
Kelakuan pun senantiasa berubah pula.
Bila hamil telah enam bulan, perut bertambah-tambah besar dan mulai berat, sehingga susah berjalan, berdiri, bekerja, ber- henti, duduk, dan tidur. Pantangan bertambah-tambah banyak.
Ada makanan yang tak boleh dimakan, banyak pekerjaan yang tak boleh dikerjakan, pendengaran yang tak boleh didengar dan penglihatan yang tak boleh dilihat.
Tatkala anak hampir dilahirkan, tak dapatlah berbuat apa-apa lagi, karena perut makin lama makin besar dan makin berat, tetapi duduk selalu pun tak baik pula, karena susah kelak melahirkan anak kata orang. Berjalan ke luar rumah, malu, takut dikatakan tukang tambur.
Bila laki-laki disuruh mendukung anaknya sejam saja, lelah- lah ia katanya; tetapi perempuan sembilan bulan lamanya; ter- kadang-kadang lebih lama pula, tiada berhenti-henti siang malam, pada segala tempat, mengandung anak dan sesudah itu beberapa tahun pula mendukungnya, perempuan itu tiada botch mengatakan lelah.
Bila waktu akan melahirkan anak telah datang, tak dapatlah dikatakan perasaan diri kesakitan yang ditanggung. Alam dan dunia rasakan lenyap, pikiran benar menjadi hilang, bertukar dengan ketakutan dan was-was.
Sakit pun tiada terderita, seluruh badan rasakan hancur, pemandangan menjadi gelap, perasaan tiada tentu. Bila susah bersalin itu, karena sesuatu hal, acap kali membawa kita ke pintu kubur, jika tiada lekas dapat pertolongan.
Walaupun mendapat pertolongan sekalipun, dari dukun atau dokter yang pandai, acap kali terlalu sakit juga, karena terkadang-kadang dengan kekerasan. Ada yang dipotong, di- bedah dan dijahit, sekaliannya boleh mendatangkan cacat dan penyakit seumur hidup.
Apabila anak itu telah lahir ke dunia, beberapa lamanya perempuan itu harus tidur diam-diam, tak botch bergerak-gerak, serta harus pula memakan bermacam-macam obat yang kurang sedap rasanya, supaya lekas sembuh.
Ada kalanya penyakit itu lama maka baik, padahal dalam waktu itu kita telah harus men- jaga dan menyusukan anak, karena kurang baik jika anak itu di- beri susu lembu.
Bila kita telah sernbuh, tiadalah pula dapat melepaskan lelah barang sedikit pun, sebab kewajiban yang lain telah menanti, yaitu menjaga, memelihara dan membesarkan anak itu.
Tak tentu susah, tak tentu payah, tak tahu siang dan tak tahu malam; karena makanannya harus diberi dan dijaga, pakaiannya harus dibuat dan dibersihkan. lika menangis harus dibujuk dan di- dukung, jika mengantuk harus ditidurkan dan diayunkan.
Kalau ia sakit, berjam-jam lamanya didukung dan dinyanyikan; siang malam tak dapat tidur atau mengerjakan apa-apa yang lain, karena berjaga-jaga.
Bila anak ini telah besar sedikit, permainan harus diadakan belanja harus diberi dan ia harus dididik pula dengan sempurna, supaya ia kelak menjadi orang yang baik.
Belum selesai pekerjaan ini tanggungan yang baru sudah datang pula, karena anak yang kedua telah dikandung. Tatkala anak ini telah besar, harus disekolahkan dan kemudian dikawin- kan. Anak perempuan, sesudah kawin pun masih ditolong oleh ibunya."
"Sesungguhnya demikian hal perempuan bangsa kita," jawab Alimah. "Betul aku sendiri belum merasai beranak, tetapi aku acap kali bercakap-cakap dengan perempuan yang telah beranak dan menolong mereka. Oleh sebab itu kuketahui perasaan dan penanggungan mereka."
"Dan adakah selamanya baik balasan anak itu kepada ibunya?" kata Nurbaya pula. "Lebih-lebiht anak laki-laki acap kali tak tahu membalas guna. Terkadang-kadang, air susu ibunya dibalasnya dengan air racun. Bila ia telah beristri, tiadalah di- indahkannya lagi ibunya.
Ada pula yang tiada hendak mengaku ibu lagi kepada makiiya, karena ia telah kaya atau berpangkat tinggi malu beribukan perempuan yang biasa saja atau perempuan yang bodoh. Dan ada pula yang memusuhi sampai memukul dan menyiksa ibunya sendiri.
"Memang anak laki-laki yang acap kali berbuat begitu; anak perempuan jarang," sahut Alimah. '
"Boleh jadi sebab angkuhnya juga. Walaupurt asalnya dari ibunya, tetapi pada sangkanya, ibunya itu hina, sebab ia bangsa perempuan," kata Nurbaya seraya mengangkat kepalanya.
Setelah sejurus terhenti, berkata pula ia, "Hal yang kedua, yang menyebabkan kita lebih lemah dan lebih kurang tajam pikiran kita daripada laki-laki, ialah pemeliharaan, pekerjaan dan kewajiban kita.
