
Walaupun gunung ini pada hakikatnya tempat sedih dan duka cita, akan tetapi sebab pemandangan di atas puncaknya sangat indah, dijadikanlah, ia tempat bermain-main. Jalan naik ke atas bertangga-tangga, supaya pada musim hujan, mudah juga dapat didaki.
Di puncaknya didirikan tiang bendera yang tinggi. Pada tiap-tiap hari Ahad, berkibarlah bendera pada ujung tiang ini. Dekat tiang bendera itu, diperbuat sebuah rumah punjung yang bundar, cukup dengan bangku dan mejanya, tempat melepaskan lelah.
Akan menyejukkan badan yang panas karena mendaki, diperbuatlah pula ayun-ayunan, tempat berangin-angin, ganti kipas. Sekaliannya ini dijaga dan dibersihkan oleh orang hukuman.
Oleh sebab hal yang sedemikian, pada tiap-tiap hari Ahad, dikunjungilah tempat ini oleh mereka yang hendak berjalan jalan mencari kesenangan dan kesehatan tubuhnya, seraya membawa makanan-makanan dan minuman-minuman.
Ketika Nurbaya dengan teman-temannya sampai ke per- tengahan gunung itu, pada suatu pendakian yang curam, ber- katalah ia sambil mencari batu besar tempat duduk, "Alangkah baiknya; apabila ada kendaraan yang dapat ditunggang ke atas ini!"
"Bagaimana? Belum sampai separuh jalan, telah lelah," kata Arifin, seraya membuka buah bajunya, akan melepaskan hawa panas yang keluar dari badannya.
"Kalau tulangku sebesar tulangmu, aku tidak akan berkata sedemikian," jawab Nurbaya.
"Ha, pada sangkaku sekarang datang waktunya, aku akan menceritakan, betapa asal mulanya keramaian di rumahku tadi malam, sebab kulihat kamu sekalian berteriak, karena kelelahan," kata Arifm.
"Ya, ya," jawab Bakhtiar, "mulailah!"
"Baik, dengarlah dan perhatikan benar-benar!" kata Arifin pula, lalu bercerita, "Tatkala berbunyi katuk-katuk, aku sedang ada dengan orang tuaku di serambi belakang, hendak makan.
Sangat terkejut kami, sebab bunyi katuk-katuk itu datang dari rumah jaga, yang tiada berapa jauhnya dari rumah kami. Ayahku lalu melompat dari kursinya dan berteriak kepada opasnya, "Saban, suruh pasang bendi!" kemudiap masuklah ia ke dalam biliknya akan menukar pakaiannya.
Seketika lagi, keluarlah pula ia, lalu berteriak, sambil mengancingkan bajunya, "Sudah, Saban?"
"Sudah, Engku," jawab opas ini.
Ayahku lalu turun, sambil berkata kepada ibuku, "Masuk ke dalam dan tutup pintu!"
Ibuku yang rupanya sangat terkejut, tak dapat berkata apa- apa, hanya, "Hati-hati!" tatkala dilihatnya ayahku turun.
"Jangan khawatir!" jawab ayahku, lalu melompat ke atas bendinya.
Maka tinggallah kami dengan si Baki, sebab tukang kuda tak ada di rumah. Katuk-katuk itu bunyinya kian lama kian keras, sehingga kami makin lama makin bertambah takut. Maka disuruhlah oleh ibuku tutup pintu dan jendela, lalu kami masuk ke dalam bilik.
Karena takut, tiadalah kami ingat akan lapar kami.
"Ya, benar," kata Samsu, "Kami di rumah pun demikian pula; hanya bertiga dengan bujang saja. Ayahku sejak pukul lima petang tak ada di rumah. Coba kalau ada apa-apa, bagaimana dapat melawan?
Untunglah ayah Nurbaya datang ke rumahku, mengatakan kami tak usah takut, sebab pengamukan itu jauh. Dan lagi kalau ada apa-apa ia segera datang."
"Itulah yang menjadikan khawatir hatiku," kata Arifin pula, "sebab memang orang yang memegang pekerjaan sebagai ayah kita, lebih banyak musuhnya daripada sahabatnya.
