
Lebih dari setahun lamanya kita tinggalkan gunung Padang, sejak Samsulbahri berjalan-jalan ke sana dengan Nurbaya dan teman-temannya.
Sekarang marilah kita kembali pula ke sana, karena pada hari ini sangatlah ramai di gunung itu, penuh sesak dengan beratus-ratus orang laki-laki perempuan, kecil besar, tua muda.
Dekat-dekat pekuburan; di bawah-bawah polion kayu, di tempat yang teduh-teduh, duduklah mereka berkumpul-kumpul.
Ada yang sedang asyik membaca salawat, untuk sekalian ahli kubur, ada yang sedang asyik membersihkan kubur orang tua- nya, ada yang sedang meratap menangis di atas kubur anaknya, yang baharu meninggal dunia dan ada pula yang sedang menyiramkan air cendana dan menaruh bunga rampai, di atas kubur saudaranya, yang amat dicintainya.
Akan tetapi ada pula yang hanya duduk bercakap-cakap saja dan banyak pula yang datang sekedar hendak melihat-lihat atau beramai-ramai saja. Di jalan ke gunung itu dan di kakinya, penuh dengan orang, sebagai di pasar rupanya.
Ada yang datang, ada yang pergi dan ada pula yang berhenti melepaskan lelah.
Di batang Arau kelihatan berpuluh-puluh sampan, yang menyeberangkan mereka pulang balik, sedang di pinggir jalan raya kelihatan pula berpuluh-puluh bendi berjejer, menunggu muatan. Fakir dan miskin serta alim ulama, demikian pula haji- haji banyak yang datang, untuk mendoa.
Ada yang kedengaran sedang ratib dan ada pula yang sedang membaca fatihah.
Apakah sebabnya maka ramai sungguh waktu itu di gunung Padang? O, karena hari itulah penghabisan bulan Sya'ban; esok- nya akan mulai puasa bulan Ramadan.
Sebelum masuk ke dalam bulan yang baik ini, pergilah seisi kota Padang mengunjungi pekuburan sekalian kaum keluarganya, yang telah berpulang ke rahmatullah, untuk mendoakan arwahnya dan memohonkan selamat, supaya yang telah meninggal dan yang masih hidup pun, semuanya dipelihara Tuhan dalam segala hal.
Oleh sebab tinggal sehari itulah kaum Muslimin boleh makan siang hari, dipuas-puaskan merekalah nafsunya dengan segala makan-makanan yang lezat cita rasanya. Itulah sebabnya maka dinamakan orang Padang hari itu "hari makan-makan".
Pada petangnya, kelihatan bulan sebagai secarik kertas, me- mancarkan cahayanya di sebelah barat tiada berapa tingginya dari muka airlaut.
Oleh sebab itu berbunyilah tabuh pada sekalian langgar dan mesjid akan memberitahukan kepada segala urnat Islam, bahwa keesokan harinya, puasa akan dimulai.
Setelah tiga hari puasa dijalankan, pada keempat harinya, masuklah sebuah kapal, yang datang dari Jakarta ke pelabuhan Teluk Bayur, membawa beberapa murid-murid sekolah Jakarta, yang asalnya dari Sumatra Barat.
Mereka hendak pulang ke rumahnya mengujungi orang tua dan handai tolannya, karena dalam bulan puasa sekalian sekolah Bumiputra ditutup.
Di antara murid-murid itu, adalah juga Samsulbahri dengan sahabatnya Arifin dan Bakhtiar.
Tatkala merapatlah sudah kapal ke pangkalan, naiklah ketiga mereka ke darat, lalu pulang tergesa-gesa ke rumah orang tuanya masing-masing, karena sangat rindu hendak bertemu dengan ibu-bapaknya.
Hanya Samsulbahrilah yang sebagai tiada mengindah, karena kekasih- nya yang ditinggalkannya dahulu tak ada lagi. Yang akan menyambutnya hanya ibu bapaknya saja. Istimewa pula, karena pulangnya itu niscaya akan membangunkan kembali segala ingatan kepada waktu yang telah silam.
Setelah sampailah Samsu ke rumah orang tuanya, lalu ber- jabat tanganlah ia dengan ayahnya dan ibunya dipeluknya. Kemudian masuklah ia ke dalam biliknya, akan menukar pakaiannya.
Sebab itu keluarlah pula, bercakap-cakap dengan orang tuanya, menceritakan halnya, pelajarannya di Jakarta dan pelayarannya dengan kapal pulang balik. Tetapi sungguhpun ia berkata-kata itu hati dan pikirannya tiada di sana, melayang entah ke mana.
Halnya ini diketahui oleh ibunya dan Sitti Maryam turut berdukacita, mengenangkan nasib anaknya, yang sebiji mata ini. Sungguhpun demikian, tiadalah dibayangkan Samsu, pada mukanya, perasaan hatinya.
