
Putri sempat merasakan gelombang kampa yang menjalar pada kulitnya hingga merasakan canggung setelah berjabat tangan. Tidak biasanya ia merasa dekat ataupun dengan mudah mengulur tangannya sendiri namun insting rasa kemanusiaan lah yang membuatnya mudah mengambil keputusan itu.
Laki-laki tersebut memberi senyum tipis kepadanya sembari membereskan barang-barang tersebut hingga mengalihkan pandangannya kearah lain karena dipanggil oleh seseorang yang tampaknya merupakan pegawai yang bekerja di kantor desa itu. Diapun pun berpamitan dan langsung pergi untuk menemui orang tersebut.
Putri pun tetap melanjutkan tugasnya sembari memikirkan langkah apa yang ia lakukan seperti berkoordinasi dengan rekan kerjanya
***
Saat langit menunjukkan swastamita berarti sudah tiba saatnya ia memutuskan pergi untuk melayat namun sebelum itu ia bertukar pesan kepada rekannya yang terlebih dahulu pergi. Rekannya hanya berbicara bahwa ia masih membantu keluarga yang ditinggalkan meskipun sempat bolak balik dari kantor. Mengucapkan salam terakhir dan doa agar mendiang beristirahat dengan tenang.
Lina akhirnya memutuskan pulang dan memikirkan apa yang akan ia lakukan terhadap uang tabungannya. Ingin sekali ia mengikuti open trip ke tempat wisata yang ia idamkan maupun konferensi global untuk melatih kemampuan berbahasa inggrisnya, namun kembali lagi jika ingin pergi harus ada dana yang ia siapkan. Biaya transportasi, makan, oleh-oleh , pergi dari satu tempat ke tempat lain hingga tempat menginap. Pikirannya sudah suntuk.
Belum lagi harus menghadiri acara ulang tahun keponakan sang kekasih apakah hidupnya akan terpusat pada orang lain bukan untuk dirinya.
Mengingat kembali dan melihat figura foto yang terpancar dari wajah mereka berempat disaat ingin mempunyai memori bersama terpancar kebahagiaan dan senyuman disana namun arah fokus matanya menuju Ira, bagaimana kondisi temannya saat ini setelah divonis memiliki penyakit kejiwaan.
Mengapa masa lalu menghantarkan dengan mudah terhadap penyesalan yang amat mendalam, Lina membenci itu. Apa yang ia lihat adalah kejadian yang mengenaskan dirinya dan sopir taksilah yang menyaksikan tersebut.
Saat itu dirinya hanya menerka-nerka mengapa adik dari Ira tidak kunjung pulang kerumah disaat kakak-kakak Ira juga ikut mengkhawatirkan mereka karena nyatanya sehabis pulang dari sekolah bukannya langsung pulang lalu dilanjutkan main bersama dengan tetangganya. Bahkan ponselnya pun tidak aktif, siapa yang tidak khawatir.
Ira memberitahukan bahwa ada yang tidak beres dengan adiknya akhir-akhir waktu itu, adiknya lebih sering murung dan tidak bersemangat untuk bermain bersama temannya. Perubahan itulah sempat ditanya Ibunya Ira namun adiknya tidak menggubris. Bahkan setelah kematian sang adik, tidak ada jejak apapun yang bisa menjadi petunjuk mengarahkan pembunuhan tersebut.
Selama bertahun-tahun dirinya menjadi saksi dan dirinya mencari tahu setidaknya ada bukti baru yang ia dapatkan namun kembali lagi hasilnya tetap nihil. Lina juga menghubungi sopir taksi yang mengantarkan pada peristiwa naas, unung saja masih baik-baik saja. Lina tidak ingin sopir taksi itu terlibat masalah tersebut namun di saat persidangan untuk kasus tersebut, sopir taksi itu terlibat menjadi saksi dan mengatakan sudah nasibnya terikat benang merah yang belum terurai hingga sekarang.
__ADS_1
Lina memang akhir-akhir ini sering menanyakan kabar sopir taksi tersebut meskipun telah beralih profesi berjualan makanan di warung. Khawatir terjadi masalah ataupun sesuatu hal yang tidak diinginkan terjadi. Dirinya berinisiatif, menulis sesuatu hal yang ia ingat di malam hari itu untuk memastikan tidak ada yang terlewat.
