Siti Nurbaya Kasih Tak Sampai

Siti Nurbaya Kasih Tak Sampai
Episode 8


__ADS_3

Memang demikian," kata Nurbaya. "Dengarlah pula pantun ini:


Pulau Pinang kersik berderai,


tempat burung bersangkar dua.


Jangan bimbang kasih'kan cerai,


jika untung bertemu jua.



Jika ada sumur di ladang,


tentulah boleh menumpang mandi.


Jika ada umur yang panjang,


tentulah dapat bertemu lagi.


Ke rimba ke padang jangan,


bunga cempaka kembang biru.


Tercinta terbimbang jangan,


adat muda menanggung rindu.



Ke rimba orang Kinanti,


bersuluh api batang pisang.


Jika tercinta tahankan hati,


kirimkan rindu di burung terbang"



"Benar sekali katamu itu, adikku Nurbaya! Berpantunlah engkau, berpantunlah! Semalam ini kita dapat bersendau gurau, besok kakanda tak ada lagi," kata Samsu pula, sambil mencium punggung tangan kekasihnya yang halus itu, beberapa kali.


"Mempelam tumbuh di pulau


patah sedahan dijatuhkan.


Semalam ini kita bergurau,


esok Adik kutinggalkan "


Maka menyahutlah Nurbaya;


"Berlayarlah ke pulau bekal,


nakhoda makan bertudung saji.


Sambutlah salam adik yang tinggal,


selamat Kakanda pulang pergi.


Ribu-ribu di pinggir jalan,


tanam di ladang kunyit temu.


Jika rindu pandanglah bulan,


di situ cinta dapat bertemu."


Setelah keduanya berdiam diri sejurus, berpantun pulalah Samsu:



"Kapal kembali dari Jawaa


masuk kuala Inderagiri.


Tinggallah Adik tinggallah nyawa,


besok kakanda akan pergi."



Disahuti oleh Nurbaya:


"Berbunyi gendang di Pauh,


orang menari di halaman.


Sungguh Kakanda berjalan jauh,


hilang di mata di hati jangan."



"Suatu lagi," kata Nurbaya:


"Meletus gunung dekat Bantan,


terbenam pulau dekat Jawa.


Cinta jangan diubahkan,


jika putus, sambungkan nyawa."



Dibalas pula oleh Samsu:


"Jika hari, hari Jumat,

__ADS_1


haji memakai baju jubah.


Walaupnn had akan kiamat,


cinta di hati jangan berubah."


"Suatu lagi," kata Samsu:


"Jika Perak kerani Keling,


berlayar tentang Tapak Tuan.


Putih gagak hitamlah gading,


tidak putus cintakan 'Iuan."



"Neng," berbunyi lonceng di rumah jaga, tanda hari sudah pukul satu malam. Ketika itu barulah asyik dan masyuk ini sadarkan dirinya:


"Sam!" kata Nurbaya. "Hari telah pukul satu, kalau-kalau kelak aku ditanya oleh orang tuaku. Biarlah kita bercerai dahulu sekarang ini, esok kita bertemu pula.


Tambahan lagi engkau akan berangkat tentulah banyak yang akan kausediakan, untuk dibawa, supaya jangan ketinggalan apa-apa. Pergilah tidur lekas- lekas, supaya jangan terlalu lelah engkau; barangkali esok hari harus bangun pagi-pagi."


"Nur! Bagiku, asal bersama-sama dengan engkau, tiadalah aku akan mengantuk dan lelah. Biarpun sampai pagi kita begini saja, maulah aku; itulah kehendak hatiku.


Tak dapatlah ku- katakan bagaimana perasaan dalam kalbuku waktu ini; tak dapat kuceritakan betapa senang hatiku malam ini, melainkan Tuhanlah yang lebih mengetahuinya. Telah lama kucita-citakan pertemuan yang sedemikian ini; baru sekarang kuperoleh, sebagai kata pantun komidi:


Tinggi-tinggi si matahari,


akan kerbau terlambat.


Sekian lama aku mencari,


baru sekarang aku mendapat.



