Simak Sempana

Simak Sempana
Bab 6


__ADS_3

Lina telah duduk bersama dengan Rian yang berinisiatif mengajaknya makan bersama dan siap untuk berangkat bekerja. Mereka memilih menikmati makanan nasi pecel di warung dipinggir jalan sesuai keinginan Lina.


Lina lebih memilih fokus pada menu-menu yang tersaji pada bilik pajangan lauk pauk ketimbang mendengarkan isi hati pacarnya. Lina dengan semangat menyantap makanan yang aromanya tidak perlu diragukan kelezatannya. Dengan semangat ia menambah beberapa bakwan jagung, telur dadar hingga sate daging pada wadah makanannya.


Sejak berminggu-minggu yang lalu, hubungan mereka menunjukkan ketidaksiapan dalam memberantasi perbedaan misi dalam jalan hidup. Lina lebih memilih diam disaat Rian sudah bercerita masalah kehidupannya.


Lina tidak banyak berbicara karena apa yang sudah dilakukan Rian memang membuatnya membancang. Hal tersebut makin diperburuk bahwa Rian ternyata sudah berteman dengan kakak tirinya, Gio sebelum mereka pacaran. Jadi, bisa dibilang sang kekasih juga memberitahukan kondisinya seperti masalah keluarga yang kurang baik dan sikap buruk yang dilakukan Lina.


Mengetahui aib tentang dirinya membuatnya semakin represi dan memilih untuk pergi ke ke kursi penumpang sambil memasangkan earphone di telinganya untuk mendengarkan instrumen yang menenangkan pikirannya. Rian menarik kabel earphone namun ia melirik kearah Rian dan menyuruhnya untuk fokus menyetir saja ketimbang mempedulikan dirinya.


"Ada masalah lagi sama kamu ? bukankah seharusnya kita itu har--" imbuh Rian sambil mengarahkan matanya untuk menatap bola mata Lina namun instingnya berkata jangan meneruskan perkataan karena tampaknya Lina telah siap beradu argumen dengannya.


Lina memendam apa yang ingin ia ucapkan pacarnya sebagaimana yang dilakukan atas yang dilakukan. Ada waktunya ia mengeluarkan kekuatan guncangan yang masih tenang pada wadah yang ada pada pikirannya ke tempat seharusnya.


Ada banyak hal yang Rian tidak ketahui tentang Lina, menjadi anak yang putus asa atas hubungan kedua orang tualah yang telah retak, tidak mudah untuk memulihkannya kembali pada waktu semula.


Kakak tirinya menghalanginya dirinya untuk bertemu dengan sang Ayah karena sudah menyewa bodyguard untuk bertemu dengannya. Meskipun ia sudah meronta dan memohon sambil menggosokkan telapak tangannya untuk bertemu sang Ayah, kakaknya dari kejauhan sana hanya memasangkan tampang kusutnya dan menyuruh memperketak pengamanan. Dirinya harus mulai berani melangkah dari hal tersebut.


Perpisahan kedua orang tuanya bukanlah mengenai pertengkaran melainkan kesalahpahaman dalam menangkap pernyataan omongan tersebut hingga tidak nyamannya berbicara basa basi antar pasangan.


Itulah yang diketahui Lina, selama ini Ibunya lebih memilih memendam rasa kesal atau sedih meskipun sang Ayah sudah memberi arahan untuk lebih terbuka. Disisi lain dari sang Ayah ialah bahwa memang saat itu Ayahnya telah mencintai Ibunda namun seiring berjalan waktu hubungan dengan Ibu tirinya lebih intens dalam bertatap muka dan tidaka menyadari bahwa sudah melenceng dalam mempertahankan visi misi membangun rumah tangga.


Baginya hidup itu mudah retak dan kedua insan yang telah menikah, tidak semudah itu untuk membangun tiang bersama hanya dengan berlandaskan cinta sepeti di film-film romantis yang pernah ia tonton.

__ADS_1


Kepercayaan, saling komunikasi, penerimaan perbedaan pendapat, finansial hingga menguatkan spiritual kepada Tuhan yang Maha Kuasa merupakan aspek yang harus diwujudkan dalam pernikahan.


Ia tahu adanya pemaksaan idealisme yang ingin diwujudkan Ayahnya kepada Ibundanya, mempunyai rambut panjang dan tutur katanya yang lebih halus sehingga berujung perpisahan. Setidaknya kedua orang tuanya berpisah dengan cara damai.


Lina mengakui bahwa Ibundanya saat kesal atau suasana hatinya buruk, mampu mengeluarkan kata-kata sumpah serapah untuk didengar karena bagi Ibunya itulah cara menuangkan emosi dengan baik.


Hal tersebut menjadi hilang sesaat saat pacarnya berkata bahwa mereka telah sampai di depan kantor Lina setelah sekian lamanya melewati seluk beluk kemacetan kota yang sulit dihindarkan.


Rian sedari tadi sudah mengajak berbicara kepada Lina sebenarnya masalah apa yang harus mereka selesaikan namun Lina memotong ucapan Rian dan memilih untuk mengucapkan terima kasih dan memberi sebungkus produk permen kopi sebagai camilan di mobil.


***


Suasana kantor memang sedari agak riuh karena ada wacana untuk rehat dari rutinitas sehari-hari dengan beberapa pegawai yang melakukan kinerja baik dan berhasil menarik perhatian pelanggan paling banyak akan diprioritaskan untuk mendapatkan keistimewaan tersebut.


