
"Mom apa masih lama? Aku sudah lelah."
"Jika Marissa lelah istirahat di pangkuan momy, sebentar lagi kita sampai," Emilia menepuk pahanya agar Marissa merebahkan kepalanya di sana, Marissa yang sudah sangat lelah pun menurut. Emilia membelai rambut putrinya agar tertidur matanya menerawang jauh melihat awan yang berada di sana, sudah enam tahun dia meninggalkan kota kelahirannya kini dia kembali membawa putri kecilnya.
Pesawat sudah mendarat di bandara internasional, setelah sekian tahun Emillia menginjakan kakinya kembali di kota di mana dia di lahirkan.
"Sayang, apa masih ngantuk?" Emilia hendak menurunkan Marissa dari gendongannya.
"Sudah tidak, Mom. Sekarang kita mau ke mana Mom?" Marissa menatap ibunya.
"Kita ke rumah Oppa," ucap Emilia tersenyum, walau pun Emilia tersenyum dengan manis namun tidak dengan hatinya, dia sedikit takut dengan reaksi ayahnya apa lagi ada dua manusia yang sangat dia benci.
"Asik, icca ketemu oppa," ucap Marisaa kegirangan, Emilia berharap ketika dia datang ayahnya menerima marissa. Taxi pun yang mereka tumpangi berhenti di depan rumah yang lumayan besar. Marissa lebih dulu turun lalu di susul Emilia. Setelah taxi pergi mereka masih berdiri di sana menatap Rumah yang sama sekali tidak berubah hanya saja warna cat nya yang nampak berbeda.
"Ayo Mom," Marissa menarik momynya sungguh dia sudah sangat tidak sabar untuk bertemu dengan Oppa nya.
"Sebentar sayang," Emilia menarik napas menyakinkan diri, semua akan baik baik saja. Pintu di ketuk namun belum ada jawaban setelah beberapa kali ketukan akhirnya pintu yang berwarna coklat tua itu terbuka dengan sempurna. Mata Stella terbelalak melihat Emilia ada di depan matanya sudah enam tahun emilia tidak kembali ke napa sekarang dia kembali lagi.
Tanpa di persilahkan masuk Emilia masuk sambil mengandeng Marissa.
"Mom, Ded, lihat siapa yang datang," teriak Stella sambil melirik Marissa dengan tajam.
"Siapa yang datang? Sampai Stella berteriak seperti itu," ucap Gaston
"Lebih baik kita melihatnya," Almer lebih dulu melihat, dia begitu penasaran. Almer berhenti di atas tangga sambil memandang Emilia lalu beralih menatap Marissa.
"Lihat Gaston siapa yang datang," ucapnya sambil berjalan menghampiri.
"Aku kira kau sudah tiada."
"Aku datang ke sini bukan untuk berdebat aunty." Emilia menggengam tanggan Marissa dengan erat.
"Emillia," Gaston memeluknya memandangi putri satu satunya itu yang sudah lama tidak kembali.
"Ded, Emilia merindukan Dedy," ucapnya Gaston melepaskan Emillia lalu menatap gadia kecil yang sedari tadi di gandeng putrinya itu. Emillia tau arti tatapan Gaston sebelum ayahnya bertanya dia lebih dulu memberi tahu.
"Dia putri ku Ded," ucap Emi tanpa ragu.
"Apa aku tidak salah dengar, setelah sekian tahun kau pergi, setelah kembali kau sudah memiliki putri, ck ... ck," Stella menggeleng setelah mengatakannya.
__ADS_1
"Apa yang kamu katakan tidak benar kan?" Gaston menatap Emi namun dia hanya diam.
"Di mana ayahnya!" Kini Gaston menatap Emilia dengan tajam, Almer menghampiri berdiri di samping Gaston.
"Kenapa kau tidak menjawab ucapa Dedy mu Emillia, jangan katakan setelah enam tahun kau pergi kau menjual diri, hingga mendapatkan gadis ini," ucap Almer sengaja.
"Aunty jangan sembarangan menuduh."
"Jika begitu jawab."
"Aku tidak bisa menjelaskannya di sini Ded, yang jelas Marissa ini putri ku," ucap Emillia. Marissa yang dari tadi diam kini mendongkam melihat ibunya. Dia sangat takut mendegar Oppanya membentak momynya begitu keras. Emilia merangkul Marissa memberi usapan lembut agar gadis itu tidak takut.