Tentang pemeliharaan kita, sejak kita mulai pandai berjalan, sampai berumur enarn tujuh tahun sajalah kita boleh dikatakan bebas sedikit; boleh berjalan-jalan ke sana kemari; boleh bermain-main ke luar rumah.
Itulah waktu yang sangat mulia bagi kita, waktu kita berbesar hati, waktu kita merasa bebas. Sudah itu sampai kepada hari tua kita, tiadalah lain kehidupan kita melainkan dari rumah ke dapur dan dari dapur kembali pula ke rumah.
Apabila telah berumur tujuh delapan tahun, mulailah dikurung sebagai burung, tiada diberi melihat langit dan bumi, sehingga tiadalah tahu apa yang terjadi sekeliling kita. Sedangkan pakaian dun makanan, tiada diindahkan, apalagi kehendak dan kesukaan hati.
Sementara itu kita disuruh belajar memasak, menjahit, menjaga rumah tangga, sekaliannya pekerjaan yang tiada dapat menambah kekuatan dan menajam- kan pikiran.
Tetapi anak laki-laki waktu itu, lain daripada disuruh ke sekolah dan ke langgar, disuruli pula belajar menari, memencak, berenang, berkuda dan lain-lainnya, untuk menguatkan tubuh dan menajamkan pikirannya.
Jadi sekalian pelajaran dan pekerjaan itu pada laki-laki selalu menambah kemauan, kekuatan dan menajamkan pikirannya sedang pada perempuan melemah- kan tubuhnya dun tiada berapa menambah kepandaiannya.
Jadi pekerjaan dan kewajiban kita pula, ialah mengandung dan menyusukan anak; kepada anak, memelihara, membesarkan dan mengajari dia; kepada suami, menjaga rumah tangga meng- atur makanan, pakaian dan lain-lainnya dan kepada ibu-bapa serta kaum keluarga menurut sebarang kehendaknya.
Sekalian itupun tiada pula menambah kekuatan dan akal kita, sebagai pada laki-laki.
Pekerjaan, pemeliharaan dan kewajiban ini, bukan kita yang menghendaki; kita terpaksa harus menjauhkannya. Dan untuk siapa? Untuk laki-laki dengan anaknya. Demikian pula tentang sifat-sifat perempuan itu, bukan ia yang memintanya.
Adalah patut laki-laki menghinakan dia, sebab kita beroleh sifat-sifat ini?
Pada pikiranku, tentang kemauan dan akal itu, bila kita perempuan diberi pelajaran, pemeliharaan, makanan, pendeknya sekaliannya sama benar-benar dengan laki-laki, tentulah kita tak akan kalah dari laki-laki."
"Pikiranku pun demikian juga, Nur," jawab Alimah. "Perbedaan itu adanya, hanya karena berlainan pemeliharaan, pelajaran, kewajiban dan lain-lainnya."
"Sungguhpun begitu, banyak juga yang asalnya dari kesalahan perempuan sendiri, maksudku kesalahan ibu. Karena kurang pikirannya, banyak perbuatannya yang tidak baik.
Misal- nya dilarangnya anak perempuannya pergi ke sekolah, sebab takut anak itu menjadi jahat, karena pandai membaca dan menulis, sehingga memberi malu.
Pikiranku persangkaan ini salah benar; karena hal itu, bergantung kepada, hati, serta tabiat kelakuannya dan pelajaran yang diperolehnya.
Bila cukup kepandaian, luas pemandangan dan jauh pendengarannya, hingga tahu ia membedakan yang baik dengan yang jahat, artinya dapat ia menimbang buruk dan baik perbuatannya, tentulah tiada mudah ia terjerumus ke dalam lubang godaan laki-laki.
Di mana diperolehnya ilmu-ilmu itu, kalau tiada di sekolah?
Sebab itu, haruslah perempuan itu terpelajar, supaya terjauh ia daripada bahaya, dan terpelihara anak suaminya dengan sepertinya. Tentu saja kepandaiannya itu dapat juga diper- gunakannya untuk kejahatan. Itulah sebabnya perlu hati yang baik dan pikiran sempurna.
Bila perempuan itu memang tiada baik tabiatnya atau sebab salah ajarannya, walaupun ia tak ber- kepandaian sekolah sekalipun, dapat juga ia berbuat pekerjaan jahat. Tak adalah perempuan jahat, pada bangsa yang masih bodoh?"
"Jika dipikir dalam-dalam, nyatalah kita perempuan ini, diperbuat sebagai anak tiri dan laki-laki sebagai anak kandung, sebab sangat diperbedakan. Dan perempuan tiada pula diberi tempat bergantung." kata Alimah.
"Memang," jawab Nurbaya, "dari Tuhan kita telah mendapat alangan yaitu dalam hal mengandung dan menjaga anak, sehingga tiada dapat melawan laki-laki, tentang apa pun; oleh agama tiada pula disamakan dengan laki-laki, sebab laki-laki diizinkan beristri sampai ernpat, tetapi perempuan, ke luar rumah pun tak boleh; oleh suami dihina dan disia-siakan dan oleh ibu bapa serta kaum kerabat, dipaksa menwut segala kehendak hati mereka.