Walaupun kucoba menghilangkan takutku dengan berkata ini dan itu kepada ibuku atau membaca buku, tetapi ngeri itu tiadalah hendak meninggalkan pikiranku; istimewa pula sebab kadang- kadang kedengaran suara ribut di jalan raya.
Sebentar-sebentar bunyi katuk katuk itu bertambah keras, sebagai hendak menyatakan, ada pula seorang lagi yang kena tikam si pengamuk. Dua jam lamanya kami di dalam ketakutan dan kira kira pukul sebelas, barulah mulai kurang bunyi katuk- katuk itu.
Tiada lama sudah itu, hilanglah bunyi ini sekaliannya, hingga heboh tadi jadi sunyi senyap. Ketika itu, barulah agak hilang takutku, karena kuketahui si pengamuk tentulah sudah dapat ditangkap. Tetapi ayahku belum juga pulang.
Mataku mulai mengantuk dan dengan tiada kuketahui tertidurlah aku di atas kursi. Ibuku, pada sangkaku, tiada dapat memejamkan mata- nya, sebab memikirkan ayahku, takut kalau-kalau ia mendapat celaka."
"Memang pekerjaan polisi sangat berbahaya," jawab Samsu, "dan acap kali kita dimusuhi orang pula."
"Tetapi kalau kita baik dengan anak negeri," kata Bakhtiar, "masakan dimusuhinya."
"Tentu lebih disukainya daripada orang yang jahat kepada mereka. Akan tetapi, walaupun demikian, masih saja dibenci.
Ada juga jalannya, supaya tiada dimusuhi orang, yaitu: yang bersalah jangan ditangkap, jangan dihukum dan diturutkan segala kemauannya; sebab meskipun bagaimana berat atau ringan kesalahan mereka, dihukum tentu mereka tak suka.
Dan apabila dijalankan juga hukuman, tentulah mereka akan menaruh dendam dalam hatinya. Istimewa pula kalau yang dihukum itu seorang yang berbangsa tinggi atau kaya, dan yang menghukum, orang kebanyakan saja."
"Kalau begitu, kita namanya bukan pegawai, melainkan seorang yang tiada menurut sumpah dan janjinya, orang yang memperdayakan Pemerintah atau orang yang makan gaji buta atau pencuri gaji.
Kalau tahu Pemerintah kelakuan kita yang demikian, tentulah kita akan dipecat daripada pekerjaan kita," sahut Arifin.
"Lagi pula bagaimana akan dapat menurut kemauan sekalian orang? Sedangkan kehendak dua orang yang berlawanan, lagi tak dapat diturut.
Misalnya seorang yang tak alim, tidak suka langgar dibangun dekat rumahnya, sebab terlalu ribut katanya; tetapi orang sebelah rumahnya, yang keras memegang agama, minta langgar itu diperbuat di sana, supaya mudah pergi berbuat ibadat.
Betapa dapat menurut kedua kesukaan yang berlawanan ini?"
"Tentu tak dapat," jawab Samsu. "Memang bagi seorang pegawai, hal yang sedemikian seperti kata pepatah: Bagai bertemu buah si mala kamo). Dimakan, mati bapak, tidak dimakan, mati mak. Mana yang hendak dipilih?"
"Kalau aku, barangkali tidak kumakan buah itu," kata Bakhtiar mencampuri perbincangan ini.
"Jadi kau rupanya lebih sayang kepada ayahmu, daripada kepada ibumu," sahut Nurbaya.
*) Buah perumpamaan, yang hanya ada dalam peribahasa
"Bukan begitu, Nur," jawab Bakhtiar, "kalau perkara sayang, tentu aku lebih sayang kepada ibuku daripada kepada ayahku, sebab ibuku suka memberi aku kue-kue, tetapi ayahku suka memberi aku tempeleng. Dan pada rasaku, kue-kue lebih enak daripada tempeleng.
Tetapi kalau ayahku mati, ibuku tak dapat mencari kehidupan sebagai ayahku. Betul ia boleh bersuami pula, tetapi masakan ayah tiriku akan sayang kepadaku seperti ayah kandungku. Jadi bagaimanakah halku kelak? Dapatkah juga aku akan meneruskan pelajaranku?"
"Baik, tetapi kalau ayahmu kawin pula, sesudah ibumu meninggal, bagaimana?" tanya Nurbaya.