"Dedy sangat kecewa pada mu Emilia."
"Apa ini yang ibu mu ajarkan, menjadi seorang ******."
"Jangan menghina ibu ku aunty, jangan kau pikir kau itu wanita baik baik," akhirnya Emilia tidak bisa menahan emosinya. Jika sudah melibatkan ibunya Emillia tidak akan bisa menahan diri.
"Emillia Heller!" Bentak Gaston.
"Kenapa!" Emillia menatap ayahnya .
"Hak, hak apa?"
"Jelas aku masih berhak atas rumah ini."
"Semenjak kau meninggalkan rumah, detik itu juga kau sudah tidak punya hak atas rumah ini, rumah ini sudah menjadi hak Stella!" Ucap Almer.
"Apa yang di katakan auty itu semua tidak benar kan ded?"
"Apa yang Almer katakan memang benar."
"Kenapa Dedy begitu bodoh," plak satu tamparan keras mendarat di wajah Emillia, Marissa yang melihat langsung memeluk ibunya dengan begitu erat.
"Mom ayo kita pergi, Icca enggak mau di sini, Oppa jahat," ucapnya sambil menangis.
Emillia berjongkok untuk mengusap air mata putrinya.
" Sebentar, sayang."
__ADS_1
Emillia bangun lalu menatap ayahnya sambil berkata." Apa yang ada di pikiran dedy saat itu? Apa dedy tidak takut mereka menghianati dedy, dengan gampangnya dedy menyerahkan rumah yang jadi hak ku untuk wanita ini, dia itu bukan siapa siapa, bisa saja suatu saat nanti mereka meningalkan dedy, inggat Ded walau bagai mana pun aku ini anak kandung mu."
"Jangan dengarkan dia .Gaston. mana mungkin aku meninggalkan diri mu."
"Jangan ikut campur, aku tidak ada urusan dengan dirimu!" Emilia menatap ambar dengan tajam.
"Jaga ucapan mu Emi, dia itu ibu mu, hormati dia!"
"Aku tidak memiliki ibu yang seperti dirinya."
"Jika begitu, pergi dari sini sekarang juga dan bawa anak haram mu ini."
"Aku tidak akan pergi sebelum dedy memberikan hak ku."
Arlon melangkah dengan kekesalan di hati.
Saat arlon pergi ke kamarnya, Stella mendekati Emillia lalu tersenyum dengan sinis.
"Kau menjual diri di mana? Hingga mendapatkan putri yang begitu manis," Emillia diam saja, bisa saja dia membalas ucapan Stella namun di sini ada marissa. Ada gadis kecil yang tidak boleh mendegar ucapan yang sama sekali tidak patut di dengar.
Gaston melempar selembar cek tepat di hadapan Emi, Emillia mengambil cek tersebut lalu tersenyum sinis.
"Bawa itu pergi dan jangan pernah kembali lagi, jika kamu masih bersama anak itu, dasar anak tidak tau malu, dedy peringatkan pada mu Emi, jangan membuat malu!"
"Tidak perlu kawatir, aku tidak akan menginjakan kaki ku di sini lagi."
"Ayo sayang kita pergi," Emillia mengendong Marissa, dia tau putrinya pasti sanggat ketakutan. Sekarang yang lebih dulu dia lakukan adalah mencari tempat tinggal, sejak di pesawat mereka belum istirahat rasanya sangat melelahkan. Hotel tempat pertama yang Emilia tuju, selembar cek yang ayahnya berikan sebagian dapat dia gunakan, tidak membutuhkan waktu lama untuk mendaptakan sebuah kamar hotel, marissa langsung merebahkan dirinya di kasur.
"Mom, kenapa Oppa menampar Momy tadi?" Pertanyaan itu lolos begitu saja dari mulut si kecil.
"Icca tidak perlu memikirkan hal seperti itu, sekarang yang icca mau lakukan apa dulu, mandi atau tidur," ucap Emillia sambil mengelus rambut panjangnya.
"Icca mau tidur dulu aja, mandinya nanti."
"Jika begitu, segeralah tidur."
"Baik, Mom." Emillia melangkah ke kamar mandi namun dia berhenti dan menoleh mendegar ucapan Marissa.
"I love you, Mom."
__ADS_1
"I love you, sayang." Emilia mengucapkan kalimat itu dengan air mata yang mengalir, Emi begegas masuk dia takut marissa melihatnya menagis.