
Mendengar pantun Samsu ini, berubahlah warna muka Nurbaya, menjadi kemerah-merahan, lalu tunduklah ia melihat ke tanah, akan menyembunyikan perubahan wajah mukanya ini.
Apabila waktu itu tiada kedengaran suara Bakhtiar minta tolong, niscaya terbukalah rahasia hati Nurbaya, yang menyebabkan air mukanya jadi berubah.
Tatkala Samsu mendengar suara sahabatnya minta tolong, tiadalah ia berpikir panjang lagi, lalu melompat berlari ke tempat suara itu kedengaran, takut kalau-kalau Bakhtiar mendapat sesuatu kecelakaan.
Apabila sampailah ia ke tempat itu, kelihatan olehnya, sahabat ini sedang diserang oleh beberapa kera yang besar-besar, yang hendak merampas pisang yang ada dalam tangannya.
Walaupun Samsu dengan segera membantu memukul kera- kera ini dengan sekerat kayu, tetapi karena banyaknya, tak dapatlah dihalaukan sekaliannya, sehingga terpaksa ia me- ninggalkan pisang-pisangnya dan menuntun Bakhtiar, keluar dari kepungan penyamun yang berekor panjang itu, lalu membawa sahabatnya ini ke rumah perhentian, tempat ia berdiri tadi.
Di tengah jalan bertemulah mereka dengan Nurbaya, yang mengikut dari belakang hendak membantu pula. Dan sejurus kemudian, keluarlah Arifin dari dalam semak-semak, berlari-lari menuju mereka dengan menjinjing suatu bungkusan dalam tangannya.
Tatkala ia sampai kepada mereka, lalu bertanyalah ia dengan ter- gopoh-gopoh, "Siapa yang berteriak? Ada apa?"
Setelah diceritakan oleh Samsu hal Bakhtiar diserang oleh kera-kera itu, tertawalah ia gelak-gelak seraya menekan perut- nya, karena tiada tertahan geli hatinya. Walaupun ia sangat lelah karena berlari-lari, tiada dirasainya juga kelelahannya itu, karena tertawa.
Akan tetapi Bakhtiar tiada mengindahkan ceinooh Arifin ini, istimewa pula karena takutnya belum hilang.
"Memang telah kusangka, bahwa panglima perang kita ini, lebih berani berkelahi dengan makanan, daripada dengan kera.
Sesungguhnya patut dadanya dihiasi dengan bintang kulit jering, karena gagah beraninya tiada bertara," kata Arifin dalam tertawa gelak-gelak itu dengan putus-putus suaranya.
Meskipun Samsu dan Nurbaya belum hilang debar hatinya dan mereka sangat belas kasihan melihat hal Bakhtiar, tetapi tiadalah dapat ditahannya hatinya hendak tertawa pula, men- dengar perkataan Arifin ini.
Akan menghilangkan geli hatinya ini, pura-pura bertanyalah Samsu kepada Bakhtiar, bagaimana mulanya sampai diserang kera tadi. Maka diceritakanlah oleh Bakhtiar, bahwa dengan sengaja dibawanya pisang sesisir, akan diberikannya kepada kera-kera itu.
Tiba-tiba,dilihatnya beberapa ekor kera yang besar, datang dari segenap pihak mengelilinginya dan merampas pisang yang ada dalam tangannya. Bahkan ada pula yang memanjat bahu dan kepalanya, walaupun ia memukul sekelilingnya.
Akhirnya karena terlalu banyak kera itu datang dan rupa-rupanya binatang ini makin bertambah-tambah marah, sebab ada beberapa ekor di antaranya yang kena pukul, berteriaklah ia minta tolong, takut kalau-kalau digigit penyamun yang telah memperlihatkan giginya dan berbunyi-bunyi itu.
"Sekalian itu karena lokekmu juga, takut engkau sendiri takkan beroleh pisang. Maksudmu tentulah hendak duduk seorang diri memakan pisang itu di tengah-tengah kera yang banyak itu, sebagai sekor raja kera, yang sedang dihadapi segala menteri, hulubalang dan rakyatnya.
Sisamulah yang akan kauberikan kepada sekalian rakyatmu itu. Siapa mau? Sebab apabila telah kaumakan niscaya, tak ada sisanya lagi; barangkali kulit-kulitnya pun habis. Tentu saja tak suka rakyatmu mem- biarkan engkau makan sendiri.
