
Lina sempat menyampaikan pendapat
bagaimana caranya untuk melakukan
peningkatan dalam kehidupan pada
Putri. Putri mengaku tidak paham
maksud dari Lina namun ia hanya
mengiyakan perkataan Lina.
Hingga waktu menunjukkan pukul 11 malam,
mereka masih membicarakan bagaimana
caranya menemukan pelaku pembunuh
adik Ira meskipun sudah ada pelaku yang
tertangkap dan mengakui kejahatannya namun naluri Lina tetap mengatakan hahwa pelakunya salah tangkap.
Lina sebenarnya sudah mulai tidak
kuat menahan kantuk dan memang
harus menyiapkan banyak hal
untuk pekerjaannya besok namun ia
menguatkan diri untuk mencari jalan lain
menuntaskan progressnya.
Banyak hal yang ia pikirkan mulai dari
pekerjaan, menghubungi ayahnya
mengenai kehidupan kedua adiknya yang
masih ingin diberi kasih sayang namun
hubungannya dengan sang Ayah memang
Tidak baik, hubungannya dengan sang
pacar hingga kehidupan Ira.
Dirinya harus mengeluarkan jurus jitu
untuk menghadapi segala polemik
yang terjadi. Ia dengan semangat
mengeluarkan buku catatannya untuk
menyusun strategi dengan dibantu Putri.
Lina menanyakan apakah besok Putri
berangkat pagi karena adanya tes
seleksi penerimaan calon tentara karena
kebetulan Putri merupakan bagian dari
anggota yang menyeleksi namun Putri
mengalakan bahwa ia tetap melaksanakan
Tanggung jawabnya sesuai jadwal yang
ditentukan.
Semua akan berlalu dan ia
sudah mengerahkan kepada tenaga dan pikirannya untuk membantunya menghadapi
anak-anak yang mengikuti serangkaian tes tersebut. Seharusnya Lina menganggap Putri
sebagai kakaknya namun kadang kala
lidahnya dan pikirannya sejalan tidak
mengatakan kata seperti kakak kepada
orang yang lebih tua.
Namun dari Putri sendiri tidak mempermasalahkan hal tersebut karena mereka memang sudah berteman baik meski perbedaan umur mereka agak jauh tapi tidak membuat hal tersebut terasa canggung.
Jika dilihat dari jalan cerita bagaimana
caranya mereka tergabung menjadi
sahabat, Lina dipertemukan pada satu
acara seminar yang menghadirkan public
figure terkenal.
Dari saling malu-malu namun penasaran terhadap pribadi Putri yang bar-bar, Vera yang kalem, dan Ira yang lerlihal lidak punya banyak masalah dan mudah tersenyum membuat Lina luluh untuk mengenalkan diri, bercerita dan bertukar pesan satu sama lain.
Dari Lina dan Ira yang saat itu masih
berstatus sebagai siswa SMA namun
berbeda sekolah, Putri yang pada saat
itu sudah menjalani pelalihan sebagai
calon tentara hingga Vera yang telah
melanjutkan studi di Perguruan
Tinggi inilah mampu membentuk
pertemanan yang solid meskipun berbeda
latar belakang.
Dari mereka semua, Ira yang paling
__ADS_1
termuda karena dulunya Ira pernah
mencicipi bangku akselarasi jadi usia
Lina dan Ira terpaut dua tahun.
Lina merasakan adanya kesenjangan emosional terhadap Ira karena Ira itu cerdas, baik, pintar dan humoris. Kenangan yang
indah tersebut tetaplah menjadi memori
yang tersimpan dalam hatinya meskipun
kenyalaan telah memudarkan kenangan
manis tersebut.
Keadaan mengubah segalanya. Berbagai
upaya dilakukan oleh ketiga sahabat ini
untuk menyembuhkan Ira namun tetap
saja belum menemukan jalan keluar.
Dari konsultasi mengenai pemulihan
saraf pada tempurung kepala hingga
berobat ke Jerman sudah dilakukan dengan harapan Ira bisa melanjutkan aktivitasnya seperti biasa namun pihak keluarga Ira sudah terlebih dahulu melakukan hal tersebut namun upaya mereka gagal.
Lina sudah diberitahu oleh salah satu
paman dari Ira bahwa pihak keluarga Ira
sudah mengusahakan betul mati-matian
kepada Ira dibawa pada ahli di bidang
luar medis atau pengobatan alternatif
tapi tetap saja itu tidak mampu
menyembuhkan Ira.
Lina saat ini memaklumi kondisi Ira dan
keluarganya karena ia tahu bahwa Ibunda
dari Ira menutup rapat permasalahan
ini agar tidak mengguncang batin untuk
kesekian kalinya. Ibunda Ira melarang
Lina, Putri dan Vera untuk sekedar
menengok maupun menjenguk di rumah
sakit, pasti dibalik itu ada alasan yang kuat.
Putri sudah memberi rencana bahwa
untuk melakukan upaya mengumpulkan
yang di penjara mengakui bahwa bukanlah pembunuh adik Ira. Mereka hanya
mempunyai insting untuk membuktikan
bukan bukti nyata untuk dihadirkan pada
khalayak ramai.
