
Setelah dirasa sudah aman peggy keluar dari lorong tersebut dia lari menghampiri kedua orang tuanya yang sudah bersimpah darah.
"Momy, Dedy," teriak peggy. Teriakan dan tangisan terdengar memilukan. Melihat kedua orang tuanya sudah tidak bernyawa membuat hatinya hancur dan sakit menjadi satu. Akan dia balas perbuatan orang yang sudah membuat kedua orang tuanya seperti ini.
Suara mobil polisi terdegar dari luar entah siapa yang memangilnya peggy juga tidak tau.
Seorang polisi berbadan tegap menghamipiri peggy yang sedang menagis di hadpaan ke dua orang tuanya.
Pria yang memakai baju polisi itu membantu peggy berdiri.
"Apa yang terjadi?" tanya pria itu sambil menatap serius ke arah peggy.
"Ada beberpa orang masuk dengan senjata api lalu menghabisi mereka," ucap peggy melihat mayat kedua orang tua nya lagi.
"Lalu kau di mana saat kejadian ini?"
"Aku bersembunyi," polisi itu mengganguk mengerti.
"Nona tenang saja, pihak kami akan menulusuri kasus ini, mayat kedua orang tua anda kami akan periksa, mereka akan kami bawa ke rumah sakit untuk melakukan tindakan otopsi."
"Tidak perlu pak, kedua orang tua saya akan saya langsung makamkan besok pagi," ucap peggy.dia tidak mau tubuh kedua oramg tua nya di bawa ke rumah sakit.
"Baiklah jika itu ke inginan anda, kami akan melakukan pengecekan sekarang," ucap pak polisi melangkah meningalkan peggy. Air matanya tidak berhenti mengalir. Sekarang dia hanya hidup seorang diri tapa adanya orang tua.
Pagi pun tiba mayat kedua orang tuanya sudah di makamkan, tidak memiliki keluarga membuat peggy langsung memakamkannya.
Rumah yang berantakan dia biarkan begitu saja. Sekarang apa yang mau dia lakukan, Sony tidak akan menyerah begitu saja jika tau dia belum mati.
Memang Sony sedang berteriak marah dengan Olit, dia hanya ingin menyingkirkan peggy kenapa kedua orang tua itu yang mereka habisi sedangkan peggy masih hidup.
"Meraka mengatakan jika semalem nona tidak ada di tempat."
aku tidak mau tau Odit, secepatnya singkirkan wanita itu."ucap Sony melangkah meningalkan Odit. Jangan sampai peggy pergi menemukan keluarganya dan menggatakan semuanya.
Sedangkan wanita yang ingin di habisi itu sedang membereskan semua pakainya, peggy tau Sony tidak akan membiarkan dirinya hidup sebab itu dia berniat pergi meninggalkan kota ini, namun sebelum pergi dia ingin menemui seseoranf terlebih dahulu.
Mobil taxi sudah berada di depan, dengan cepat peggy masuk.
"Ke jalan mawar nomor dua satu pak,"ucap peggy, pak supir hanya mengangguk.
__ADS_1
Setelah membayar ongkos peggy menyeret kopernya menuju rumah sederhana namun cukup nyaman.
Suara bel terdegar membuat seorang wanita bertubuh munggil mengerjap ngerjapkan matanya, tubuh yang munggil rambut panjang bola mata yang berwarna biru membuat seorang wanita yang bernama emlia heller terbangun dari tidur nya.
"Siapa sih yang menganggu waktu tidur ku, tidak tau apa aku baru tidur pukul empat pagi," gumam emi, namun dia melangkah dengan cepat karena bunya bel tiada henti berbunyi.
Pintu di buka dengan cepat peggy masuk begitu saja sambil membawa kopernya Emi yang melihat diam saja sambil menutup pintu rumahnya.
"Ada apa?" tanya emelia dengan heran. Emelia sahabat satu satunya yang dapat dia percaya.
Emillia membawa peggy duduk di sofa yang sudah tidak begitu bagus, dia pergi membasuh wajah terlebih dahulu.
Emilia kembali dengan membawa dua gelas air hangat.
"Apa yang terjadi?" tanya emilia.
