Siti Nurbaya Kasih Tak Sampai

Siti Nurbaya Kasih Tak Sampai
Episode 13


__ADS_3

*) Merendah diri


*) Ditimba


kebiasaan orang dan negeri itulah yang dipakai dan dijalanan, supaya disukai orang dan lekas mendapat sahabat kenalan yang baik, yang sudi menolong kita dalam segala kesusahan kita.


Sahabat kesukaan, janganlah diperbanyak, sebab biasanya tiada memberi faedah, bahkan acap kali menyedihkan hati. Sahabat kedukaan, itulah yang baik dirapati.


Sahabat musuh, yaitu orang yang mengail dalam belanga dan menggunting dalam lipatan, yang pura-pura bersahabat dengan kita, karena hendak men- celakakan kita, haruslah berhati-hati benar, karena ialah yang rupanya terlalu karib kepada kita dengan manis budi bahasanya.


Oleh sebab itu, janganlah lupa pula akan pepatah kita: Buah yang manis itu acap kali berulat.


Yang tua harus dihormati, yang muda dikasihi, sama besar mulia-memuliakan.


Walaupun yang tua itu rupanya kurang daripada kita, tentang pengetahuan, kekayaan, pangkat, bangsa, ataupun yang lain-lain sebagainya, tetapi ia terlebih dahulu makan garam daripada kita dan terlebih banyak merasai kehidupan yang baik dan jahat.


Ingatlah, lama hidup banyak dirasai, jauh berjalan banyak dilihat. Oleh sebab itu pada orang yang sedemikian, tak dapat tiada adalah juga pengetahuan atau penglihatan atau penanggungan yang belum ada pada kita, atau belum kita rasai. Itulah sebabnya orang ini harus dihormati.


Yang muda harus dikasihi; sebab mereka adik kita, yang kurang kekuatan dan pengetahuannya daripada kita. Tak patut kita mempergunakan kelebihan kita, akan menganiaya mereka. Demikian pula segala mahluk yang ada, terlebih-lebih yang lemah dan lata, haruslah disayangi.


Jangan disakiti, karena sekalian itu hamba Allah sebagai kita juga. Dengan sesama manusia, haruslah berkasih-kasihan, beramah-ramahan dan bertolong-tolongan, dalam segala pekerjaan, suka dan duka. Terlebih-lebih yang sengsara dan kesusahan itulah, yang ter- utama harus ditolong.


Yang mulia dan kaya pun tak perlu dihindarkan, karena yang miskin dapat membantu dengan kekuatan dan nasehat dan yang kaya dapat menolong dengan uang.


Janganlah angkuh dan sombong; istimewa pula karena pada kita sekarang ini, tak ada yang dapat disombongkan; uang tidak, bangsa pun kurang.


Walaupun ada berharta, berbangsa dan berpangkat sekalipun, tak perlu disombongkan, karena sebagai telah kukatakan, sekalian itu barang pinjaman belaka dan hanyalah dalam dunia ini saja ada harganya.


Bila yang empunya kelak meminta kembali hartanya itu, tak dapat tiada haruslah dipulangkan.


Jangan suka berbuat kejahatan dan kelaliman, melainkan kebaikan itulah yang akan kaucintai. Itulah, pepatah: Raja adil raja disembah, raja lalim raja disanggah. Sedangkan raja lagi diperbuat demikian, apalagi kita.


Pikiranmu pun haruslah suci dan bersih, jangan suka berniat yang salah kepada dirimu atau diri orang lain, karena segala perbuatan dan pikiran itu tak hilang; ada awal tentu ada pula akhirnya.


Segala perbuatan atau pikiran yang jahat, tak kan tiada jahat jugalah jadinya kepada dirimu sendiri atau diri sesamamu manusia. Kebalikannya, segala perbuatan dan niat yang baik itu, tak dapat tiada akan mendatangkan kebaikan juga atas dirimu atau diri orang lain.


Walaupun terkadang-kadang akibat perbuatan dan niatmu itu berlainan rupanya daripada maksudmu, janganlah engkau syak; sekalian itu takkan salah. Jika tak sekarang, kemudian tentulah akan membalas juga kebaikan atau kejahatan itu.