Jalan terbaik adalah melakukan
penyelidikan secara mandiri dulu
baru menuntaskan kasus hingga ke
akar-akarnya. Lina dan Putri sudah
tidak mampu menahan kantuk dan ingin
pulang, akhirnya mereka melancarkan
rencana itu melalui media pesan.
Sesampai dirumah, Lina hanya bisa
mengernyit sesaat sang pujaan hati
memberi pesan suara mengajaknya
untuk datang pada acara ulang tahun
keponakannya. Namun ia masih belum memberi jawaban pasti, apakah ia datang apa tidak. Fokusnya untuk pekerjaan dan jalan hidup Ira.
Suasana rumah telah hening dari suara
riuh adiknya. Hanya terdengar suara
televisi yang menguar. Melihat kedua
adiknya telah tertidur pulas dengan
nyenyak membuat Lina tidak mampu
membendung rasa harunya, mereka
telah bersama-sama melewati proses
kehidupan yang kompleks.
Bahkan sang Ibu yang sudah sepatutnya
mendapatkan pendamping hidup lebih
memilih televisi sebagai pasangannya
ketimbang mencari pengganti suami yang
pernah menduakannya.
__ADS_1
Lina belum bisa membaca pikiran sang
Ibunda apa yang dipikirkan setelah lbunya
digugat cerai Ayahnya saat itu dan tidak
berselang lama Ayahnya malah menikahi
Ibu tirinya, dalam hati Lina dia merasa
kesal dan tidak berharga dilahirkan
sebagai anak dari Ayahnya.
Lina ingin bertanya perasaan Ibunya
bagaimana melihat kehidupan sang
mantan suami yang tiba-tiba menyuruh
dirinya dan kedua adiknya untuk tinggal
bersama dengan keluarga baru Ayahnya, apakah ibunya tidak terima atau ibunya
sukarela menyerahkan pilihannya kepuda
anak-anaknya.
Namun belum ia ingin mengajak sang
Ibu bicara, Ibunya telah mendahului
dan mengatakan apa yang sedari tadi
ia pikirkan.
Ibunya berujar bahwa Ayah Lina menemuinya dan mengatakan rasa rindu terhadap anak-anaknya dan harapannya anak-anaknya tidak lagi menjaga jarak dengan Ayahnya yang semakin lama bertambah tua dan tidak
seproduktif dahulu.
Lina meringis akan sikap ayahnya, disaat
tertimpa kesusahan dan kesedihan
seperti ini Ayahnya mengingatnya dan
kedua adik Lina sedangkan dahulu Lina
sudah mengusahakan agar adik-adiknya
mendapat kasih sayang yang tulus
dari sang Ayahnya tanpa mendapat
iming iming imbalan seperti harta
maupun warisan Ayahnya.
Aneh pikirnya kenapa Ayahnya baru ingin
menemuinya disaat mereka sudah paham
betul keburukan Ayahnya. Dahulu Lina telah bersusah payah menghubungi sang Ayah yang telah pergi keluar negeri untuk menetap di sana lebih lama tanpa memberi kabar kepada dirinya atau setidaknya keluarga besar Ayahnya.
Ayahnya menghilang disaat
salah satu adiknya merintih kesakitan memanggil Ayah mereka, Lina tidak mampu mengabulkan permintaan sang adik.
Mencari alamat rumah alau kantor ayah
maupun ibu tirinya, menghubungi pihak
keluarga Ibu tirinya, mencari kenalan
yang mengenal dekat keduanya sudah
dilakukan namun tetap saja seperti ada
yang menghalangi dirinya untuk menemui Ayahnya termasuk kakak tirinya yang telah sukses menjadi pengusaha di waktu sekarang.
Sosoknya wira-wiri di sosial media dan
sempat menjadi model bagi majalah
karena kebugaran tubuhnya dan
kesuksesan dalam menjalani bisnis.
Memang tampan tapi sikapnya perlu
dibersihkan dari kedengkian karena saat
Lina bertatap muka dengan kakaknya atau sekedar basa-basi, laki-laki itu memasang wajah masam, jutek dan membuatnya emosinya naik seketika.
Ibunya Lina berujar tidak ada salahnya
menemui Ibu tiri dan kakak tirinya dan
serta pula adik tirinya untuk sekedar
mengetahui kondisi kehidupan mereka seperti apa.
Lina mengurungkan keinginannya
untuk menanyakan hal sepele seperti itu
kepada Ayahnya karena Ayahnya sibuk
mengejar karir dan membahagiakan
keluarga barunya.
Ibunya memohon agar Lina memikirkan dengan baik mengenai pertemuan dirinya
dengan keluarga baru Ayahnya sembari
memikirkan apa yang ia lakukan dihadapan mereka.
Dia berniat melakukan sesuatu hal untuk
pertemuan istimewa dengan orang-orang
__ADS_1
di sekeliling Ayahnya setelah
bertahun-tahun lamanya tidak berjumpa.