Siti Nurbaya Kasih Tak Sampai

Siti Nurbaya Kasih Tak Sampai
Episode 14


__ADS_3

"Nur, janganlah ada pikiranmu yang sedemikian! Perbanyak- lah sabarmu dan tawakallah kepada Allah! Ingatlah akan pen ajaran ayahmu! Engkau masih muda, masih lama akan hidup dan masih banyak menaruh pengharapan. Janganlah putus asa!" kata Samsu, akan membujuk Nurbaya.


"Sekalian itu memang benar, Sam. Tetapi apa dayaku, tak dapat kutanggung rasanya azab yang sedemikian ini.


Tak ada perkataan, yang dapat menyatakan perasaan hatiku; bagaikan putus rangkai jantungku, bagaikan lulus tempat berdiri, ter- gantung di awang-awang, antara langit dengan bumi, antara hidup dengan mati.


Bagaimana tiada begitu? Cobalah kaupikir!


Aku harus duduk dengan orang, yang bukannya tiada kusukai saja, tetapi orang yang memutuskan pengharapan yang kuamalkan siang dan malam, yang menceraikan aku dengan kekasihku, yang meng- aniaya dan menjatuhkan ayahku, sampai sengsara serupa ini, musuh ayahku dan musuhku yang sebesar-besarnya dan akhirnya menjadi algojoku.


Tambahan pula, orang yang umur, kepandai- an, kesukaan, tabiat dan kelakuannya, sekali-kali tiada sepadan dengan aku. Sekali-kali ia tiada cinta kepadaku; hanya suka, karena hendak memuaskan nafsunya yang keji itu saja.


Bila telah puas hatinya, tentulah akan dibuangnya aku, sebagai melempar- kan sampah ke pelimbahan; barangkali terus dibunuhnya aku, jahanam itu!


Bagaimanakah dapat kusabarkan hatiku, bagaimanakah dapat kusenangkan pikiranku, dan bagaimana pula dapat aku hidup manis dengan orang yang sedemikian?


Makin hari, makin kusut pikiranku, makin bertambah dukacita dan sedih hatiku, dan makin bertambah-tambah pula benci hatiku melihat rupanya. Tak ada yang baik pada pemandanganku, tak ada yang enak pada perasaanku.


Makan tak sedap, tidur tak nyenyak, bangun pun bertambah-tambah bingung. Rumah tangga, makanan dan minuman, pakaian dan permainan, pendeknya sekalian yang miliknya atau yang berasal dari padanya, bukannya dapat melipur hatiku, hanya mendatangkan marah, sedih dan duka.


Betapa aku hidup, dengan orang yang sedemikian itu?


Jika hari telah malam, aku ingin, supaya lekas siang dan apabila telah siang, kuharap pula, supaya lekas malam. Aku minta, biar yang setahun ini menjadi sehari, dan yang sebulan menjadi sejam; karena tak tahu, apa yang akan diperbuat dan tak dapat melipur hati.


Waktu yang sejam, sebagai sebulan rasanya dan yang sehari serasa setahun. Sesungguhnya itulah neraka dunia, yang sebenar-benarnya.


Maka berhentilah Nurbaya sebentar bertutur, karena hendak menyapu air matanya, yang keluar dengan tiada dirasainya. Samsu tiadalah dapat berkata-kata, sebab sedih mendengarkan nasib adiknya ini.


"Oleh sebab itu, kupinta kepadamu, Sam," kata Nurbaya pula, "bila engkau kelak beranak perempuan, janganlah sekali- kali kaupaksa kawin dengan laki-laki yang tiada disukainya.


Karena telah kurasai sendiri sekarang ini, bagaimana sakitnya, susahnya dan tak enaknya, duduk dengan suami yang tiada disukai. Tak heran aku, bila perempuan, yang bernasib sebagai aku ini menjalankan pekerjaan yang tak baik, karena putus asa.


Aku ini, sudahlah; sebab terpaksa akan menolong ayahku.