Bangsa dan negeri pun tiada pula hendak menolong." Di situ terhentilah Nurbaya berkata-kata, termenung memikirkan hal dan nasib bangsanya perempuan.
"Ya seadil-adilnya, tentulah perempuan boleh pula bersuami dua tiga, kalau laki-laki boleh beristri banyak," kata Alimah. "Apa, perempuan bersuami banyak. Sedangkan melihat muka laki-laki lain; tak boleh.
Jika hendak ke luar rumah, haruslah ditutup muka rapat-rapat, begitu pula bagian badan yang lain- lain. Sudah demikian, talak diserahkan pula kepada si laki-laki. Mengapakah begitu? Mengapa laki-laki saja yang boleh men- ceraikan dan mengawini perempuan, sesuka hatinya?
Apakah sebabnya maka perempuan tiada boleh berbuat begitu pula? Perempuan sajakah yang boleh berbuat kesalahan dan menerima hukuman dari laki-laki? Tiadakah laki-laki itu boleh pula berbuat kesalahan kepada istrinya?
Apabila dikatakan kelaliman ini kepada laki-laki, tentulah mereka akan gelak tersenyum saja, karena pada sangkanya, itulah yang seadil-adilnya. Bukankah laki-laki itu tuan perempuan, dan perempuan itu hamba laki-laki?
Tentu saja mereka boleh berbuat sekehendak, hatinya kepada kita; disiksa, dipukul dan didera dengan tiada diberi belanja yang cukup dan rumah tangga yang baik; tiada pula dilepaskan hati kita, tiada diberi melihat permainan apa pun, yang boleh menyenangkan hati dan meuambalt penglihatan dan tiada diizinkan pula men- dengar bunyi-bunyian yang menghilangkan kesusahan.
Jika salah sedikit, karena belum tahu, bukan pelajaran atau peringatan yang diperoleh, hanya maki dan nistalah yang diterima; ada kalanya disertai pula oleh pukul dan terjang. Jika terlambat menyediakan makanan atau pakaian, perkataan yang hina tentulah kedengaran.
Menjawab, sekali-kali tak boleh; apa yang terasa di hati tak boleh dikeluarkan, harus disimpan saja dalam dada. Kalau berani melawan, tentulah akan diusir sebagai anjing.
Jika lekas diceraikan, sudahlah, tetapi acip kali, digantung tak bertali; tiada dan tiada pula dipulang-pulangi*) sehingga segala maksud, jadi terhalang."
"Sungguhpun demikian, penanggungan itu belumlah seberapa, jika dibandingkan dengan penanggungan dipermadu- kan," kata Alimah. "Aku lebih suka dipukul, dikurung atau dihinakan, daripada dipermadukan."
"Tentu," jawab Nurbaya, "itulah sebabnya agaknya, engkau sampai bercerai dengan suamimu."
"Memang," kata Alimah.
"Cobalah ceritakan, bagaimana asalnya perceraian itu!" kata Nurbaya pula.
"Asal mulanya, ialah asutan perempuannya dan maknya. Kata mereka, aku yang mengasut suamiku, supaya ia benci kepada mereka, sebab selama ia kawin dengan aku, mereka tiada dapat berbelanja dari suamiku. Tetapi aku, sekali-kali tiada ber- buat demikian.
Hanya ada aku minta kepada suamiku, supaya
*) dikunjung-kunjungi
belanja rumah setiap hari, jangan sampai kurang, sebab orang tuaku bukan hartawan. Mendengar permintaanku ini, diberikan- nya segala pendapatannya kepadaku. Dari uang itu, aku berikan kepada ibunya sepuluh rupiah dan saudaranya lima belas rupiah sebulan.
Pada sangkaku, jika sekedar makan, cukuplah belanja sekian itu. Tetapi rupanya kemauan mereka, sekalian pendapatan suamiku harus diberikan kepada mereka, sebagai tatkala suamiku belum kawin dengan aku.
Mana boleh jadi, sebab orang telah bertambah, rumah telah dua.
Bukanlah telah diketahuinya, sebelum kami kawin, ayahku bukan orang yang mampu; jadi tak dapat menerirna suamiku, sebagai menerima anak-anak bangsawan di Padang ini; segala disediakan dan diadakan, tinggal pulang saja lagi. Lagi pula, suamiku bukan seorang yang berbangsa tingki.
Meskipun demikian, mula-mula ia hendak dijemput juga. Akan tetapi tatkala ayahku, berkata, ia tiada beruang, sudilah ia sebagai biasa, suka sama suka saja.
Sesungguhnya perkawinan itu, atas kemauan mentua dan ipar perempuanku itulah. Tetapi tatkala dilihat mereka, pemberian suamiku berkurang kepadanya, bencilah mereka kepadaku dan bibujuknyalah suamiku, supaya menceraikan aku.
