Simpanan Pria Kesepian

Simpanan Pria Kesepian
bekerja


__ADS_3

Gedung yang berjullang tinggi berada di hadap Emilia. Pagi pagi sekali Emilia sudah berada di sana. Emilia sangat tidak sabar, rambut yang di ikat setengah membuat wajah Emi terlihat begitu munggil polesan lipsik yang naturan membuat wajahnya terlihat begitu cantik.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang wanita.


"Aku Emilia Heler," belum sempat Emi melanjutkan ucapanya wanita itu sudah memotong terlebih dahulu.


"Oh anda sudah di tunggu, mari aku antar," ucap wanita itu, Emi berjalan di belakang mengikutinya.


"Silahkan Nona anda sudah ditunggu,"ucap wanita itu lalu iya pergi meningalkan Emilia. Sebelum menampakan dirinya Emi mengetuk pintu terlebih dahulu.


"Selamat pagi pak,"ucap Emilia sambil membungkuk.


"Pagi, silahkan duduk," Emi duduk dengan jantung yang berdegup dengan kencang semoga saja dia di terima.


"Emilia Heller, saya lihat dari surat lamaran anda, kamu tinggal di indonesia?" Tanya atasanaya sambil menatap Emi.


"Bener pak, saya asli indonesia tetapi saya berniat menetap di negara ini," ucap Emi sambil menunduk.


"Mulai besok kamu sudah bisa mulai bekerja,"ucapnya


"Apa tidak bisa hari ini juga pak saya bekerja,"ucap Emi, lebih cepat lebih baik bukan, lagi pula di rumah dia tidak melakukan apapun.


"Baiklah jika kamu mau hari ini, tugas kamu membantu Viona di bagian bawah,tidak apa bukan kamu saya tugaskan di bagian bawah," ucap atasanya.


"Saya sama sekali tidak keberatan pak, terimakasih sudah mau menerima saya, saya pamit undur diri, sekali lagi terima kasih pak," ucap Emilia dengan hormat lalu melengang pergi.

__ADS_1


Hari ini emilia di terima bekerja di bagian bawah, walah puh demikian Emi tidak keberatan sama sekali, menjadi ob tidak lah buruk selagi kerjaan itu halal. Waktu makan siang pun tiba, Viona yang mendaptkan teman baru begitu senang mulai hari ini sudah ada yang membantunya, walau pun banyak yang lain juga tetap saja mengandalkn dirinya.


"Emilia, ayo kita makan," ucap Viona.


"Sebentar Kak, aku mengantar kopi sebentar," Emi berlalu pergi sambil membawa segelas kopi. Jam makan siang telah selesai kini para karyawan di sibukan kembali dengan pekerjaannya walaupun deminkian semua yang bekerja di sana begitu menikmatinya hingga tidak terasa waktu sudah menujukan pukul empat sore, satu persatu yang berada di sana keluar hinga tersisa Emilia, viona dan beberapa rekannya.


"Mau bareng dengan ku?" Viona menawarkan karena dia membawa sepeda motor.


"Tidak terima kasih," ucap Emilia tersenyum dengan ramah. Sesampainya di rumah Emilia melihat peggy sedang berada di dapur,entah apa yang wanita itu kerjakan, dengan cepat emi mendekatinya jangan sampai membuat peggy kelelahan.


"Apa yang kau lakukan, Noreen?''tanya Emi mendekatinya.


"Hanya memansakan masakan," ucap Peggy tanpa menoleh ke arah emi.


"Istirahatlah biar aku yang kerjakan," ucap emilia.


"Aku sudah sangat lapar," seloroh Emi langsung menarik bangku.


"Aku juga demikian," ucap Peggy


"Noreen. lain kali jika mau makan jangan menunggu aku," ucap Emi.


"Aku memang tidak menunggu mu," jawabnya santai.


"Lalu kenapa baru makan?" tanya Emi heran.