Tetapi perempuan yang tiada semalang aku, janganlah dipaksa, menurut kehendak hati ibu-bapa, sanak saudara sahaja, tentang per- kawinannya, dengan tiada mengindahkan kehendak, kesukaan, umur, kepandaian, tabiat dan kelakuan anaknya.


Karena tiada siapa yang akan menanggung kesusahan kelak, jika tak baik jadinya; melainkan yang kawin itu sendiri. Ibu-bapa atau kaum keluarga sekedar akan melihat dari jauh. Bukankah sepatutnya ditanyakan dahulu pikirannya, tentang perkawinan itu?


Bukan- kah anak perempuan itu mempunyai pikiran, perasaan, peng- lihatan dan kesukaan juga sebagai perempuan yang lain?


Sungguhpun ibu-bapa tahu dan kenal akan anaknya, tetapi yang terlebih mengetahui akan dirinya, tentulah anak itu sendiri juga. Banyak ibu-bapa yang bersangka, bahwa ialah yang ter- lebih mengetahui akan hal anaknya.


Oleh sebab itu, pada sangka- nya haruslah anak itu menurut sekalian kemauan orang tuanya. Ibu-bapa yang sedemikian, ialah ibu-bapa yang tiada meng- hargakan anaknya.


Dan apabila ia sendiri tak menghargakan anaknya, janganlah ia berharap, menantunya atau orang lain, akan mengindahkan anaknya.


Dan janganlah pula ia berkecil hati, bila laki-laki, memandang perempuan masih jauh di bawah telapaknya, karena sesungguhnya belum dapat ia bertanding dengan laki-laki, bila belum tahu ia akan harga dirinya sendiri.


Lagi pula, kalau benar anak dan menantu itu dapat turut- menurut kelak, sehingga dapat kekal perkawinannya selama- lamanya!


Jika tidak, bercerailah pula; padahal belanja entah beberapa ribu telah habis, sampai setengahnya menggadai dan menjual harta berhabis-habisan, untuk mengawinkan anak.


Bukankah sayang uang yang sebanyak itu, dibuang cuma- cuma?


Pada pikiranku, kewajiban ibu-bapa dalam hal perkawinan anaknya pertama mengingat umur anaknya itu; sebab jika terlalu muda dikawinkan, niscaya merusakkan badan anak itu dan sekalian keturunannya.


Di Indonesia ini, pada sangkaku anak perempuan janganlah lebih muda dikawinkan daripada berumur dua puluh tahun. Jangan seperti aku, baru berumur enam belas tahun, telah terpaksa kawin. Makin tua, makin baik."


"Ya, tetapi pada sangka perempuan di sini, suatu keaiban, kalau tak kawin muda-muda, sebagai tak laku," kata Samsu dengan tiba-tiba.


"Persangkaan yang sedemikian, timbulnya daripada kebiasa- an yang tak baik. Bila nyata kepada kita, sesuatu adat salah, mengapakah tak hendak dibuang, tetapi diturut saja, membuta tuli? Lihatlah bangsa Barat!


Terkadang-kadang, setelah berumur tiga puluh tahun, baru kawin; tak ada orang yang menghinakan mereka. Dan sesungguhnya, tatkala perempuan itu berumur tiga puluh lima atau empat puluh tahun sekalipun, rupanya masih muda, badannya masih tetap dan kukuh.


Bila beranak umur sekian, sempurnalah anak itu; menjadi orang yang sehat badan dan pikirannya; tubuhnya besar dan umurnya pun panjang. Akan tetapi perempuan di sini, umur tigapuluh tahun, terkadang- kadang telah bercucu.


Itulah sebabnya maka dirinya sendiri dan anaknya pun tiada sempurna dan akhirnya tentu bangsanyalah yang menjadi kurang baik, sebab sekaliannya keturunan perempuan muda, yang belum cukup umurnya.


Kedua, haruslah orang tua itu bertanya kepada anaknya, sudahkah ada niatnya hendak kawin? Kalau belum, janganlah dipaksa, supaya jangan menjadi huru-hara kemudian.


