
“Siapa disana!!!” Teriak salah satu gadis bergegas menggunakan jubah untuk menutupi tubuhnya. Lalu dia mengumpulkan mana di telapak tangannya dan membuat bola angin besar untuk menghempaskan Ray yang sedang bersembunyi di semak-semak.
Ray melihat bola angin mengarah padanya dengan cepat menghindari bola angin tersebut dengan gerakan minimum. Selama Ray berada di Hutan Kematian reflek miliknya terhadap bahaya sudah meningkat sampai ke titik ekstrem. “Nona, aku tak bermaksud mengintip kalian. Sebenarnya danau ini adalah tempat ku biasa menginap dan beristirahat.” Ray mencoba menjelaskan situasinya.
“Bah... apa kau pikir aku akan percaya pada perkataan orang cabul seperti mu.” Gadis itu tak mau mendengar penjelasan Ray dan terus menyerangnya dengan sihir angin.
Ray berusaha terus menerus menghindari serangan gadis itu tanpa berniat menyerang balik. Namun serangan sihir angin yang mengarah pada Ray semakin ganas dan cepat membuat Ray semakin kerepotan untuk menghindarinya.
“Nona, seperti yang ku katakan aku tidak sengaja mengintip kalian. Danau ini adalah tempat ku biasa beristirahat dan menginap saat malam. Jika kalian tak percaya lihatlah tenda dan bekas api unggun itu.” Ray mencoba kembali menjelaskan kesalahpahaman ini dengan menunjuk tempat tenda miliknya berdiri, sambil menghindari setiap serangan sihir yang dilancarkan gadis itu.
__ADS_1
“Cukup, tutup mulut mu. Kau seorang cabul yang bahkan tak mau mengakui perbuatannya!” Gadis itu merasa kesal saat serangannya tak ada yang mengenai Ray. Akhirnya dia menghentikan sihir anginnya dan mengeluarkan pedang pendek dari spatial ring miliknya. Lalu menggunakan sihir angin untuk mempercepat gerakannya dan menyerang Ray dari jarak dekat.
Ray yang melihat gadis di depannya begitu keras kepala dan tidak masuk akal akhirnya memutuskan untuk melawan. Ray menghindari tebasan dan tusukan jarak dekat yang dilancarkan gadis itu. Tak butuh waktu lama Ray menangkap gadis itu lengah dan berhasil menangkap pergelangan tangannya. Ray langsung mengambil senjata ditangan gadis itu saat berhasil menahannya dan membuatnya tak bisa bergerak tanpa melukainya.
“Tuan, bisakah anda melepaskan Syr? Ini hanya kesalahpahaman, dan kami juga salah disini karen atidak memerhatikan kalau ada yang menempati tempat ini.” Gadis yang lain menghampiri Ray setelah berpakaian lengkap dan mencoba meluruskan kesalahpahaman antara Ray dan Syr.
“Aku sudah mencoba menjelaskannya sejak awal tapi gadis ini terus keras kepala dan malah menyerang ku tanpa alasan.” Ray menggelengkan kepalanya menunjukan dia juga tak ingin berbuat seperti ini.
“Ah, aku baru sadar kalau kalian adalah Ras Elf. Dan juga perkenalkan aku Ray Ainsworth dari Silver Moon Kingdom.” Ray baru menyadari telinga runcing yang dimiliki Schnee dan Syr yang menunjukan mereka adalah Ras Elf.
__ADS_1
“Maaf, Tuan Ray. Bisakah kau lepaskan Syr sekarang?” Schnee kembali meminta Ray untuk melepaskan adiknya Syr.
“Oh, tentu. Tapi aku akan menahan pedang ini sementara waktu dan mengembalikannya saat kita berpisah nanti.” Ray melepaskan Syr dan mengambil senjata Syr, jujur Ray masih merasa takut kalau Syr tiba-tiba menyerangnya dengan tidak masuk akal.
“Hmph...” Syr mendengus kesal setelah dilepaskan Ray. Lalu bergegas ke samping kakaknya Schnee.
“Terimakasih Tuan Ray atas pengertiannya.” Schnee berterimakasih dengan tulus.
“Bukan masalah.” Ray menjawab dengan santai, sementara dalam hatinya dia merasa bersyukur karena mereka tidak mengetahui kalau dia sengaja mengintip mereka mandi. “Untunglah mereka bisa menerima alasan ku. Jika mereka tahu aku sengaja mengintip mungkin aku akan dihajar habis-habisan. Bagaimanapun wanita adalah hal yang mengerikan saat marah.” Batin Ray dalam hati.
__ADS_1
Catatan :
Sesuai janji saya dua hari yang lalu, saya update 3 chapter hari ini. Jadi selamat membaca...