Simpanan Pria Kesepian

Simpanan Pria Kesepian
tiada


__ADS_3

Perasaan takut cemas menjadi satu, Emi hanya bisa menangis ketakutan, takut terjadi yang tidak di inginkan dengan peggy, Emi menunggu dengan tidak sabar, rasanya dia ingin membunuh pria yang tidak bertangung jawab itu, rasanya tidak adil untuk peggy yang berjuang sendirian. Emi menunggu sambil menundukan wajahnya tanggannya menutupi bagian wajah yang sudah basah dengan air mata. Dia benci dengan situasi seperti ini.


"Aku berjaji Noren jika kau meningalkan aku, aku tidak akan memafkan mu," ucap Emi sambil menghapus air matanya.  Dokter yang menanganai Peggy keluar dengan wajah yang di banjiri keringat dengan  cepat Emi menghampirinya. Pertanyaan demi pertanyaan Emilia layangkan.


"Bagai mana keadaan nya dok? Mereka baik baik aja kan, apa peggy sudah sadar, aku ingin melihatnya sekarang," ucap Emi kepada dokter, wanita yang cukup dewasa itu memghela napas lalu menatap Emi dengan sendu.


"Maaf, kami sudah melakukan semaksimal mungkin, namun tuhan berkehendak lain," ucap dokter perempuan itu sambil menunduk.


"Apa maksud ucapan mu," ucap Emi dengan rasa cemas. Emi metap dokter wanita itu dengan tajam.


"Maafkan aku, Aku tidak bisa menyelamatkan salah satu dari mereka," sontak tubuh Emi terhuyung ke belakang dia hampir saja jatuh jika tidak di raih dengan dokter wanita itu.


"Nona terlambat membawanya ke rumah sakit, akibat banyak ke habisan darah membuat kami tidak dapat menyelamatkan nyonya Noren." ucapan dokter membuat Emi tidak bisa berkata apapun. Dia yang sudah membuat peggy pergi, jika saja dia tidak terlambat membawa peggy mungkin peggy masih bisa di selamatkan, ini semua salahnya. Emi merasa dia lah yang menyebabkan kepergian Peggy.


Setelah kepergian dokter Emilia jatuh terduduk tangisannya pecah begitu saja, dia tidak mungkin sanggup kehilangan sahabat baiknya. Tangisannya kembali pecah mengingat kebersamaan mereka. Suster yang melintas berusaha menenangkan Emilia, Emi sudah terlihat kacau dan berantakan dengan kekuatan yang masih tersisa Emilia bangkit berdiri.


"Aku mau melihat nyonya Noren," ucap Emi. suster pun membawa Emilia menuju ruangan di mana peggy berada. Setelah masuk suster meninggalkan Emilia sendiri, Emi melangkah dengan perlahan menuju di mana peggy tengah berbaring dengan tubuh yang terlihat pucat.


"Aku mohon bangun, Noren," ucap Emi menggenggam tangan peggy yang sudah pucat. Air mata yang mengalir di hapus dengan kasar namun tetap saja air mata itu kembali mengalir.

__ADS_1


"Aku tidak mau mengurus putri mu, jadi bangunlah," Emi terisak mengucapkan kata itu, berharap peggy mendengar ucapannya lalu bangun namun itu semua mustahil walau pun demikian Emi tetap berusaha membangunkan peggy kembali, dia belum sanggup kehilangan sahabat secepat ini tidak peggy bukan sekedar sahabat baginya.


Emilia menarik napas lalu menghapus air matanya, dia menggenggam tangan peggy sambil berkata." Pergi lah degan tenang, kau tidak perlu kawatir aku akan mengurus anak mu layaknya putri ku sendiri dan aku akan menjaga putri mu dari pria bajingan itu," Emilia menoleh melihat dokter dan beberapa rekannya.


"Nona jenazah ini akan kami urus, kami semua turut berduka, aku harap nona tidak terlalu larut dalam kesedihan kasihan baby yang berada di dalam sana, dia membutuhkan seseorang sekarang," ucap dokter membuat Emi tersadar ada baby yang sangat manis sedang menunggu kedatangannya.