Ada perempuan yang belum mau mengikat dirinya dengan tali perkawinan; sebab misalnya, masih suka bebas, sebagai anak- anak, atau sebabnya ada sesuatu maksudnya, yang menjadi alangan kepada perkawinannya.


Ketiga, haruslah ditanyakan, sukakah ia kepada jodohnya itu atau tiada. Yang sebaik-baiknya, tentulah anak itu sendiri mencari jodohnya. Bukannya aku berkehendak, supaya perempuan bangsa kita, dibebaskan seperti perempuan Barat, siang malam bercampur gaul dengan laki-laki.


Tidak, karena adat Barat itu kurang baik bagi bangsa kita. Tetapi kedua mereka yang dikawinkan itu, baiklah berkenal-kenalan dahulu; biar yang seorang tahu benar akan yang seorang.


Jika khawatir akan sesuatu bahaya, jagalah anak perempuan itu baik-baik, jangan terlalu banyak diberi bercampur dengan tunangannya.


Cukuplah sekadar belajar kenal saja. Dan jika tak suka atau khawatir anak itu akan salah mencari jodohnya sendiri, pilihkanlah dahulu yang baik pada pikiran orang tuanya. Akan tetapi sesudah itu haruslah ditanyakan juga kepada anak itu, sukakah ia kepada pilihan orang tuanya ini.


Tetapi sebaik- baiknya pertemukanlah keduanya, supaya jangan tatkala dikawinkan itu saja masing-masing baru dapat melihat rupa jodohnya."


"Kata orang tua-tua, cinta itu akan datang juga kelak bila telah kawin," kata Samsu dengan tersenyum.


"Tiada selamanya," jawab Nurbaya. "Bagaimana dapat aku mencintai orang, yang sebagai batuk Meringgih ini? Apakah yang akan dapat menarik hatiku? Tak ada suatu pun yang berpadanan dan bersamaan dengan daku.


Keempat haruslah umumya berpadanan; tua laki-laki sedikit. telah lazim; sama tua baik juga; tua pun yang perempuan sedikit, tak mengapa, asal jangan terlalu amat besar perbedaan mereka.


Laki-laki yang berumur lima puluh tahun dengan perempuan yang berumur enam belas atau nenek-nenek yang berumur limapuluh tahun dengan laki-laki yang berumur dua puluh tahun, tentu saja tak sepadan. Itulah yang menjadi duri dalam daging, yang selalu terasa-rasa oleh yang muda.


Oleh sebab itu acap kali ia tiada setia; berpaling hatinya kepada yang lain yang sebaya dengan dia. Yang tua itu pun, terkadang-kadang tak senang pula hatinya; malu kepada orang, sebab jodoh yang sangat besar perbedaannya itu, tentulah menjadi buah tutur orang segenap negeri.


Lagi pula, orang yang telah tua itu, berlainan pikiran, kemauan, kesukaan, kelakuan, tabiat adat dan kepandaiannya dengan yang muda.


Kemauan yang tua misalnya jangan terlalu banyak berjalan, karena kekuatannya tiada seberapa lagi, tetapi yang muda, itulah yang dikehendakinya, karena tak betah selalu di rumah.


Kesukaan yang muda misalnya, makanan yang keras- keras; tetapi si tua tak dapat memakan makanan itu, walaupun masih ingin, karena giginya tak ada lagi. Yang tua, biasanya tua pula fahamnya, tetapi yang muda, masih suka beriang-riang, bermain-main dan bersenda gurau.


Tabiat dan adat pun acap kali berubah, bila umur telah tua. Aku masih menghargai segala keelokan dan kesenangan, tetapi Datuk Meringgih ini, ingatan dan pikirannya tiada lain melainkan kepada uang dan pemiagaannya.


Apa gunanya itu bagiku, bila tiada dapat kupakai untuk memenuhi segala keinginan hatiku? Sekalian itu harus diingat pula oleh ibu-bapa, yang hendak mengawinkan anaknya, karena sangatlah susahnya akan menyamakan sifat dan kelakuan yang berbeda-beda itu.