__ADS_1
Setelah dilihat mereka, suamiku tak mau saja menurut asutan mereka dicarinyalah dukun ke sana kemari, supaya suamiku benci kepadaku dan aku diceraikannya. Kabarnya mereka sampai berniat hendak mengerjakan aku, supaya aku menjadi gila atau mati.
Tatkala maksudnya yang jahat ini, dengan jalan demikian, tak sampai pula, dikawinkannyalah suamiku dengan seorang perempuan hartawan. Ketika aku mendengar kabar ini, tak dapatlah kurencanakan, bagaimana rasa hatiku; marah, sedih, benci bercampur baur tak tentu.
Mataku gelap, kepalaku pening, pendengaran hilang dan perasaan pun lenyap. Bibir dan sekujur badanku gemetar, hatiku berdebar-debar, rasakan belah, segala sendi anggota menjadi lemah, sehingga terjatuhlah aku ke tempat tidurku beberapa lama¬ya, tiada khabarkan diri.
Semalam-malam aku menangis, karena tak dapat menahan hati. Tatkala aku bertemu pula dengan suamiku adalah sebagai aku melihat binatang rasanya, aku melihat dia: benci dan marah, datang berganti-ganti. Segala kesukaan dan kasih sayangku kepadanya, tiada berasa lagi.
Jika tiada disabarkan oleh ibuku, niscaya kukenakanlah tanganku ke kepalanya; begitulah geram hatiku. Berapa kali aku minta bercerai, tetapi tiada dikabulkan- nya. Apa dayaku? Karena talak dalam tangannya.
Jika aku yang memegang talak tentulah tak sampai kulihat lagi mukanya, kujatuhkan talak ttga sekali.
Sejak waktu itu, tiadalah kuindahkan lagi dia, baik tentang makanannya atau pakaiannya; sebab hatiku telah berubah kepadanya, tiada lurus lagi. Jika ada laki-laki lain, yang menggodaku pada waktu itu, agaknya kuturutkan, karena sakit hatiku.
Hendak aku lari, takut, kalau-kalau digantungkan aku selama-lamanya; tiada diceraikan dan tidak pula dibelanjai.
Path suatu hari tatkala aku berjalan jalan dengan makku, pada, malarrtd hari di pasar Kampung Jawa, kelihatanlah olehku suamiku itu, sedang berjalan-jalan bersuka-sukaan, membeli apa- apa dengan maduku itu.
Ketika kulihat mereka itu, gelaplah mataku, tak tahu lagi, apa yang kuperbuat. Kata ibuku, aku terus memburu perempuan itu, lalu menghela rambut dan bajunya sambil memaki-makinya, sehingga berkelahilah kami di tengah~ orang banyak, bergumul dan bertarik-tarikkan rambut.
Setelah kami dipisahkan orang, kuberi malulah suamiku itu dengan perkataan yang keji-keji serta kukatakan ia bukan laki-laki, kalau tiada berani menceraikan daku. Ituiah sebabnya maka di pasar itu juga dijatuhkannya talak kepadaku.
Inilah akhirnya perkawinan yang telah menghabiskan beberapa biaya dan menimbulkan beberapa susah payah, di- sebabkan perkara pemaduan."
"Jadi berapa lamanya kau bercampur dengan suamimu itu?" tanya Nurbaya."
"Tak sampai setahun," jawab Alimah. "Sejak itu aku ber- sumpah, tiada hendak kawin lagi. Apakah gunanya kawin, jika untuk menyusahkan hati, merusakkan badan dan menghabiskan harta? Maksudku kawin helidak mendapat kesenangan dan menumpangkan diriku.
Jika tiadadapat yang sedemikian, lebih baik janda sebagai ini; bebas sebagai burung di udara, tiada siapa dapat mengalangi barang sesuatu maksudku."
..."Atau tinggal perawan selama-lamanya." kata Nurbaya....
"Itu tak boleh, karena terlalu aib, bagi kita; dikatakan tak laku, sebab ada cacat," jawab Alimah.
"Aib itu karena diaibkan. Akan tetapi jika telah banyak yang berbuat begitu, menjadi biasalah pula," kata Nurbaya.
"Barangkali," jawab Alimah.
Setelah Nurbaya termenung sejurus, berkata pula ia, seraya mengeluh, "Memang demikianlah nasib kita perempuan. Adakah akan berubah peraturan kita ini? Adakah kita akan dihargai oleh laki-laki, kelak?
Biar tak banyak, sekadar untuk yang perlu bagi kehidupan kita saja pun, cukuplah.
Aku tiada hendak meminta, supaya perempuan disamakan benar-benar dengan laki-laki dalam segala hal; tidak, karena aku mengerti juga, tentu tak boleh jadi.
Tetapi permintaanku, hendaknya laki-laki itu memandang perempuan, sebagai adiknya, jika tak mau ia memuliakan dan menghormati perempuannya, sebagai pada bangsa Eropa. Janganlah dipandangnya kita sebagai hamba atau suatu makhluk yang hina.
Biarlah perempuan menuntut ilmu yang berguna baginya, biarlah ia diizinkan melihat dan men- dengar segala ,yang boleh menambah pengetahuannya; biarlah ia boleh mengeluarkan perasaan hatinya dan buah pikirannya, supaya dapat bertukar-tukar pikiran, untuk menajamkan otaknya.