Yang baik itu, tak dapat menimbulkan yang jahat itu, yang jahat tak dapat pula mendatangkan yang baik.


Bila permintaanmu tiada kabul dan maksudmu tiada sampai, dan jika engkau beroleh sesuatu kesusahan atau mara bahaya, janganlah lekas putus asa, serta menyesal akan untungmu dan murka akan Tuhanntu, karena segala sesuatu itu memanglah karunia juga daripada Tuhanmu dan Tuhan itu sesungguhnya bersifat adil serta pengasih penyayang kepada hamba-Nya; sekali-kali tiadalah la berkehendak membinasakan hamba-Nya, dalam waktu yang bagaimana sekalipun.


Oleh sebab itu segala yang dikurniakan-Nya kepada hamba-Nya, meskipun rupanya jahat bagi mereka yang tiada mengerti, tetapi sesungguhnya hakekatnya baik juga: Jika engkau pikirkan dan perhatikan benar-benar akan nyatalah kepadamu, bahwa segala yang jahat rupanya yang telah jatuh ke atas dirimu itu, ada juga mengandung kebaikan, yaitu pelajaran, yang dapat membawa engkau ke padang kemajuan yang sebenar-benarnya.


Oleh karena kesusahan dan kesengsaraan itulah, maka jadi bertambah- tambah pengetahuanmu dan ilmumu, tentang rahasia-rahasia alam ini, dan kehidupan di atas dunia ini.


Kesenangan dan kesukaan jarang mendatangkan pelajaran, bahkan acap kali me- lupakan manusia itu akan dirinya dan Tuhannya; terkadang- kadang menjadikan mereka itu sombong, angkuh serta tekebur.


Akan menerangkan, bahwa kecelakaan itu tak lain daripada pelajaran, dengarlah misal ini!


Seorang kanak-kanak, belum tahu akan bahaya api. Bagaimana dapat diterangkan kepadanya, supaya mengerti benar ia, akan kebesaran bahaya itu sehingga dapat ia menghindarkan dirinya daripada api itu? Susah sangat bukan'?


Hampir tak dapat, karena bahaya itu tak dapat diperlihatkan, atau dimisalkan kepada kanak-kanak yang kecil itu dengan sebenar-benarnya, sebelum dirasainya sendiri.


Pada suatu hari, tatkala ia bermain-main api, dengan takdir Allah, terbakarlah tangannya. Pada waktu itu, baharulah dirasainya bahaya api itu.


Mereka yang tiada tahu atau yang tiada hendak berpikir lebih panjang, mengatakan kanak-kanak itu mendapat hukuman daripada Tuhan, tetapi sesungguhnya mendapat kurnia, yaitu suatu pengetahuan dan pelajaran yang tak dapat diperoleh- nya, jika tiada dirasainya sendiri.


Oleh karena kecelakaan itu, bertambahlah pengetahuan kanak-kanak tadi dan dapatlah ia menghindarkan dirinya daripada bahaya api, yang boleh berlipat ganda besarnya daripada yang telah dirasainya itu. Bukankah ini kurnia?


Demikianlah juga segala kesusahan dan kecelakaan yang lain-lain, tak dapat tiada, ada juga baiknya.


Bila kaupikirkan segala mara bahaya yang menimpa dirimu, niscaya terjatuhlah engkau daripada was-was dan penyesalan hati serta beberapa penyakit yang asalnya dari itu.


Pikiran yang masgul, sedih dan susah, tidak mendatangkan kebaikan kepada dirimu, semata-mata kejahatan juga; melainkan sabar dan tawakal, serta pikiran yang suci itulah juga, yang menambah kesehatan badan. Bukankah telah dikatakan: sabar itu anak kunci pintu surga.


Bukankah sabar itu tanda faham yang dalam, iman yang tetap, yaitu sifat-sifat yang mulia.