Kepandaian harus pula sama, supaya dapat berunding dan bercakap-cakap dalam segala hal. Jika yang seorang pandai dan yang seorang bodoh, terkadang-kadang yang pandai menjadi sombong dan yang bodoh bersedih hati. Demikian pula tentang kekayaan dan bangsa.


Jika si laki-laki berbangsa tinggi dan si perempuan orang biasa saja, rendahlah dipandangnya istrinya, dan bila si laki-laki kaya, tetapi istrinya seorang yang miskin, mudah disia-siakannya perempuannya itu.


Rupanya janganlah berbeda sebagai malam dengan siang; karena itu pun boleh pula mendatangkan hal-hal yang kurang baik. Akhirnya, harus diingat akan besar dan tinggi badan.


Adakah tampan pada pernandangan mata bila gajah yang besar tinggi, dipersandingkan dengan tikus yang kecil kerdil? Ingatlah, kedua mereka itu harus menjadi satu, pasangan yang baik dari badan yang dua.


Sebagai kaulihat, tak mudah dapat mencari jodoh yang sejoli. Itulah sebabnya perkawinan itu suatu hal yang penting; tak baik dipermudah, sebagai dilakukan oleh bangsa kita.


Karena kesenangan dan keselamatan orang berlaki-istri dan berumah tangga, hanya dapat diperoleh, bila si laki-laki dan si perempuan dalam segala hal dapat bersetujuan.


Dalam hal yang demikian, menjadilah rumah tangganya surga dunia, yang mendatangkan kesukaan, kesenangan, cinta kasih sayang, selama-lamanya. Dan bila telah beranak, bertambah-tambahlah kesenangan dan kesukaan itu.


Tetapi jika tiada begitu, menjadilah rumah tangga itu neraka jahanain, yang selalu menimbulkan perselisihan, perkelahian, benci, amarah, sedih, susah. terkadang-kadang bencana dan bahaya yang disudahi dengan perceraian."


"Terlebih-lebih bagi laki-laki yang harus membanting tulang untuk memperoleh kehidupannya," kata Samsu, "sangat berharga kesenangan dalam rumah itu, karena bila ia pulang dari pekerjaannya dengan lelah payah, dan didapatinya di dalam rumahnya penglipur hatinya, niscaya berobatlah lelahnya dan dengan riang hatilah ia pada keesokan harinya menjalankan pekerjaannya yang berat itu.


Dengan dernikian, tiadalah akan dirasainya keberatan pekerjaannya itu dan tetaplah sehat badannya serta panjanglah umurnya. .


Bila tak ada yang seperti ini sengsaralah kehidupannya. Sesudah ia menderita kelelehan dalarn pekerjaannya, tatkala sampai ke rumah, kusut dan keruh pula yang dihidangkan oleh anak-istrinya.


Tiada heran, jika laki-laki yang serupa itu, tiada betah di rumahnya; sebagai takut ia kepada tempat kediamannya yang tetap itu. Oleh sebab itu larilah ia ke luar, mencari penglipur hatinya di mana-mana.


lnilah yang acap kali menjadikan laki-laki itu jahat dan bengis kelakuannya, suka berbuat yang tidak senonoh."


"Memang tugas perempuan tiada mudah," jawab Nurbaya, "harus pandai menarik dan melipur hati suaminya; bukan dengan wajah yang cantik saja, tetapi juga dengan kelakuan yang baik, peraturan yang sempurna dan kepandaian yang cukup."


"Laki-laki, begitu pula," kata Samsu, "harus pandai mem- bimbing anak-istrinya, supaya betah dalam rumahnya dan dengan riang dan suka hati, menjalankan kewajibannya.


Sekalian yang dapat menghiburkan hati, harus diadakan; sebab, apabila perempuan tak betah lagi dalam rumahnya, bertambah- tambahlah celakanya, karena tak ada tempat lain, yang dapat menyenangkan hatinya..."


