
Lina sudah menyusun beberapa berkas namun nyatanya ada beberapa laporan yang harus ia tindaklanjuti karena kurangnya data yang valid untuk dipresentasikan bersama dengan kelompoknya. Memang ada beberapa yang harus ia benahi sebelum benar-benar diserahkan sepenuhnya pada timnya namun apadaya ia tetap saja masih bingung dan gugup apa yang akan ia lakukan.
Lina sempat ditegur pula karena dalam melayani customer dirinya tidak hapal peletakan produk yang dicari dan membuat customer tersebut harus berputar-putar mencari produk yang dibutuhkan.
Ditambah dokumen yang diberikan padanya pun belum tuntas pekerjaannya jadi itu dibagi samaa rata. Lina sempat menghembuskan napas dan tidak tahu apa yang ia lakukan berada pada zona seperti ini membuatnya seperti bermimpi.
Bertemu dengan orang yang tidak ia kehendaki setiap waktu bekerja dan orang memiliki kepribadian yang kurang baik terhadap dirinya. Namanya juga hidup pikirnya namun ia tetap akan melakukan apapun itu.
***
Pacarnya sempat ingin menjemputnya namun ditolak oleh Lina karena saat ini ia benar-benar ingin pulang sendiri. Pacarnya tetap saja mendatanginya dan mengatakan apa yang salah dari dirinya, mengapa pacarnya tidak boleh menjemput.
Lina mengatakan bukannya melarang namun lebih kepada ia ingin pacarnya menghargai privasinya, adakalanya dirinya tidak enak hati akan perlakuan sang kekasih yang menjemput bagai supir mobil.
Membuang waktu untuk menjemputnya, membeli bensin mobil sendiri, menyetir mobil itu membuatnya bersalah adakalanya Lina ingin berganti posisi apa yang dirasakan pacarnya ketimbang rasa tidak enakan terus muncul bagai angan-angan. Sudah mulai untuk patungan namun berakhir penolakan olehnya, Lina menggantinya dengan mentraktir makan ataupun sekedar membelikan yang mereka butuhkan seperti baju couple.
Lina sempat mengutarakan bahwa hubungan yang mereka jalani tidak perlu diumbar-umbar, pikirnya diam dan sunyi bisa membuat damai namun apa yang dilakukan pacarnya berbalik apa yang diharapkan.
Memasang foto di akun sosial media dan mengepos setiap momen yang mereka lewati melalui status ataupun cerita. Pikirnya apa mereka akan mendapatkan penghargaan atas apa yang mereka lalui.
Pacarnya bahkan bertanya apakah Lina malu punya pacar seperti dirinya. Lina mengelak dan mengatakan bahwa ia ingin momen dan kenangan yang nyata dan sungguh dari hati-hati masing.
Bukan kepuasan yang semu karena dipandang orang hidup Lina memang istimewa karena memiliki kekasih yang tampan dan mapan. Kekasihnya berbalik arah mengatakan bahwa Lina seakan-akan playing victim dan keras kepala.
__ADS_1
Bahwa apa yang sudah menjadi keputusan, bahwa pacarnya hanya ingin membagi kebahagiaan, "Kamu tidak bisa menyatakan isi kepalaku seutuhnya, aku melakukan agar kita punya kenangan yang indah."
Lina memang gamang dengan sang pujaan hati, dan memutuskan untuk mampir pada toko roti karena perutnya yang meronta memanggil asupan untuk menetralkan suasana hati yang meletup-letup.
***
Tidak ada gading yang tidak retak, peribahasa yang saat ini masih ia pegang teguh untuk melakukan segalanya. Dirinya kurang yakin dengan apa yang ia lalui. Melalui fase kesulitan untuk menyampaikan pendapat agar tidak mudah diacuhkan.
Menyampaikan keluh kesah jadi tidak enak hati karena saat ia mengutarakan kepada rekan kerja malah dianjurkan untuk relaksasi sendiri dan tidak terlalu memusingkan hal tersebut. Saat mengutarakan keyakinannya malah dirinya dipojokkan karena apa yang ia katakan bisa saja ucapan dusta atau imajinaainya semacam membakar ayam hingga kulitnya berwarna hitam pekat dan rasanya pahit, kejadian yang terjadi pada kehidupan sehari-hari bisa menjadi bumerang baginya.
Lina sempat berucap bahwa membakar makanan hingga gosong bisa menimbulkan zat karsinogen yang bisa menyebabkan orang yang menyantapnya memunculkan sel-sel kanker secara perlahan namun apa yang ia utarakan justru membuatnya dibenci karena orang yang tersebut membakar makanan itu setiap harinya untuk diperjualkan dan penjual juga memakan hasil dagangannya sejak dulu bisa terkena kanker tapi mengapa Tuhan masih memberinya kesehatan.
Dari hal seperti itu ia sedikit berhati-hati dalam berucap, takutnya apa yang ia anggap penting justru membuat orang lain tidak menyukainya meskipun hanya untuk didengarkan.
Apa yang disampaikan beralih menuju pesan singkat yang dikirim oleh kakaknya karena Lina harus berhati-hati apa yang diucap. Lina mendapat anjuran untuk datang pada acara pertemuan keluarga besar Ibu tirinya. Belasan tahun ia dan kedua adik kembarnya tidak pernah menampakkan diri namun hal yang ia hindari berujung kembali pada, takdir untuk bertemu.