Sabar itulah yang acap kali memberi jalan ke surga dunia dan surga akhirat, sedang tiada sabar, pemarah, pengumpat, dengki, khianat, loba dan tamak dan sifat yang lain-lain, yang sebagai ini, acap kali menuntun kita ke dalam neraka.


Jika dapat engkau sabarkan hatimu daripada segala kesedihan, kesusahan dan amarah, tentu- lah dapat pula engkau tahan segala nafsumu yang tiada baik. Sifat yang dengki khianat loba dan tamak itu, harus dilawan dengan sekeras-kerasnya, supaya nyahlah sekaliannya dari hatimu.


Kekayaan yang besar, pangkat yang tinggi, bangsa yang mulia, tiada selamanya membawa kesenangan; karena kebanyakan manusia bersifat tamak, tiada menerima yang telah dikurniakan Tuhan kepadanya, melainkan hendak bertambah- tambah dan berlebih-lebihan juga.


Dan jika dapat pun dipenuhinya segala kehendak dan maksudnya itu bukan puas hatinya, bahkan bertambah-tambah pulalah tamak dan lobanya, dan semakin lupalah ia akan dirinya dan Tuhannya, karena asyik hendak memuaskan hawa nafsunya yang tak dapat dipenuhi itu.


Dan jika tak dapat disampaikannya segala maksudnya itu, menyesallah ia akan untungnya dan mengumpatlah ia kepada Allah. Ke sini ke sana, tiadalah orang yang sedemikian itu akan mendapat kesenangan dan kesejahteraan.


Oleh sebab itu terimalah segala yang telah dikurniakan Tuhan itu dengan sabar. Jika hendak menambah yang telah ada itu, boleh tetapi hendaklah minta kepada-Nya dan. dengan jalan yang baik.


Jika tiada dikabulkan permintaan itu sekarang, sabarlah dahulu barangkali kemudian dapat juga, karena barang sesuatu yang dikehendaki itu, niscaya akan diperoleh juga akhir kelaknya, asal dengan yakin dan bersungguh-sungguh hati meminta.


Sebagai telah kukatakan, Tuhan itu bersifat pengasih dan penyayang.


Orang yang pada lahirnya hina, miskin dan daif, terkadang- kadang hatinya terlebih senang daripada yang kaya, mulia atau berpangkat tinggi.


Misalnya, seorang anak, yang tinggal ter- sembunyi di hutan atau di gunung, jauh dari¬pada segala keindahan, kesukaan, kekayaan dan kepintaran dunia, acap kali terlebih senang daripada orang kota, yang selalu diselimuti oleh sekalian kebesaran dan kemuliaan; sebab keperluan untuk kehidupan anak hutan itu, tiada seberapa, sehingga keinginan hatinya hampir tak ada dan nafsunya pun kurang.


Keinginan dan nafsu itulah penggoda yang teramat besar


Setelah berhenti sejurus memakan buah-buahan bawaan Samsu disambunglah pula oleh Baginda Sulaiman nasihat kepada anaknya itu, "Janganlah engkau bersangka, kemajuan dunia itu selamanya mendatangkan manfaat kepada manusia, tidak.


Misal yang mudah, yaitu ini: Apakah sebabnya maka orang tua-tua dahulu kala umurnya lebih panjang dan badannya, lebih sehat daripada orang sekarang ini? Padahal kehidupan mereka itu tidak sernpurna dan keperluan mereka itu pun tiada sebanyak orang sekarang ini?

__ADS_1


Pakaiannya terkadang-kadang hanya sehelai kain kulit kayu, makanannya tiada dimasak dan tiada diberi bumbu atau rempah-rempah, rumah tangganya, di pokok kayu atau dalam gua batu.


Bukan umur dan kesehatan badannya saja yang lebih daripada orang sekarang, tetapi ilmunya pun terlebih dalam pula; misalnya ilmu bertanam padi, yang asalnya daripada orang Hindu, zaman dahulu kala, sampai kepada waktu ini, belum dapat diperbaiki orang.