Dan berilah ia kuasa atas segala yang harus dikuasainya, agar jangan sama ia dengan boneka yang bernyawa saja.
Perkara rumah tangga, pada pikiranku boleh dimisalkan dengan sebuah negeri, yang diperintahi oleh dua orang wazir. Kedua wazir ini hampir sama besar kekuasaannya. Seorang wazir perkara dalam negeri, yaitu istri dan seorang pula wazir perkara luar negeri, yaitu suami.
Segala hal dalam negeri, yakni perkara rumah tangga, penjagaan anak, makanan, perkakas- perkakas dan lain-lainnya, harus dikuasai oleh istri. Oleh sebab itu harus perempuan faham dalarn segala hal-hal ini.
Perkara luar negeri, jadi perkara mencari penghidupan, pekerjaan, per- lindungan dan lain-lain, harus dikuasai oleh laki-laki; perempuan tak boleh campur dalam hal itu.
Di dalam segala perkara yang penting, yang mengenai kewajiban keduanya, tentulah kedua wazir itu boleh campur-mencampuri kewajiban masing-masing dan bermupakat kedua, supaya dapat yang sebaik-baiknya." "Tetapi siapakah yang menjadi raja?" tanya Alimah.
"Raja tak ada; segala sesuatu boleh dimupakatkan berdua, supaya bertambah-tambah baik negeri.
Jika hendak dilebihkan sedikit kekuasaan wazir luar negeri itu, biarlah, tak mengapa; sebab pahamnya lebih tua, lebih-lebih dalam memutuskan perkara yang sukar-sukar, asal jangan lupa ia, pangkatnya sesungguhnya sama dengan wazir dalam negeri dan janganlah ia sampai bersangka, bahwa ialah raja, jadi dapat berbuat se- kehendak hatinya kepada temannya itu.
Kedua mereka itu sebenarnya satu, hanya terjadi dari dua badan.
Wazir dalam negeri perlu dapat pertolongan dari wazir luar negeri, dan kebalikannya, wazir luar negeri harus pula dibantu oleh wazir dalam negeri, dalam pekerjaan dan kewajibannya; jadi tolong-menolonglah keduanya, dalam segala kesusahan dan kesenangan, sebagai kata pepatah: berat sama dipikul, ringan sama dijinjing.
Sekalian penghasilan laki-laki atau perempuan, tak boleh disembunyi-sembunyikan; baik dengan sebenar-benarnya dinyatakan, supaya dapat dikumpulkan jadi satu.
Dari jumlah hasil ini, diberikan sebagian kepada perempuan, untuk belanja rumah tangga, makanan dan lain-lain sebagainya; sebagian pula kepada laki-laki, untuk biaya di luar rumah. Jika ada kelebihan, simpanlah di atas nama berdua atau di atas nama anak.
Jika laki- laki kurang percaya kepada perempuan, sebetulnya tak boleh laki-laki demikian, sebab laki-istri itu harus percaya-mem- percayai dan harus berhati sama lurus lebih baik janganlah dicampurkan perkara keuangan itu.
Tetapi kalau misalnya pada sangka laki-laki, istrinya kurang pandai menjalankan uang belanja atau pada sangka si perempuan, suaminya sangat boros, tentulah mereka boleh campur-mencampuri tugas dalam perkara keuangan ini.
Lain daripada itu, haruslah masing-masing selalu mencari akal, untuk menyenangkan temannya dan selalu menjaga, supaya jangan sampai sakit menyakiti hati.
Jika tumbuh silang selisih, janganlah masing-masing hendak beraja di hati dan bersutan di mata sendiri-sendiri saja, karena jika demikian, menjadi kusutlah penghidupan.
Jika terbit marah, tahanlah hati, jangan ber¬kata- kata atau berbuat apa-apa melainkan dinginkanlah darah yang panas itu dahulu, supaya jangan berbuat atau mengatakan sesuatu, dalam marah; karena hal itu boleh mendatangkan sesal yang tak habis kemudian hari.
Kalau marah tak hendak hilang, bawalah tidur atau berjalan-jalan. Setelah habis marah dan pikiran yang baik timbul pula, bicarakanlah pertikaian itu dengan sabar bersama-sama, supaya mendapat kebenaran.
Tak jua dapat diputuskan, barulah dibawa kepada orang tua atau guru, minta diselesaikan; karena biasanya, mereka banyak mempunyai pendapat tentang hal ini. Kalau sudah demikian, tak dapat jua diselesaikan kekusutan itu baiklah bercerai keduanya. Apa boleh buat.
Daripada bercampur dalam neraka, lebih baik bercerai dalam surga. Tetapi bercerai itu hendaklah dengan baik, jangan sampai menaruh dendam kesumat. Tatkala kawin dengan baik, bercerai pun dengan baik pula. Siapa tahu, barangkali jodoh masih ada: jadi mudah kembali.
Biarpun telah habis sekalipun jodoh, apako gunanya bekas suami atau istri itu dipandang se,bagai musuh? Karena kita telah bercampur beberapa lamanya; menjadi satu dengan dia. Bukankah lebih baik ia dipandang sebagai saudara?