Mereka pun ingin pula hendak makan bersama-sama, karena perutnya pun lapar. Coba kau minta makan bersama-sama mereka dengan perkataan, "Adik- adikku yang kucintai! Silakan makan bersama-sama abangmu yang sangat merindukan engkau," kata Arifin dengan ber- sungguh-sungguh rupanya.
Tetapi tak ada seorang pun yang menyahut, sedang Samsu dan Nurbaya pura-pura menoleh ke tempat lain, supaya jangan kelihatan tertawa.
Kerena Bakhtiar berdiam diri, berkatalah pula Arifm, "Ada sesuatu yang belum jelas bagiku. Mengapa tiada kaumakan pisang itu lekas-lekas sampai habis? Apabila telah habis sekaliannya masuk perutmu; apalagi yang akan dirampas kera- kera itu?
Kepada kera kau pura-pura malu, tetapi kepada manusia tidak."
"Untung tidak kumakan, pisang-pisang itu," jawab Bakhtiar yang masih ketakutan, "kalau kumakan, barangkali perutku dikoyak-koyaknya, akan mengeluarkan pisang yang ada dalamnya."
"Bukankah akan menjadi kurang isi perutmu dan barangkali sembuh pula engkau daripada penyakitmu suka makan," kata Arifin, tatkala dilihatnya Bakhtiar belum juga marah. "Jangan engkau kecil hati, Bakhtiar. Apabila aku tadi ada dekatmu, tentu- lah tiada akan kutolong engkau.
Bukan karena tak kasihan kepadamu, melainkan karena sayang aku pertunjukan yang indah itu akan lekas habis."
"Memang engkau selamanya begitu, pandai benar memper- olok-olokkan orang," jawab Bakhtiar. "Tetapi apabila engkau sendiri beroleh hal yang sedemikian, barangkali lebih takutmu dari padaku. Boleh jadi engkau menangis meraung-raung.
Sedangkan mendengar suara ayahmu sendiri, telah kaku badan- mu ketakutan, tadi malam: "
"Bukan menangis meraung-raung," jawab Arifin dengan menyindir, "melainkan menyembah saja, minta ampun kepada kera-kera itu. Aku angkat bendera putih, tanda kalah, tunduk dan menyerahkan diri; kalau-kalau belas kasihan, ia kepadaku. Biar- lah turun dari raja sampai kepada tawanan.
Tak apa asal jangan dikoyak kera."
"Ah, sudahlah! Sekarang marilah kita pergi ke rumah per- hentian itu, karena aku berasa lapar," kata Samsu, sebagai hendak menghabiskan pertengkaran ini, lalu berjalan mengajak teman-temannya ke sana.
Setelah sampailah mereka ke rumah itu, berkatalah Arifm, "Sebab aku tadi tiada melihat peperanganmu dengan kera, perlihatkanlah sekarang, peperanganmu dengan makanan! Ini aku bawa sebungkus jambu Keling.
Berapa puluh dapat kaualahkan dengan gigimu yang tajam itu?" tanya Arifm, sambil membuka bungkusan yang dijinjingnya dan memperlihatkan isinya kepada Bakhtiar, sambil tertawa.
"Jangan dimakan begitu saja! Marilah aku kocok dahulu dengan gula, lada, dan garam supaya lebih nyaman rasanya," kata Nurbaya.
"Tetapi lebih dahulu makan roti," kata Samsu, "Kalau tidak, sakit perut kelak. Apabila hari telah panas, baharulah makan buah-buahan ini dan rasanya pun akan lebih sedap."
"Perut si Bakhtiar tiada akan sakit, walaupun batu sekalipun dimakannya, karena telah biasa mengalahkan segala rupa makanan, biar yang beracun sekalipun," kata Arifin pula, yang rupanya belum puas mempermainkan temannya ini.
Tetapi ejekan ini pun tiada dijawab oleh Bakhtiar, karena mulutnya baru penuh berisi roti.
Setelah selesai makan, berkatalah Bakhtiar, hendak pergi membedil burung, lalu mengambil bedil yang dibawa Samsu tadi. Akan tetapi karena Samsu khawatir melepaskannya sendiri, disuruhnyalah Arifin pergi bersama-sama. Maka tinggallah Samsu dan Nurbaya berdua dalam rumah itu.
Nurbaya, sebab hendak membuat rujak jambu Keling dan Samsu akan men- jaganya.