__ADS_1


"Ini sudah ke dua kalinya aku makan," jawab peggy sambil terkekeh. Entah semenjak hamil peggy jadi suka sekali makan, kebanyakan wanita jika masih hamil muda akan merasakan mual atau pusing tapi dia sama sekali tidak merasakannya. Tubunhya seperti biasa hanya saja tiba tiba suka sidikit pusing.


Waktu berjalan begitu cepat, bulan demi bulan telah berlalu, sekarang kehamilan peggy sudah mengijak sembilan bulan sebentar lagi anaknya akan lahir. Peggy sungguh tidak sabar untuk menantikan kelahiran buah hatinya begitu pula dengan Emi.


"Apa kamu mau makan sesuatu?"tanya Emi sambil mengelus perut yang sudah besar itu.


"Bawakan aku pizza, sepertinya enak makan makanan itu di malam hari." ucap Peggy.


"Baiklah aku akan bawakan nanti, jangan melakukan apapun," ucap Emi berlalu pergi. Walau pun berat meningalkan sahabatnya seorang diri dalam ke adaan hamil besar namun Emi harus tetap bekerja untuk bertahan, hidup di negri orang tidak lah mudah apalagi sahabtnya sebetar lagi akan melahirkan, apapum akan Emi lakukan demi Peggy. Peggy bersandar di sofa sambil melihat acara di televisi, matanya terbuka lebar melihat seorang pria tengah mengadeng wanita cantik, peggy menegakan duduknya dia inggin melihat wanita yang sedang bersama Sony. Api kebencian terlihat dari wajahnya, pria bajingan itu tidak akan dia lepaskan, dia akan menghacurkan Sony, setelah anaknya lahir dia akan kembali dan membuat perhitungan dengan pria bajingan itu. Air matanya tiba tiba mengalir mengiggat kedua orang tuanya yang telah tiada, rasa sesak di dada peggy rasakan. Karena kehamilanya sudah besar membuat tubuh peggy gampang sekali melemah. Akibat emosi yang tiba tiba datang perutnya terasa begitu sakit, peggy memegangi perutnya dengan sesekali meringis. Rasanya begitu sakit sampai sampai pwggy tidak sanggup merasakanya.


"Sakitttt," teriaknya Darah mengalir dari pangkal pahanya peggy yang melihat itu terkejut, dia berusaha meraih ponsel yang ia letakan di atas meja. Tidak peduli Emi sedang bekerja, sekarang dia sedang membutuhkan sahabtnya itu. Ponsel di raih dengan menahan rasa samit peggy menekan nomor emilia.


"Hallo, kenapa Ren?"tanya Emi.


"Sa ..... kit, Emi perut ku sakit," ucap peggy dengan terbata bata mendegar itu emi langsung bangun dari duduknya mendegar peggy kesakitan seperti itu membuat Emi merasa takut.


"Tahan aku akan segera pulang," Ami langsung menyambar tasnya sebelum keluar Emi mencari Viona terlebih dahulu. Dia tidak mungkin keluar begitu saja walau bagai mana pun Emi harus ijin telebih dahulu.


Emi mendekati viona dengan tubuh gemetar karena rasa takut yang dia rasakan Emi sangat takut terjadi sesuatu dengan sahabatnya itu.


"Viona, tolong sampaikan ke atasan aq ijin pulang," ucap Emi.


"Ada apa?" "Aku tidak bisa cerita sekarang, aku sedang buru buru, tolong sampaikan ijin ku," ucap Emi sambil berlari pergi. Taxi yang melintas segera dia berhetikan. Rasa takut mengerogoti hati.


Emi berlari menghampiri pegyy yang sudah pingsan dengan cepat Emi memangil supir taxi yang sempat iya suruh tunggu.

__ADS_1


"Pak, tolong bantu aku bawa ke rumah sakit," ucap Emi dengan tangan gemetar, air mata nya tiba tiba mengalir dia sangat takut terjadi sesuatu kepada pegyy jika itu terjadi dia tidak akan memaafkan dirinya sendiri.


__ADS_2