Simak Sempana

Simak Sempana
Bab 2


__ADS_3

Sebelum Lina menuju ke arah kantor ruang kerja atasannya, ia pergi menuju ke toilet. Disanalah setelah ia ingin keluar dari sana, segerombolan perempuan yang bergosip ria untuk menceritakan bagaimana caranya mereka melakukan alibi untuk mengecoh atasan mulai dari tugas dilimpahkan kepada karyawan baru hingga menceritakan tentang dirinya.


Dirinya telah masuk gonjang-ganjing dalam topik terpanas perempuan-perempuan tersebut. Lina dengan saksama mendengarkan apa yang mereka ucapkan, padahal yang diceritakan itu dirinya sendiri. Topik pertama langsung membuat heboh ialah berita mengenai pacarnya.


Lina memang memiliki tambatan hati yang ternyata merupakan petinggi di salah satu perusahaan elektronik kenamaan. Pacarnya tidak mengatakan apa yang memang dikerjakan belakangan itu karena memang Lina kurang tertarik dengan kehidupan pribadi sampai dirinya ketinggalan informasi dan tahu dari orang lain.


Lina baru tahu setelah dirinya eksekusi di luar kantor untuk mempromosikan produk yang dipertunjukkan oleh perusahaannya kepada customer dan investor, dan ternyata salah satu customernya adalah pacarnya sendiri. Dan bahkan lebih anehnya lagi pacarnya mengakui bahwa mereka berdua telah menjalin hubungan sejak lama, 2 tahun.


Itu tidaklah lama baginya. Setelah pengumuman tersebut, perasaanya tidak karuan karena ia kaget, bingung, mau marah atau sedih atau bagaimana sekaligus malu karena yang ia tahu pacarnya mempublikasikan hubungan mereka di depan karyawan, tempat perusahaan ia bekerja.


Entahlah disebut beruntung apa tidak dirinya. Dirinya mulai gentar dan tidak peduli bagaimana orang lain memandangnya. Tetapi ia ingin mengusahakan yang terbaik untuk hubungan mereka berdua saja. Hingga akhirnya ia memutuskan untuk melakukan balasan kepada orang yang menggunjingnya pada saat waktu yang tepat.


Lina sudah menyelesaikan tugasnya untuk mengatur barang-barang mana yang akan diekspedisi, dikirim kerumah customer hingga penyusunan produk yang akan kadaluarsa hingga pengajuan jatuh tempo hingga cicilan furniture yang dibeli pelanggan.


Ia merinci secara keseluruhan. Akhirnya surat yang ia idam-idamkan jatuh meluncur padanya. Namun berisi, kita bicara nanti. Apa maksud dari atasannya membuat kesal saja. Tapi sebelum waku berakhir dirinya mencoba untuk menghembuskan nafasnya agar lebih teratur dalam lebih mengatur kondisi emosionalnya.


Kembali bekerja dan menjalani kehidupan selayaknya seperti namun tampaknya kurang begitu berpengaruh terhadap kesehariannya. Ibunya sempat membicarakan bahwa memang menjadi orang yang mendapatkan pekerjaan begitu berlika-liku.


Dulu Ibu Lina bekerja di perkantoran tepatnya di perusahaan asuransi namun untuk mengelola administrasi keuangan butuh ketelitian, kesabaran hingga merelakan waktu kerja yang terbuang sia-sia, tanpa tahu makna dibalik bekerja.


Pontang-panting dilakukan Ibuku hingga akhirnya menjadi Ibu rumah tangga karena ingin fokus merawat suami dan anak-anak. Jika memutar kembali kejadian terdahulu, semua dilalui bersama Ayahanda tapi apa mau dikata Lina sudah tidak hidup bersama Ayahnya selama belasan tahun lamanya karena ia lebih memilih untuk tinggal dengan cinta pertamanya yang resmi menjadi Ibu tirinya.


Fakta itu membuatnya merasakan kembali kenangan pahit dan pusing yang tidak beraturan ritmenya. Ayahanda yang sebenarnya memang ia ingin temui karena lebih memilih untuk tinggal bersama cinta pertamanya. 15 tahun yang lalu telah berhembus kabar bahwa Ayahnya masih menyimpan rasa pada cinta pertamanya ketimbang mempertahankan harmonisasi rumah tangga dengan Ibunya.