***
Lina yang saat itu baru saja mengikuti Les pelajaran dihubungi oleh Ira. Dirinya agak kaget dan bingung mendengar suara tangisan Ira yang tersedu-sedu tanpa sebab karena meminta pertolongan kedua orang tuanya dan keluarganya, belum menemukan titik temu. Kejanggalan itu yang ia rasakana sejak awal, katanya kakak-kakak Ira mengkhawatirkan kondisi adik terakhir mereka namun mereka kurang tanggap disaaat keadaan sudah amat genting.
Ira percaya dengan Lina karena Lina lah yang memilih untuk berjuang membantu Ira. Memberi tahu lokasi di suatu pabrik kosong yang masih menjadi kawasan industri, Lina segera pergi menuju sana dan meminta bantuan taksi untuk mengantarnya kearah sana. Sopir taksi mengkhawatirkan kondisinya karena tempat itu sedikit terkenal angker.
Lina mengacuhkannya dan tetap saja pergi tanpa memeberitahu Ibunya maupun adiknya. Menuju ke tempat sana hingga arah mata mengarah ke suatu asap tebal yang telah membumbung tinggi menuju langit asap hingga mengubah warna langit menjadi keorenan.
Lina segera berlari meskipun rasa takut mendominasi. Terlambat baginya, keadaan terlalu cepat baginya, kejadian naas itu telah terjadi. Sang sopir taksi tersebut tanggap yang mengantarnya, menelpon pemadam kebakaran dan area tersebut berhasil menarik kerumunan orang yang melewati area pabrik tersebut, menghentikan kendaraannya dan mengabdikan melalui telepon pintar.
Hingga ditemukanlah tersangka yang menyebabkan hal tersebut namun kejanggalan pasti terasa. Semua terasa cepat dan janggal. Sedari momen tersebut kamera pengawas di sekitaran pabrik mati beroperasi dan ayahnya menyalahkan kenapa harus terlibat terhadap keluarga yang rumit. Kakaknya Ira bahkan memberi keterangan yang membuatnya makin curiga ada yang sesuatu disembunyikan.
Melewati persidangan hingga 2 tahun lamanya dan memutuskan pelakunya lah adalah orang tersebut. Keluarga Ira sudah lega mendengar ucapan majelis hakim namun Ira pada saat itu yang masih sadar dengan kondisinya tidak terima dan berangsur-angsur marah dan berbicara tidak jelas. Memukul kepala sendiri dan berdiri di jembatan layang hingga kondisinya benar-benar menunjukkan ketidakstabilan emosi.
Ada ketakutan sendiri yang menghalangi Lina untuk mengungkap kejanggalan itu. Antara pelakunya 2 orang atau justru perempuan itulah yang sendiri melakukan pembunuhan, yang berjalan agak pincang itulah pelaku sebenarnya. Bertahun-tahun itulah ia lewati hingga mimpi buruk benar-benar datang padanya, bahwa pelaku yang sudah menetap di penjara itu bukanlah pelaku sebenarnya.
***
Suasana Lembaga Permasyarakatan benar-benar ramai karena kapasitas pelaku kejahatan yang mendekam di tempat itu melebihi batas namun tidak ada tempat lain untuk memberikan bimbingan lain kepada para pelaku untuk kembali ke jalan yang benar. Lina bertemu dengan orang yang mengakui dirinya pelaku pembunuhan adik Ira. Membawa bingkisan dan kata-kata untuk diucapkan.
Lina sudah bertemu dengan pelaku tersebut hingga wajahnya semakin tampak terlihat lusuh dan letih. Rambut yang tidak tertata rapi hingga warna rambut yang memang sudah tampak memutih ditambah dengan kantung mata yang sudah mengular ke bawah.
__ADS_1
Lina bertanya apakah kondisi dan keadaan dari pelaku tersebut baik-baik saja, dia tidak baik-baik saja dan mulali bosan untuk tinggal di penjara. Pelaku tersebut ingin mencari suasana baru ditambah pelaku tidak akan pernah baik-baik saja karena meninggalkan istri dan anaknya.