"Sesungguhnya hal ini kurang diperhatikan oleh bangsa kita," kata Samsu pula, setelah berhenti sejurus. "Itulah sebabnya agak- nya, acap kali terjadi perceraian dalam negeri kita, sehingga laki- laki atau perempuan sampai beberapa kali kawin."


"Bukan itu saja, tetapi selagi talak dipegang laki-laki saja dan laki-laki boleh beristri sampai beberapa orang, susahlah akan mengubah hal itu." kata Nurbaya.


"Memang, itu pun tak adil pula," sahut Samsu.


"Jika perempuan yang memegang talak, dan aku tiada terikat oleh ayahku, niscaya tiada kupanjangkan jodoh ini. Tetapi, apa hendak kuperbuat? Aku terikat pada tangan dan kaki... Tiadakah kasihan engkau kepadaku, Sam? Tak adakah akal, supaya lepas aku dari ikatan ini?


Dengarlah olehmu pantun nasibku ini:


"Di sawah jangan memukat ikan,

__ADS_1


ikan bersarang dalam padi.


Susah tak dapat dikatakan,


ditanggung saja dalam hati.


Gantungan dua tergantung,


tergantung di atas peti.


Ditanggung tidak tertanggung,


sakit memutus rangkai hati.


Buah pinang di dalam puan,


tumpul kacip asah di batu.


Tidaklah iba gerangan tuan,


kepada adik yatim piatu?


Labuk baik kuala dalam,


pasir sepanjang muaraqya,


Buruk baik minta digenggam,


badanlah banyak sengsaranya.


Ikatkan mati pisang berjantung,


hunus keris letakkan dia.


Niat hati hendak bergantung,


putus tali apakan daya."


"Nur sabarlah dahulu! Bukan aku tak kasihan kepadamu, hanya pada waktu ini belum dapat kita berbuat apa-apa, karena ikatannya sangat keras. Senangkanlah dahulu hatimu! Kelak akan kucari muslihat yang baik.


Sekarang hanya bersama-sama kita berdoa kepada Allah, supaya lekas engkau terlepas dari ikatan ini. Sst, diam! Apakah itu! Sebagai ada bunyi apa-apa di luar pagar itu?" kata Samsu tiba-tiba, serta menoleh ke tempat bunyi itu.


Akan tetapi tiada suatu apa pun yang kelihatan olehnya.


"Barangkali katak atau binatang kecil-kecil yang mencari makanannya," jawab Nurbaya, lalu menyambung percakapannya dengan Samsu.


"Siapakah yang menyangka, Sam, tatkala kita setahun yang telah lalu, duduk di atas bangku ini, dengan pengharapan yang besar, akan jadi sebagai sekarang ini hal kita? Apakah jadinya cita-cira kita itu dan adakah akan dapat disampaikan pula? Dengarlah pantun ini:


"Dari Perak ke negeri Rum,


berlayar lalu ke kuala.


Jangan diharap untung yang belum,


sudah tergenggam terlepas pula.


Orang Pagai mencari lokan,


kembanglah bunga serikaya.


Aku sebagai anak ikan,


kering pasang apakan daya.


Singapura kersik berderai,


tempat ketam lari berlari.


Air mata jatuh berderai,


sedihkan untung badan sendiri.


Berbunyi kerbau Rangkas Betung,


berbunyi memanggil kawan.


untungku jauh dari awan.


Berlayar dari Teluk Betung,


Anak Bogor mencari tiram.


Apa kuharap kepada untung,


perahu bocor menanti karam.


Tikar pandan dua berlapis,


dilipat digulung anak Bangka.


Sesal di badan tidak habis,


karena untung yang celaka."


Disabarkanlah Nurbaya oleh Samsu dengan pantun yang di bawah ini:


"Jangan disesal pada tudung,


tudung saji teredak Bantan.


Jangan disesal kepada untung,


sudah nasib permintaan badan. '


Ke rimba berburu kera,


dapatlah anak kambing jantan.


