dan cerdas dalam menyikapi permasalahan yang kompleks.
Lina juga menempati posisi terpenting dalam perusahaan tersebut karena memiliki segudang pengalaman yang tidak ia hitung.
Dia menjalani segenap hati dan sebagian pula ia jalani dengan berat tangan.
Ada perjuangan yang harus ia bayar dengan hasil yang didapatkan. Untuk mencapai titik seperti ini, ada rasa sakit yang harus ditanggung dan perjuangan yang tidak terkira.
Jika mengingat masa lalunya semasa duduk di bangku perkuliahan, dirinya harus berhadapan dengan teman yang tatkala mengajaknya terus-terusan untuk ikut event, workshop, seminar untuk memperkaya resume demi mendapatkan pekerjaan.
Seperti satu kegiatan yang ia lakukan terdahulu untuk mengisi waktu luang, mengikuti program magang diluar kampus dan perusahaan itu juga perusahaan ternama yang sudah memiliki banyak alumni sukses di bidang pekerjaan.
Sayangnya pada suatu momen Lina menyerah karena diberi label anak pembohong dan pengkhianat karena menjual atau mempromosikan produk itu dengan harga tinggi, Lina mengakui kejahatannya.
Mendapatkan keuntungan yang ia simpan pada rekening pribadi serta melakukan kecurangan bukan untuk kepentingan perusahaan. Hingga akhirnya itu ketahuan oleh teman-teman magang yang lain dan mulai dikucilkan secara perlahan termasuk dengan teman kuliahnya.
Berbagai alasan sudah ia utarakan namun menciutkan nyali orang-orang untuk menjalin hubungan dengannya. Berita kejelekan yang ia perbuat menyebar begitu cepat. Baginya, memperoleh dan menjalin hubungan dengan orang sebanyak mungkin bisa mencapai standar kebahagiaan yang semestinya dalam bertahan hidup namun nyatanya tidak.
__ADS_1
Ia gelisah dan selalu dibayang-bayangi rasa bersalah. Lina merasa hampa dan kesepian meskipun ia dikelilingi banyak orang dan memiliki kerja yang mapan. Tidak punya koneksi emosi erat dengan orang lain membuat dia dengan perlahan untuk undur diri dari hadapan teman-teman dan rekan kerjanya. Lina memang memiliki banyak teman sebanyak 3 orang.
Merekalah yang bisa memahami jalan hidupnya dan Lina bersyukur akan hal tersebut meskipun jumlahnya tidak sesuai keinginannya.
Rekan kerjanya yang berada di perusahaan, memperburuk dan memfitnahnya jika selama ini perkataan Lina tidak bisa ditolerir karena menjelekkan penampilan ketua tim yang tidak punya selera fashion baik hingga tidak menyukai aturan ketat kerja yang yang telah ditentukan.
Hal tersebut mampu membuat ketua tim nya jadi naik pitam tanpa sebab meskipun Lina sudah menggunakan tutur kata yang sesuai kaedah dan mimik wajah yang tepat. Lina pun baru tahu setelah diberitahu oleh rekan kerjanya yang lain kalau ia digunjingkan seperti itu.
Berterus terang dan menjelaskan bahwa ia tidak pernah sekalipun menjelekkan penampilan ketua timnya namun tetap saja ia diacuhkan karena mayoritas rekan kerjanya memang tidak menyukainya dan melakukan segala cara agar dirinya dipandang buruk oleh orang lain.
Ada satu momen dimana, para karyawan ingin merayakan ulang tahun ketua timnya tersebut dan Lina diharuskan membawa kado spesial untuk Ketuanya. Namun, naas saat itu Lina diacuhkan dan rekan kerjanya telah selesai merayakan hari ulang tahun ketuanya padahal ia sudah menghubungi rekannya agar tidak mempercepat perayaan tersebut.
Hal seperti inilah memicu Lina, mengubah target dan jalan hidupnya. Haruskah baginya bertahan dengan rasa sakit atau memang rasa sakit inilah mempertahankan dia agar hidup ?