Candi-candi, yang diperbuat orang Hindu itu, belum dapat ditiru oleh insinyur-insinyur.yang pandai, tentang kekuatannya. Ilmu orang Mesir membungkus mayat rajanya, sampai dapat disimpan beribu-ribu tahun lamanya pun, tiada diketahui orang sekarang.


Sampai dewasa ini masih ada juga bekas-bekas orang dahulu itu, walaupun tiada sebagai di masa mereka itu mesih hidup.


Ingatlah pula akan orang-orang gunung, di negeri kita ini yang tinggal tersisih, jauh dari kota, di tempat yang sunyi! Bukankah badan mereka itu terlebih sehat dan kuat daripada orang kota? Hati dan pikirannya terlebih baik dan lebih bersih pula? Apakah makanan mereka itu?


Nasi dengan asam-asam dan sayur-sayuran, yang tiada dimasak dengan sempurna. Sungguh- pun demikian, badannya sebagai gajah dan kekuatannya bukan sedikit. Hujan dan panas tiada diindahkannya, bahkan seakan- akan menambahkan kesehatan badannya.


Pakaiannya hanya secarik kain, rumah tangganya dimasuki hujan dan angin, tetapi jarang mereka itu sakit.


Akan orang kota yang telah maju itu, berbagai-bagai akal dan obat yang dipakainya, supaya jangan sakit. Rumah tangganya haruslah baik, menurut ilmu dokter, pakaiannya cukup daripada kain yang baik-baik, makanannya haruslah dijaga benar-benar; jangan sampai kekurangan dan kotor.


Pada sangkaku kehidupan yang serupa itulah, yang meracun manusia, menjadikan pendek umurnya dan lemah badannya.


Kebaikan mereka, orang yang dikatakan setengah biadab itu, aku sendiri telah acap kali merasainya; suka tolong-menolong, beramah-ramahan, berkasih-kasihan, lurus hati, boleh dipercayai, setia, hormat, tertib, sopan, santun, adil dan lain-lain; sekaliannya, sifat-sifat yang telah dilupakan oleh kebanyakan orang kota.


Sayang orang yang sedemikian, makin lama makin berkurang-kurang, bertukar dengan orang yang dinamakan dirinya cerdik pandai dan beradab, tetapi yang sebenarnya, makin pandai makin ganas dan makin buas, serta menukar sifat- sifat nenek moyangnya, yang mulia-mulia itu dengan dengki, khianat, loba, tamak, hidup sendiri-sendiri, tiada hendak tolong- menolong, tiada hendak beramah-ramahan dan berkasih-kasihan; sombong, angkuh, kikir, tekebur, tak boleh dipercayai, tiada setia, lalim dan sebagainya.


Ah, bagaimanakah akhirnya dunia ini, apabila kemajuan, yang sangat dicintai kaum sekarang, membawa manusia ke jalan yang seperti itu?


Lagi pula, haruslah engkau ketahui, kemajuan itu, ialah suatu perkakas, yang boleh ditujukan ke tempat yang baik dan ke tempat yang jahat. Bila ke tempat yang baik di kemudian, baik pulalah hasilnya tetapi bila ditujukan tempat yang jahat, tentu jahatlah jadinya.


Orang sekarang, rupa-rupanya hendak menunjukkan perahu kemajuannya itu, ke pulau kejahatan, jadi bukan akan menyempurnakan manusia, bahkan akan memusnah- kan segala yang hidup.


Bedil itu apakah gunanya, jika tak untuk menghabiskannya? Meriam itu apakah faedahnya, jika tidak untuk meleburkan dunia? Dan apakah sebabnya, maka jadi begini?


Tak lain karena orang sekarang, yang mengaku dirinya terlebih pandai dan beradab daripada orang dahulu, yang dikatakannya biadab itu, sesungguhnya bertambah ganas dan buas, sebagai telah kukatakan tadi.


Makin bertambah maju manusia itu, makin bertambah besar kebaikan dan kejahatannya. Ilmu dokter, yaitu suatu hasil daripada kemajuan.itu, walaupun dapat dipergunakan, untuk menyembuhkan penyakit, tetapi dapat pula dipakai akan pembunuh yang hidup.