Setelah dicampur Nurbaya buah itu dengan gula, garam, dan lada dalam sebuah mangkuk besar, lalu ditutupnya mangkuk ini dan dikocoknya jambu Keling yang ada dalamnya. Setelah sejurus lamanya Nurbaya mengguncang jambu itu, rupanya ia mulai lelah digantikan oleh Samsu.
Demikianlah diperbuat mereka berganti-ganti, sehingga buah jambu itu empuk. Maka diambillah oleh Nurbaya sebutir, lalu dikecapnya.
"Sudah, Sam; terlalu empuk pun tak enak. Cobalah engkau kecap pula!" kata Nurbaya.
"Ya benar, telah enak rasanya," jawab Samsu, setelah di- makannya pula sebuah. "Tetapi baiklah ditunggu dahulu Bakhtiar dan Arifin."
"Tentu," jawab Nurbaya, "kalau tidak, barangkali Bakhtiar akan menyangka kita telah makan lebih banyak, apabila tak cukup bagiannya," kata Nurbaya dengan tersenyum.
Setelah keduanya berdiam sejurus, berkatalah Nurbaya tiba- tiba, "O ya, baru kuingat janjimu tadi akan menceritakan perempuan dengan kucingnya dan ayam yang bertelur emas itu. Bagaimanakah ceritanya?"
"Benarkah engkau belum mendengar cerita ini?" tanya Samsu.
__ADS_1
"Sungguh belum, Sam," sahut Nurbaya.
"Kedua cerita itu ialah hikayat pendek-pendek, yang mengiaskan pepatah: Tiap-tiap suatu yang hendak dikerjakan atau dikatakan, haruslah dipikirkan lebih dahulu dengan sehabis- habis pikir dan ditimbang dengan semasak-masaknya: Berkata sepatah, dipikirkan, supaya jangan salah; sebab kesalahan itu boleh mendatangkan sesal yang tak habis.
Sesal dahulu pen- dapatan, sesal kemudian tak berguna.
Cerita yang pertama demikian bunyinya:
Seorang perempuan mempunyai seorang anak yang masih menyusu dan seekor kucing yang disayanginya. Pada suatu hari, tatkala ia hendak pergi, ditinggalkannya anaknya di atas suatu tempat tidur dan disuruh jaganya oleh kucingnya itu.
Ketika ia kembali ke rumahnya, dilihatnya kucingnya itu duduk di muka rumahnya dengan mulutnya berlumuran darah. Maka berdebar- lah hatinya, lalu ia berlari-lari masuk ke tempat tidur anaknya. Di sana dilihatnya anaknya telah mati dan badannya pun penuh darah pula.
Oleh sebab pada sangka perempuan itu, tentulah kucing ini yang membunuh anaknya, dengan tiada berpikir panjang lagi, diturutkannyalah nafsu marahnya, lalu dipukulnya kucingnya ini sampai mati.
Akan tetapi tatkala diangkatnya mayat anaknya, dilihatnya di bawah anaknya ini ada seekor ular yang sangat bisa, telah mati digigit kucingnya tadi. Rupanya ia berkelahi dengan ular itu, karena hendak membela anak tuannya.
Setelah mati ular itu duduklah ia di muka rumah, menunggu kedatangan tuannya, seakan-akan hendak memberitahukan mara bahaya ini.
Di situ menyesalnya perempuan tadi dengan sesalan yang amat sangat, karena sekarang bukannya anaknya saja yang mati, tetapi kucingnya yang amat setia dan dikasihinya hilang pula." "Tentu saja kesalahan yang sedemikian sangat menyedihkan dan menyusahkan hatinya, dengan sesalan yang tiada ber- keputusan," kata Nurbaya dengan terpikir dan sedih rupanya.
"Cerita ayam yang bertelur emas itu, lebih-lebih menjadi ibarat bagi mereka yang loba dan tamak," kata Sam. "Demikian hikayatnya:
Seorang peladang mempunyai ayam betina beberapa ekor. Pada suatu hari seekor daripada ayamnya itu bertelur emas. Bagaimana, besar hati si peladang, tentulah dapat kaumaklumi, Nur. Karena lobanya, hendak lekas kaya, disembelihnya ayam itu.
Pada sangkanya, tentulah dengan sekaligus akan diperoleh- nya sekalian telur emas yang ada dalam perut ayam itu. Akan tetapi apa kata? Perut ayam itu isinya sebagai isi perut ayam yang biasa juga dan sebutir telur emas pun tak ada dalamnya.