Sungguhpun kebesaran dan kesenangan hatiku ini takkan seberapa lama, tetapi tak mengapa, karena sekarang kuketahuilah sudah, bahwa engkau pun cinta kepadaku.


Kini tiadalah syak dan wasangka lagi aku akan meninggalkan kota Padang ini, untuk menjelang negeri orang, Nurbaya!" kata Samsu pula, sambil memeluk Nurbaya.


"Malam inilah malam yang sangat penting bagiku dan bagi kehidupanku di kemudian hari, karena pada malam inilah aku mendapat cinta hatiku dan jodohku yang kurindukan siang dan malam.


Selagi ada hayatku dikandung badan, tiadalah akan lupa aku kepada malam ini, yaitu malam yang memberi harapan yang baik bagiku, kepada waktu yang akan datang.


Itu saksiku, Nur," kata Samsu, seraya menunjuk bulan dan bintang yang di atas langit, "tiadalah aku akan men- cintai perempuan lain, melainkan engkau seorang. Tiada lain perempuan yang akan menjadi istriku hanya engkaulah.


Engkaulah harapanku, engkaulah mestika yang mendatangkan kesenangan dan kesentosaan atas diriku. Bila tiada engkau, haramlah bagiku perempuan lain," lalu diciumnya pula Nurbaya. "Aku pun demikian pula, Sam" jawab Nurbaya.


"Tuhan saksiku, tak ada laki-laki di alam ini yang kucintai lain daripada engkau. Engkaulah suamiku dunia akhirat."


"Sekarang baiklah engkau masuk ke dalam rumahmu, supaya jangan diketahui orang rahasia ini," kata Samsu, seraya berjalan berpimpin-pimpinan mengantarkan Nurbaya sampai ke tangga rumahnya.


Tatkala pintu rumah telah dibukakan, yakni setelah kedua asyik masyuk itu berjabat salam yang amat akrab, masuklah Nurbaya, dan Samsu pun pulanglah kembali ke rumahnya.


...***...


Pelabuhan ini masyhur namanya ke negeri yang lain-lain; pertama karena selalu disinggahi kapal-kapal besar, yang pulang- pergi ke benua Eropah, sebab letaknya di jalan antara Tanah Jawa, Hindustan, Arab dan benua Eropah.


Kedua karena di pelabuhan itu dapat mengambil batubara, yang asalnya dari Ombilin. Tambahan pula pelabuhan ini memang sangat baik bangunnya.


Memanjang dari barat ke timur, kemudian memutar ke utara, tersembunyilah di balik suatu tanjung dan sebuah pulau pasir, sehingga terlindung dari gelombang besar-besar, yang terlebih-lebih pada musim barat sangat hebatnya.


Oleh sebab itu lautan dalam teluk ini sangat tenang, tiada mendatangkan susah kepada kapal-kapal yang berlabuh di sana. Dan oleh sebab pantai di sana curam, karena bergunung-gunung, yang memagari pelabuhan ini.


di pihak utara, timur dan selatan air lautan di sana dalam, sehingga dapat masuk kapal yang besar-besar, yang mudah dapat ke tepi, pada beberapa pangkalan yang menganjur ke laut.


Pada sebelah utara dan barat pelabuhan ini, kelihatan di belakang pangkalan-pangkalan tadi beberapa gudang tempat menyimpan barang-barang yang datang atau yang akan dikirim ke mana-mana.


Dekat gudang-gudang ini adalah setasiun kereta api, yang memperhubungkan pelabuhan Teluk Bayur dengan kota Padang. Jalan raya pun ada pula antara kedua tempat itu, untuk kendaraan yang lain-lain.


Tiada jauh dari setasiun tadi, kelihatan gudang batu bara yang amat besar, diperbuat pada suatu tempat yang tinggi. Dari gudang ini adalah sebuah jembatan kereta api yang tinggi, tempat daripada besi, menganjur ke laut.


Kapal yang hendak dimuati batu bara, berlabuh di bawah jembatan itu; dengan demikian mudahlah dapat dicurahkan batu bara yang ada dalam gerobak kereta api itu, langsung ke kapal.