Oleh sebab orang yang tiada beriman, memang terlebih mudah digoda oleh kejahatan dari dipimpin oleh kebaikan, menjadilah kemajuannya suatu bisa, yang meracun dunia. Itulah sebabnya orang yang sedemikian, tak baik diberi senjata kemajuan.


Bukankah penjahat yang terpelajar itu, terlebih berbahaya daripada penjahat yang bodoh? Bila seorang yang bodoh, hendak mencuri, ditunggunya dahulu sampai yang empunya tak ada atau sampai ia tidur. Jika mereka masih ada, atau masih jaga, tak dapatlah disampaikannya maksudnya.


Tetapi penjahat yang terpelajar, di dalam hal itu, tentulah akan mempergunakan segala ilmunya, yang terkadang-kadang boleh sangat memberi bahaya, untuk menyampaikan niatnya.


Oleh sebab itu, segala ilmu yang jatuh kepada mereka yang tiada berhati baik, akan menjadi senjata yang berbisalah, di tangan mereka. Sebelum menuntut ilmu, haruslah dibersihkan dahulu hati. Alangkah besar faedahnya, bila di sekolah diajarkan juga ilmu suci hati!"


Hingga itu berhentilah Baginda Sulaiman berkata-kata, lalu meminta pula buah apel sebuah.


Kemudian barulah berkata pula ia, "Bila engkau beruntung baik, pakailah kelebihan hartamu itu, untuk menolong yang susah dan miskin, kepandaianmu, untuk menunjuk mengajari yang belum tahu dan pangkatmu, untuk membawa sesamamu manusia ke tempat yang sejahtera.


Jika itu kau lakukan, tak dapat tiada, selamatlah dan terpeliharalah engkau dunia dan akhirat.


Dan apabila telah datanglah pula waktunya engkau akan meninggalkan dunia ini, niscaya takkan adalah lagi sesuatu yang menjadi alangan bagi perjalananmu dan berpulanglah engkau, dengan perasaan yang tulus, karena kauketahui bahwa engkau, semasa hidupmu, tiada berbuat salah.


Suatu lagi yang hendak kukatakan kepadamu, yaitu pepatah kita: pikir itu pelita hati. Peribahasa ini sangat benar, baik lahir ataupun batin. Barang sesuaiu yang hendak diperbuat atau dikatakan, hendaklah dipikir lebih dahulu dengan sehabis-habis pikiran.


Janganlah terburu dan jangan pula memakai ilmu katak, telah melompat sebelum diketahui, apa yang akan terjadi atas diri! Itulah sebabnya, acap kali salah lompatnya, yang men- datangkan celaka kepadanya. Bila telah binasa, datanglah sesal yang tiada berkeputusan.


Tetapi apa gunanya lagi sesalan itu? Perkataan yang telah keluar dari mulut dan sesuatu yang telah terjadi, tak dapat ditarik kemliali. Sesal dahulu pendapatan, sesal kemudian tak berguna, kata orang kita. Kesusahan yang menimpa, karena kesalahan itu, harus ditanggung.


Kaki terdorong, ini padahannya, mulut terlanjur, emas padahannya). Oleh sebab itu, haruslah perlahan-lahan dan berhati-hati bekerja: biar lambat asal selamat, tak lari gunung dikejar. Bila telah ditimbang buruk haiknya, laba ruginya dan bila telah dibolak-balikkan, dan nyata benar kebaikan pekerjaan itu, kerjakanlah! Insya Allah, selamat.


Lagi pula jangan suka


*) Alamatnya mendengar hasut fitnah dan ajaran yang tiada baik: nasihat yang baik itulah yang akan ditaruh dalam hati dan dipakai selama hidup.


Jika terlalu suka mendengar perkataan orang, menjadi kacau balau pikiranmu dan acap kali meu¬datangkan sesalan kepada yang salah, teperbuat sebagai cerita peladang dengan keledainya."


"Bagaimana ceritanya itu?" tanya Nurbaya.


"Samsu tentu tahu cerita ini. Biarlah ia menceritakannya, supaya aku dapat berhenti sejurus, melepaskan lelahku, karena berkata-kata ini."