"Tidak mengapa, sebab ayahku masih ada, yang dapat membantu aku," jawab Bakhtiar.
"Kalau mak tirimu itu sayang kepadamu; tapi kalau ia benci kepadamu, sebagai acap kali terjadi di negeri kita ini, tentulah akan diasutnya ayahmu, sampai ayahmu pun benci pula kepadamu. Bagaimana? Mak hilang, ayah benci.
Akan tetapi, kalau makmu masih hidup, walaupun ia tak dapat menolong kamu ataupun ia bersuami pula, sayangnya tetap padamu. Ia tak dapat diasut-asut.
Bukankah sudah dikatakan dalam peribahasa: Sayang ayah kepada anaknya sepanjang penggalah, jadi ada hingganya, tetapi sayang ibu kepada anaknya sepanjang jalan, tak berkeputusan."
"Ya, benar katamu itu, Nur," jawab Bakhtiar dengan kuatir rupanya, serasa banar akan terjadi hal itu atas dirinya: "Yang sebaik-baiknya janganlah aku bertemu dengan buah jahanam itu dan biarlah ibu-bapakku hidup sampai aku ada pekerjaan, yang dapat memberi penghidupan kepadaku."
"Sebenarnya orang yang menjadi pegawai Pemerintah," kata Samsu pula, seakan-akan hendak melenyapkan ingatan yang kurang enak itu dari dalam hati Bakhtiar, "dalam pekerjaannya harus dapat berbuat dirinya seperti suatu mesin, yang sebetul- betulnya menjalankan dan memperbuat segala apa yang harus diperbuatnya.
Artinya, tiada pandang-memandang, tiada me- naruh kasihan, tiada berat sebelah, tiada dapat tergoda oleh uang atau pemberian dan lain-lain sebagainya."
"Tetapi adakah orang yang sedemikian?" tanya Arifin.
"Dalam seratus, jarang seorang agaknya," jawab Samsu. "Sebab hal itu sangat susahnya."
"Jika begitu apa sebabnya, maka masih banyak saja orang yang mau bekerja di kantor polisi? Ada pula yang tiada dapat gaji, walaupun ia harus berpakaian yang patut, datang ke tempat pekerjaannya.
__ADS_1
Sesudah beberapa tahun, barulah dapat uang bantuan 5 atau 10 rupiah dan beberapa tahun kemudian, barulah diangkat jadi juru tulis. Akhirnya, apabila telah tua, barulah dapat jadi menteri polisi atau ajung jaksa," tanya Arifin pula. "Sebabnya ada bermacam-macam.
Ada yang bekerja se- sungguhnya karena hendak mencari kehidupan dengan tiada mempunyal maksud lain. Itulah yang baik.
Tetapi ada pula yang memandang pangkat saja, sebab pada sangkanya, apabila ia telah menjadi pegawai, telah tinggilah pangkatnya dengan diharmati dan ditakuti orang. Lain daripada itu dapat pula ia berbuat sekehendak hatinya kepada anak negerinya.
Tetapi sangkaku orang yang sedemikian, rnemang orang yang tiada dipandang dan dihormati orang.
Apabila ia seorang yang memang telah dipandang dan dihormati orang, tentulah ia tidak berkehendak lagi akan pandangan dan kehormatan, dan tiadalah pula ia akan bersusah payah, berhabis uang, untuk mendapat pangkat dan kemuliaan itu; istimewa pula, sebab dalam hal ini, bukan orangnya melainkan pangkatnya yang dihormati dan dimuliakan.
Oleh sebab itu acap kali, kita lihat, semasa di dalam berpangkat, sangat dihormati dan dimuliakan orang, tetapi bila telah berhenti, tiada diindahkan orang lagi.
Sebaik-baiknya kehormatan dan kemuliaan itu jangan timbul dari kekuasaan, melainkan dari hati yang suci, disebabkan oleh kebaikan kita sendiri.
Ada pula orang yang memang dengan maksud jahat, mencari pangkat, sebab diketahuinya, pangkat itu besar kuasanya; dengan demikian lekas dan mudah diperolehnya segala maksudnya. Akan tetapi pikiran yang semacam ini, hanya ada pada mereka yang tiada lurus hatinya.