Mengkomunikasikan dengan kedua adiknya namun respon mereka hanyalah senyum getir, "Untuk apa kita baru hadir, seharusnya sedari dulu," ucap Tegar saat diberitahu mengenai kondisi ayah mereka yang terlihat kurang baik.
Pertemuan di restoran tadi tidak perlu ditelisik kembali mengenai kondisi Ayah mereka. Rambut memutih, kulit semakin keriput, suara tersedu, dan mimik wajah yang lesu ditambah polesan warna pucat menghiasi bibir ayah mereka. Tidak dijelaskan pun kondisi Ayah mereka memburuk.
Namun, sosok anak angkat disampingnya malah tidak mempedulikan dan lebih menunjukkan kesolekan diri dengan rambut terawat, setelan jas menawan hingga nada bicara yang telah menjadi sosok orang yang memiliki kepercayaan tinggi selama berabad-abad lamanya. Sungguh bertolak belakang
Lina tahu apa yang hal penting itu bisa menjadi hal buruk dan hal yang tidak perlu dipermasalahkan. Namun masalah ini sudah ia hiraukan sejak lama. Undangan untuk bertemu selalu terkirim kepada Lina.
__ADS_1
Lina mengajak mereka agar jalinan keluarga mereka membaik karena jika mengandalkan emosi dan nalar saja hubungan darah maupun emosional bisa padam. Teguh bahkan sempat mengatakan saat dirinya sakit, sang Ayah seakan tidak peduli padanya.
Teguh mengatakan bahwa Lina dan Ibunda sudah lama tahu mengenai perselingkuhan ayahnya kepada cinta pertamanya itu. Lina memang berbohong dan mengatakan bahwa hubungan Ayah dan Ibunya berakhir dikarenakan masalah ekonomi dan tidak satu visi misi lagi dalam berumah tangga. Hingga akhirnya adik kembarnya memilih jalan untuk mencari tahu kebenaran. Cinta pelik pahlawan keluarga mereka, berujung dibalas dan membuat mereka terpuruk.
Teguh tetap pada pendiriannya untuk tidak mau diakui dalam tali hubungan keluarga Ayahnya. Bahkan kakak tiri mereka sempat terang-terangan menyinggung masalah gono-gini atau karena kondisi Ayah mereka namun mereka bertiga menampik untuk mengincar hak yang diinginkan banyak orang, justru Lina ingin keseriusan dalam menjalin silahturahmi kembali.
"Kak, aku masih belum siap menanggung rasa ini. Sesak dan sesal jadi satu. Ini sulit bagiku." kata Tegar.
Lina sedikit kurang sabar akan permintaan sang adik namun upayanya bisa dipertimbangkan kembali. Pemikirannya bahwa pertemuan mereka akan berjalan mudah. Bertemu, berkenalan dan langsung pulang kerumah namun merokemendasikan idenya tidak mudah terealisasikan.
"Pikirkanlah. mencoba menjadi anak berbakti bagi Ayah meski Ayah memperlakukan kita seperti itu. Renungi momen kita bersama Ayah." imbuh Lina sambil bertahan menahan nada sesenggukan dan air mata yang telah mengalir perlahan dari mata ke pipinya.
Ia juga merasakan apa yang dirasakan oleh adiknya. Sekian lama menyimpan dendam kepada Ayahnya menyebabkan dirinya seakan-akan menjadi anak durhaka. Entah apa yang merasukinya, mungkin dampaknya terasa sesaat membaca postingan akun media sosial miliknya maupun bercengkerama dengan teman yang sudah terlebih dahulu ditinggalkan kedua orang tuanya.
Penyesalan adalah hal yang paling sering dilewatkan oleh orang-orang semasa mereka masih bersama dengan orang yang telah meninggalkan dunia ini. Belum memenuhi keinginan orang tua, bersikap buruk pada kedua orang tua, hingga jarangnya bertukar kabar.
Apalagi ditambah beberapa anggota keluarga Ibunda Lina telah menghadap sang Kuasa, dirinya belum sempat menjenguk disaat mereka sakit maupun disaat kondisi sehat. Disaat ada pertemuan keluarga ia lebih memilih menunda untuk berkunjung kerumah kerabat karena baginya masih ada hari esok.
Memang betul masih ada hari esok baginya tapi lain halnya bagi mendiang kakek dan pamannya yang pergi dengan damai karena sosok mereka ada, disaat masa-masa tersulit keluarga Lina.
Menangis, meratapi dan merana bercampur jadi satu bagi Lina. Hal seperti itulah yang tidak mau ia lakukan kepada sang Ayah dikala sang Ayah berperilaku dan nemiliki karakter yang tidak patut untuk ditiru, ia ingin menjadi anak yang terbaik bagi Ayahnya karena kesempatan hidupnya hanya sekali. Hanya itu, namun realita dan eksekusi tidak semudah dibayangkan.
Ibunda Lina merespon baik inisiatif Lina untuk bertemu dengan keluarga mantan suaminya karena tidak mudah menerima dan melakukan transisi perbedaan pandangan tersebut. Butuh waktu, pemikiran dan menerima kenyataan yang menghampiri mereka. Lina mengira bahwa hanya mereka yang melewati peristiwa menyesakkan tapi sepertinya bukan hanya dia seorang, dia tahu orang lain mengalami hal serupa, broken home.
__ADS_1