
Lina mendengar apa yang diucapkan pelaku tersebut sampai akhirnya pelaku tersebut mau menggetarkan pita suaranya karena dirinya akan melangkah keluar untuk pulang. Pelaku sempat mengatakan perempuan tersebut tidak asing sosoknya untuk berada di area pabrik karena perempuan itu tampaknya merupakan pegawai ataupun orang yang memang berwenang pada area tersebut.
Lina memberhentikan langkahnya dengan mendengar fakta yang diutarakan namun ia tidak memberikan sepatah katapun untuk menggali lebih banyak informasi, yang baru saja didapatkan. Mengapa pelaku tersebut masih mengingat sesosok perempuan yang pernah Lina jumpai? karena bagi lelaki tersebut, jarang ada sekali orang yang berjalan di sekitar pabrik tersebut yang menunjukkan jalan secara pincang.
Mengatakan bahwa sebaiknya Lina tidak bertanya mengenai hal tersebut karena perempuan tersebut tidak ada hubungannya dengan pelaku karena pelaku hanya mengetahui sosoknya bukan mengenali.
Bagi pelaku Lina lebih baik mempergunakan waktunya untuk berlibur atau menikmati hidup karena umur tidak tahu kapan pastinya bertahan, hingga ke masa tua atau justru sedang berada di puncak karir kehidupan.
Memecahkan masalah seperti ini selama bertahun-tahun lamanya meski dirinya bukanlah orang yang seharusnya bertanggung jawab, dirinya bukanlah yang memulai atau mengakhiri ini, harus mencari tahu dan apa yang bisa didapatkannya setelah aku benar-benar mengungkap permasalahan ini dengan sesungguhnya.
Lina sudah dihubungi oleh kedua adiknya bahwa ayahnya terhadap berkunjung ke rumahnya sang ibu untuk menengok kondisi anak-anak ayah. Entah mengapa perasaan nya gundah gulana, tidak mau bertemu maupun malas untuk bertatap muka dengan sang ayah karena memang sampai sekarang sangat, sangat sulit untuk memaafkan perilaku melenceng ayahnya.
Bukan hanya menyukai wanita lain tapi sikapnya membiayai hidup untuk anak-anaknya yang dirasa kurang mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari, tidak mempersilakan anaknya untuk bersilaturahmi disaat ayahnya dulu sudah mendirikan bahtera rumah tangga yang kokoh, hingga tidak memperdulikan dirinya selama bertahun-tahun lamanya alias menelantarkan dirinya.
Disaat sudah memiliki jabatan yang mencukupi baginya, barulah ayahnya sedikit menengok kepadanya, bertanya kabarnya dan pasti membrrikan hadiah atas segala jerih payah ayahnya dan kedua adiknya berhasil masuk ke jurusan terbaik untuk menghadapi dunia kerja di universitas yang dikenal oleh masyarakat umum.
Lina tidak langsung pula kerumah dan beranjak pergi ke suatu toserba untuk membeli sedikit camilan untuk diantap dirumah nantinya namun langkahnya terhenti sesaat ia melihat pantulan dari suatu kaca mobil yang menampakkan dua perempuan yang tidak asing baginya. Perempuan yang jalannya agak pincang dan sudut wajah yang mudah dikenali dan seorang perempuan yang menunjukkan mode pakaian yang berkelas. Dirinya ragu untuk keluar dari Lapas dan memilih untuk masuk kembali ke Lapas namun dihalau oleh petugas karena jadwal berkunjung ke Lapas sudah habis.
Lina meminta tolong kepada petugas administrasi yang memberi kesempatan perempuan tersebut untuk masuk atau memberi tahu dirinya mau menengok siapakah 2 perempuan tadi untuk berkunjung, namun petugas tersebut hanya diam dan tidak bergeming atas pertanyaan Lina. Membuat Lina akhirnya menyerah dan memutuskan untuk pulang.
***
Ayah Lina sudah duduk dengan nyaman sambil menyeruput minuman kopi dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, berbicara sejenak dengan kedua adiknya. Menanyakan apakah kuliah yang mereka lalui baik-baik saja.
Kedua adiknya tidak menunjukkan rasa kesal atau mengucapkan kata-kata secara barbar dan memilih tenang untuk berhadapan dengan sang Ayah bahkan mengatakan bahwa ada hambatan jika tugas kuliah yang ia dapatkan harus mencari sumber yang terbaru secara internasional. Dari situ Ayahnya merekomendasikan anak-anaknya mencari referensi jurnal yang terbit secara internasional dan melihat kualifikasinya berstandar tinggi.