Peggy memeluk Emi sambil menagis menumpahkan rasa sedihnya di dalam pelukan sang sahabat.
"Momy dan Dedy tiada," ucap peggy dalam isak tangis namum emi masih dapat mendegarnya.
Emi menjauhkan diri peggy agar dapat melihat wajahnya.
"Mereka di habisi, mungkin sebentar lagi aku,"
"Bicara yang jelas, jangan membuat aq bingung!" Bentak emilia sambil menyodorkan air yang sedari tadi di atas meja.
"Dengar, Emi, semalam rumah aku di masuki perampok dan mereka menghabisi kedua orang tua aku," ucap peggy sambil berderai air mata.
"Astaga!" Emilia langsung memeluk peggy.
"Apa sudah melapor?" tanpa terasa air matanya juga ikut mengalir.
"Sudah, polisi sedang mengusut kasus ini, walau pun aku sudah tau siapa di balik ini semua."
"Apa maksud mu.Noreen?"
"Dengar, Emi, saat ini aku sedang mengandung, kekasih ku tidak mau bertangung jawab dia menyuruh ku untuk mengugurkan anak ini," Emi semakin terkejut sungguh sahabtanya begitu malang.
"Lalu apa maksud mu ini semua," Emi menutup mulutnya sungguh dia tidak mau percaya.
__ADS_1
"Iya, aku harus pergi dari kota ini sebelum bajingan itu menemukan ku."
"Lalu kau mau ke mana?" tanya Emilia.
"Belanda, ya aku akan pergi ke Belanda," ucap peggy dengan yakin.
"Apa kau yakin?"
"Emi, Sekarang hanya dirimu saja yang aku miliki," ucap peggy sambil mengengam tanggan Emi." apa kamu mau ikut bersama ku, kita ke Belanda bersama,"ucap peggy dengan yakin. Dia tau emi tidak di inginkan di keluarganya makanya dia hidup ngontrak di rumah sederhana walaupun ayanya memiliki segalanya.
"Noreen, dengar aku tidak cukup memiliki uang untuk pergi ke sana, kau tau bukan jika dedy ku sama sekali tidak mau memberi aku uang, jika aku ikut dengan mu bagai mana pekerjaan ku." ucap Emi sambil menatap sahabatnya itu.sesungguhnya dia juga sangat ingin pergi dari sini, melihat mekeluarga baru ayahnya dia begitu muak. Tapi dia tidak memiliki uang untuk ke sana.
"Dengar. Kau hanya ikut dengan ku tidak perlu memikirkan apapun, aku tau semua yang kau alami sebab itu aku ingin mengajak dirimu."
"Jika begitu, aku tidak akan menolak,"ucap Emi sambil tersenyum.
Peggy memang punya segalanya termasuk uang, walau pun demikian Emi tidak pernah menyusahkan peggy sebab itu peggy ingin mengajak sahabatnya itu untuk pergi bersamanya.
Semua baju yang emi miliki di masukan ke dalam koper. Hanya cukup satu koper saja sudah cukup karena bajunya sebagian masih berada di rumah ayahnya.
Peggy sudah memesan sebuah mobil untuk membawa mereka menuju bandara, mobil yang sedari tadi menunggu di depan rumah namun yang memesan belum keluar juga.
"Kenapa begitu lama sekali," ucap peggy.
"Sebentar, apa kita akan langsung pergi?"
"Iya, aku sudah memesan mobil, cepat lah sedikit ."
"Apa kau tidak megijinkan aku untuk makan sebentar, aku sangat lapar," ucap Emi sambil memegang perutnya.
"Astaga Emilia, kita sedang di tunggu. Masih sempat sempatnya memikirkan perut."
"Hai, aku belum memakan apapun," ucap Emi mengikuti peggy yang sudah menyeret dua koper miliknya dan milik emi
"Kita bisa lakukan nanti, kamu tidak lupa bukan saat ini aku sedang dalam bahaya," ucap peggy.
Bandara dan lokasi yang dia tempati tidak begitu jauh sebab itu mereka sudah tiba di sana.saat itu mereka sedang menikmati makanan, terbang ke kota orang harus mempunyai tenaga.
Catatan Penulis
__ADS_1