"Bagaimana cerita itu, Samsu?" tanya Nurbaya kepada Samsulbahri.


"Begitu," jawab Samsu. "Keledai bukankah kendaraan manusia? Tetapi karena yang empunya, sangat suka mendengar perkataan orang, dengan tiada memikirkan perkataan itu lebih jauh, menjadilah ia kendaraan keledainya."


"Ajaib," jawab Nurbaya.


"Memang, demikianlah jadinya, bila kita terlalu suka mendengar perkataan orang.


Karena orang itu, tiada semuanya baik kepada kita dan walaupun baik maksudnya, terkadang- kadang boleh jahat juga jadinya kepada kita; sebab hal manusia itu tiada sama; yang baik pada seorang, boleh jahat pada yang lain.


Jika diturut dengan tiada dipikirkan baik-baik lebih dahulu, terjerumuslah kita ke dalam lubang.


Cerita keledai itu demikian bunyinya: Seorang peladang mempunyai seekor keledai. Pada suatu hari, pergilah ia bersama- sama anaknya ke pasar, akan membeli-beli. Si peladang ini menunggang keledai itu, dan anaknya disuruhnya berjalan di sisinya.


Tiada berapa lama mereka berjalan, bertemulah seorang perempuan. Tatkala dilihat oleh perempuan itu hal yang sedemikian, berkatalah ia, "Sesungguhnya orang tua ini tiada berpikiran!


Anaknya yang kecil, yang belum kuat berjalan, dibiarkannya berjalan kaki, sedang ia duduk bersenang-senang di atas keledainya."


Perkataan perempuan itu terdengar oleh si peladang, lalu dinaikkannya anaknya ke atas keledainya dan berjalanlah ia di sisi binatang ini.


Kemudian bertemulah pula seorang pendeta. Tatkala dilihat oleh pendeta itu akan hal yang sedemikian, menggeleng-geleng- lah ia, seraya berkata, "Anak ini tiada berbudi. Adakah patut orang tuanya disuruhnya berjalan kaki sedang ia duduk keenak- enakan di atas kendaraan?"


Perkataan ini termakan pula oleh si peladang, lalu katanya, "Baiklah kita berdua menunggang keledai ini."


Tiada berapa lamanya berkendaraan berdua, bertemulah pula seorang pegawai negeri, yang berkata dengan amarahnya, tatkala melihat si peladang dengan anaknya berdua, menunggang keledai itu, "Anak dan bapa ini tiada sekali-kali berpikiran dan tak menaruh kasih sayang!

__ADS_1


Adakah patut binatang yang sekecil itu dikendarai oleh dua orang? Apabila kamu tiada turun dari keledaimu, niscaya kuadukan kamu kepada hakim, sebab mendera binatang.


Maka turunlah si peladang itu dengan anaknya, lalu berjalan kaki sebelah menyebelah keledainya. Sejurus kemudian, ber- jumpa pula mereka dengan sorang sahabatnya, lalu berkata sahabat ini, "Alangkah bodoh,kamu kedua ini!


Apakah gunanya kamu memelihara keledai, jika tak dapat ditunggang, sampai kamu berjalan kaki, dengan susah payah?"


Setelah mendengar perkataan yang akhir ini, tiadalah terkata- kata anak dan bapa.


"Aku sendiri naik keledai ini, salah, engkau sendiri menaiki pun salah, berdua kita naik, salah pula dan tiada ditunggangi, tak benar juga.


Bagaimanakah yang betul?" Demikianlah keluh si peladang, sambil membantingkan kopiahnya ke tanah, lalu duduk di atas sebuah batu, karena tak berani berjalan lagi. "Jika demikian marilah kita pikul keledai ini!


Barangkali begitu yang baik, karena cara lain tak ada lagi," kata si peladang kepada anaknya, seraya mencari sebatang kayu. Kemudian diikatnyalah keempat kaki keledainya, dipikulnya berdua, masuk pasar.