Sedangkan hewan yang telah dipelihara, lagi tak dapat dilupakan dalam sekejap mata, mengapakah manusia, yang terkadang-kadang telah terikat kepada kita dengan tali anak, diperbuat musuh?
Berselisih bermaki-makian, sampai terbuka rahasia yang penting-penting, berteriak-teriak, sampai gempar orang sebelah- menyebelah, berpukul-pukulan, sampai berluka-lukaan atau cara lain yang semacam itu bukan saja tak berguna, tetapi menyata- kan kita bukan orang yang betertib sopan dan tak tahu peraturan yang baik.
Lagi pula ia boleh mendatangkan, bahaya kepada badan sendiri. Bukankah lebih baik, kalau hendak berselisilr, masuk berdua ke dalam bilik, tutup pintu, lalu bicarakan atau keluarkan apa yang terasa dalam hati, perlahan-lahan, supaya jangan diketahui orang.
Apakah gunanya perselisilran kita, diperlihatkan kepada orang lain, yang tiada bersangkut paut dengan hal itu; apalagi karena tiada berapa lama sesudah itu, kita akaii berdamai pula?
Pada rasa hatiku, perkara yang sedemikian, masuk rahasia rumah tangga kita; tak ada faedahnya diketahui orang lain.
Lagi pula aib rasanya seperti kelakuan anak kecil, sebentar berkelahi, sebentar berbaik. Lihatlah anak-anak!
Tatkala berkelahi, bermaki-makian, berpukul-pukulan, seakan-akan hendak berbunuh-bunuhan rupanya, tetapi sejurus kemudian berbaik pula, bermain-main, bersama-sama, sebagai orang yang berkasih-kasihan.
Sedangkan pada anak-anak telah ganjil rasanya kelakuan yang sedemikian, istimewa pula pada orang yang telah cukup umurnya.
Perselisilian yang kecil-kecil, terkadang-kadang memang tak dapat dihindarkan. Tetapi tak mengapa; itulah tanda bercampur dua barang yang hidup. Sedangkan senduk dengan periuk, ada kalanya lagi berlaga, kata orang; apa pula manusia, yang pikirannya tiada selamanya tetap.
Dan acap kali perselisihan itu sebagai garam, menyedapkan makanan; sebab lebih besai perselisihan, lebih nikmat pula perdamaiannya."
Sedang mereka bercakap-cakap itu, kedengaranlah dari jauh, tukang jualan kue berteriak, "Eeee bipang, kue kerambil, kue kacang, wajik lemang, enak-enak eeeii! ... Eee bipang!"
"Hai, telah berapa kali aku dengar tukang kue itu berteriak- teriak; rupanya sudah ada pula orang berjual kue-kue, pada malam hari di sini," kata Nurbaya, yang telah mulai lelah ber- kata-kata sedang perutnya mulai merasa lapar pula.
"Benar rupanya; tetapi baru semalam ini kudengar suara itu. Biasanya tiada kemari jalannya, sebab di sini sunyi. Barangkali ia sesat," jawab Alimah.
"Mari kita panggil ia, Lim! Barangkali enak-enak kuenya," kata Nurbaya pula.
"Ah, apa gunanya? Jika engkau hendak makan kue-kue, di lemari ada, aku sediakan untuk jamu yang datang.
Aku sesungguhnya kurang suka makan kue-kue yang dibeli di jalan raya, sebab tak tahu, siapa yang membuatnya dan biasanya barang dagangan itu, tiada diindahkan amat memasaknya; terkadang-kadang kotor," jawab Alirnah.
"Ah, masakan kotor! Aku di kampung Jawa Dalam, acap kali membeli kue-kue itu dengan Samsu. Kami makan bersama-sama dalarn kebun: belum pernah kedapatan yang kotor. Alangkah senang hatinya, bila ia ada bersama-sama dengan kita sekarang ini!
Marilah kita beli, nanti bertambah-tambah jauh ia," kata Nurbaya seraya menarik tangan saudaranya, mengajaknya keluar, supaya dapat memanggil tukang kue itu.
"Bipang, bawa kemari!" seru Nurbaya.
Setelah hainpir tukang kue itu, bertanyalah Alimah, "Kue dari mana ini?"
__ADS_1
"Kue Mak Sati," jawab si penjual.
"Mak Sati di Kampung Jawa?" tanya Nurbaya.
"Saya," jawab tukang kue itu.
"Mengapa belum pernah kulihat engkau di Kampung Jawa?" tanya Nurbaya pula. "Tukang kuenya yang seorang lagi acap kali berjaja di Kampung Jawa Dalam. Aku kenal benar padanya Amat namanya, bukan?"
"Benar. la berjaja di Kampung Jawa Dalam, hamba di sini," jawab tukang kue itu.
"Tetapi apa sebabnya, baru sekarang ini, kudengar suaramu? Selama ini, di mana engkau?" tanya Alimah.