"Kasihan," kata Samsu dengan suara yang pilu, karena se- sungguhnya hatinya terlalu sedih, tatkala melihat rumah orang tuanya dan rumah Nurbaya dengan sekalian yang menimbulkan ingatan kepada waktu yang telah lalu, sehingga hampirlah menyesal ia pulang ke Padang, "hamba melihat seorang hukuman membuangkan dirinya ke laut sebagai seorang yang telah putus asa."
"Di mana?" tanya ibunya dengan terperanjat, mendengar kabar yang dahsyat itu, takut kalau-kalau anaknya berbuat demikian pula.
"Di laut Tanjung Cina, malam kemarin dahulu. Tatkala gelombang amat besar, melompatlah ia dari geladak kapal ke laut, lalu hilang tiada timbul lagi."
..."Ya Allah, ya rabbi, kasihan!" sahut ibunya dengan ngeri....
"Rupanya karena putus asa, lebih suka ia mati di dalam laut daripada menanggung kesengsaraan, kehinaan dan malu. Patut- lah acap kali hamba lihat ia termenung dan terkadang-kadang menangis di gisi kapal; makan pun kerap kali tiada suka."
"Barangkali ia hendak lari," kata Sutan Mahmud.
"Pada pikiran hamba bukan demikian," sahut Samsu, "karena kapal waktu itu jauh di tengah lautan; daratan tak kelihatan. Masakan dapat ia mencapai pantai. Lagi pula tangannya dibelenggu; bagaimanakah ia dapat berenang?"
"Sedih amat! Bagaimanakah rasa hati anak-bininya, ibu-bapa dan sanak saudaranya, bila mendengar kabar itu?" kata Sitti Maryam pula.
"Barangkali ia sebatang kara atau besar kesalahannya," sahut Sutan Mahmud.
"Kesalahan manusia itu, hanya Allah yang mengetahui," jawab istrinya.
"Kabarnya ia dipersalahkan membunuh orang, sebab itu di- hukum buang dalam rantai lima belas tahun lamanya ke Sawah Lunto," kata Samsu pula.
"Nah, dengarlah itu! Kalau tak bersalah, masakan dihukum seberat itu," jawab Sutan Mahmud.
"Biarpun telah dihukum, belum tentu lagi bersalah, karena hukuman itu, walau rupanya adil sekalipun, masih hukuman dunia dan hakimnya manusia, yang gawat dan lemah, sebagai kita sekalian juga," jawab Sitti Maryam.
"Baik; tetapi hakim itu bukannya orang bodoh, melainkan orang yang ahli dalam undang-undang, orang yang telah ter- pelajar dan bersekolah tinggi. Lagi pula bukan seorang hakim yang menghukum itu, melainkan bersama-sama; bagaimana boleh salah juga?" kata Sutan Mahmud pula.
"Walau demikian sekalipun, belum dapat juga lagi kita pastikan, orang itu bersalah; karena yang batin itu tak dapat diketahui manusia," jawab Sitti Maryam.
Samsulbahri tiada hendak mencampuri pertengkaran ayah dengan ibunya ini, istimewa pula karena pikirannya tak ada di sana.
"Bagaimana pula engkau ini?" kata Sutan Mahmud, "masakan hakim menghukum orang dengan tiada semena-mena? Tentulah telah cukup keterangannya dengan saksi-saksinya sekalian, baru dihukum."
"Saksi itulah yang acap kali menyesatkan hakim untuk mendapat kebenaran. Kakanda jangan gusar, karena perkataan adinda ini. Cobalah dengar misal yang akan adinda ceritakan ini! Seorang yang kaya atau berpangkat tinggi, hendak membinasa- kan seorang miskin.
Dengan uang atau pangkatnya itu, mudah baginya mengadakan beberapa saksi palsu. Bila hakim hanya mendengar saksi saja, tentulah si miskin, yang tiada bersalah itu, akan dihukum.
Misal yang kedua. Di tempat yang sunyi, dibunuh oleh seorang penjahat seorang yang melintas ke qana, karena hendak merampas harta bendanya. Seorang yang baik dan lurus hati, yang tiada bersalah suatu apa sampai pula ke sana.
Tatkala dilihatnya orang terhantar di jalan raya, tentulah akan diperiksa- nya, kalau-kalau masih dapat ditolong. Karena memeriksa itu pakaiannya kena darah.
Ketika itu datang empat orang yang lain ke sana, lalu tampak olehnya si lurus hati itu ada dekat mayat, dengan pakaiannya berlumur darah. Tidakkah ia akan didakwa berbuat kejahatan itu?
Sekalian saksi tentu dapat mengaku di hadapan hakim mereka telah melihat dengan matanya sendiri bahwa si lurus hatilah yang ada dekat mayat, dengan berlumuran darah pakaiannya. Saksi-saksi ini berkata benar, tiada berdusta. Tidaklah dapat dikatakan cukup keterangan?