Kelengkapan inilah yang menambahkan indah dan masyhur nama pelabuhan ini ke negeri lain-lain, sebagai pelabuhan tempat mengambil batu bara.


Pada keesokan harinya daripada malam Samsu bersuka- sukaan di rumahnya, karena hendak berpisah dari sahabat kenalannya, kelihatan beberapa kapal berlabuh di pelabuhan tadi.


Ada yang hendak berlayar ke selatan, ada yang hendak ke utara dan ada pula yang hendak terus ke Bombai, Kalkuta, Mesir dan benua Eropa. Kemudian kelihatan pula kapal Cina dan Jepun, yang hendak kembali ke negerinya, melalui pulau Pinang dan Singapura.


Kapal Inggris dan Jerman pun ada, nyata kelihatan pada benderanya, yang berkibar di atas tiang. Sebuah daripada kapal-kapal itu, ialah kapal yang hendak ditumpangi Samsu dan sahabat-sahabatnya, berlayar ke Jakarta.


Oleh sebab kapal ini hendak bertolak pukul dua belas siang dan daripada waktu itu telah pukul sepuluh, sangatlah ramai dekat kapal ini; riuh rendah pendengaran, tiada keruan.


Ada yang memuat batu bara, ada yang mengeluarkan barang-barang, ada yang membongkar muatan dan ada pula yang naik-turun berlari- lari, sebagai ada sesuatu yang ketinggalan.


Di atas kapal, kelasi-kelasi sedang asyik mengerjakan pekerjaan masing-masing dan mualim-mualim sedang ribut memerintah ini dan itu. Beberapa penumpang geladak mencari tempat yang baik dan mengatur bawa-bawaannya.


Penumpang kelas dua dan kelas satu, ada yang duduk bercakap-cakap di meja makan, ada pula yang berdiri di beranda kapal, melihat sekalian ingar bingar itu.


Orang yang berdagang buah-buahan dan makan-makanan pun tak kurang, berjalan kian kemari, sambil menawarkan dan menghargakan jualannya.


Pangkalan penuh dengan beratus-ratus laki-laki perempuan, baik bangsa anak negeri, baik bangsa asing yang akan turut berlayar atau mengantarkan sanak saudara, sahabat kenalannya.


Ada yang duduk berkata-kata, ada yang berdiri berpayung, karena kepanasan dan ada pula yang berjalan bolak-balik, sebagai jemu menunggu.


Di sisi gudang bercakap-cakap seorang perempuan tua dengan anaknya yang rupanya hendak berlayar, sambil memberi nasihat, supaya anaknya berhati-hati di jalan dan di negeri orang.


Di atas batu duduk seorang laki-laki tua bertutur-tutur dengan saudaranya, yang rupanya pun hendak meninggalkan tanah airnya, berlayar mencari penghidupan di rantau orang.


Yang sekedar datang melihat saja pun tiada kurang pula, tertawa gelak- gelak serta bertanya kepada temannya; bilakah ia akan berlayar pula.


Di dalam orang yang banyak itu tiadalah kelihatan oleh kita sahabat kita Samsulbahri, karena ia waktu itu ada di dalam bilik kelas dua, sedang berkumpul-kumpul dengan ibu-bapak, sanak saudara dan sahabat kenalannya.


"Tak kelupaan apa-apa engkau Sam?" tanya Sutan Mahmud. "Tidak, Ayah," sahut Samsu.


"Petimu di mana?" tanya Sutan Mahmud pula.

__ADS_1


"Ada di sini sekaliannya."


..."Dan uang belanjamu, sudahkah disimpan dalam peti?"...


"Ada pada hamba."


"Ingat-ingat engkau di negeri orang, Samsu!" kata ibunya. "Tahu-tahu membawakan diri: mandi di hilir-hilir, berkata di bawah-bawah.


Janganlah disamakan saja dengan di sini; janganlah disangka masih anak orang berpangkat juga di sana, sebab engkau akan berdiri sendiri lagi, jauh daripada kami, sekalian.


Bila ada apa-apa, lekaslah tulis surat kepada Ayahmu!" lalu Sitti Maryam menyapu air matanya, yang berlinang-linang di pipinya.