Jika ditunggunya dengan sabar, mungkin hari kedua ayam itu bertelur emas pula. Sekarang ayamnya telah mati dan peng- harapannya telah putus."
"Harus begitu hukuman orang yang tamak sedemikian," jawab Nurbaya. "Jika tiada dibunuhnya ayamnya, barangkali diperoleh setiap hari sebutir telur emas."
"Barangkali," jawab Samsu. "Tetapi Nur, sejak kita sampai kemari, belum kita pergi ke mana-mana. Tiadakah ingin hatimu hendak bermain-main dan berayun-ayun di buaian itu?"
"Tentu," jawab Nurbaya, "asal engkau yang mengayunkan aku."
"Memang, siapa lagi. Arif dan Tiar tak ada di sini. Asal suka saja engkau, berapa lama pun aku ayunkan," kata Samsu pula, lalu pergi bersama-sama Nurbaya ke tempat sebuah buaian kawat besi, yang diikatkan pada dua buah tiang kayu, yang tinggi dan kukuh.
"Tetapi jangan keras-keras kauayunkan aku, Sam!" kata Nurbaya, sambil duduk di atas ayunan itu.
"Bagaimana sukamu saja," jawab Samsu.
Setelah sejurus lamanya berayun-ayun itu, tiba-tiba berteriak- lah Nurbaya, "Ada kapal api di laut! Kelihatan dari atas ini." Dengan segera dihentikan Samsu buaian itu, lalu keduanya mencari sesuatu tempat yang tinggi, untuk melihat kapal yang di- katakan Nurbaya tadi.
Sesungguhnya, di laut kelihatan sebuah kapal api, yang rupanya baru keluar dari pelabuhan Teluk Bayur, berlayar dengan tenangnya menuju ke utara. Asapnya yang telah tebal dan hitam mengepul di udara.
..."Ke manakah perginya kapal itu, Sam?" tanya Nurbaya....
"Kemudian ke mana terusnya?" tanya Nurbaya pula.
"Kembali pula kemari, lalu ke Jakarta. Bolak-balik saja kerjanya, membawa penumpang dan muatan dari selatan ke utara," jawab Samsu. "Barangkali dengan kapal itu kau kelak pergi ke Jakarta," kata Nurbaya.
Mendengar perkataan ini, ber- tukarlah wajah muka Samsu, dari riang menjadi muram dan ter- menunglah ia berapa lamanya, tiada berkata-kata. Nurbaya sangat heran melihat hal sahabatnya yang sedemikian itu, lalu bertanya, "Mengapa kau tiba-tiba berdiam, Sam?
Kurang enak- kah badanmu?"
"Bukan, Nur. Hanya sebab engkau tadi menyebut nama negeri tempat aku akan pergi, tiga bulan lagi," jawab Samsu. "Pada sangkaku hatimu besar, pergi ke Jakarta," kata Nurbaya.
"Tentu, Nur, tentu! Karena di sanalah aku akan melihat ibu negeri Indonesia ini, kota yang sebesar-besarnya dan sebagus- bagusnya, dalam Tanah Air kita. Dan di sanalah pula aku akan beroleh pelajaran yang akan menjadikan aku seorang yang berilmu. Tetapi... berat sungguh hatiku akan meninggalkan kota Padang ini, tanah lahirku, tempat tumpah darahku, kampung halamanku.
Karena di sinilah ada ayah-bundaku, kaum keluarga- ku, serta handai tolanku; sedang di sana belum kuketahui dengan siapa aku akan bersama-sama dan betapa mereka itu.
Sampai kepada waktu ini aku biasa diperlindungi orang tuaku; tetapi di sana, tentulah aku akan hidup seorang diri."
"Tentu saja, Sam. Memang tak mudah bercerai dengan ibu- bapa, handai tolan dan teman sejawat. Tetapi pada sangkaku kecanggunganmu itu tiada berapa lama. Tiap-tiap permulaan biasanya susah.
Akan tetapi apabila telah sampai engkau ke Jakarta kelak, tentulah akan hilang juga segala kesusahanmu, dirintang penglihatan dan pendengaran yang indah-indah.
Barangkali pula lekas engkau beroleh ibu-bapa, sahabat kenalan yang baru, sehingga bertambah-tambah lekaslah pula engkau lupa kepada kami," kata Nurbaya sambil tersenyum dan memandang kepada Samsu.