Mereka yang mengerti, tentulah akan tahu, bahwa kekuasaannya tak lebih daripada kekuasaan anak negerinya dan pangkatnya sebenarnya rendah daripada pangkat orang yang tiada makan gaji.
Karena orang ini bebas, boleh berbuat sekehendak hatinya, tak perlu menurut perintah, sebab tak menerima upah. Kalau ia bersalah yang menghukum bukannya pegawai itu melainkan undang-undang juga.
Pegawai hanya seorang yang digaji Pemerintah, untuk menjalankan sesuatu kekuasaan, yang tak bersalah, tentu tak dapat dihukumnya dengan lurus. Untung benar tiada sekalian pegawai demikian kelakuannya. Banyak yang semata-mata dengan maksud baik menjabat pekerjaan.
Dan sesungguhnya, banyak kebaikan yang dapat diperbuat mereka, karena kekuasaan tadi." "Ah, aku tiada memandang kehormatan, kekuasaan, dan pangkat," jawab Bakhtiar tiba-tiba, "asal cukup dapat uang, pekerjaan apa pun tiada kuindahkan.
Boleh orang memanggil kuli kepadaku, asal diberinya gaji yang cukup."
"Supaya jangan sampai kekurangan kue-kue, bukan? Dipanggil hantu kue pun tak mengapa," kata Arifm sambil tertawa-tawa mengganggu sahabatnya ini.
"Apalagi yang kaucari dalam dunia ini, lain daripada keenakan dan kesenangan? Engkau belajar sekarang ini dengan maksud supaya kemudian mendapat kesusahankah?" jawab Bakhtiar.
"Tentu tidak," kata Samsu pula, yang rupanya hendak menyabarkan kedua sahabatnya, yang seakan-akan bermusuh- musuhan itu. "Tetapi di manakah tinggalnya ceritamu tadi, Arifin? Cobalah teruskan!"
"Benar, tetapi yang terlebih baik ialah kita teruskan perjalanan kita ini, sebab kalau kita masih berhenti di sini, sampai hari kiamat pun belum juga kita akan sampai ke atas. Di jalan kelak kusambung cerita itu."
Keempat anak muda ini mendakilah pula. Setelah sejurus lamanya mereka mendaki jalan menanjak, berceritalah pula Arifin, "Belum berapa lama aku tidur, terperanjatlah aku bangun, karena aku dengar suara orang berkata, "Jangan banyak cakap!
Nanti kupukul kepalamu, sampai engkau tak dapat bergerak lagi!"
Maka gemetarlah seluruh tubuhku, karena pada sangkaku, tentulah suara itu suara si pengamuk yang telah menangkap bujangku, supaya mudah melakukan niatnya yang jahat kepada kami.
Istimewa pula, karena tatkala itu kedengaran suara orang naik tangga rumahku, lalu mengetuk pintu, menyuruh bukakan pintu. Sebab takutku, tak tahulah aku apa yang hendak kuperbuat.
Walaupun aku hendak berdiri mencari senjata akan membela diriku dan ibuku, melawan orang itu tetapi tak dapat karena kakiku berat rasanya, sebagai terpaku pada lantai. Ketika aku hendak berteriak minta tolong, suaraku tak hendak keluar, sebab leherku serasa dicekik orang.
Untunglah ibuku berani bertanya, "Siapa itu?"
"Aku," jawab dari luar.
Walaupun suara itu rupanya sebagai suara ayahku, ibuku belum percaya juga, sebab ia bertanya pula, "Aku siapa?"
..."Engku Hop (hoofd), orang kaya," jawab opas ayahku....
Ketika itu barulah nyata benar kepadaku, bahwa ayahku ada di luar.
Tetapi rupanya benar ayahku yang masuk. Tatkala dilihatnya aku masih jaga, ia bertanya, "Hai, belum tidur?"
"Belum, Ayah," jawabku, "sebab takut, jadi hilang kantuk." "Patut engkau jadi hulubalang besar," kata ayahku pula dengan tersenyum, serta menyuruh pasang lampu kantornya. Sesudah makan, diperiksalah perkara pengamukan tadi. "Di sinilah kulihat si pengamuk itu."