Yaitu empat lima saksi-saksi yang berkata benar dan pakaian yang berlumuran darah? Oleh sebab itu hakim menghukum si lurus hati ini. Akan tetapi benarkah ia bersalah dalam pembunuhan itu?"
Oleh karena mendengar kebenaran perkataan istrinya ini, bangunlah Sutan Mahmud dari kursinya, lalu pergi duduk di serambi muka, karena kalah bersoal jawab dengan istrinya, tetapi malu mengaku kebodohannya.
Setelah keluar Sutan Mahmud, barulah kelihatan oleh Sitti Maryam, anaknya, Samsulbahri, sedang termenung melihat ke rumah Nurbaya, lalu ditegurnya dengan pertanyaan, "Samsu, apakah yang kaumenungkan?" walaupun telah diketahuinya, apa yang dipikirkan anaknya pada waktu itu.
"Ah, tidak apa-apa, Bu," sahut Samsu, "ingatan hamba belum lepas dari kejadian yang telah hamba ceritakan tadi. Rupanya pengharapan yang putus itu, boleh memberi bahaya, yang amat sangat kepada manusia."
Mendengar jawaban anaknya ini, berdebarlah Sitti Maryam, takut kalau-kalau Samsu telah putus asa pengharapan pula. Oleh sebab itu, bertanyalah ia kepada Samsu, akan menduga hati anaknya ini, "Sudahkah engkau tahu, bahwa Nurbaya telah kawin dengan Datuk Meringgih?
Ada aku suruh ayahmu mengabarkan hal itu kepadamu, tetapi entah dikabarkannya entah tidak, tiadalah kuketahui."
Yang sebenarnya dilarang oleh Sitti Maryam, suaminya menulis surat kepada Samsu, tentang hal ini, sebab ia takut anaknya ini akan putus asa.
"Sudah," jawab Samsu dengan pendek, karena tak dapat rupanya ia mendengar lagi kabar itu.
"Barangkali engkau kurang suka melihat perkawinan ini, sebab sesungguhnya tak layak saudaramu itu duduk dengan Datuk Meringgih. Tetapi apa hendak dikata? Sekalian itu takdir daripada Tuhan semata-mata, tak dapat dibatalkan lagi. Pergilah engkau ke rumahnya!
Ayahandanya telah beberapa hari sakit. Di sana akan kaudengar, bahwa itulah jalan yang sebaik-baiknya untuk melepaskan mereka daripada kecelakaannya," kata Sitti Maryam, membujuk anaknya.
"Sakit apakah Mamanda Baginda Sulaiman?" tanya Samsu. "Sakit demam dan sakit kepala," jawab Sitti Maryam.
__ADS_1
"Baiklah, segera hamba pergi ke sana," kata Samsu, lalu masuk ke biliknya akan menukar pakaiannya. Tatkala itu datanglah sais Ali membawa sekalian buah-buahan yang dibawa Samsu dari Jakarta.
"Sediakanlah sepiring untuk Engkumu di muka dan sepiring lagi untuk Engku Baginda Sulaiman! Barangkali ada nafsunya memakan buah-buahan. Telah beberapa hari ia tidak makan," kata Sitti Maryam.
"Baiklah," jawab sais Ali.
Tiada berapa lama kemudian daripada itu, keluarlah Samsu dari rumah orang tuanya, diiringkan oleh Kusir Ali, pergi ke rumah Baginda Sulaiman.
Setelah masuklah mereka ke pekarangan rumah ini, ber- debarlah hati Samsu memandang bangku tempat ia duduk bersama-sama Nurbaya pada malam ia akan berangkat ke Jakarta, setahun yang telah lalu.
Teringat kembali olehnya sekalian kelakuan dan perkataan serta janjinya kepada Nurbaya, pada malam itu dan apabila tak malu ia kepada sais Ali, tentu keluarlah air matanya, karena sedih.
"Adakah Nurbaya dalam rumah ini atau tiadakah?" Demikianlah pikiran Samsu dalam hatinya. Kalau ada bagaimana ia bertemu dengan kekasihnya yang telah meninggalkannya ini?
Setelah masuklah ia ke dalam rumah Nurbaya, tiadalah kelihatan olehnya seorang juga, lalu ia berjalan perlahan-lahan, masuk ke bilik Baginda Sulaiman. Di sana tampaklah olehnya saudagar ini sedang berbaring di atas tempat tidurnya, berselimutkan kain panas.
Sangat terperanjat Samsu serta sedih hatinya melihat perubahan ayah Nurbaya ini. Apabila di tempat yang lain ia bertemu dengan Baginda Sulaiman, tentulah tiada percaya ia yang berbaring itu memang mamanda angkatnya.
Rambutnya mulai putih, mukanya pucat, badannya kurus, mata dan pipinya serta napasnya sekali-sekali, karena sangat letih rupanya.
"Engkau Nurbaya? Hampirlah kemari!"
