Simpanan Pria Kesepian

Simpanan Pria Kesepian
kota baru


__ADS_3

Pesawat sudah mendarat di bandara Amsterdam Schipholl. waktu penerbangan Indonesia belanda menempuh waktu yang cukup lama. Dua wanita cantik turun sambil menyeret kopernya masing masing.


"Sekarang kita mau ke mana, Noreen?" tanya Emi. Menggigat mereka tidak punya kerabat di negara ini.


"Entahlah, sekarang yang harus kita lakukan adalah mengisi tenanga dulu, apa kau tidak lapar?" tanya peggy menatap lekat sahabatnya itu. Emi hanya tersenyum sesungguhnya dia juga begitu lapar.


"Ayo kita cari lestoran," ucap emi mengandeng lengan peggy.


Makanan yang tadi mereka pesan sudah berada di meja makan. Tidak butuh lama mereka sudah menyantapnya.


"Selepas dari sini kita mau ke mana?" tanya emi sambil mengunyah makananya.


"Mencari rumah," jawab peggy.


"Kau tidak apa bukan satu rumah dengan ku?" Tanya peggy.


"Bodoh, jelas aku mau, aku kan sekarang bergantung pada mu," jawab Emi demgan cepat. Peggy tersenyum mendegarnya.


Selama belum mendapatkan rumah peggy menyewa apertemen untuk beberapa waktu.


"Istriahat lah, biar ini semua aku yang kerjakan,"ucap Emi setelah tiba di apertemen.


"Texs," koper di serahkan ke pada Emi peggy berlalu menuju kamar. Tubuhnya begitu lelah, apabkarena ada janin di dalam perutnya.


Emi sedang merapihkan pakaian mereka.


Dia menoleh ke atas ranjang di mana Peggy sudah terlelap di sana.


Apa ke putusannya ini sudah benar, pergi dari keluargaya. Yah walau pun demikian Emi tidak pernah menyesal ikut dengan Peggy. sahabatnya itu saat ini sedang butuh dukungan lagi pula baerada di kota ini tidak lah buruk. Dia akan mencari pekerjaan nanti agar tidak selalau merepotkan peggy.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya peggy membuat Emi tersentak.


"Tidak, aku hanya berpikir akan mencari pekerjaa nanti," ucap Emi.


"Bagus setidaknya kau tidak selalu membuat ku repot nanti," ucap peggy.


"Yah, semoga saja ada bos yang mau menerima aku bekerja di perusahaanya." ucap emi menutup pintu lemari.


"Aku rasa bos kamu nanti berperut buncit dan berkepala botak," ucap peggy sambil tertawa membayaginya.


"Ku harap tidak."


Waktu berlalu begitu cepat, selama tinggal di apertemen Emi membatu peggy mencari rumah. Rumah yang kecil namun cukup untuk mereka berdua sudah dia dapatkan. ruang tamu dapur dan hanya ada satu kamar. Itu tidak jadi soal mereka bisa berbagi ranjang.

__ADS_1


"Apa kamu sudah mendapat pekerjaan?" tanya peggy.


"Belum, semoga saja hari ini aku dapat pangillan," ucap Emi. dia sudah menaruh lamaran kerjanya ke beberapa perusahaan semoga saja salah satu dari mereka tertarik dengan surat lamaranya.


"Semoga," peggy memeluk Emi.


"Hay apa yang kamu lakukan, jika ada yang melihat bagai mana mereka akan berpikir yang tidak baik tentang kita," satu toyoran di kepala Emi dapatkan. Peggy tidak habis pikir sahabatnya sampai berpikir seperti itu.sesungguhnya Emi hanya bercanda saja..


Emi menyiapkan makan malam untuk mereka berdua. yah walupun hanya nasi goreng itu cukup untuk menganjal perut mereka.


"Sekarang berapa usia kandungan mu?"tanya emi. Emi belum menanyakan perihal itu.dia cukup terkejut mendapat kabar tentang meninggalnya keluarga peggy.


"Baru sekitar tiga minggu."


"Kau harus jaga dia baik baik."


"Pasti, makasih Emilia. Kamu selallu ada di saat aku membutuhkan dirimu."


"Tidak perlu seperti itu kita sahabat bukan."ucap emilia.


Ponsel Emi berdering mengentikan pembicarakan mereka.