Sama halnya dengan Lina, ia sudah mengajukan cuti di akhir tahun namun atasannya lebih memilih mangkir untuk menyetujui permohonannya. Entahlah hingga ia sendiri lupa dengan apa yang ia ingin ajukan. Banyak persoalan yang menghampirinya bertubi-tubi.


Namun salah satu rekannya siap untuk pergi pada saat jam istirahat. Lina bertanya mau pergi kemanakah rekannya, rekannya hanya menitikkan air mata dan berdiri tegap untuk melangkah pergi


Baginya apa ada yang salah. Rekannya telah mengajak beberapa orang untuk mengucapkan salam perpisahan untuk kali terakhirnya kepada orang yang menurut mereka tidak terlalu berpengaruh pada kehidupan para pegawai. Beliau yang sudah dianggap rekannya sebagai Ibu sendiri merupakan petugas kebersihan.


Rekannya mengatakan saat ia butuh seseorang untuk menemaninya seperti hal ini, belum ada yang mengulurkan tangannya. Lina merasa tersindir dengan ucapan rekannya, padahal dalam pemikirannya, perkataan tersebut bukan ditujukan untuknya.


Rekannya berujar bahwa saat pegawai lain meminta bantuan, mengajak makan atau sekedar menghibur dikala bekerja, ia setia menemani dan mau meluangkan waktunya namun disaat seperti ini orang-orang mengacuhkan dan meremehkan, bagi rekan Lina yang lain untuk apa memberi salam terakhir kepada orang yang tidak berpengaruh besar bagi perusahaan dan petugas tersebut juga tidak begitu dikenal oleh pegawai tempat Lina bekerja.

__ADS_1


Rekannya hanya mengatakan kepada Lina bahwa setidaknya Lina memegang hati nurani kepada orang yang berjasa pada kehidupannya meskipun peran yang dilakukan berdampak kecil baginya.


Rekannya semakin melangkah jauh untuk pergi dan lebih memilih memeluk diri sendiri untuk melanjutkan perjalanannya. momen tersebut, ia kenang kembali karena pernah berada di posisi dimana dirinya berjuang sendiri untuk mengambil kesempatan padahal banyak orang bisa memgambil kesempatan baik tersebut namun disia-siakan.


***


Lina masih belum beranjak pergi untuk melayat karena waktu bekerja telah usai dalam hati ia berjanji untuk menyampaikan salam terakhir dengan seorang diri ia menuju kesana nantinya.


Kemudian Lina mencoba menghubungi Putri dahulu untuk berkonsultasi, apakah ia harus sendiri bila pergi. Ada dorongan amat besar untuk menggiringnya ke rumah duka namun ia takut canggung apabila hanya ia saja yang menampakkan diri hingga ditanya seputar pekerjaan oleh keluarga yang ditinggalkan.


Putri memberi arahan dengan saksama jika Lina tidak perlu menjunjung tinggi rasa malu untuk menghadapi orang banyak, mempersiapkan hati yang tulus dan berdoa supaya agar arwah beristirahat dengan tenang di pangkuan Sang Pencipta.


Putri juga memberi informasi bahwa saat ini ia amat sibuk karena harus terjun lapangan dengan beberapa prajurit yang masih mengevakuasi perabotan rumah tangga masyarakat yang masih bisa diselamatkan.


Lina kurang paham situasi seperti apa yang dilewati Putri saat ini namun ia selalu mendoakan supaya pekerjaan Putri dipermudah lalu menutup sambungan teleponnya dengan cepat.


Di situasi yang kurang kondusif dan tidak terduga, komandan Putri mengharuskan para prajurit siaga dengan segala macam permasalahan menuju suatu desa yang terkena imbas longsor akibat bendungan banjir yang cukup kuat.


Putri segera cepat pergi menuju ke tempat evakuasi lain, bertemu dengan prajurit yang lain dan sukarelawan yang membantu masyarakat. Menjelang malam tiba, ternyata semakin banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan padahal sedari tadi dirinya belum beristirahat meskipun hanya 5 menit saja, namun apa daya ia harus mengemban amanah.


Putri pun tetap memilaj stok pakaian untuk didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan. Banyak sukqrelawan yang membantu termasuk ada salah satu mereka yang masih menggunakan pakaian rapi, menyapa dan bertanya padanya sebaiknya diletakkan dimanakah stok perabotan yang ikut tergenang pada banjir tersebut.


Putri menyuruhnya untuk memindahkan pakaian tersebut hingga alat seperti tenda, kayu bakar hingga korek api ke tempat yang lebih aman atau kering karena hujan masih turun kembali meskipun hanya rintik-rintik. Laki-laki tersebut juga berujar bagaimanakah nasib siswa yang akan belajar karena ikut terdampak bencana longsor.

__ADS_1


Putri menghentikan aktivitas dirinya sejenak dan melihat kearah laki-laki tersebut dan berpikir mengapa orang seperti dia ada tempat evakuasi seperti ini dan laki-laki tersebut juga berdiri, dan menghadapkan dirinya kearah Putri. Tidak lupa ia menghapus jejak debu dan bercak tanah yang ada ditangannya menggunakan saputangan.


Laki-laki tersebut akhirnya mengenalkan dirinya sebagai guru honorer di sekolah tempat ia mengajar dan melambaikan tangannya kepada Putri untuk menyapa pertama kalinya. Putri sedikit lama memandang tangan yang terulur kearahnya dan membalasnya dengan berjabat tangan.


__ADS_2