"Hamba bukan Nurbaya," sahut Samsu dengan gemetar bibirnya, karena menahan sedih hatinya. "Hamba Samsulbahri, baru datang dari Jakarta. Tatkala hamba dengar Mamanda sakit, segeralah hamba kemari."
Setelah mendengar perkataan ini, menoleh si sakit kepada Samsu dengan membesarkan matanya, sebagai hendak me- nerangkan penglihatannya. "Samsulbahri?" tanyanya dengan lemah suaranya.
"Hamba, Mamanda," jawab Samsu.
"Marilah dekat kemari, Samsu!" kata Baginda Sulaiman pula. Samsu hampirlah dengan membawa buah tangannya dari Jakarta sambil berkata, "Inilah hamba bawa buah-buahan sedikit; kalau-kalau Mamanda dapat memakannya."
"Buah apa itu?" tanya si sakit, "sesungguhnya aku telah beberapa hari tak enak makan."
"Ada buah sauh Manila, ada buah mangga, buah salak dan nenas. Buah anggur dan apel pun ada pula hamba beli di kedai. Barangkali dapat menimbulkan nafsu Mamanda," sahut Samsu. "Cobalah beri aku buah sauh itu sebuah; pilih yang lembut!" kata Baginda Sulaiman.
Dipilihnya oleh Samsu sebuah sauh Manila yang masak benar, dibersihkannya dan diberikannya kepada mamandanya itu, lalu dimakanlah oleh Baginda Sulaiman perlahan-lahan.
Rupanya nafsu makannya datang sedikit, entah sebab segar buah itu, entah sebab Samsu, yang membawanya, wallahualam; karena buah itu dimakannya beberapa butir.
Sementara Baginda Sulaiman makan itu, Samsu tiada putus- putusnya memandang mukanya dan sangatlah besar hatinya tatkala dilihatnya buah tangannya itu dapat menimbulkan nafsu si sakit, yang telah beberapa hari tiada makan. `
"Sungguh nyaman buah yang telah engkau bawa ini, Sam; segar badanku rasanya memakannya," kata si sakit. "Aku banyak minta terima kasih kepadamu, Samsu, apalagi karena rupanya hatimu tiada berubah kepadaku, di dalam aku ditimpa kesengsaraan ini.
Tadi aku sangka engkau Nurbaya, karena ialah yang kusuruh datang. Akan tetapi bertambah-tambah besar hatiku, tatkala kuketahui, engkau pun telah ada di sini. Rupanya petmintaanku dikabulkan Tuhan; karena pertemuan ini telah beberapa lama aku pohonkan.
Sangat ingin hatiku hendak ber- jumpa dengan engkau, sebab adalah sesuatu yang hendak ku- minta kepadamu."
"Permintaan apakah itu Mamanda, katakanlah! Jika ada pada hamba, tentulah hamba berikan," jawab Samsu.
"Pada sangkaku tiadalah berapa lama lagi aku hidup di atas dunia ini. Sekalian gerak dan tanda-tanda telah datang kepadaku, memberi tahu, bahwa aku segera akan berpulang ke rahmatullah."
"Mamanda, janganlah berpikir sedemikian! Ingatlah Nurbaya!" kata Samsu dengan berlinang-linang air matanya. "Itulah yang menjadi alangan padaku; itulah yang menggoda pikiranku.
Bila aku tak ada dalam dunia ini, menjadilah Nurbaya seorang anak yatim piatu, yang tidak beribu-bapa dan sunyi pula daripada segala sanak saudara kaum keluarga. Bagaimanakah halnya kelak, sepeninggalku; sebatangkara di atas dunia ini?
Siapakah yang akin menolongnya dalam segala kesusahannya, dan siapakah yang akan menunjuk mengajarnya dalam kesalahannya?
Karena maklumlah engkau, umurnya baru setahun jagung belum tahu hidup sendiri, belum tahu kejahatan dunia dan belum merasai azab sengsara yang sebenar-benarnya.
Lain daripada itu, dunia ini penuh pula dengan ranjau godaan, kelaliman, tipu daya, hasud khasumat, sombong angkuh dan dengki khianat.
Apabila tiada berhati-hati dan tak dapat menghindarkan diri daripada sekalian kejahatan itu, niscaya terperosoklah kita ke dalamnya dan binasalah badan. Pada sebilang waktu, dalam segala tempat, dapat kita bertemu dengan bahaya ini.
Di daratan, di lautan, di udara, di dalam tanah, di dalam rumah, di tengah jalan, di dalam hutan, di tengah padang, tidaklah luput kita daripada mara bahaya itu.
Sementara duduk, sementara berjalan, tidur, minum dan makan, berkata-kata, melihat, mendengar, mencium dan lain-lain sebagainya, dapat bertemu dengan dia. Sesungguhnya, Samsu, tak mudah hidup di dunia ini.
Itulah jembatan siratalmustakim yang halusnya lebih daripada rambut dibelah tujuh.