"Belajar sungguh-sungguh, jangan suka beriang-riang tiada pada tempat dan waktunya; jangan bercampur dengan orang yang kurang baik, dan jangan pula berbelanja yang tiada keruan, supaya cukup uang yang akan dikirimkan kepadamu tiap-tiap bulan," kata ayahnya pula.


Tatkala itu Nurbaya ada berdiri dekat Samsu, bersandar di pinggir tempat tidur. Walaupun rupanya ia tiada mengindahkan segala percakapan itu, tetapi pikirannya kepada Samsu saja dan dipandangnya kekasihnya ini dengan tiada putus-putusnya.


Pada waktu itulah sangat terasa olehnya keberatan perceraian ini. Sebelum ia berdiri di pinggir laut, yang akan memisahkannya daripada kekasih dan saudaranya ini, pada sangkanya—tentulah mudah dapat dilipurnya kesedihan perceraian itu.


Akan tetapi tatkala dilihatnya kapal yang akan membawa jantung hatinya, jauh daripadanya, barulah dirasainya, bahwa perceraian itu tentu akan melukai hatinya dengan luka yang parah.


Berdebar jantungnya, jika diingatnya sejurus lagi cahaya matanya ini akan luput dari pemandangannya, bukan untuk sehari dua hari ataupun sepekan dua pekan. Entah beberapa tahun lagi, baru dapat pula ia melihat wajah Samsu tiadalah dapat ditentukan.


Dan apabila teringat olehnya mimpi Samsu yang dahsyat itu, bertambah- tambahlah bimbang dan susah hatinya. Itulah sebabnya selalu dipandangnya Samsu dan dipuas-puaskannya hatinya melihat teman sekolah yang dicintainya ini.


Tatkala itu masuklah beberapa orang membawa hadiah buah- buahan sebagai mangga, jeruk dan nenas, lalu berkata, "Inilah yang dapat kami berikan kepada Engku Muda, obat mabuk di jalan. Kami pohonkan kepada Allah supaya mudah-mudahan Engku Muda selamat pulang pergi."


"Terima kasih," jawab Samsu, sambil menerima pemberian itu. "Hamba pun berharap, Adik dan Kakak yang tinggal, sekaliannya dipeliharakan Tuhan selama-lamanya."


Setelah berjabat salam, keluarlah mereka sekalian, sehingga akhirnya tinggallah Samsu berdua dengan Nurbaya. Maka di- pandanglah oleh Samsu muka kekasihnya ini, serta dipegangnya kedua belah tangannya, sedang air matanya bercucuran keluar, dengan tiada dirasainya.


Lama ia berdiri sedemikian itu dengan tiada dapat berkata-kata, karena dadanya bagaikan penuh dan mulutnya bagai terkunci. Akhirnya keluarlah juga suaranya walaupun terhenti-henti.


"Nurbaya!" katanya. "Ingat-ingat menjaga diri! ... Jika ada apa-apa, lekas tulis surat kepadaku ... Meskipun tak dapat aku tolong engkau dengan tenaga ataupun dengan uang, barangkali dapat juga dengan nasihat. Mungkin dapat pula kuberi ingat engkau dan kuberi pelajaran dari jauh.


Orang tuaku, janganlah kauperbedakan dengan orang tuamu dan datanglah kerap-kerap ke sana, melihat-lihati mereka, walaupun aku tak ada lagi. Barang apa kesusahanmu, katakanlah pula kepadanya, karena mereka itu pun sayang kepadamu, sebagai kepadaku.


Bila ada sesuatu hal dalam rumah orang tuaku, kabarkanlah dengan segera kepadaku, lebih-lebih tentang hal-ihwal ibuku, karena rupanya ia sangat berdukacita atas perceraian ini.


Kemudian kupinta kepadamu, janganlah engkau lupa akan janji dan sumpah kita tadi malam, karena sejak waktu itu batinnya telah kawinlah kita; engkau telah suka menjadi istriku, aku pun telah suka pula menjadi suamimu. Hanya menurut syarat dunia- lah, belum lagi kita berhubung.