__ADS_1
Lina mengepalkan tangannya sebagai tanda ia tidak nyaman dengan kehadiran sang Ayah yang ia cari tahu apa sebenarnya motif untuk menemuinya dan menyodorkan beberapa camilan untuk disantap ayahnya. Dirinya hanya mendengarkan dan memilih untuk tidak duduk bersama di ruang tamu.
Lina memilih untuk meunju ke kamar Ibunya dan kegiatan yang dilakukan Ibunya menggunakan earphone untuk mendengarkan lagu dari kanal youtube, Lina hanya bisa memandang sosok Ibunya. Dirinya dan sang Ibu harus menghindar dari Ayahnya padahal ia tahu dulunya Ibunya begitu mencintai Ayahnya.
Waktu dan kesempatan itulah yang memberi jawaban, hidupnya tidak seperti orang-orang lain yang masih memiliki orang tua yang utuh dan mereka juga bisa bercerita dengan kedua orang tua mereka sedangkan Lina kadang-kadang sesekali menceritakan apa yang dilaluinya dan masalahnya kepada Ibunya. Hampa dan ketidakramahan sang Ayahnya yang membuat dirinya menjaga jarak agar tidak terlalu disakiti oleh sikap Ayahnya.
Akhirnya, Ayahnya menyadari bahwa sosoknya tidak duduk bersama dengan adik-adiknya dan memanggilnya dengan keras. Lina pun duduk bersebelahan dengan sang Ayah dan memilih diam. Dirinya mempersilahkan ayahnya bertanya dan Lina langsung menjawabnya, tidak perlu berbasa-basi yang tidak penting.
Ayahnya bercerita bahwa Lina sudah bekerja keras dan sukses membiayai hidup untuk kedua adik-adiknya, Ayahnya mengatakan bangga. Menurutnya terlalu mudah ayahnya mengucapkan kata seperti itu. Bahkan setelah bekerja ada rekan kerja yang tidak memperlakukan dirinya sebagaimana mestinya. Menyudutkan, memfitnah dan tidak mempedulikan dirinya. Baginya masalah selesai menghampirinya setelah dirinya sudah mendapati dirinya menjadi jasad dan menjumpai orang-orang yang telah meninggalkan dunia ini terlebih dahulu.
Lina hanya mengangguk atas ucapan Ayahnya dan sang Ayah juga menyarankan anak-anaknya untuk hadir pada arisan keluarga besar. Arisan apa itu arisan menurutnya sampai dia dewasa, dirinya tidak paham dengan sistem perputaran uang yang ada pada acara arisan.
Ayahnya bahkan mengajak untuk melambaikan suasana agak lebih ramai riuh namun tanggapan Lina dan kedua adiknya tidak menunjukkan ekspresi apapun itu hingga membuat suasana percakapan keluarga tersebut menjadi gersang dan kikuk.
Ayahnya juga bertanya apakah Lina masih mengunjungi ke Lapas untuk menilik kondisi pelaku yang membunuh adik temannya. Bagaimana Ayahnya bisa tahu, dirinya bahkan tidak menceritakan bahwa setiap bulannya dirinya menuju ke Lapas bahkan adiknya juga terkejut dengan ucapan Ayahnya.
Membuktikannya memang menunjukkan bukti nyata dan jelas sedangkan ia sangat mengandalkan mata dan intuisi hal tersebutlah tidak membuat orang percaya apa yang diucapkan sekalipun Ibunda Ira serta keluarganya.
***
Putri telah mendengar apa yang diucapkan oleh Lina melalui pesan suara mengenai penampakan karakter orang yang berada di TKP. Putri belum bisa memutuskan langkah apa yang ia ambil, karena perasaan tidak enak menghampirinya. Disaat orang lain secara terang-terangan menampakkan diri disaat orang lain itu tidak sadar, pasti ada alasannya. Pikirannya mengarah pada keselamatan Lina. Terdengar tidak aneh bahwa pelaku sebenarnya justru orang paling dikenal, karib bahkan tahu kebiasaan yang dilakukan oleh korbannya.
Sebenarnya Putri ingin melupakan masalah ini namun Lina sangat giat meluapkan bukti-bukti akurat secara perlahan mengenai misteri kematian adik Ira. Dirinya mempunyai masalah sendiri dan ingin menikmati waktu kesendiriannya namun disela-sela dirinya mempunyai waktu, dihabiskan untuk berpikir untuk mencari jalan keluar hal tersebut.