Lina bertanya, apakah ada hal lain yang ingin disampaikan kepada dirinya. Pelaku tersebut melirik kearahnya dan berkata, apakah Lina tidak bosan mengunjunginya setiap bulan dan pelaku pada akhirnya akan memberi jawaban yang sama.
Fakta yang nyata ialah pelaku sudah membunuh anak tersebut tapi Lina pun sempat mengatakan bahwa kepada pelaku bahwa ada upaya untuk meringkan masa hukuman pelaku kalau pelaku berani mengungkapkan fakta sesungguhnya.
Pelaku tersebut tertawa kecil dan meringis meratapi nasib memang sudah tanggung jawabnya dia mengatakan bahwa ayah dari mendiang putranya itu memang berperilaku buruk padanya dan Ayahanda Ira pantas untuk mendapatkan balasan pelaku seperti itu.
Lina memang sudah mendengar berkali-kali. Pembunuhan itu terjadi karena dendam dan kesal namun alasannya terlalu klasik baginya dan terlalu mudah dibaca oleh pikirannya, pasti ada hal yang mendukung perbuatan tersebut.
Lina mencari cara lain untuk memutar topik pembicaraan lain untuk memancing, mungkin saja ada celah yang bisa ia dapatkan atau informasi sehubungan dengan bayang-bayang yang ia lalui sebelumnya, melihat kejadian dan memastikan benarkah itu pelakunya tapi hatinya berkata itu memang pelakunya.
Lina sempat mengatakan bahwa ia pernah melihat seorang perempuan dengan kaki sedikit pincang dengan tinggi rata-rata melebihi perempuan pada umumnya berjalan menggunakan jaket hitam sepatu boots dan celana jeans seperti orang yang akan bepergian jauh. Lina bertanya lagi kepada pelaku tersebut apakah ia pernah melihat sosok perempuan tersebut dan menyapa orang tersebut.
Pelaku itu mengacuhkannya dan tampaknya sudah jenuh dengan ucapan Lina kemudian menyuruh Lina untuk pulang saja karena membesuknya pun tidak akan menghasilkan apa-apa dan lebih baik Lina melanjutkan hidupnya.
Lina pun menjelaskan bahwa kondisi kakak mendiang Ira sudah tidak baik. Lina mengatakan bahwa ia melakukan ini sebagai sahabat dari kakak mendiang yang telah meninggal. Lina menjelaskan kembali bahwa kehidupan dari sahabatnya sudah menjadi orang yang kehilangan akal dan tindakan. Istilahnya dia bisa melakukan hal-hal sehari-hari namun saat berbicara saat sudah tidak seperti orang normal atau orang yang memiliki akal sehat pada umumnya.
Lelaki itu tampak sedikit tertegun dan memilih diam untuk melakukan hal tersebut dan mengetuk kuku-kuku yang pada bidang meja. Bagi Lina selalu berharap pelaku tersebut tetap selalu sehat karena ia yakin bukanlah pelaku itu yang membunuh adiknya tapi orang lain Lina percaya itu dan Lina telah berdoa sepanjang harinya agar orang yang tidak bersalah tetap diberi keselamatan dan kesehatan.
Lina juga mengatakan bahwa ia akan sering mencari tahu kabar dari keluarga pelaku tersebut karena takutnya tidak ada yang tahu namanya masa depan seperti apa ada hal-hal yang bisa menimbulkan malapetaka marabahaya ataupun hal-hal yang tidak terduga bisa terjadi.
Lina pun memutuskan untuk pulang dan menyampaikan salam terakhir yang pada lelaki tersebut dan mengucapkan dalam hatinya, bahwa ingin meringankan kondisi pelaku suatu saat nanti.Lina berharap pelaku tetap sehat, tetap bisa berkumpul dengan keluarganya dan bisa menikmati sisa hidupnya dengan sebaik-baiknya karena setahunya orang yang berbuat buruk hidupnya lebih lama di dunia untuk menebus kesalahan dan kejahatan yang dilakukan semasa hidup.
__ADS_1