"Bagaimana rupanya?" tanya Nurbaya.
"Ah, sebagai orang yang biasa saja. Hidungnya satu, matanya dua," jawab Arifin.
"Ya, tentu. Tetapi maksudku bukan demikian; serupa penjahatkah atau serupa orang baik-baikkah ia, tuakah atau masih mudakah, orang sinikah atau orang lain negerikah?" kata Nurbaya pula.
"Pada sangkaku bangsa penjudi tetapi masih muda. Tangannya dibelenggu, bajunya koyak-koyak dan berlumur darah, mukanya pucat, badannya gemetar dan matanya berputar- putar, sebagai masih marah," jawab Arifin dengan suara yang seram.
"Hi! Alangkah takutku, kalau melihat orang yang demikian," kata Nurbaya, sambil mengecutkan badannya, karena berdiri bulu romanya.
"Memang, aku pun tak berani dekat. Takut kalau-kalau datang pula nafsunya hendak mengamuk dan dapat dipatahkan- nya belenggunya."
"Ya, tetapi kalau tak ada pisau, bagaimana mengamuk?" dakwa Bakhtiar, yang hendak mengejek Arifin.
"Dengan tangan dan gigi, seperti engkau mengamuk kue- kue," jawab Arifin dengan tertawa, sebab ia dapat pula mengganggu sahabatnya ini.
"Orang mana ia dan apa mulanya, maka ia sampai berbuat demikian?" tanya Nurbaya, sebagai hendak memadamkan per- selisihan Bakhtiar dengan Arifin.
"Rupanya ia anak kampung Sawahan. Asal perkelahian, perkara main judi. Sebab ia banyak kalah, matanya jadi gelap," sahut Arifin, dengan tiada mengindahkan sahabatnya, Bakhtiar yang mengerut dahinya.
"Berapa orang yang diamuknya?" tanya Samsu.
"Dua orang; yang seorang mati, sebab kena dadanya; yang seorang lagi luka parah di kepalanya, lalu dibawa ke rumah sakit."
"Kasihan!" kata Nurbaya.
"Apa sebabnya, maka lama benar baru ia tertangkap?" tanya Samsu pula.
"Sebab mula-mula ia lari menyembunyikan dirinya, dan tatkala hendak ditangkap, ia melawan. Tetapi sebab banyak orang yang memburunya, jadi dapat juga ia dipersama- samakan," jawab Arifin. "Sesudah itu diperiksa oleh ayahku, si pengamuk terus dibawa ke penjara."
"Bagaimanakah agaknya keputusan perkara itu?" tanya Nurbaya.
"Pada sangkaku, si pengamuk itu akan dihukum buang, sekurang-kurangnya sepuluh tahun," jawab Arifin.
"Hura!" demikianlah bunyi sorak Bakhtiar tiba-tiba, "kita telah sampai."
Sesungguhnya keempat anak muda itu, dengan tiada dirasainya, telah hampir sampai ke puncak Gunung Padang, karena tiang bendera dan rumah perhentian yang ada di sana, telah kelihatan.
Tiada lama kemudian daripada itu, Nurbaya merebahkan dirinya ke atas sebuah bangku, dalam.rumah perhentian ini, sambil berkata, "Akhirnya sampai juga kita kemari!"'
"Asal sabar, yakin dan tawakkal, tentulah sampai maksud yang kekal," jawab Bakhtiar dengan perlahan-lahan, sebagai seorang yang alim.
"Tetapi kalau tiada diusahakan diri, bagaimana?" tanya Arifin yang masih menentang Bakhtiar. "Bolehkah Tuan Guru sampai kemari, jika tiada berjalan lebih dahulu? Dapatkah Tuan Guru yang sangat alim ini mengaji Quran, apabila tiada dipelajari lebih dahulu?
Dan dapatkah menjadi tukang tambur, sebab perut tiada diisi lebih dahulu dengan kue-kue, melainkan dengan sabar, yakin dan tawakkal saja?"
__ADS_1
"Ah, dengan engkau memang tak dapat bercakap-cakap; lebih baik aku pergi ke sana," sahut Bakhtiar dengan sebalnya lalu keluar rumah perhentian itu, pergi ke buaian.