Tulislah surat kepadaku tiap-tiap kapal bertolak dari sini dan ceritakanlah hal-hal di sini kepadaku, supaya aku jangan sangat canggung.


Apabila aku telah sampai kelak ke Jakarta, kukirimkanlah kepadamu apa-apa yang dapat kubelikan untuk engkau. Sekarang inilah saja yang dapat kuberikan kepadamu sebagai tanda mata. Terimalah olehmu dokoh ini! Di dalamnya ada gambarku.


Bila engkau tercinta akan daku, lihatlah gambar itu; itulah ganti diriku."


Nurbaya menerima tanda mata Samsu itu lalu diciumnya, sedang air matanya jatuh bercucuran. "Aku banyak minta terima kasih kepadamu, Sam," jawab Nurbaya, "dan aku berjanji akan memakai dokoh ini seumur hidupku.


Akan jadi tanda mata daripadaku, tiadalah lain yang dapat kuberikan kepadamu, hanya cincin inilah.


Moga-moga sudi engkau memakainya!" lalu Nurbaya menanggalkan cincin mutiara yang dipakainya pada jari manisnya dan memberikan cincin itu kepada Samsu, seraya ber- kata, "Engkau pun, jika teringat kepadaku, misalkanlah cincin ini diriku dan simpanlah ia baik-baik, karena bagiku itulah tali yang mengikat kita dari dunia sampai ke akhirat.


Dengan segera akan kusuruh perbuat potretku supaya dapat kukirimkan kelak kepadamu.


Aku pun mengucapkan selamat jalan.kepadamu.


Moga-moga dipeliharakan Tuhan engkau dalam perjalananmu ke negeri orang, pulang balik, dan sampailah juga maksud yang kautujui, supaya, apabila engkau telah ada pula di sini, bukannya Samsu saja lagi namamu, melainkan dapatlah kupanggil engkau dokter Samsu.


Ingat-ingatlah menjaga diri di negeri orang, karena sekarang engkau akan berdiri sendiri, jauh daripada ibu-bapak dan handai tolanmu, sehingga barang sesuatu, engkau sendirilah yang akan memutuskannya.


Dan janganlah sampai tergoda oleh segala yang tak baik, karena Jakarta negeri besar, banyak godaan yang tak patut di sana."


Tatkala itu berbunyilah seruling kapal yang pertama, meng- ingatkan kepada orang-orang kapal ataupun penumpang, supaya bersiap, karena kapal akan berangkat. Maka keluarlah Samsu dengan Nurbaya dari dalam kamar kapal, lalu turun ke pangkalan.


Di sana bersalamlah ia dengan sekalian orang yang mengantarkan, serta meminta maaf dan ampun atas segala dosa dan kesalahannya, lahir dan batin, yang boleh memberati dunia dan akhirat.


Sekalian mereka menangis mencucurkan air mata, karena hampir sekaliannya sayang, kepada Samsu, sebab adat dan kelakuannya yang baik. Samsu pun tak dapat pula menahan air matanya, walaupun digagahinya dirinya. Ayahnya diciumnya tangannya, dan ibunya dipeluk dan diciumnya pipinya.


Akhirnya pergilah ia kepada Nurbaya, lalu dipegangnya tangan gadis ini beberapa lamanya, sebagai tak hendak dilepas- kannya.


Dadanya rasakan sesak menahan kesedihan yang timbul dalam hatinya karena perceraian ini, sehingga tiadalah dapat ia berkata-kata lain daripada, "Selamat tinggal, Nur!... Mudah- mudahan lekas bertemu kembali," lalu berjalanlah ia cepat-cepat naik ke kapal.


Nurbaya pun tiada pula dapat menjawab apa-apa melainkan, "Selamat jalan, Sam! ... selamat sampai ke Jakarta!"


Setelah naiklah Samsu ke atas kapal, lalu berdirilah ia ber- topang dagu pada pagar besi yang ada di sisi geladak kapal, karena pada waktu itu seruling yang kedua telah berbunyi pula.


Dan tiadalah lama kemudian daripada itu berbunyilah seruling yang ketiga, lalu dilepaskanlah tali-temali dan diangkatlah jangkar.