"Aku akan melihatnya," ucap Emilia membuat dokter itu tersenyum. Selama pihak rumah sakit mengurus jenazah peggy, Emi melihat beby mungil yang berada di dalam inkubator. Tangannya meraba kaca yang ada di sana berharap dapat menyentuh anak itu.


"Hay manis, maaf aunty baru melihat, kamu begitu cantik sangat mirip dengan momymu," ucap Emi, sebisa mungkin Emi menahan air matanya namun tetap saja butiran bening itu jatuh juga. Selama melihat gadis yang tidak berdosa itu membuat Emilia sangat ingin menghabisi pria yang membuat peggy pergi untuk selama lamanya. Pria yang bernama Sony itu akan mendapatkan balasan yang sepadan. Biar saja sekarang pria itu bersenang senang tapi nanti setelah dia kembali jangan harap kehidupannya akan damai, Emilia bersumpah akan membalaskan semua rasa sakit dan kesulitan yang peggy alami dengan caranya.


Setelah mengurus semuanya Emi kembali kerumah sambil membawa gadis imut yang berada di gendongannya.


Kehidupannya pasti akan berubah derastis, bagi gadis yang belum berpengalaman soal mengurus anak pasti akan begitu berat. Tas yang berada di tanggannya Emi letakan, sebelum menaruh Marissa Emi membuatkan susu terlebih dahulu, jangan sampai ketika dia sedang membuat susu Marisa terjatuh, sebab itu marissa selalu di dalam gendongan nya.


Emilia tidak bisa bekerja lagi semenjak kehadiran Marissa semoga saja tabungannya cukup sampai dia menemukan pengasuh untuk menjagaķ Marissa.


Selama Emilia sibuk mengurus beby lain hal nya dengan seorang pria yang sedang mendesah nikmat.


"Oh ... yes, gerak dengan cepat," ucap Alon yang berada di bawah sana.

__ADS_1


Mendapat pukulan di bokong membuat seorang wanita semakin bergerak liar, pingulnya dia naik turun kan sesekali dia bergoyang membuat Alon berteriak keenakan. Hentakan demi hentakan Alon berikan membuat wanita yang berada di atasnya mendesah nikmat. Alon berputar posisi kini dia yang berada di atas, tanpa menunggu Alon menyatukan kembali miliknya.


" akhhhhhh ... yes beby, kau selalu membuat tubuhku melayang. Sayang," ucap wanita itu sambil menjambak rambut Alon, mendegar ******* wanita yang menjadi teman tidur nya Alon semakin bersemangat mengenjotnya. Mereka mengerang nikmat saat pelepasan itu datang, Aron segera bangun dari tubuh wanita itu.


"Pakai baju mu, dan pergilah," ucap Alon melangkah menuju kamar mandi.


"Jangan memperlakukan aku seperti itu Alon," ucap wanita itu sambil menutupi tubuhnya dengan selimut.


"Memangnya kau mau aku memperlakukan dirimu seperti apa hah?"


Ucap Alom menatap nya dengan tajam.


"Setidak nya jangan memperlakukan aku seperti jalanh."Baju di ambil dengan cepat wanita itu memakainya, setelah mengambil uang yang di berikan Alon wanita itu lantas pergi dari sana.


"Dia tidak ingin aku mengangapnya seperti ****** tapi sikapnya yang menunjukan jika dia hanya seorang ******," ucap Alon dengan sinis melihat wanita itu pergi keluar kamar.


"Kelvin, cepat datang," ucap Aron dari pangilan telponya.


"Kau sudah selesai, ck sudah tidak kuat rupanya," ucap kelvin membuat Aron tersentak ucapan sahabat nya itu.

__ADS_1


"Sialan,kau meragukan aku, Kelvin." Ucap Aron namum Kelvin hanya terkekeh. Seneng sekali rasanya mengoda Aron.


"Sebentar lagi aku selesai, jadi tunggu saja di sana," ucap kelvin, pria itu sama saja teryata dia juga sedang memadu kasih


__ADS_2