
Di kamar Stella sedang berpikir dengan keras, melihat Emilia kembali membuat hati nya senang bukan karena Ia menyanyagi Emilia namun kembalinya Emilia membuat dirinya lepas dari permasalahan sang ayah. Tapi sekarang apa yang harus dia lakukan Emilia kembali di usir, lebih baik Ia membicarakan masalah ini dengan Ibunya. Stella meningalkan kamarnya untuk mencari sang ibu yang sedari pagi tidak terlihat.
"Mom, apa Momy di dalam?" pangil Stella sambil mengetuk.
"Ada apa?" tanya Almer saat pintu sudah di buka. Stella masuk begitu saja dia tau ayahnya sedang tidak ada.
"Mom, Emilia sudah kembali," ucapnya.
"Kau tidak perlu takut, sayang, dia tidak akan mengambil apa yang sudah menjadi milik kamu."
"Aku tau, bukan itu yang aku ingin bicarakan Mom."
"Lalu?" Kening almer mengkerut jika bukan masalah itu apa lagi.
"Momy tau bukan jika aku tidak ingin menikah dengan teman Dedy, lagi pula sejak awal yang ingin di jodohkan dengan teman dedy itu Emilia bukan aku, sekarang emilia udah kembali jadi aku enggak mau, pernikahan yang akan membuat kehacuran buat diri ku sendiri. Jadi aku mohon pada Momy bicarakan masalah ini dengan dedy." Stella mengucapkan itu dengan wajah memelas,
"Kamu tenang aja, serahkan semua ini pada Momy. Lagi pula Momy sudah memiliki calon buat kamu."
"What, aku enggak mau! Teryata momy sama aja ingin menjual aku," Stella udah terlihat kesal.
"Momy yakin jika kamu sudah melihat pria itu, kamu tidak akan menolak. Dia itu pria yang sangat tampan dan kaya."
"Terserah Momy saja." Stella keluar dengan wajah yang kesal. Sama hal nya dengan Emilia yang begitu kesal mengingat kelakuan ayahnya, bisa bisanya ayah nya begitu bodoh dan percaya dengan dua wanita itu.
Emillia berdiri di sisi jendela, matanya menerawang ke luar pemandangan kota di pagi hari sungguh begitu indah, enam tahun meningalkan kota ini rasanya tidak jauh beda dengan dulu hanya saja sekarang sudah mulai sedikit padat beda dengan dulu yang masih banyak tanah luas sekarang sudah tidak ada.
"Momy sedang apa?" tanya Marissa yang terbangun dari tidurnya.
"Owh kamu sudah bangun, Momy hanya melihat pemandangan, sayang." Emilia menghampiri putrinya.
__ADS_1
"Mandi setelah itu makan," ucapnya sambil mencium pucuk kepala Marissa, tangan gadis kecil itu melingakar di pinggangnya memeluknya dengan begitu erat.
"Ada apa?" Emilia memandagi wajah Marissa lalu mengusap pipi cuby itu.
"Icca mau kembali ke rumah aja Mom, Icca enggak mau di sini, di sini orang orangnya pada jahat Icca enggak suka," Emilia tersenyum memandagi putrinya, sejak kecil Marissa tidak pernah di perlakukan kasar oleh orang orang yang dekat dengannya pun begitu menyayaginya, perlakuan ayahnya ke marin jelas membuat Marissa begitu takut karena itu baru pertama kalinya iya melihat.
"Dengarkan Momy, kita tidak mungkin kembali lagi ke sana, di sana kita tidak punya siapa pun, lagi pula saat ini Momy tidak memiliki uang lagi, nanti jika Momy sudah bekerja kita akan ke sana mengunjungi aunty Nora."
"Benarkah Mom."
"Yes sayang, sekarang segeralah mandi, momy sudah memesan makanan ke sukaan kamu." Marissa beranjak sebelum melangak dia menyempatkan diri untuk mengecup pipi sang ibu. Emilia mengeleng melihat tinggah putrinya yang begitu mengemaskan.