Sekalian isi pasar yang melihat perbuatan yang ganjil ini, tercengang, lalu berkata, "Seumur hidupku belum pernah aku melihat orang menjadi kendaraan keledai; baru sekarang inilah.


Gilakah si peladang itu?" lalu mereka tertawa gelak-gelak, menertawakan si peladang dengan anaknya itu.


"Ini pun masih salah juga," kata peladang, lalu menjatuhkan keledainya ke tanah, karena bingung.


"Memang bagus benar cerita itu," kata Nurbaya.


"Sehingga inilah dahulu, Nur! Besok lusa aku akan bercerita pula. Sekarang aku sangat letih hendak tidur. Bila engkau pulang?" kata Baginda Sulaiman.


"Hamba telah minta izin kepada Engku Datuk, tinggal dua tiga hari," jawab Nurbaya.


"Jika demikian baiklah."


Setelah diselimuti oleh Nurbaya ayahnya, tidurlah si sakit mi. Kemudian daripada itu, Samsu minta dirilah, hendak pulang ke rumahnya.


"Nanti, aku katakan, bila aku akan menceritakan halku kepadamu, Sam," kata Nurbaya, tatkala Samsu hendak keluar dari bilik itu.


"Baiklah," jawab Samsu, lalu pulang ke rumah orang tuanya. Pada keesokan malamnya, kelihatan Nurbaya duduk di serambi muka rumahnya.


Hari waktu itu kira-kira pukul sembilan, bulan yang sebesar sisir itu, baru terbenam, hingga malam hanya diterangi oleh bintang yang gemerlapan cahanya di langit biru. Tetapi dalam pekarangan dan serambi muka rumah Nurbaya, gelap, karena tak ada lampu dipasang.


Hanya sinar lentera, pada jalan besarlah, yang masuk mencrangi beberapa tempat dalam pekarangan itu.


Nurbaya yang duduk di beranda muka, rupanya sebagai gelisah di tempat yang gelap itu, karena sebentar-sebentar ia Menoleh ke rumah Samsu, sebagai ada sesuatu yang ditunggunya dari sana.


Tidak berapa lamanya ia duduk sedemikian, kelihatanlah sebagai bayang-bayang, orang berjalan, keluar dari pekarangan rumah Sutan Mahmud, menuju ke rumah Nurbaya.


Setelah melihat bayang-bayang ini, berdirilah Nurbaya, lalu berjalan perlahan-lahan, masuk ke dalam bilik ayahnya; kemudian keluar pula dan turun ke pekarangan, menuju bangku, yang ada di bawah pohon tanjung, seraya menoleh ke sana kemari, sebagai takut, kalau-kalau ada orang yang melihat perbuatannya ini.


Setelah sampai ke bangku itu, duduklah ia bernanti. Tiada berapa lama antaranya, tiba-tiba terdengarlah olehnya suara orang berkata perlahan-lahan, "Engkaukah ini, Nur?"


"Ya, akulah," jawab Nurbaya.


"Tidakkah ada orang di sini, yang dapat mengintip kita dan mendengar percakapan kita?" tanya orang itu pula.


"Pada sangkaku, tak ada," jawab Nurbaya, sambil menoleh sekali lagi ke segenap pihak. Tetapi suatu pun tiada yang kelihatan atau kedengaran olehnya. "Duduklah di sisiku ini," kata Nurbaya pula.


Orang itu duduklah di sisi Nurbaya, lalu berkata, "Bagai- mana ayahmu?"


"Rupanya ada bertambah baik, sebab makan pun mulai suka; tetapi masih terlalu lemah dan kata doktet tadi, tak boleh ia terlalu bergerak-gerak dan terkejut-kejut. Bila engkau telah menjadi dokter, Samsu, alangkah baiknya! Tentulah engkau sendiri dapat mengobatinya."


"Ya, Nur," jawab orang itu, yang sesungguhnya Samsu, "tetapi waktu itu masih lama. Masih enam tahun lagi aku harus belajar, barulah dapat menjadi dokter.


Itu pun belum tentu pula; entahlah jadi, entah tidak sebab waktu yang enam tahun itu bukan sedikit lamanya, banyak yang, boleh terjadi, dalam waktu yang selama itu."


