
Tidak ada yang menandingi rasa pilu yang dipendam oleh sang Ibu, Lina tahu inilah cara yang membuat hubungannya lebih baik lagi jika ia mau berdamai dengan sang Ayah namun baginya menyia-nyiakan karunia yang telah diberi Tuhan untuk Ayahnya malah dilimpahkan seorang diri kepada Ibunya.
Selama ini Ibunya telah bekerja amat keras untuk membiayai hidup anak-anaknya sehingga mengenyampingkan keinginan lain dan malah mewujudkan impian tersebut. Menjadi content creator dibidang kuliner telah dilakoni Ibunya meski ia tidak bekerja di perkantoran seperti teman-teman Ibu lainnya.
Karir berkembang itulah membuat Ibunda Lina memutuskan menjadi Ibu rumah tangga dan bekerja di rumah saja. Membuat keripik pedas, membuat kue lebaran, menjual mainan anak-anak hingga akhirnya berkreasi membuat berbagai macam makanan untuk dipertunjukkan pada akun sosial media merupakan sepercik perjalanan kehidupan yang penuh makna.
Maka dari itu, karena usaha Ibunya telah cukup menghidupi dirinya, Lina akan membalas jasa sang Ibunda untuk mewujudkan bisnis yang ia impikan.
Lina baru tahu bahwa sang Ayah bertahun-tahun lamanya mengirimkan sejumlah uang kepada Ibunya untuk menghidupi anak-anaknya namun sayang nominal yang diberi tidak cukup untuk menutupi pengeluaran biaya hidup yang tidak terduga.
Tetap saja, baginya Ayahnya lah yang perhitungan terhadap finansial apalagi uang tersebut dipergunakan untuk kebutuhan anak-anaknya sedangkan Ayahnya termasuk kategori orang mampu karena mampu membeli barang mewah dan mobil mewah pada eranya.
Ibu tirinya bekerja dan bergerak di bidang kecantikan dan Ayahnya di bidang perabotan rumah tangga, baginya uang yang dihasilkan oleh kedua insan tersebut termasuk memiliki penghasilan yang mencukupi.
Apa yang terlihat belum tentu ikut merasakan. Jadi, Lina sudah mulai mengetahui karakter asli sang Ayahanda, menduakan dan perhitungan.
Keesokan hari sudah bersiap-siap untuk berangkat ke kantornya. Sang Ibunda telah berpamitan dahulu untuk pergi karena harus menemui seseorang yang membantunya mendapatkan sponsor dari produk makanan sehingga sang Ibu lebih banyak mendapatkan profit keuntungan yang tidak sedikit.
Kedua adiknya juga menuju ke kampus mereka dimana mereka berbeda kampus meskipun kembar karena memilih keinginannya masing-masing.
Lina ingin makan tapi ia tahu Ibunya belum memasak untuk mereka lalu dibukalah tudung saji yang berada pada meja makan. Hanya ada tahu goreng dan telor rebus, memang benar Ibunya belum sempat memasak namun ternyata Reno sempat membeli pepes udang dan botok telur asin yang dibelinya dekat dengan kampus.
__ADS_1
Reno sempat mengatakan kemarin ada Ibu-ibu yang menawarinya untuk membeli karena ia tidak punya pilihan selain menawarkan dengan cara berjalan. Padahal menurutnya bisa saja lauk pauk itu dititipkan pada kantin kampusnya namun Ibu penjual memutuskan untuk berkeliling berjualan lauk pauk tersebut.
Bersyukur karena ia tidak berkeliling menjual makanan seperti Ibu-ibu tersebut, Reno lega membantu meringankan beban Ibu tersebut dan Lina memberi applause kepada sikap Reno. Harus bersyukur diganti dengan tulus bersyukur baginya.
***
Sesuai janjinya pada sang ayah, mereka janji bertemu di food court yang berada di pusat perbelanjaan karena sudah pasti itu dekat dengan tempat bekerja Lina karena hanya berpindah lantai saja.
Menuju salah satu outlet yang menyajikan makanan khas Jepang menjadi pilihan singgasana Lina dan ayahnya untuk menikmati makan siang dan didukung suasananya yang amat nyaman.
Dalam hati, dirinya ingin makan-makanan khas Palembang terkhususnya pempek dengan cita rasa kuah cuka yang melekat pada ingatannya, ia tunda sejenak untuk menyantapnya demi menjaga martabat kalau ia sudah bekerja dan mampu menopang dirinya sendiri tanpa embel-embel bahwa Ayahnya cukup mampu membiayainya.
Tidak disangka ternyata sang Ayah mengajak serta anak tertuanya dalam santap makan siang kala itu. Sungguh hati Lina berkecamuk dengan gaya slengekan kakak tirinya yang lengkap mengenakan setelah jas bermerk luar negeri dan melihat wajahnya saja sudah ingin Lina lempar ke dasar laut.
merintih hingga meneteskan air mata menghiasi wajahnya saat itu namun apa daya balasan yang ia dapatkan memang tidak sebanding. Kakaknya memberi nomor palsu sang ayah dan berupaya untuk menghalangi pertemuan mereka tapi mengapa saat ini mereka kakaknya mau menerimanya dengan tangan terbuka ?