Tak mudah minitinya. Kebanyakan orang jatuh, masuk ke dalam api neraka yang menyala di bawahnya.
Hanya mereka yang berhati-hati dalam segala pekerjaannya dengan memper- gunakan pikiran yang sempurna, mereka yang berhati suci dan lurus, serta sabar dan tawakal, itulah yang acap kali selamat sampai ke seberang.
Demikianlah susahnya, jika hendak hidup dengan baik di atas dunia ini, apalagi bagi orang sebatangkara. Telah kurasa sendiri, Samsu, tatkala aku masih kecil.
Itulah sebabnya pada kebanyakan orang, dunia neraka jahanam, per- hubungan seribu-ribu tali kesukaan dan kesaktian, yang tidak berkeputusan: patah tumbuh, hilang berganti, dari awal sampai akhir.
Yang agak mujur sedikit pun, bertukar-tukar pula untungnya, sekali ke bawah sekali ke atas; berputar sebagai roda yang berpusing. Hanya beberapa orang, saja yang mendapat surganya di atas dunia ini.
Berilah aku beberapa buah anggur lagi! Karena lemah rasanya badanku, berkata-kata ini."
Dengan segera Samsu memberikan buah anggur kepada ayah Nurbaya. Setelah buah itu dimakannya beberapa butir, di- sambungnya perkataannya tadi. "Oleh sebab kuketahui dan kurasai sendiri sekaliannya itu, bertambah-tambah khawatirlah hatiku meninggalkan Nurbaya.
Sedangkan bagi laki-laki, telah sekian susahnya, istimewa pula bagi perempuan yang bersifat: lemah dan yang dipandang oleh bangsa kita rendah derajatnya daripada derajat laki-laki; sedang bagi kebanyakan kaum Muslimin hampir tiada berharga, hampir sama dengan sahaya.
Bagaimanakah untungnya kelak? Bingung hatiku memikirkan hal itu. Akan tetapi, apa yang hendak kukatakan, karena ajal, untung, dan pertemuan itu tak dapat ditentukan.
Oleh sebab di atas dunia ini tak ada yang lain, melainkan engkaulah anakku yang kedua, engkaulah saudara Nurbaya, kupintalah kepadamu, dengan sebesar-besar pinta, supaya sudi- lah kiranya engkau menolong dan membantu saudaramu yang piatu ini kelak, di dalam segala halnya.
Janganlah kausia-siakan dan kaubuang-buang ia dan sudilah engkau menjadi ibu- bapanya! Janganlah engkau menaruh dendam dan sakit hati sebab ia telah menjadi istri Datuk Meringgih!
Engkau maklum, Samsu, perkawinannya itu tiada dengan sesuka hatinya dan tidak dengan sesuka hatiku, melainkan semata-mata karena takdir daripada Tuhan Yang Masa Esa juga, tak dapat diubah lagi.
Walaupun aku dan ia lebih suka mati daripada berbuat sedemikian, akan tetapi apalah kuasa kami, akan membantah kehendak Tuhan ini!
Bukan kesalahan Nurbaya, bukan kesalahanku dan bukan kesalahan siapa pun maka terjadi hal ini, melainkan semata-mata telah nasib Nurbaya yang sedemikian itu."
Ketika itu berhentilah Baginda Sulaiman sejurus berkata-kata sebagai hendak menantikan jawaban dari Samsu, tetapi karena Samsu berdiam diri, lalu diulangnya pertanyaannya, "Sudikah engkau mengabulkan permintaanku itu?"
"Masakan hamba tak sudi," jawab Samsu. "Perkara itu janganlah Mamanda khawatirkan; walau bagaimana sekalipun, Nurbaya tinggal adik hamba, dunia dan akhirat; tak boleli hamba buang atau hamba hilangkan dari dalam hati hamba.
Berjanjilah hamba dengan bersaksikan Tuhan dan rasul-Nya, selagi hamba hidup, tiadalah akan hamba sia-siakan Nurbaya."
Maka dipeganglah tangan Samsu oleh Baginda Sulaiman dengan kedua belah tangannya, lalu diletakkannya di atas dada- nya dan dipejamkannya matanya sejurus, sambil berkata dengan lapang bunyi suaranya, "Terima kasih!"
...Tatkala itu tiba-tiba masuklah Nurbaya ke dalam bilik itu....
Sesungguhnya Nurbaya telah lama datang, karena dipanggil oleh ayahnya. Akan tetapi ketika didengarnya suara Samsulbahri dalam bilik ayahnya, tiadalah tahu apa yang hendak dibuatnya.
Walaupun hatinya sangat ingin hendak masuk melihat ayahnya, tetapi malu dan takut rasanya ia akan bertemu dengan Samsul- bahri. Dalam hal yang demikian bingunglah ia, lalu berdiri seketika, di luar bilik ayahnya, dengan hati yang berdebar-debar.