__ADS_1


Dirinya masih sibuk bermain dengan teman sebaya kurang cepat menanggapi informasi akhirnya memberanikan diri mencari tahu.


Lina saat itu selesai belajar bersama dari rumah temannya karena mengikuti les, melihat kebersamaan Ayah dan Ibu tirinya di suatu toko, Lina dalam hati berharap besar yang dilihatnya bukan Ayahnya namun ia semakin percaya setelah yang dipergunakan Ayahandanya merupakan jam tangan favorit dan kemeja baru yang baru dibeli Ayahnya beberapa hari yang lalu.


Lina mengingat betul motif kemeja itu karena ia disuruh Ayahnya untuk mencuci dan menyetrikanya untuk dipakai ke suatu acara terpenting. Mengerahkan segala upayanya agar Kemeja Ayahnya tampak menawan namun fakta mengiris menorehkan ke hatinya, ternyata kemeja itu untuk ditunjukkan kepada orang terpenting dalam kehidupan Ayahnya.


Hal lain yang tidak kalah penting ialah ia melihat Ayahnya menggenggam tangan Ibu tirinya, hingga tidak mampu membendung rasa sakitnya hingga saat ini. Lina bersegera diri menyembunyikan diri dari balik pohon karena takut ketahuan sosok dirinya oleh Ayahnya.


Berusaha menahan suara tangis kesedihan dengan cara membungkam menggunakan tangan ternyata tidak mampu untuk membendung rasa pedih yang menjalar pada sanubarinya. Ada orang lain, bertanya padanya apa yang terjadi namun Lina segera pergi dan mencari tempat pelarian untuk menerima fakta ini semua.


Menuju rumah pohon yang biasanya dirinya dan teman-temannya kunjungi dan menengadah untuk mencari kesembuhan hatinya tidak kunjung ia dapatkan dirinya ingin sekali saat itu memberi pesan kepada Ibunya atas perilaku Ayahnya. Namun ia mengurungkan niat tersebut lalu mencoba mengetik lagi namun kembali ia simpan pada draf, tidak berhenti sampai disitu ia mencoba lagi menekan tombol kirim ke pada Ibunya namun ia takut melukai perasaan Ibunya.


Disisi lain pada saat itu sang Ibunda, memang telah mengetahui bahwa sang suami juga memiliki tambatan hati selain dirinya setelah menemukan struk belanjaan untuk pembelian kosmetik hingga sepucuk rambut bertengger pada jaket suaminya, Ibunya telah paham betul ini bukan ditujukan untuk atau darinya namun perempuan lain. Suaminya telah menodai ikrar suci diantara keduanya beserta buah hati mereka.


Kenyataan itu memporak-porakkan kepercayaan 2 perempuan itu dalam sekejap. Kembali pada pekerjaan inilah yang membuat Lina untuk tidak begitu memikirkan hal seperti itu.


Pelindung yang ia harapkan untuk menjaganya sudah memudar seiring berjalan waktu untuk menjalani kehidupan yang sudah diimpikan tapi jiwanya sudah lama tidak bersama dengannya. Lina akhirnya menghadap kembali pada atasannya untuk mencari tahu apakah ia diperbolehkan untuk mengajukan cuti dan akhirnya tetap saja sulit untuk mendapatkannya.


Lina tidak begitu banyak mengharapkan itu semua dan memilih untuk pergi ke restoran padang yang dekat dengan kantornya. Waktu cepat berlalu dengan suasana semakin malam semakin riuh, Lina memilih untuk menyantap sepiring nasi ikan seorang diri.


Baginya untuk makan diluar dengan seorang diri agak terasa canggung dengan meja di mana yang seharusnya diisi 4 orang, malah terisi oleh sosoknya saja. Sembari menunggu makanan datang padanya, Lina merasa keanehan bahwa memang dirinya dilihat dan disaksikan oleh banyak orang, seorang pegawai makan sendiri dengan santainya, apa ada yang salah dengan penampilannya.


Penjual makanan juga menyampaikan hal yang ia pikirkan, mengapa Lina makan seorang sendiri padahal jam waktu kerja juga belum lama usai. Lina memang bisa mengajak teman se-kantornya untuk makan dengannya namun ia mengurungkan niat karena ingin menikmati makanan yang dengan cara khidmat ketimbang makan tapi asyik mengobrol pada saat makan bukan seusai makan.