Tatkala baling-baling kapal telah berputar, bergeraklah kapal itu; mula-mula perlahan-lahan, tetapi kemudian bertambah- tambah cepat, sehingga kapal itu makin lama makin jauhlah dari pangkalan.


Setangan berkibaran di sisi kapal, tanda yang pergi memberi selamat kepada yang tinggal. Dari pangkalan dibalas oleh yang tinggal dengan mengibarkan setangan pula memberi selamat jalan kepada yang pergi.


Di antara orang-orang ini ada yang masih berteriak, "Jangan lupa!" ada pula yang berkata, "Lekas balik!" Dari kapal pun dibalas dengan jawaban, "Baiklah!"


Samsu tiada lepas-lepas memandang Nurbaya sambil mengibarkan setangan sutera birunya dan dari daratan tiada pula putus-putusnya dibalas alamat itu oleh Nurbaya, dengan setangan merah jambunya.


Makin lama kapal makin jauh dari cerocok dan jalannya pun bertambah cepat.


Akhimya tiadalah dapat dibedakan lagi oleh Samsu orang-orang yang berdiri di pangkalan, lalu masuklah ia ke biliknya, tidur berselimut, karena tiada dapat lagi dipandang- nya tanah airnya yang akan ditinggalkannya.


Dadanya ditekan- nya ke bantal, sebagai hendak menahan sakit yang menyesak ke hulu jantungnya, dan kepalanya pusing, seperti orang mabuk cendawan.


Tatkala Nurbaya tiada dapat lagi membedakan kekasihnya, daripada orang lain, di atas kapal, berjalanlah ia perlahan-lahan ke ujung suatu tanjung, akan mengikuti kapal itu dengan mata- nya. Makin lama makin sunyilah rasanya padanya alam ini.


Sekalian tempik sorak orang yang bekerja di pelabuhan dan segala bunyi perkakas pembongkar, penaikan dan pembawa barang-barang, yang masih riuh rendah, pada pendengaran Nurbaya makin lama makin jauh.


Orang yang berpuluh-puluh banyaknya, berjalan pulang kembali ke muka hanggar, menjadi kecil-kecil pada pemandangannya. Akhirnya terduduklah ia di atas batu, lalti bertopang dagu memandang kapal yang membawa kekasihnya, yang keluar dari kuala.


Tatkala berbunyi meriam yang dipasang di kapal, akan memberi selamat tinggal kepada pelabuhan Teluk Bayur, baharulah nyata oleh Nurbaya, bahwa kapal itu telah membelok menuju ke barat. Di sanalah teringat olehnya, bagaimanakah halnya kelak, seorang diri di rumahnya.


Dengan siapakah ia akan bercakap-cakap dan bermain-main lagi, waktu dan pulang sekolah? Bila ada sesuatu halnya, kepada siapakah hendak dikatakannya?


Siapakah tempat ia membukakan rahasia hatinya, siapakah tempat ia bertanya dan bermupakat dalam halnya yang sulit-sulit, siapakah yang akan menolongnya lagi, bila ia di sekolah beroleh hitungan yang sukar?


Demikian ingatan yang timbul dalam hati Nurbaya, tatkala ia duduk termenung seorang diri di atas batu, walaupun matanya selalu memandang ke kapal yang hampir lenyap itu.


Tiada berapa lama kemudian daripada itu, hilanglah kapal ini daripada pemandangan Nurbaya, hilang di balik Bukit Sikabau. Hanya asapnyalah yang masih tinggal tergantung di udara, di atas air laut.


Tatkala itu hilanglah pula segala penglihatan dan pendengaran.Nurbaya, sebagai lulus tempatnya berpijak dan ter- gantung badannya di awang-awangan.

__ADS_1


Apabila tak ada ayahnya dekat padanya, yang memegang bahunya perlahan-lahan dari belakang, pastilah ia jatuh rebah ke tanah, karena tak ingatkan dirinya lagi.


Untunglah Baginda Sulaiman lekas datang menolong anaknya, lalu diangkatnya, dipimpinnya berjalan perlahan-lahan pulang kembali.


__ADS_2