"Jika rindumu itu tiada hendak hilang, baiklah kaulipur hatimu dengan pikiran yang begini, "Aku ada di Jakarta ini untuk sementara, menuntut pelajaran yang akan memberi kepandaian, pangkat, dan gaji yang besar kepadaku; oleh sebab itu pikiranku tak boleh tergoda oleh yang lain.
Apabila telah sampai maksudku itu kelak, tentulah aku segera dapat pulang kembali, bertemu dengan sekalian yang kucintai."
Ingatlah pantun:
Jika ada sumur di ladang,
tentu boleh menumpang mandi.
Jika ada umurku panjang,
tentu boleh bertemu lagi.
Gunung dan lembah yang tiada dapat bertemu, tetapi manusia, asal ada hayat di kandung badan, tentulah akan ber- jumpa juga.
Sedangkan ikan di lautan, asam di daratan, bertemu dalam kuali," kata Nurbaya dengan bermain-main, karena pada sangkanya, pura-puralah Samsu berbuat sebagai bersusah hati, sebab akan pergi ke Jakarta itu.
"Barangkali sangkamu, aku pura-pura berbuat susah, karena akan pergi ke Jakarta itu," kata Samsu pula, "tetapi sesungguh- nyalah sangat khawatir hatiku meninggalkan...."
__ADS_1
Hingga ini Samsu berhenti, sebagai tak berani menyebut nama orang yang dikhawatirkannya itu.
"Meninggalkan siapa, Sam?" tanya Nurbaya. "Adakah orang di sini tempat hatimu tersangkut?"
..."Meninggalkan engkau, Nur," jawab Samsu, terus terang....
"Aku?" tanya Nurbaya pula, seakan-akan heran.
"Ya," jawab Samsu dengan pendek.
Nurbaya termenung mendengar pengakuan ini, lalu me- nundukkan kepalanya ke tanah, sehingga tiadalah dapat dilihat, bagaimana warna mukanya pada waktu itu.
"Jangan engkau salah sangka, Nur! Dengarlah, apa sebabnya hatiku khawatir meninggalkan engkau. Telah beberapa hari aku digoda oleh suatu pikiran yang tak baik," kata Samsu.
"Dari mana datangnya pikiran yang sedemikian?" tanya Nurbaya pura-pura tersenyum, akan melenyapkan perubahan mukanya yang menjadi kaca hatinya.
"Bagaimana aku takkan khawatir," sahut Samsu. "Pada malam Jum'at yang telah lalu, aku bermimpi: rasanya aku men- daki Gunung Padang ini.
Tatkala sampai ke atas ini, tibalah aku rasanya di kota Jakarta yang ramai dan besar itu. Di tengah-tengah kota ini adalah sebuah menara yang tinggi. Seorang tua berkata kepadaku, "Hai Samsu, jika engkau hendak mencapai maksudmu, naiklah menara ini."
Tatkala aku hendak menaiki menara ini, tiba-tiba kelihatan- lah olehku, engkau mengikut dari belakang, seorang diri. Oleh sebab itu kutunggulah engkau, supaya dapat naik bersama-sama.
Tiba-tiba datanglah Engku Datuk Meringgih menghelakan engkau ke bawah, lalu didukungnya, dibawanya lari. Karena panas hatiku, kurebutlah engkau dari tangannya, sehingga ber- kelahilah aku dengan dia.
Oleh sebab ia lebih kuat dari padaku, dapatlah aku ditangkapnya dan dilontarkannya ke, bawah gunung ini. Engkau pun, sebab membantah, tiada mengikut kemauannya dijerumuskannya pula ke bawah.
Maka jatuhlah kita berdua terguling-guling ke kaki gunung ini, masuk ke dalam suatu lubang yang besar, sehingga tak dapat keluar lagi. Ketika itu terbangunlah aku dengan sangat terperanjat. Badanku basah kena keringat.
Semalam-malaman itu tiadalah dapat aku tidur lagi dan sejak waktu itu, mimpi ini tiadalah hendak hilang dari pikiranku."
"Wahai! Rupanya inilah sebabnya engkau kulihat terkadang- kadang termenung seorang diri," kata Nurbaya. "Tetapi jangan- lah engkau terlalu percaya akan mimpi itu, karena mimpi permainan pikiran, tiada selamanya benar; acap kali bohong, tak ada takbirnya.
Melainkan sejak sekarang marilah kita bersama- sama menadahkan tangan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk memohonkan kepada-Nya supaya mudah-mudahan di- pelihara-Nya juga kita di dalam segala hal," kata Nurbaya pula, sebagai pelipur hati Samsu.