__ADS_1
Setelah didengarnya janji Samsu kepada ayahnya, barulah hilang bingungnya, bertukar dengan sukacita yang sangat, karena sekarang diketahuinyalah bahwa hati kekasih dan saudaranya ini; tiada berubah kepadanya. Itulah sebabnya, maka berani.ia masuk, menemui ayahnya dan Samsu.
Ketika Samsu memandang muka Nurbaya, dengan se- konyong-konyong terbukalah mulutnya, tiada berkata-kata. Hati- nya suka bercampur duka. Suka karena bertemu dengan kekasih- nya ini, duka. karena mengenangkan pengharapannya yang telah putus.... Dilihatnya rupa Nurbaya sungguh sangat berubah dari dahulu, tatkala ditinggalkannya.
Badannya yang tinggi lampai dan lemah gcmulai itu menjadi kurus, mukanya yang putih kuning sertaa kemerah-merahan, bila kepanasan, menjadi pucat; matanya yang jernih itu menjadi pudar, dikelilingi oleh suatu lingkaran hitam yang dalam; pipinya seakan-akan cekung, rambutnya kusut, sebagaia tiada diindahkannya benar-benar.
Sekaliannya rnenyatakan kedukaan dan kesakitan hati yang tiada terhingga. Sangatlah sedih hati Samsu melihat hal kekasihnya sedemikian itu; sehingga tiada dapat ia berkata-kata, untuk pengeluarkan perasaan hatinya.
Tatkala terpandang oleh Nurbaya Samsu, pura-pura terperanjatlah ia, lalu, berkata dengann riang rupanya, "Engkau ada di sini, Sam! Apa kabar? Bila datang?." lalu didekatinya kekasihnya dan dijabatnya tangannya.
"Tadi, dengan kapal yang baru masuk," sahut Samsu, sambil menjabat tangan Nurbaya. "Tatkala aku sampai ke rumah, aku dengar mamanda sakit; itulah sebabnya segera aku datang kemari. Apa kabar dirimu sendiri?"
"Sebagai engkau lihat," jawab Nurbaya. "Sekaliannya bukan menyatakan kesenangan. Akan tetapi nantilah kuceritakan lebih panjang tentang hal ini."
Kemudian didekati Nurbaya ayahnya, lalu berkata, "Ayah, apa kabar? Bagaimana perasaan Ayah sekarang? Dan apakah aral, maka di suruh datang ananda ini?"
"Hampir padaku dan duduklah engkau di sini! Ada suatu yang penting, yang hendak kuceritakan kepadamu."
Setelah hampirlah Nurbaya kepada ayahnya, berkata Baginda Sulaiman.
"Anakku Nurbaya! Ketahuilah olehmu, aku ini sesungguhnya telah lama sakit, tetapi tiada kuperlihatkan kepadamu, melainkan kutahan seboleh-bolehnya, supaya kesakitanku ini jangan pula sampai menambahkan kedukaan hatimu.
Aku ini telah tua, perjalananku dalam dunia ini tiada mendaki lagi, melainkan menurunlah, ke tempatku yang kekal, tempat aku akan beristirahat selama-lamanya.
Dari yang tak ada aku akan diadakan, dari kecil menjadi besar, setelah besar menjadi tua dan bila telah tua, berbaliklah aku kembali kepada asalku. Demikianlah perjalanan segala yang bernyawa di atas dunia ini; tak ada simpang yang lain dan tak dipat pula diubah.
Segala yang hidup akan matilah juga pada akhirnya, dan segala yang ada akan bertukar-tukar juga romannya.
Walaupun hal itu biasanya tiada diingat orang atau tiada sempat dipikirkan, karena dirintang kesukaan atau kedukaan dan karena pikiran yang sedemikian pada kebanyakan orang mendatangkan ngeri dan takut, sebab kematian adalah sesuatu yang gaib, akan tetapi sekaliannya itu tiadalah akan mengubah perjalanan alarn ini.
Sesungguhpun ingatan kepada mati men- datangkan dahsyat di dalam hati, tetapi janganlah dihilangkan benar-benar pikiran ini, melainkan harulah diinsyafkan juga, bahwa maut itu, pada suatu ketika akan datang juga, supaya janganlah kita bersangka, akan hidup selama-lamanya dan dapat kekal bercampur gaul dengan sekalian yang ada ini.
Dengan demikian, bila datang waktunya kelak, kita akan menlnggalkan dunia ini pula, bercerai daripada segala yang dikasihi dan disayangi, tiadalah kita akan sangat terkejut dan hilang akal; karena inilah yang acap kali menyesatkan perjalanan yang pergi dan merusakkan badan dan pikiran yang tinggal; sebab menyesal dan merindu, serta bersedih bersusah hati dengan amat sangat.
