
Setelah Aaron meninggalkan ruangan, hanya tersisa Alex dan Ray dalam ruangan itu.
"Pak tua, kau sudah tahu kalau dia mata-mata yang ditanam kerajaan?"
"Tentu saja aku tahu, jika bukan karena itu aku tak akan membiarkannya bertemu dengan mu." Alex tersenyum tipis.
"Sepertinya akan ada badai besar di Silver Moon Kingdom." Ray menggelengkan kepala pelan, lalu menghela nafas panjang.
"Aku sudah menduga ada skema besar yang diarahkan pada kerajaan, tapi mendengar mu mengatakan badai besar. Sepertinya ini lebih merepotkan dari yang ku kira." Wajah Alex berubah serius tapi matanya menyembunyikan cahaya tak terlihat.
"Di masa depan kau akan tahu, pemikiran mu yang sekarang mungkin akan membunuh mu."
Ray meninggalkan ruangan, membuat Alex satu-satunya orang yang tersisa dalam ruangan.
"Jika hidup tak memiliki tantangan dan hanya mengikuti jalur itu akan terasa membosankan." Alex tersenyum lebar, sedang memikirkan sesuatu.
***
__ADS_1
Ray keluar dari ruangan setelah melepas topengnya, dia berniat kembali ke ruangannya, dan tanpa sengaja melihat Elli yang sudah berpakaian rapi layaknya bangsawan. Elli mengenakan gaun merah elegan yang kontras dengan warna rambut kuning ke-emasan miliknya, gaunnya disempurnakan dengan sentuhan rendra sederhana di beberapa sisi yang membuat Elli terlihat lebih feminim.
Melihat Elli berpakaian feminim Ray berpikir "apa wanita ini benar-benar si gadis tomboy pemarah?" Ray cukup takjub melihat perubahan Elli yang biasanya terlihat seperti adik perempuan yang pemarah kini berubah layaknya peri turun dari langit.
"Nona kecil, kau terlihat berbeda sekali. Aku sampai berpikir ada dewi yang tersesat di gubuk lusuh ini." Ray menggoda Elli.
"Apa kau ingin mengejek ku?" Elli menaikan alisnya tidak senang.
"Tentu tidak, aku hanya tak habis pikir gadis pemarah yang kerjaannya mengomel pada ku setiap hari. Juga bisa terlihat menawan." Ray tertawa kecil.
"Hahaha... oke hentikan aku mengaku salah, aku minta maaf oke?" Merasa sudah agak berlebihan Ray berhenti menggoda Elli dan meminta maaf. Elli hanya mendengus dan menghentikan pukulannya. "Menggoda perempuan ini memang menyenangkan" pikir Ray.
"Ngomong-ngomong kau mau kemana malam-malam seperti ini?" Tanya Ray.
"Aku mau ke pesta ulang tahun teman ku. Dia mengadakan pesta dansa untuk merayakan ulang tahunnya."
"Jadi karena ini sejak tadi kau marah-marah terus? Biar ku tebak kau tak punya pasangan berdansa kan?" Ray tersenyum penuh makna.
__ADS_1
"Iya, aku tak punya. Jadi apa? Mau mengejek ku karena tak ada yang mau jadi pasangan gadis tomboy pemarah seperti ku?" Elli bertambah kesal mendengar ucapan Ray.
"Hei, ayolah... aku tak seburuk itu. Selain itu lebih banggalah pada diri sendiri, setiap orang punya daya tariknya masing-masing." Ray tersenyum hangat pada Elli.
"Apa-apaan bisa-bisanya dia tersenyum seperti itu" pikir Elli yang wajahnya mulai memerah. Setelah menenangkan diri dia mencoba memberanikan mengajak Ray ke pesta dansa.
"B-bagaimana kalau kau jadi pasangan ku di pesta dansa?" Elli tak tahu mengapa dia merasa gugup, dan jantungnya terasa berdebar-debar lebih dari biasanya.
"Dia bisa terlihat lucu juga" pikir Ray saat melihat Elli gugup. "Oke, aku akan menemani mu ke pesta dansa." Ray menerima ajakan Elli.
Ray mengeluarkan jas putih dan sebuah topeng yang menutupi bagian atas wajah dari Spatial Ring dan memakainya.
"Kenapa kau memakai topeng?" Elli sedikit kesal saat Ray memakai topeng. "Apa Ray malu ke pesta dansa dengan ku?" Pikir Elli.
"Jangan berpikir yang aneh-aneh. Apa kau lupa identitas ku?" Ray menjetikan jarinya di kening Elli.
"Aduh..." Elli tak sempat menghindar. "Iya aku tahu." Elli menggerutu.
__ADS_1