Akan tetapi, meskipun ia berkata sedemikian, hatinya tiada senang juga, karena sesungguhnya ganjil mimpi Samsu ini pada rasa hatinya.
Tatkala itu kembalilah Bakhtiar dan Arifin tergopoh-gopoh dari perburuannya, sebagai ada sesuatu yang dilarikannya.
"Apa yang dapat?" tanya Nurbaya.
"Sst, diam! Jangan ribut!" kata Bakhtiar, sambil me- nyembunyikan bedilnya."
..."Bakhtiar membedil orang," kata Arifrrt perlahan-lahan....
"Membedil orang?" tanya Samsu dengan terperanjat.
"Ya," jawab Arifin, "tetapi nantilah kuceritakan kepadamu. Sekarang mari kita pulang lekas-lekas!"
"Makanan itu bagaimana?" tanya Nurbaya.
"Kita makan cepat-cepat dan kemudian kita pulang dengan segera," jawab Arifin.
Tatkala mereka berkata-kata itu, Bakhtiar menyembunyikan bedilnya dalam rumput-rumput, kemudian datang hendak makan bersama-sama. Tetapi walaupun ia sangat lapar, tiadalah dapat juga makan dengan sepertinya, karena ketakutan. Mukanya pucat, tangannya gemetar.
Setelah selesai makan lalu Bakhtiar membungkus bedilnya dengan kelopak lopak pisang, supaya jangan kelihatan dari luar. Kemudian menurunlah mereka bergesa-gesa.
Tatkala sampai ke pangkal pendakian, berhentilah mereka sejurus di kedai, untuk melepaskan lelahnya. Tiada lama kemudian daripada itu, turunlah dua orang serdadu dari atas gunung ini. Seorang dari padanya jalannya seakan-akan pincang dan paha kirinya dipegangnya dengan tangannya.
Tatkala Bakhtiar dan Arifin melihat serdadu ini, ber- sembunyilah mereka ke dalam kedai tadi. Seketika lagi sampai- lah kedua serdadu itu ke muka kedai ini, lalu hendak ber-henti pula di sana. Yang tiada pincang bertanya, "Masih sakitkah kakimu?
Marilah kita berhenti dahulu di sini."
"Ah, tak usah. Baik kita terus pulang, supaya jangan ter- lambat sampai ke tangsi," jawab yang sakit. .
"Siapakah yang telah membedilmu pada sangkamu?" bertanya pula yang tak sakit.
"Tentulah anak-anak. Jika dapat ia kuputar batang lehernya," jawab yang sakit.
Kemudian kedua serdadu itu naik sebuah sampan, lalu menyeberang sungai Arau.
Setelah sampai mereka ke seberang, barulah Bakhtiar dan Arifin berani ke luar, lalu barkata, "Itulah dia yang kena bedilku tadi."
"Bagaimana mulanya maka ia sampai jadi kena? Cobalah kauceritakan!" tanya Nurbaya yang agak pucat mukanya.
"Aku hendak membedil burung Merbah yang ada dalam semak-semak dan ia tiada kelihatan olehku, karena ia berdiri di balik pohon kayu. Tatkala kubedil burung itu, tiba-tiba kedengaran olehku suara orang berteriak, "Aduh! Apa ini?
Tolong!" Ketika itulah nyata olehku bahwa seorang daripada serdadu tadi telah kena bedilku. Dengan segera aku lari menyembunyikan diri."
"Memang ada-ada saja yang terjadi padamu, Bakhtiar! Belum hilang takutku, karena engkau diserang kera, sekarang kau tembak pula orang. Kalau dapat engkau olehnya tadi, bagaimana!" kata Nurbaya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Bukan kusengaja, Nur. Kakinya itu kusangka dahan kayu yang hitam, sebab badannya tersembunyi di balik pokok kayu. Siapakah yang 'kan dapat menentukannya dari jauh? Tetapi apanya yang kena, kaulihat tadi, Nur, tatkala ia melintas di sini?" tanya Bakhtiar.
"Paha belakangnya yang sebelah kiri," jawab Nurbaya. "Rupanya berdarah, lagi sakit; sebab selalu dipegangnya pahanya itu."
"Marilah kita pulang, sebab hari telah setengah satu. Pak Ali tentu telah ada dan perutku telah lapar," kata Samsu pula.
Setelah minum air seterup seorang segelas, menyeberanglah keempat mereka, lalu pulang ke rumahnya masing-masing.
__ADS_1