Bukankah ada sesuatu hal yang akan direncanakan atau justru memang ada hal yang ia ketahui ? Entahlah yang pasti Lina ingin hubungannya lebih membaik terlepas dari kepribadian dan perilakunya ayahnya, ia hanya ingin berbakti kepada orang tua selagi sanggup.
Memesan beberapa Donburi dan sushi menjadi hidangan pembuka. Namun belum saja Lina mencicipi sushi tersebut, sang kakak berujar bahwa siapakah yang akan membayar hidangan ini ? karena bila dilihat menu yang disajikan di restoran tersebut agak mahal dari restoran kebanyakan.
Dengan cepat Lina berucap, "kita bertiga," serasa lebih baik meskipun ada rasa bersalah sedikit. Bukankah membayar bersama terasa meringankan dan gotong-royongan daripada membayar sendiri dan berat sebelah ?
__ADS_1
Meskipun Lina mampu membayar semua menu namun pada akhirnya ayahnya dan kakaknya memilih dan memakan hidangan tersebut, untuk apa ia repot memikirkan pengeluaran yang bukan urusannya ?
Sambil menikmati makanan, suasana pada menit pertama memang terasa hening namun akhirnya sang Ayah berujar bahwa sepatutnya Lina mengikuti acara pertemuan keluarga besar dari sang Ibu sambung meskipun telah terlambat memperkenalkan diri.
Lina memang berjanji bahwa ia akan menjalin ikatan keluarga setelah sekian lama dan pada akhirnya apa yang ia hindari tetap saja ia temui dan justru hal tersebut menghampirinya sewaktu-waktu, cara pintas tetap menghadapinya.
Keingintahuan keluarga sang Ibu sambung terhadap dirinya dan kedua adiknya sudah lama dipertanyakan oleh banyak orang, bagaimanakah dirinya bertahan hidup.
Lina berujar bahwa ia akan memikirkan hal tersebut sembari mendiskusikannya dengan kedua adiknya. Tidak berselang lama ayahnya memecah keheningan dengan mengatakan ingin menambah menu makanan untuk dibawa pulang dan menuju toilet, Lina mempersilahkan.
Masih asyik menikmati makanan yang berada dihadapannya, kakaknya sempat mengatakan apa rencana yang akan dilakukan Lina ? Entah apa maksudnya namun Lina cepat menangkap karena peristiwa kala itu pasti diingat karena ia membohongi kakaknya bahwa ia juga sakit parah dan butuh pertolongan ayahnya.
Kedua bola mata itu menyorot wajah yang sudah enggan ia jumpai. Kesal bercampur amarah ingin ia wacanakan namun apa daya ia ingin mempertahankan harga dirinya dan lebih banyak mendengarkan.
Gio berkata bahwa Lina sangat pintar berakting membutuhkan uang dan sebagainya untuk hal yang yang tidak diinginkan seperti hura-hura dan asyik berbelanja. Lina belum menyahut dan terus mendengarkan perkataan kakaknya. Lina yang saat itu memakai "atribut pendukung" untuk melancarkan aksinya demi kedua adiknya tetap kena batunya justru malah ia yang dipermalukan.
Lina menandaskan makanannya hingga tidak tersisa dan meminum jus itu dengan tenangnya hingga datanglah ayahnya kembali kepada meja makan. Mengeluarkan secarik foto yang menjadi saksi bisu awal dari penyelewengan rasa dan kasih sayang.
"Aku akan berpikir kembali yah, apakah aku akan menghadiri pertemuan itu mengingat aku baru kali ini hadir, kalau begitu aku pamit kembali ke kantor." imbuh Lina sambil bangkit dari tempat duduknya, dirinya cukup tidak tahan berlama-lama berhadapan dengan kakaknya itu.
Gio sempat mengutarakan keberatannya panggilan Lina untuk Ayahnya, "seharusnya papi, gimana sih. biar modern." sambil menggoyangkan kedua alisnya.
__ADS_1
Lina menyahut bahwa sejak kecil ia memanggil ayahnya dengan nama Ayah bukan yang diutarakan oleh kakaknya. Jika ia memanggil nama itu seperti wujud dan identitas yang melekat Ayahnya terasa pudar. Lina lebih nyaman memanggil dengan nama yang terasa kurang gaul namun membuatnya nyaman.
Tidak terasa dirinya sudah undur diri dari hadapan Ayah dan kakakknya. Terasa mengganjal namun hatinya saat ini tersa canggung dan belum seutuhnya siap menerima keadaan. Tiba-tiba berbaikan dengan sang Ayah dan berupaya menampakkan diri dihadapan mereka lagi. Tapi apa boleh buat inilah permintaan sang Ibunda.