"Hamba baru datang dari Padang Darat," sahut tukang kue itu, sambil membuka tempat kuenya, akan memperlihatkan jualannya. "Sebab hamba belum dapat pekerjaan yang baik, menjadi tukang kuelah hamba sementara."
"Di mana negerimu," tanya Nurbaya, sambil memeriksa kue- kue itu.
"Di Payakumbuh," jawab tukang kue.
"Kue wajik ini tak ada yang baru?" tanya Nurbaya.
"Tak ada," jawab tukang kue. "Akan tetapi jika Orang Kaya suka makan lemang bergula, ada yang masih panas."
"Mana?" tanya Nurbaya.
"Ini," jawab tukang kue, seraya membuka tempat kue yang sebuah lagi dan memilih beberapa lemang yang masih hangaf, lalu ditunjukkannya kepada Nurbaya.
..."Baik, berilah empat buah lemang itu!" kata Nurbaya pula....
"Apa gunanya banyak-banyak, Nur? Aku sedang tak enak makan sekarang, nasi pun tiada habis."
Tatkala ifu mengerlinglah tukang kue dengan sudut matanya kepada Alimah. Jika kelihatan oleh Alimah sudut mata ini, tentulah nyata kepadanya, tukang kue itu marah rupanya, mendengar perkataannya ini.
Tetapi Alimah tiada melihat kepadanya dan Nurbaya sedang asyik memilih kue-kue yang enak-enak.
Setelah diambil Nurbaya beberapa kue yang lain, dibayarnya- lah harga makanan itu, lalu berangkatlah tukang kue itu, berjalan cepat-cepat ke luar pekarangan.
Kedua perempuan muda itu pun pergilah duduk ke serambi muka, lalu bercakap-cakap pula, sedang Nurbaya membuka sebuah lemang akan dimakannya.
"Mengapa tiada terdengar lagi suara tukang kue tadi?" tanya Alimah.
"Dipanggil orang yang di rumah muka agaknya," jawab Nurbaya. "Makanlah kue-kue ini!"
"Tadi sudah kukatakan kepadamu, aku telah beberapa hari tak enak makan. Berilah wajik itu sebuah! Aku coba-coba."
"Jangan begitu, Lim! Barangkali sekali inilah lagi kita akan makan bersama-sama. Bila aku telah pergi pula ke Jakarta, tentu susah kita akan bertemu kembali, sebab Samsu rupanya tak hendak kembali lagi ke Padang ini. Ia hendak tinggal selama- lamanya di tanah Jawa.
Bila aku telah ada di sana, is hendak menjual segala hartaku yang masih ada di sini, untuk pembeli rumah di sana. Dan bila aku telah senang kelak, kumintalah engkau datang. Maukah engkau, Lim?" tanya Nurbaya, sambil memakan lemang yang telah dikupasnya itu.
"Tentu mau, sebab aku pun ingin hendak melihat tanah Jawa; lebih-lebih kola Jakarta."
"Hai, mengapakah lemang ini pahit gulanya?" tanya Nurbaya.
"Barangkali gula enaunya kurang baik atau angus memasak- nya," jawab Alimah.
"Barangkali ini enak," kata Nurbaya pula sambil mengupas sebuah lemang lagi. Yang pertama tadi, telah habis dimakannya. "Sesungguhnya kola Jakarta itu sangat besar; sepuluh kali lebih besar dari kola Padang ini agaknya.
Dan ramainya tak dapat dikatakan; siang malam di jalan raya penuh orang dan kendaraan serta kereta-kereta, bermacam-macam. Bagusnya pun tak ada bandingannya; penuh dengan gedung yang cantik-cantik dan kedai yang besar-besar.
Patut dijadikan ibu negeri, tempat kedudukan Pemerintah Tinggi. Tetapi istana yang sebenarnya ada di Bogor, karena hawa negeri ini dingin; sedang di Jakarta sangat panas. Nanti, bila aku telah ada di Jakarta pula, tentulah kami akan berjalan-jalan ke Bogor, kata Samsu.
Sekarang inilah baru berasa senang benar hatiku, Lim, karena tak ada alangan apa-apa lagi. Tambahan pula, tatkala aku di Jakarta, nyata benar olehku, hati Samsu sekali-kali tiada berubah kepadaku.
Alangkah senangnya rasa hatiku, ketika berjalan jalan dengan dia, bersiar-siar dam berputar-putar, naik bendi dan kereta, melihat kola Jakarta... Ah, mengapa pening kepalaku ini rasanya?"
"Barangkali kurang tidur tadi malam," jawab Alimah.
"Tidak, siang tadi, lama aku tidur. Hai, seperti berputar penglihatanku."
"Marilah masuk, coba tidurkan!"
"Ya," jawab Nurbaya, lalu berdiri, hendak masuk ke ruang tengah, tetapi tiba-tiba jatuhlah ia. Oleh sebab itu dipeluklah oleh Alimah pinggangnya, lalu dibawanya masuk ke bilik dan ditidurkannya di alas tilam.
"Tolong pijit sedikit kepalaku ini, Lim! Barangkali benar aku masuk angin."