"Ya, pergilah ke sana dan bercakap-cakap dengan kayu- kayuan itu! Tentu tiada dibatalkannya perkataanmu, sebab ia tak pandai menjawab. Dengan demikian, dapatlah engkau berkata sesuka hatimu, tetapi seorang diri, seperti orang ... hm," sahut Arifin, lalu pergi pula ke tempat lain.
Tatkala itu Samsulbahri masih berdiri, rupanya sedang asyik memandang ke sebelah timur, kemudian memutar kepalanya perlahan-lahan ke sebelah utara dan akhirnya ke sebelah barat.
Pikirannya sebagai tak ada dekat teman-temannya, melainkan jauh di balik gunung yang tinggi, di seberang lautan yang dalam.
Bagaikan ada suatu suara yang berbisik di telinganya, demikian: "Samsulbahri, pandang dan tilik serta perhatikanlah benar- benar olehmu tanah lahirmu ini, tempat tumpah darahmu, karena tiada berapa lama lagi engkau akan berangkat meninggalkan sekaliannya; berangkat jauh ke rantau orang, berjalan bukan untuk sehari dua, bahkan berbulan dan bertahun.
Siapa tahu, barangkali engkau tak dapat kembali pulang, karena nasib tiap- tiap makhluk yang di atas dunia ini ada di dalam tangan Allah, dan nyawanya adalah sebagai tergantung pada sehelai benang sutera, yang halus dan rapuh, sehingga terkadang-kadang angin yang bertiup sepoi-sepoi pun dapat memutuskan tali per- gantungan itu."
Entah pikiran yang sedemikian, entah keelokan pemandangan puncak gunung itu yang memberi asyik hati anak muda ini, tiadalah dapat dilihat pada air mukanya yang bermuram-muram durja, sebagai mengandung suka dengan duka.
Memang pemandangan di atas Gunung Padang sangat elok, karena dari sana, nyata kelihatan pertemuan antara daratan dengan lautan, sebagai garis: putih yang terbentang dari kaki Gunung Padang arah ke utara, melalui jalan yang berbelok- belok, yang terkadang-kadang jauh menganjur ke laut, sehingga terjadilah pada beberapa tempat, di kanan-kiri tanjung-tanjung ini, teluk yang permai.
Pada beberapa tempat, rupanya baris pinggir laut itu sebagai bergeiak-gerak, disebabkan oleh ombak, yang memecah di tepi pantai yang menimbulkan buih yang putih warnanya. Orang yang memukat ikan, kelihatan sebagai semut berkerumun di sana sini.
Alangkah elok rupanya perhubungan daratan dan lautan itu, dua benda yang menjadikan dunia ini, tetapi yang sangat berlainan warna, sifat, hal, dan isinya.
Di sebelah barat dan utara kelihatan lapangan yang sangat luas dan datar, yang kebiru-biruan warnanya dan yang pada beberapa tempat sebagai dierami oleh pulau-pulau kecil, yang berjejer letaknya, dari utara ke selatan, adalah seakan-akan suatu telaga yang amat besar, yang berdindingkan langit putih di sebelah barat.
Pada sangka ahli bumi, pulau-pulau itu dahulu kala, berhubungan dengan pulau Sumatera. Karena keruntuhan di dasar lautan, tenggelamlah perhubungan itu, meninggalkan beberapa pulau.
Di sebelah timur, kelihatan daratan yang hijau warnanya, yang penuh ditumbuhi pohon kelapa dan pohon yang lain-lain, adalah seakan-akan sebuah kebun yang amat luas layaknya.
Pada beberapa tempat kelihatan pohon cemara dan pohon ketapang yang tinggi-tinggi, sebagai menjulangkan puncaknya dari tindihan pohon kelapa yang banyak itu, supaya dapat menangkap angin dan cahaya matahari.
Di sana-sini tampak atap rumah yang merah atau putih warnanya, sebagai mengintip. dari celahcelah daun kayu. Hanya pada bagian yang dekat ke kaki Gunung Padang itulah yang banyak rumah dan jalan-jalannya yang ber- baris-baris, sejajar dengan sungai Arau.