Setelah selesai makan, Emilia berniat keluar dari hotel pagi ini, dia ingin mencari rumah yang akan mereka tingali nanti, jam begitu cepat berlalu suasa yang sejuk telah berganti dengan teriknya matahari padahal masih pagi tapi matahari sudah begitu menyilaukan.
"Mom mau ke mana?" tanya Marissa yang melihat ibunya berpakaian rapih.
"Momy mau mencari rumah, Icca tidak apa kan Momy tinggal sebentar?"
"Tidah sayang, Momy janji setelah mendapatkan rumah Momy langsung kembali." Sebelum ke luar Emilia mencium putrinya dulu.
"Jangan nakal, tetap berada di sini jangan kemana pun." Marissa menganguk mengerti walaupun usianya baru lima tahun tapi marissa gadis yang begitu pintar dan penurut.
Uang hasil kerjanya selama di belanda dan uang pemberian ayahnya dapat iya gunakan untuk membeli rumah, rumah yang sederhana namun begitu nyaman, sekarang yang harus Ia pikirkan adalah mencari pekerjaan dan sekolah untuk Marissa. Lebih baik sekarang di kebali karena sudah meninggalkan marissa begitu lama. Mencari rumah yang sesuai dengan bajet yang iya miliki memang sedikit sulit.
"Momy begitu lama," ucap gadis kecil itu sambil merajuk.
"Maaf sayang, ini Momy bawakan makanan kesukaan Icca,"kantong pelastik yang dari tadi Ia pegang di berikan.
"Setelah Icca selesai, kita pergi dari sini."
__ADS_1
"Ke mana Mom?" ucapnya sambil mengunyah makanan.
"Ke rumah baru, Icca mau bukan."
"Mau doang, kemana pun Momy pergi Icca Kan selalau ikut," ucapnya sambil nyengir.
"Anak pintar." Emi mengelus pucuk kepala Marissa.
Saat Almer datang Gaston sedang berada di ruanganya, memeriksa berkas berkas yang salah, entah kesalahan siapa semua berkas tidak ada yang benar sehingga dia mengulanginya kembali, padahal ada sekertaris tapi kenapa di repot sendiri.
Saat pintu di buka Gaston mendongkak melihat siapa yang datang tanpa mengetuk terlebih dahulu.
"Kenapa kau datang ke sini Almer?" ucap Gaston matanya kembali menatap layar komputer.
"Ada yang ingin aku bicarakan," jawabnya beralan menuju sofa.
"Apa tidak bisa nanti, kau lihat ini aku sedang pusing dengan berkas berkas ini." Ucapnya sambil mengusap wajah nya dengan kasar.
"Tidak."jika sudah begitu mau tidak mau Gaston meningalkan pekerjaannya, entah pria itu di kasih apa begitu nenyagai wanita itu.
"Gaston, Emilia sudah gembali, bagai mana jika perjodohan yang dulu kita sepakati di percepat." ucapnya saat Gaston sudah mendaratkan bokongnya di sofa.
"Bukan kah kita sudah membicarakan perihal ini, Stella yang bersedia mengantikan Emilia bukan."
"Jika Emilia kembali buat apa Stella mengantikanya, lagi pula Stella mempunyai pria lain, jika Emilia tidak kembali stella bisa saja mengantikannya tapi sekarang putri mu sudah kembali jadi buat apa Stella berkorban untuknya." Almer begitu serius mengatakanya.
"Mana mungkin ada pria yang mau bersama Emilia, Almer, dia sudah memiliki seorang putri, rekan bisnisku tidak akan mau."
"Bodoh, kita tidak perlu mengatakan jika Emilia sudah mempunyi anak, cukup keluarga kita saja yang tahu, soal anak itu kita harus membujuk Emi agar anak itu di titipkan ke panti asuhan." Almer bener bener meyakinkan Gaston.
__ADS_1
"Jika begitu kita harus membuat Emi kembali ke rumah."
"Tidak perlu membawa dia kembali, Gaston. Beri dia sedikit ancaman agar mau menuruti permintaan mu, aku rasa sekarang kelemahan Emi ada pada anak itu." Almer akan mengunakan Marissa untuk mengancam Emi agar mau menerima perjodohan itu, tapi apakah semudah itu untuk mengancam emi.