
Aron begitu kesal meliaat kelvin berjalan santai ke arahnya sambil tersenyum. Bisa bisanya kelvin begitu santai padahal Alon di depannya sudah terlihat marah.
"Jangan membuat ku kesal lebih dari ini.Kelvin!" ucap Aron dengan mata yg begitu tajam menatapnya. Aron menunggu kedatangan Kelvin begitu lama tapi yg di tunggu cuek begitu saja.
"Aku harus menuntaskannya dulu bukan, jadi kau jangan marah, lagi pula kau yang terlalu cepat, atau kau...."ucapan Kelvin terhenti lalu menatap Alon dengan penuh pertanyaan.
"Sialan, jangan berpikir yang tidak tidak!" Alon yang kesal langsung melempar Kelvin dengan asbak yang ada di sana.jika saja kelvin tidak menghindar mungkin saat ini kepalanya sudah benjol.
"Wow, jika benda itu mengenai wajah ku bagai mana, aku enggak mau wajah tampan ku ini menjadi lecet." ucap Kelvin. Alon hanya menatapnya malas, sahabatnya ini memang percaya diri sekali.
"Kenapa kau begitu terburu - buru?" tanya Kelvin.pasalnya Alon jika sudah bersama wanita akan sedikit lama tapi sekarang kenapa begitu cepat atau permainan wanita itu tidak memuaskan, dasar kelvin pikirannya hanya ranjang saja.
"Lihat ini, dia selalu membuat ku pusing sepanjang hari," ucap Alon sambil memijat pelipisnya. Kelvin hanya tersenyum melihat layar ponsel yang begitu banyak panggilan tidak terjawab dari ayah sahabatnya itu.
"Kenapa tidak kau jawab?"
"Jangan membuat ku semakin kesal dengan pertanyaan mu, kau tau alasannya bukan." Ya Kelvin sangat tau betul kenapa sahabatnya itu tidak mau menjawab telpon dari orang tua nya.
"Sekarang apa yang mau kau lakukan?" tanya Kelvin sambil merebahkan dirinya di atas ranjang namun tidak lama dia langsung bangun dari sana.
"Hai, apa ini. kenapa begitu basah," Kelvin menatap seprei yang begitu banyak noda lalu menatap Alon.
"Yah, dia begitu becek," ucap Alon dengan sedikit kesal.
__ADS_1
"Dasar pria sialan, kamu pikir dia comberan," Kelvin tertawa mengatakannya.
Alon kembali mengusap rambutnya dengan kasar. Mau bagai mana pun dia menghindari ayahnya tetap saja bayangan pembicaraan ayahnya yang mau menjodohkan dia dengan anak teman nya itu membuat Alon begitu frustasi. Dia senang dengan dunia nya yang seperti ini tanpa adanya ikatan pernikahan walau pun dia juga tidak dipungkiri jika dia kesepian, tapi keputusan ayah nya yang mau menjodohkannya sama sekali tidak bisa dia terima. Ayahnya pikir ini jaman apa?
"Jadi sekarang apa yang mau kamu lakukan?"
"Sekarang kita pulang, jangan sampai membuat si tua bangka itu semakin marah." Dalam perjalanan ponselnya terus saja berdering, Alon hanya melihatnya malas tampa berminat mengangkat nya.lagi pula sedikit lagi dia akan tiba di rumah jadi tidak perlu mengangkat tlp dari ayahnya itu.
"Apa kau tidak bosan, Alon. Selalu seperti itu, Ayah sangat muak melihat kelakuan mu yang selalu bermain wanita!" Setiap hari hanya saja bersenang senang tanpa memikirkan perkembangan perusaaan yang akan nantinya menjadi miliknya.jika terus terusan seperti ini dia tidak akan memberika perusahaan nya ke pada Alon jika anak itu masih saja bermain main.
"Aku tidak mau di jodohkan, lagi pula ini jaman apa," ucap Alon sambil menjambar rambutnya dengan kasar.
"Apa kalian pikir aku tidak bisa mencari wanita sampai sampai harus di jodohkan seperti ini."