"Mengapakah tiada menjadi?" tanya Nurbaya.


"Bagaimana boleh menjadi, jika penggodaan sebagai ini? Penanggunganku, dalam setahun ini, hanya Allah yang mengetahui.


Berapa kali aku berasa kehabisan tenaga, untuk melawan segala penggodaan itu; berapa kali aku bersangka; akan kalah berperang dengan hawa nafsuku dan akan jatuhlah aku ke dalam tangan setan iblis.


Hanya dengan pertolongan Allah saja, dapat kulayari lautan yang beranjau-ranjau ini, men-capai tanah tepi.


Sedang luka hatiku, karena bercerai dengan engkau belum lagi sembuh, telah datang pula kejatuhan ayahmu Belum habis aku memikirkan hal ini, datang pula suratmu, membawa kabar yang meluluhlantakkan hati jantungku, memutuskan segala pengharapanku.


Walaupun keduanya yang bermula itu masih dapat kulipur, tapi kecelakaan yang akhir ini, memutuskan tali tempat aku ber- gantung, merebahkan tiang tempat aku bersandar dan mematah- kan dahan tempat aku berpijak.


Ketika itulah jatuh hukumanku dan hilang pengharapanku, akan penghidupanku di kemudian hari. Beberapa hari lamanya aku tak dapat belajar, karena sakit. Tak tahu aku, apa sebabnya maka aku dapat juga naik ke kelas dua.


Pada sangkaku, tentulah aku akan tinggal di kelas satu, sebab pelajaran tak keruan."


"Memang telah kusangka, tentulah engkau takkan senang mendengar kabar ini. Tetapi apa boleh buat! Terpaksa aku menulis surat itu. Jika tak kukabarkan hal itu kepadamu, takut aku, kalau-kalau kaupersalahkan aku. Bagaimanakah halku, bila engkau pun berpaling pula dari padaku?"


"Tentang hatiku, janganlah kau syak wasangka. Bukanlah telah kukatakan dahulu kepadamu dan kujanjikan tadi kepada ayahmu? Bagaimana aku akan berubah kata pula?"


"Sesungguhnyakah tiada berubah hatimu kepadaku, Sam? Sesungguhnyalah hatimu itu masih suci dan bersih kepadaku, sebab dahulu, sebelum terjadi perkara ini? Dan sesungguhnyakah dapat kauberi ampun dan maaf aku, atas kesalahanku?


Ataukah, sebab engkau malu kepada ayahku dan karena hendak mem- besarkan hatiku saja, engkau berjanji sedemikian?


Katakanlah yang sebenar-benarnya kepadaku, supaya tahulah aku, apa yang akan kuperbuat sekarang ini," kata Nurbaya pula, simbil memegang tangan Samsu dan memandang mukanya.


"Nurbaya, mengapakah engkau kurang percaya kepadaku? Sudahkah aku berbuat dusta kepadamu? Dan bagaimanakah aku boleh berkecil hati, dalam halmu ini? Sebab bukan kehendakmu sendiri, melainkan karena teraniaya, engkau terpaksa berbuat sedemikian.


Janganlah kau syak lagi akan daku; lihatlah ke atas langit. Bintang yang beribu-ribu, yang menabur langit itu saksi- ku, bahwa aku waktu ini berkata benar."


"Jangan engkau marah kepadaku, Sam, sebab aku sebagai tiada percaya lagi kepadamu. Bukan begitu hatiku: hanya sebab otakku,yang sejak aku ditimpa timpa mara bahaya ini, telah menjadi sakit, selalu pikiranku tiada keruan.


Acap kali datang niat yang jahat menggoda hatiku, yaitu hendak membunuh diri, supaya lekas terlepas daripada siksaan ini.

__ADS_1


Akan tetapi, jika datang ingatan kepadamu dan kepada ayahku, undurlah niatku itu; takut aku akan duka-cita yang akan menimpa dirimu dan ayahku, karena perbuatanku itu."


__ADS_2