Jauh di sebelah timur, kebun yang besar itu dipagari oleh gunung-gunung yang memtujur pulau Sumatera, yaitu sebagian daripada Bukit Barisan yang letaknya di tengah-tengah pulau Sumatera, memanjang dari barat laut ke tenggara.
Di belah timur laut dan utara, kelihatan beberapa puncak gunung yang tinggi- tinggi, sebagai ujung tiang pagar tadi.
Di antara puncak-puncak ini, di balik awan yang putih, kelihatan puncak Gunung Merapi di Padang Panjang, yang terkadang-kadang nyata nampak asapnya mengepul ke atas, bila cuaca amat terang.
Walaupun di sebelah timur, sekalian mahluk yang mendiami daratan akan mendapat kehidupan dan kesenangan, di sebelah barat tiada lain yang akan diperolehnya daripada bahaya dan maut.
Demikian pula kebalikannya jika dibawa sekalian yang mendiami bagian yang di sebelah barat, ke timur, tentulah segera akan sampai ajalnya. Di sebelah timur dapatlah manusia berpijak tanah, tetapi di sebelah barat akan luluslah ia ke dasar lautan.
Setelah sejurus lamanya Samsulbahri termenung sedemikian itu, tiba-tiba terperanjatlah ia, sebagai terbangun daripada tidurnya, karena dirasainya bahunya dipegang orang dari belakang dan didengarnya suara Nurbaya berkata, "Apakah yang kaulihat, Sam?"
"Ah, tidak, Nur," jawab Samsu, "penglihatan di sini sesungguhnya amat elok: Lihatlah pohon-pohon kelapa itu, hampir tak ada hingganya dan di antaranya. Lihatlah pula bukit barisan yang jauh menghijau samar-samar di sebelah timur itu!
Dan lihatlah tepi pantai negeri Pariaman, Tiku, dan Air Bangis, yang menggaris terang sampai ke utara."
"Ya, sesungguhnya amat indah," jawab Nurbaya. "Hanya di laut kurang pemandangan. Manakah pulau Pandan, dan manakah pulau Angsa Dua?"
"Itulah, yang jauh itu, pulau Pandan, dan yang sebelah kemari, pulau Angsa Dua," kata Samsu pula, sambil menunjuk dua buah pulau yang berleret letaknya di sebelah ke muka dan sebelah lagi di sebelah belakang.
"Jadi sesungguhnya sebagai dalam pantun.
Pulau Pandan jauh di tengah,
di balik pulau Angsa Dua,"
kata Nurbaya pula.
"Memang benar," jawab Samsu. "Tetapi bagaimanakah sambungan pantun itu?" tanya Samsu.
"Ah, masakan kau tak tahu. Jangan: Kura-kura di dalam perahu, pura-pura sebagai tak tahu," sahut Nurbaya.
"Sebenarnya pantun itu pantun tua, yang demikian bunyinya:
Pulau Pandan jauh di tengah,
di balik pulau Angsa Dua,
Hancur badan di kandung tanah,
guna baik diingat jua."
kata Samsu pula. "Tetapi oleh anak-anak muda sekarang ditukar menjadi:
Pulau Pandan jauh di tengah;
di balik pulau Angsa Dua,
Hancur badanku di kandung tanah,
cahaya matamu kuingat jua."
"Ya, tentu, begitu pun boleh juga; bagaimana kehendak yang berpantun saja," jawab Nuibaya.
Sungguhpun ia berkata demikian, tetapi di dalam hatinya buah pantun ini menimbulkan suatu pikiran; hanya tiada diper- lihatkannya itu, dan dibuangnyalah mukanya menoleh ke darat serta bertanya, "Gunung yang tinggi itu, gunung apakah namanya?"
"Gunung Merapi, sangkaku," jawab Samsu.
"Gunung Merapi yang dekat Padang Panjang?" tanya Nurbaya.
"Ya, antara Bukit Tinggi dan Padang Panjang," jawab Samsu. "Dan tahukah pula engkau pantun yang berhubungan dengan kota Padang Panjang itu?"
..."Tidak," jawab Nurbaya, dengan hati yang agak berdebar....
"Begini," kata Samsu.
"Padang Panjang dilingkar bukit,
bukit dilingkar kayu jati,
Kasih sayang bukan sedikit,
dari mulut sampai ke hati."
__ADS_1