"Aku mau mencari pendamping hidupku sediri, beri aku waktu tiga bulan, jika dalam tiga bulan aku belum mendapatkan wanita yang aku pilih.maka aku akan menerima perjodohan kalian."
"Mama pegang ucapan mu, Al. Tapi jangan sembarangan memilih wanita."
"Aku tau, Ma." Alon berlalu begitu saja. Memikirkan ini membuatnya begitu pusing. Dia butuh mandi mendinginkan otaknya yang begitu mendidih.
Sedangkan Kelvin memilih pergi ke kamarnya. Kelvin adalah salah satu sahabt serta asistennya, sahabat yang dia anggap sebagai keluarga sendiri. Sebab itu Kelvin tinggal dengan kekuarganya.
Sementara Emilia sedang sibuk membuat susu, tangisan Marissa begitu nyaring sampai terdegar keluar. Benar yang di katakan orang mengurus anak itu tidak mudah.
__ADS_1
"Sebentar sayang momy lagi buat susu," Emilia tetap berbicara seolag olah marisa sudah mengerti. Kehidupan nya bener bener sudah berubah, usia marissa sudah enam bulan, namun dia belum menemukan pengasuh untuk putri nya. Walau bagai mana pun dia membutuhkan seorang pengasuh buat menjaga marissa, bagai mana dia bisa bekerja jika seperti ini. Emilia menghampiri Marissa sambil membawa sebotol susu, dengan sigaf dia langsung mengendong gandis munggil itu. Stok susu tinggal sedikit, tiba tiba kepalanya jadi pusing memikirkan kebutuhan Marissa tapi tidak maslah dia akan bekerja dengan giat. Waktu baru menunjukan pukul empat dini hari, Marissa sudah tidur kembali tapi dia tidak bisa kembali tidur lebih baik membereskan barang barang Marissa yang berantakan. Sudah tiba waktunya jam kerja namun Marissa belum juga bangun.
"Aunty, Marissa belum bangun."
"Iya, biarkan saja nanti aunty lihat."
"Jika begitu aku berangkat, titip Marissa."
"Bekerja lah dengan giat, tidak perlu memikirkan Marissa," ucapnya. Emilia mengangguk, selama ini Emilia menitipkan Marissa kepada aunty Dora pemilik kobtrakan ini, jika Emilia sudah pulang dia akan mengambil Marissa kembali, walau bagai mana pun dia butuh uang untuk membeli susu dan peralatan lainnya.
Pekerjaan yang banyak membuat Emilia begitu kelelahan tapi dia tetap harus melakukan itu demi putrinya. Tidak perduli lagi dengan kehidupannya sekarang yang ada di pikirannyan hanya Marissa, bagai mana caranya agar mendapatkan susu untuk putrinya.
Suara lonceng berbunyi menadakan jam pulang kerja sudah tiba, sebelum turun Emilia menarik napas sejenak. Sebelum tiba di rumah Emilia menyempatkan membeli sesuatu untuk aunty Nora sebagai tanda terima kasih sudah menjaga Marissa.
Taxi yang Emilia tumpangi berhenti di toko roti, Emilia melangkah memasuki toko itu dengan santai hingga seorang pria tanpa sengaja menabraknya.
"Apa anda tidak melihat!" ucap pria itu sambil menagmbil barangnya yang jatuh. Emilia diam saja lekas berjalan kembali namun pangilan pria itu menghentikan langkahnya.
"Hai, Nona. apa anda tidak tau caranya meminta maaf!"
"Maaf, tuan," ucapnya. Emiliaa enggan berdebat dia kemabali melangkah, pria itu menatapnya dengan wajah kesal. Bisa bisanya dia di bayakan seperti ini dengan seorang wanita, dengan wajah yang kesal pria itu melangkah keluar meningalkan Emilia di sana.
Emilia menoleh lalu menghela napas melihat pria itu pergi, ada orang yang seperti itu dia yang salah tetapi orang lain yang di suruh meminta maaf. Setelah selesai Emi lekas menuju taxi yang dia suruh menunggu.
__ADS_1