__ADS_1


Tidak berselang lama ia mendapatkan notifikasi dari beberapa grup chatnya, grup terkhusus untuk pegawai retail sedang membahas kenaikan harga furniture yang meningkat hingga menyebabkan pertimbangan akankah dimasukkan pada produk perusahaannya, ada pula di grup chat temannya yang mengajaknya untuk liburan ke bali sembari berbelanja ria adapula chat dari grup klub sepeda yang ia ikuti malah menuntunnya untuk ikut lomba sepeda di wilayah kota, dirinya memang mau tapi entah mengapa ia lebih memilih rebahan daripada membuat tubuh sehat.


Keinginannya ialah menghabiskan waktu sendirian selama seharian penuh di dalam kamar saja, entah itu untuk guling-guling pada pulau empuk, bernyanyi sepuasnya tanpa mengindahkan suaranya yang kurang baik untuk didengar atau untuk melakukan aktivitas menyenangkan baginya.


Lina mendapat pesan dari temannya, Putri bahwa dia ingin menemui Lina untuk sekadar berbincang basa-basi dan menceritakan apa yang dialami. Dirinya sebenarnya kurang mood untuk hari ini namun apa boleh dibuat mumpung saat ini dirinya masih diluar rumah jadi bisa menikmati waktu malam sejenak di suatu kafe yang ramai akan pengunjung. Lina hanya menikmati segelas ice capuccino dan Putri membeli beserta donat dan macarons.


Lina bertanya apakah Putri tidak akan masalah memakan kudapan sebanyak itu karena saat ini terdaftar sebagai tentara, Putri mengatakan bahwa Lina tidak perlu khawatir dengan kondisinya karena setiap siangnya ia harus berlari keliling lapangan menggunakan jaket sauna untuk tidak mempertahankan lemak-lemak di tubuh.


Mereka berdua memang masih mengingat jelas bagaimana mereka ditertawakan oleh orang lain untuk pergi setelah dilempar telur pada saat perayaan ulang tahun Putri namun kembali kepada masa sekarang momen itu adalah momen terakhir menikmati waktu berempat karena mereka hanya bertiga berjuang untuk mendapatkan kebenaran yang terjadi.


Lina, Putri, Vera dan Ira telah menjadi teman-teman yang dulu asyiknya menikmati waktu mereka bersama meski keempatnya terpaut umur berbeda tapi tidak mengurangi rasa canggung dan jalinan pertemanan yang erat.


Putri sempat mengeluarkan foto keempatnya saat menghabiskan waktu ditempat bermain, Putri sempat mengutarakan bahwa keinginannnya untuk bertemu dengan Ira namun dari pihak keluarga tidak menghendaki orang yang ingin menjenguknya selain keluarga untuk datang menemuinya.


Putri tidak mampu menahan rasa kesal mengapa pihak keluarga Ira terkesan tidak mau terbuka apa yang dialami Ira pasca meninggalnya sang adik karena dibunuh oleh orang yang sampai saat ini pelakunya belum ditemukan, meskipun ditemukan itupun bukan sesuai dengan yang berada pada empat kejadian perkara karena pelaku yang tertangkap merupakan laki-laki.


Namun instingnya mengatakan saat itu pelaku yang melakukan merupakan seorng perempuan krena dari gerak-geriknya dan pelaku pernah menelpon Ira untuk melakukan kejahatan kepada sang asik tercinta hingga meninggal dunia.


Lebih mengenaskan adik dari Ira telah dibunuh secara sadis dengan cara dipotong bagiannya menjadi 8 bagian, saat itu Ira yang masih melanjutkan kuliah tidak mampu membendung rasa sakit hingga Ira pun tidak sadarkan diri dan memutuskan tidak melanjutkan pendidikan di bangku perkuliahan.


Lina melihat sosok di depannya menunjukkan raut rasa bersalah karena tidak bisa melakukan hal yang semestinya, menyelamatkan keduanya. Adik dari temannya dibunuh dan temannya saat dirwat di rumah sakit jiwa demi pemulihan kondisi psikisnya.


Sudah bertahun-tahun lamanya mereka bertiga mencari jalan keluar untuk menyelamatkan Ira dan mengeluarkan diri mereka dari mimpi buruk selama ini karena tidak kunjung menemukan pelakunya.

__ADS_1


__ADS_2