Aku maklum, bercerai dengan segala yang telah mengikat hati, tak mudah; istimewa pula bila perceraian itu perpisahan yang akhir, bercerai tiada akan bertemu lagi, pada sangka setengah orang. Tetapi janganlah lupa, bahwa sekaliannya itu memanglah seharusnya demikian.
Walaupun suka atau tak suka, riang ataupun duka, takut atau berani, menyerah atau mem- bantah, bila ajal itu telah datang, tak akan dapat dihindarkan lagi, melainkan harus diterima dengan menyerah, tulus dan ikhlas. Apakah kekuasaan kita, insan yang hina dan daif ini? Tak ada.
Sungguhpun ada di antara orang yang sombong dan angkuh, yang membesarkan dirinya atas kepandaian, kekayaan, bangsa atau pangkatnya yang tinggi, akan tetapi berapakah kekuasaan mereka, jika dibandingkan dengan kekuasaan alam ini?
Adalah sebagai setitik air dengan lautan sedunia ini; barangkali tak sampai pula sedemikian.
Tentang kepandaian, aku akui, banyak yang telah diketahui orang, agaknya berjuta-juta kali lipat ganda daripada itu.
Barangkali engkau tiada percaya akan perkataanku ini, oleh sebab itu marilah tanyakan kepadamu suatu hal yang mudah saja: manakah yang terlebih dahulu ada, ayamkah atau telurkah? Tanyakanlah kepada orang pandai-pandai, siapakah dapat memberi keterangan itu?
Tentang kekayaan yang besar dan pangkat yang tinggi itu, janganlah aku ceritakan lagi; banyak contoh yang telah kaulihat dan kaudengar sendiri. Walau sebagaimana pun kekayaan dan tinggi pangkat, manusia itu, jika dengan kehendak Tuhan, dalam sekejap mata hilanglah ia.
Bangsa yang tinggi, tak boleh menjadi alasan kesombongan, karena ketinggian itu sebab ditinggikan dan kerendahan itu sebab direndahkan orang. Jika tak ada yang meninggikan dan mcrendahkan, tentulah sama rata sekaliannya. Dan siapakah yang meninggi dan merendahkan itu?
Hanya manusia jua. Bukankah sekalian manusia itu asalnya dari nabi Adam dan Sitti Hawa? Bagaimana boleh bertinggi berendah dan berlain-lain, apabila asalnya sama? Bukannya hendak kusama- kan saja sekalian rnanusia itu, tidak.
Ada juga perbedaannya; tetapi bukan kebangsawanannya, melainkan derajatnyalah yang tiada sama. Sungguhpun demikian derajat itu pun karunia Tuhan jua. Apa gunanya menyombongkan dengan pemberian orang?
Kelebihan yang diperoleh sendiri pun, sebagai ilmu kepandaian, tak boleh juga disombongkan, sebab sekalian orang dapat mem- peroleh ilmu dan kcpandaian, asal ada untung nasibnya akan beroleh anugerah itu.
Ya, Nur! Jika aku tiada letih, tentulah akan kuuraikan sekaliannya, karena banyak lagi yang harus kauketahui. Akan tetapi, supaya jangan terlalu panjang ceritaku ini, baiklah aku kembali kepada maksudku tadi."
Setelah berhenti beberapa lamanya, berkata pula Baginda Sulaiman perlahan-lahan.
"Oleh sebab itu, bukankah lebih baik dalam hal yang telah kuceritakan tadi, jangan terlalu berawan hati melainkan diperbanyak juga sabar dan tawakal kepada Tuhan Yang Maha Esa, dengan menyerah dan berdoa, supaya yang berjalan dan yang tinggal pun dipelihara juga.
Aku ceritakan hal itu kepadamu, karena penyakitku ini rupanya kian hari kian bertambah. Siapa tahu, kalau-kalau besok lusa harus meninggalkan engkau."
Mendengar perkataan ini, menjeritlah Nurbaya, menangis tersedu-sedu, memeluk dan mencium ayahnya, sambil berkata, "Ayah, janganlah pergi, tinggallah bersama-sama ananda! Bila Ayahanda akan pergi juga, bawalah ananda sekali; jangan ditinggalkan seorang diri di atas dunia ini!
Siapakah kelak yang akan sudi menolong ananda, sebagai Ayahanda? Ke manakah tempat bertanya dan siapakah tempat meminta? Jika sakit, siapakah yang mengobat dan menjaga? Jika susah, siapakah yang akan melipur hati ananda ini?
Aduh, menjadilah yatim piatu, sebatang kara, ananda di atas dunia ini! Tiada beribu, tiada berbapa, dan tiada bersaudara pula. Ya Allah, bagaimanakah hal hamba Mu kelak, bila Ayah hamba tak ada lagi?"
Demikian bunyi tangis Nurbaya di dada ayahnya.
"Jangan menangis, Nur!" kata Baginda Sulaiman membujuk anaknya. "Sekalian itu belum tentu. Harapan dan ucapanku siang dan malam, lamalah juga hendaknya kita dapat bercampur gaul.