Tidak mau terpuruk pada pengalaman seperti itu, dirinya mencoba mencari metode untuk mengubah kehidupannya sejenak. Ada kalanya dalam satu hari ia mencoba untuk hidup berdampingan dengan orang lain dan lebih mempercayai dirinya sendiri.
Lina berinisiatif menyusun jadwal liburannya untuk menuju salah satu desa atau tempat melepas penat yang sesuai keinginannya dalam kurun waktu yang singkat. Antara 2-4 hari lamanya. Kalau seminggu tidak mungkin, bisa-bisa ia sudah diomeli, atas apa yang ia putuskan.
Dirinya memikirkan selama berhari-hari adakah tugas-tugas yang penting yang diharuskan untuk diselesaikan. Dirinya bersedia untuk lembur hingga larut malam karena ia tidak ingin merusak suasana waktu rehatnya sejenak.
__ADS_1
Menyusun berkas-berkas dan tanggal penting aktivitas yang ia jalani selama sebulan kedepan dan akhirnya menetapkan waktu yang tepat selama 3 hari untuk rehat dari aktivitasnya. Akhir bulan waktu yang tepat karena ada hari yang mendapatkan opsi tanggal merah.
Lina bersemangat berjalan dari arah mejanya menuju kearah ruangan atasannya untuk meminta izin, tidak bekerja selama beberapa hari. Sesampainya dengan raut gembira namun lirikan dari atasannya sedikit mengubah suasana hatinya, menjadi lebih buruk.
Lina sebenarnya sudah malas berhadapan dengan atasan dengan raut yang tidak mengenakkan, perilaku plin-plan, dan suka membandingkan kinerja dirinya dengan orang lain bahkan ucapannya tidak bisa ditolerir dengan menyebutkan berbagai kata-kata hewan buas. Pikirnya apa yang salah dengan hewan buas ? dijadikan bahan umpatan oleh atasannya itu.
Lina telah menjelaskan bahwa ia juga telah berkomunikasi dengan para staf beserta para pegawai yang lain adakah kaitan pekerjaan dengan dirinya, dan mengatakan sebagian besar telah beres.
Namun, tetap saja atasannya terlihat tidak setuju dengan keputusannya. Bahkan atasannya mencecar dengan berbagai pernyataan kalau ini bukan waktunya mengambil cuti dan meninggalkan pekerjaan. Menggunakan alasan bahwa customer sering datang di akhir tahun membuatnya mulai terpancing emosi.
Lina memberanikan untuk sedikit menyindir atasannya, “Mohon maaf Bu, tapi selama setahun saya bekerja saya belum pernah mengajukan diri untuk cuti.”. Tapi tetap saja pendirian atasannya dan menyudutkan dirinya kalau dia gaya bicaranya cukup menyiksa untuk didengar.
Lina membela kembali dirinya, “Saya hanya bertemu anda sesekali dan anda tampaknya sudah lebih memahami diri saya ketimbang diri saya sendiri bahkan anda tahu apa yang saya pikirkan meski anda tahu dari orang lain.”
“Anda bertanya kepada orang lain, apa yang saya lakukan. Tapi seumur-umur saya bekerja disini, anda belum pernah bertanya kepada saya. Ada hal lain pula yang benar-benar ingin saya sampaikan kalau ada suatu pemberian tapi jika tidak menyukainya, lebih baik tidak dibuang. Berikan kepada orang yang membutuhkan toh mereka berterimakasih atas apa yang anda berikan.”
Atasannya bertanya apa kesalahan yang diperbuat, dikira Lina mencari celah kesalahan atasannya padahal itu berdasarkan apa yang Lina tonton. Membuang kado pemberiannya setelah melihatnya sekilas. Baginya membeli kosmetik itu merupakan jerih payahnya selama ini dari hasil kerja paruh waktunya sebelum ia mendapatkan pekerjaan tetap saat ini.
Lina akhirnya berpamitan untuk kembali pada meja kerjanya sembari menunggu keputusan atasannya menyetujui rencana liburan apa tidak. Tapi yang jelas, kemarahannya sedikit terbayarkan karena ia berhasil mengucapkan fakta tersebut di depan wajah atasannya.
__ADS_1