"Hallo. Apa saya sedang bicara dengan


"Iya saya sendiri, ada yang bisa aku bantu?" Jawab emilia.


"Oh, ada surat pangilan untuk anda, jika anda punya waktu beaok pagi datang ke perusahan amzon bren." ucap seseoarang dari sana.


"Aku akan datang besok," ucapnya senang sambil memegang tangan peggy.


"Jika begitu aku tunggu besok, terima kasih,"


Sambungan pun terputus. Emi menatap pegyy setelah itu melompat lompat kegirangan.


"Ada pangilan untuk aku besok," ucapnya sambil melompat lompat peggy pun sama hal nya dengam emi dia begitu senang sampai melupakan keadaanya.


"Auw,"pekiknya sambil memegang perut bagian bawahya.


"Owh astaga peggy,"ucap emi sambil menutun peggy ke arah sofa.


"Bagai mana, apa masih sakit?" Tanya Emi kawatir.


"Tidak, tadi hanya sedikit nyeri saja, aku terlalu bersemangat," ucapnya.

__ADS_1


"Jangan melupakan keadaan mu, Noreen," ucap Emi berlalu mengambil segelas air.


Peggy tersenyum. Emilia begitu menyayaginya.


"Semoga besok kamu dapat melewati nya dengan lancar," ucap peggy sambil menerima segelai air.


"Semoga saja atasan ku perutnya tidak buncit," seloroh Emi sambil tertawa.


"Aku berharap demikian."


Semoga besok dia di terima di perusahaan itu, emilia sangat berharap agar bisa melewati hari harinya bersama peggy tanpa kesulitan. Walau pun peggy membawa uang cukup banyak jika di gunakan setiap hari pun akan habis nantihya. Apa lagi keadaan peggy yang sedang mengadung akan memerlukan biaya yang cukup banyak. Emilia sangat berharap dia di terima bekerja.


"Istirahat lah, aku akan membuat cemilan,"ucap Emilia.


"Hai, kau selalu menyuruh ku tidur sepanjang waktu, apa kau berniat membuat tubuhku gendut."ucap peggy sambil menyolangkan tangannya di dada.


"Tanpa aku lakukan juga kau akan mengendut dengan sendirinya," ucap Emi santai.


"Apa yang bisa aku lakukan," ucap peggy.


"Duduk dan diam."


"Ayolah, Em, usia kandungan ku masih sangat kecil. Melakukan sesuatu tidak akan membuat dia kesakitan, tidur sepanjang waktu tidak bagus juga buat tubuh ku," ucap peggy.


"Terserah kau saja lah."


"Jadi apa yang bisa aku lakukan."


"Terserah kau saja mau melakukan apa, aku mau mandi dan tidur," ucap Emi melangkah pergi. Masakanya udah jadi memang peggy bisa melakukan apa.


"Kenapa kau begitu menyebalkan Emilia Heller," teriak peggy.


Emilia hanya tersenyum mendegar umpatan sahabatnya itu. Mandi dan setelah itu tidur. Hari ini sangat melelahkan. seterah peggy mau melakukan apa asal tidak membahayakan diri dan juga janinya.


Peggy memutuskan berbaring sambil memainkan ponselnya, toh apa yang dia mau lakukan semua pekerjaan sudah Emilia kerjakan.


Berita yang lewat di ponselnya mengalihkan pandangan peggy. Perampok yang membunuh kedua orang tuanya sudah tertangkap dan sekarang sudah mendekam di penjara. Namun tidak dengan dalangnya karena semua pelaku sama sekali tidak menyebutkan nama Olit atau Sony.


Peggy mencengkram ponselnya dengan kuat, marah dan benci menjadi satu mengigat kekasihnya yang melakukan hal sekeji itu kepada kekuarganya.


Sekarang dia bagaikan seorang pengejut yang bersembunyi tanpa melakukan apapun untuk keadilan Momy dan Dedynya.


Setelah darah daging nya lahir peggy akan membalas semua yang di lakukan Sony ke pada keluarganya, itu niat dalam hati peggy. semoga saja bisa terhujud.

__ADS_1


Ponsel di letakan kembali, memejamkan mata karena tiba tiba dia begitu mengantuk jangan tanyakan Emi ke mana, dia sudah berada di alam mimpi bersama pangeran berkuda putih.


__ADS_2