Kukatakan hal itu kepadamu; supaya engkau ingat dan jangan terlalu terperanjat, bila datang waktunya; karena walau bagaimana sekalipun, waktu itu niscaya akan datang juga; tidak sekarang, tentulah nanti. Akan hidup selama-lainanya, tentu tak dapat.
Nyawa itu dalam tangan Allah; jika dikehendakinya, bila saja, niscaya melayanglah ia dalam sekejap mata. Selagi aku dapat betkata-kata, wajib bagiku, untuk memberi ingat engkau, supaya jangan menjadi sesalan bagiku kelak.
Memang sedih hatiku mengenangkan halku. sekarang ini. Bila aku berpulang dewasa ini, tak adalah apa-apa yang dapat kutinggalkan padamu, lain daripada cinta dan doaku; karena sekalian hartaku tak ada lagi. Tetapi janganlah engkau khawatir dan putus asa!
Serahkanlah untungmu kepada Rabbul-alamin! Dialah yang akan memelihara engkau. Dialah yang akan menolong dan mengasihani engkau, lebih daripada aku. Jangankan manusia, sedangkan ulat dalam lubang batu sekali- pun, dipeliharakan dan diberinya rezeki.
Oleh sebab itu, jangan- lah hilang akal, melainkan pintalah siang dan malam kepada Yang Maha Kuasa, supaya engkau dipeliharakan-Nya juga, di dalam segala halmu. Kemudian janganlah pula lupa akan Samsu ini!
Walaupun ia bukan saudaramu sejati, tetapi ia lebih daripada saudara kandungmu. Lagi pula ia telah berjanji kepadaku akan setia kepadamu; di dunia dan akhirat."
"Sungguhkah demikian, Sam?" tanya Nurbaya dengan segera, seraya memegang kedua belah tangan anak muda ini sambil menentang mukanya. "Tak dapat kukatakan, betapa besarnya hatiku mendengar perkataan ayahku tadi. Sungguhkah tiada berubah hatimu kepadaku?"
"Sungguh, Nur," jawab Samsu. "Apa sebabnya hatiku akan berubah kepadamu? Atas halmu pada waktu ini, tak boleh aku berkecil hati, karena sekaliannya itu bukan kesalahanmu, melain- kan gerak daripada Tuhan juga.
Seharusnya, karena engkau telah ditimpa bahaya sedemikian itu, bertambah-tambah kasih sayangku kepadamu, karena pertolongan dan belaku atas dirimu pada waktu engkau dalam kesusahan ini, gkan amat berharga. Janganlah engkau syak wasangka kepadaku!
Walau bagaimana sekalipun, engkau tinggal adikku, tak dapat dan tak boleh kubuang-buang. Tali yang telah memperhubungkan aku dengan engkau, telah tersimpul mati, tak dapat diungkai lagi.
Dagingmu telah menjadi dagingku, darahmu telah menjadi darahku; siapa dapat menceraikan kita?"
"Aku banyak meminta terima kasih kepadamu, Samsu! Hanya Allah yang mengetahui betapa sanangnya hatiku, men- dengar perkataanmu dan Dialah juga yang dapat membalas kebaikanmu itu."
Tatkala ia berkata-kita sedemikian itu, tak dapatlah ditahan oleh Nurbaya air matanya, yang telah berlinang-linang, jatuh berderai ke tikar, sebagai manik putus talinya.
"Apabila aku tak ada lagi," kata Baginda Sulaiman pula, "lebih berhati-hatilah engkau menjaga diri, pandai-pandai memeliharakan badan; berkata di bawah-bawah*), mandi di hilir-hilir, sebagai kata peribahasa.
Karena sesungguhnya, bahasa itulah yang menunjukkan bangsa, istimewa pula, karena sekalian manusia yang baik, lebih suka kepada budi bahasa yang manis, perkataan yang lemah-lembut daripada tingkah laku yang kasar, perkataan yang tiada senonoh.
Dengan kelakuan yang baik, lebih banyak kita akan beroleh maksud kita dan lebih banyak pula kita mendapat pertolongan, daripada dengan paksaari dan kekerasan. Jika hendak mulia, hinakan diri.
Sebab kemuliaan dan kehinaan itu bukan datang dari kita sendiri, melainkan dari orang lain. Apakah salahnya merendahkan diri? Tak hilang pangkat dan bangsa; karena hati dan perkataan yang rendah. Tak mati ular menyusup akar, kata pepatah kita.
Perkataan yang rendah, budi bahasa yang manis, tidak menjadi salah, bahkan acap kali mem- bawa kita ke tempat yang tinggi. Kebalikannya, perkataan yang tinggi, sifat yang gaduk, mendatangkan kebencian.
__ADS_1
Jika pergi ke negeri orang, haruslah air orang disauk**) dan ranting orang dipatah, artinya jangan membawa aturan sendiri, melainkan adat