"Baiklah," jawab Alimah; lalu dipijitnya kepala Nurbaya. Tiada berapa lama kemudian daripada itu, tertidurlah Nurbaya rupanya.
Tatkala memijit itu berpikir Alimah dalam hatinya, "Mengapakah Nurbaya tiba-tiba jadi pening? Apakah yang diperbuatnya tadi? Pukul setengah sebelas ia telah tidur. Biasa- nya sampai jauh malam is masih bercerita-cerita dan bercakap- cakap."
Walaupun Nurbaya telah terlena, masih dipijit juga oleh Alimah kepalanya, sampai beberapa lamanya. la takut adiknya itu akan terbangun pula karena kurang enak rasa badannya; apalagi karena Nurbaya rupanya senang kena pijitnya, sebab lekas ia tertidur.
Ketika ia berdiri hendak pergi tidur pula, diperhatikannya muka adiknya itu. Sangatlah is terperanjat melihat Nurbaya, sebagai tiada bernafas lagi, lalu diguncangkannya badan Nurbaya, supaya bangun. Tetapi sesungguhnyalah, perempuan yang malang itu, tak ada lagi.
Maka menjeritlah Alimah, meratap menangis amat sangat, sehingga ibu bapanya terperanjat bangun dan datang berlari-lari.
Tatkala dilihat Fatimah, Nurbaya terhantar di tempat tidurnya, tiada bergerak lagi, lalu berteriaklah pula ia menangis dengan merentak-rentak dan memukul-mukulkan tangannya, sehingga ramailah bunyi ratap di rumah itu.
Orang sebelah-menyebelah pun gempar datang, hendak mengetahui, apa yang terjadi di situ. Tetapi seorang pun tak dapat memberi keterangan yang nyata, selainnya daripada Nurbaya telah meninggal.
Malam itu juga Ahmad Maulana pergi memanggil dokter dan dua jam kemudian datanglah dokter itu,lalu memeriksa Nurbaya dan nyatalah kepadanya, bahwa Nurbaya memang telah meninggal. Walaupun dokter mencobakan sekalian ilmunya, untuk menolong Nurbaya, tetapi sia-sia belaka.
Karena menurut cerita Alimah, Nurbaya berasa badannya tak enak sesudah memakan lemang itu, diambillah oleh dokter lemang yang tinggal lagi dengan kue-kue lain, akan disuruh diperiksanya. Pada keesokan harinya nyatalah kepadanya, bahwa Nurbaya termakan racun.
Itulah yang menyebabkan mautnya. Meskipun perkara terserah ke tangan polisi, tetapi yang bersalah, tiada kedapatan.
Untuk mengetahui penjahat ini, marilah kita kembali meng- ikuti tukang kue tadi.
Setelah sampai ia ke jalan besar, tiba-tiba keluarlah seseorang yang memakai serba hitam dari balik pohon kayu, lalu menghampiri tukang kue itu. Setelah dekat bertanyalah ia, "Bagaimana Pendekar Empat?"
"Dibelinya, dan aku berikan yang bergula enau."
..."Bagus! Sekarang marilah kita pergi kelas-lekas dari sini."...
..."Tetapi peti kue ini bagaimana?" tanya Pendekar Empat....
"Nanti; di rumah kosong itu ada sumur yang tiada dipakai lagi. Ke sanalah kaumasukkan peti ini," jawab Pendekar Lima. "Tetapi aku khawatir juga, kalau-kalau yang lain pun kena pula," kata Pendekar Empat.
"Ada siapa lagi di sana?" tanya Pendekar Lima.
"Alimah; tetapi katanya ia tak mau memakan kue-kue, sebab perutnya tak enak. Itulah sebabnya dilarangnya Nurbaya mem- beli banyak-banyak. Panas hatiku mendengar perkataannya itu.
Jika tidak di rumahnya, kuterjang ia, supaya mulutnya jangan dapat berkata-kata lagi," sahut Pendekar Empat.
"Berapa buah dibelinya lemangmu?" tanya Pendekar Lima pula.
"Empat buah;" jawab Pendekar Empat.
"Masakan keempatnya dimakan Nurbaya sebab sebuah lemang pun cukup untuk membawa dua tiga orang ke pintu kubur. Akan tetapi, tahu benarkah engkau, keempatnya berisi gula?"
"Tahu, sebab yang berisi gula itu, kupisahkan."
"Jika demikian, tentulah sampai maksud kita, sekali ini," kata Pendekar Lima.
"Turutlah aku!" lalu hilanglah keduanya pada tempat yang gelap.
Pada keesokan harinya, tatkala sampai kabar kematian Nurbaya ini kepada Sitti Maryam, yang sedang sakit keras di Kampung Sebelah, karena terkejut ditinggalkan anaknya Samsu, tiba-tiba berpulanglah pula ibu Samsulbahri ini, sebab kabar itu rupanya sangat menyedihkan hatinya.
Pada hari itu, kelihatanlah dua jenazah, dibawa ke gunung Padang. Kedua perempuan yang sangat dicintai Samsu ini, dikuburkan dekat makam Baginda Sulaiman, ayah Sitti Nurbaya.
__ADS_1