Akhirnya, mereka bertiga telah sepakat untuk menelisik kembali kematian adik Ira baik Putri, Vera dan Lina tahu ada yang perlu diperbaiki dari situasi yang rumit maupun keterangan Lina yang memperkuat insting bahwa pelaku tersebut dipaksa atau diancam untuk mengaku sebagai pembunuh maupun salah satu pembunuh.
__ADS_1
Putri mengatakan setidaknya bahwa membuat strategi dan rancangan untuk mencari tahu tentang kronologisnya dari mana, adiknya Ira mulai menghabiskan waktu untuk bermain sampai ketika menuju kawasan pabrik di mana tempat tersebut, tempat ayahnya Ira bekerja.
Putri sempat mengirimkan voice notenya kepada teman-temannya agar mendengarkannya dengan baik-baik karena dia masih punya kesibukan sendiri untuk mengungkap fakta karena dia masih berada di area pedesaan.
Putri tidak hanya memikirkan masalah tersebut sampai menyempatkan waktu untuk duduk sejenak dan memikirkan hal apa yang sebenarnya perlu dipikirkan seperti hubungannya dengan kakaknya yang semakin lama tampaknya semakin memburuk karena perbedaan pendapat seperti kakaknya sering mengatakan Putri itu tidak mampu atau kurang bisa diandalkan dalam keluarga yang dalam mengambil sikap meskipun dia adalah seorang prajurit.
Lalu datang dari mana lelaki yang tadi membantunya, duduk berjejer agak berjauhan dengannya dan mengatakan bahwa para prajurit telah bekerja keras untuk menolong para korban yang terdampar bencana longsor.
Putri agak sedikit tidak enak saat ingin merekam suaranya untuk dikirimkan melalui voice note bahwa kedatangan lelaki tersebut baginya agak mendadak. Lelaki tersebut mengatakan bahwa dirinya merupakan guru honorer meskipun Putri tidak menanyakannya tapi dia akhirnya memilih mendengarkan. Putri merasa lelaki tersebut lebih baik diam saja daripada ia harus mendengar kisah seseorang yang tidak mau ia dengar.
Lelaki itu sebenarnya ingin menjadi seperti sosok Putri yang mengemban amanah bagi bangsa dan negara namun terhambat untuk menjadi calon tentara hingga berhenti langkahnya pada tes kesehatan karena sudah beberapa kali ikut tes namun akhirnya lelaki tersebut gagal untuk melewatinya dan memilih jalur studi yang lain dan sesuai kemampuannya yaitu mengajar.
Lelaki tersebut menyadari bahwa tidak ada pekerjaan yang tidak sulit di dunia ini, siapapun dia dimanapun dia, apapun itu statusnya, apapun itu jabatannya, tanggung jawabnya, kerja keras, kesabaran dan hati yang bersungguh-sungguh menjalankan pekerjaan itu dengan maksimal bisa menjadi bayaran terbaik pada waktunya.
Lelaki tersebut salut dan bersyukur apa yang dilakukan para prajurit bisa mempermudah pekerjaan masyarakat yang ada di pedesaan. Bantuan yang dilakukan oleh prajurit semoga saja langsung dibalas oleh Yang Maha Kuasa. Lelaki tersebut mengatakan bahwa dirinya sedari tadi yang lebih banyak bicara, lalu mempersilahkan Putri untuk berbicara dan mengatakan sesuatu setelah melewati ini semua.
Putri hanya memberikan senyuman dan memilih untuk fokus pada handphone namun lelaki tersebut memaksanya untuk mengatakan sesuatu dan membuatnya sedikit jengkel karena dirinya sedang tidak dalam suasana yang bergembira untuk berbicara dengan santai terhadap orang lain yang beberapa jam lalu ia temui. Dirinya harus menemukan momen dan waktu yang tepat untuk berbicara sepanjang jalan tol mengenai kehidupannya.
Tapi daripada membuat canggung suasana dirinya berusaha sedikit mencairkan percakapan jika dirinya ialah dirinya juga kesulitan untuk mengikuti tes calon tentara namun setelah mencoba dan tidak memikirkan betapa sangat sulitnya tahapan tes yang dilalui, ia bisa melewati semua.
Singkat percakapan dirinya dan lelaki tersebut, Putri mohon untuk undur diri dan menyelesaikan urusan yang belum terselesaikan. Sembari ia bangkit dari duduknya, lelaki tersebut mengenalkan dirinya sembari mengulurkan tangannya.
"Perkenalkan Aku Dika, aku guru honorer di SD itu," menunjuk peta kawasan pedesaan yang terlampir pada dinding gapura.
"Saya Putri yang akan membantu beberapa hari kedepan,"
__ADS_1
"Baik, Mayor Putri."