Sudah nasib apakan daya,


demikian sudah permintaan badan.


Sudah begitu tarah papan,


bersudut empat persegi.


Sudah begitu permintaan badan,


sudah tersurat pada dahi.


Dikerat rotan belah tiga,


Nakoda belayar dekat Jawa.


Jangan diturut hati yang luka,


binasa badan dengan nyawa."


Dijawab oleh Nurbaya:


"Berkota kampung Padang Besi,


Tempat orang duduk berjaga.


Cintamu jangan dihabisi,


Sehelai rambut tinggalkan juga."


Dibalas pula oleh Samsu:


"Jika menjahit duduk di pintu


jarumnya jangan dipatahkan.


Cintaku suci sudahlah tentu,

__ADS_1


sedikit belum diubahkan.


Bang dahulu maka kamat,


takbir baru orang sembahyang.


Bercerai Allah dengan Muhammad,


baru bercerai kasih sayang.


Berbunyi meriam Tanah Jawa,


orang Belanda mati berperang.


Haram kakanda berhati dua


cinta kepada Adik seorang."


Mendengar pantun ini, tiadalah tertahan oleh Nurbaya hatinya lagi, lalu dipeluknya Samsu dan diciumnya pipinya. Dibalas oleh Samsu cium kekasihnya ini dengan pelukan yang hasrat.


Di dalam berpeluk dan bercium-ciuman itu, tiba-tiba ter- dengar di belakang mereka, suara Datuk Meringgih berkata demikian, "Itulah sebabnya, maka keras benar hatimu akan pulang, dan tiada hendak berbalik kepadaku.


Bukannya hendak menjaga ayahmu, sebagai katamu, hanya akan bersenang- senangkan diri ddngan kekasihmu.


Inilah perbuatan kaum muda, kaum yang terpelajar, yang beradat sopan santun, tetapi memper- dayakan suami, supaya dapat bersenda gurau dengan laki-laki, di tempat yang gelap, sedang ayah sendiri, sakit keras. Inilah rupanya kelebihan kaum muda daripada kami kaum kuno.


Inilah yang dipelajari di sekolah tinggi, dengan belanja dan susah payah yang tida sedikit.


Jika serupa ini, benar juga pikiran kami kaum kuno: kemajuan kaum muda itu, bukan akan meninggikan derajatnya, bahkan akan membawanya dari tempat yang mulia ke tempat yang hina; membusukkan nama yang harum, menghilangkan derajat dan kemuliaan perempuan, sedang adat dan kepandaian lama, yang berfaedah bagi perempuan disia- siakan.


Tak harus perempuan yang sedemikian dimajukan."


Ketika itu terperanjatlah Samsu dan Nurbaya, lalu berdirilah Samsu di muka Nurbaya akan melindunginya.


Oleh sebab benci- nya Samsu kepada Datuk Meringgih ini, karena teringat akan sumpahnya di Jakarta, tiadalah dapat ditahannya hatinya lagi lalu menjawab, "Tak perlu engkau berkata begitu! Bercerminlah engkau kepada badanmu sendiri!


Adakah engkau sendiri berlaku sopan santun berhati lurus dan benar, tahu adat istiadat? Jika ada iblis yang sejahat jahatnya di atas dunia ini, tentu engkaulah iblis itu."


Mendengar maki nista ini, merah padamlah muka Datuk Meringgih, lalu diangkatnya tongkatnya dan dipalukannya kepada Samsu.


Tetapi tatkala itu juga Samsu melompat ke kiri, seraya menarik Nurbaya, sehingga palu Datuk Meringgih itu jatuh mengenai bangku, tempat mereka duduk tadi dan dengan segera Samsu melompat ke hadapan, meninju muka Datuk Meringgih dengan kedua belah tangannya berturut-turut, serta kakinya pun menendang perut lawannya ini, sehingga jatuhlah Datuk Meringgih, terbanting ke tanah, lalu berteriak minta tolong, "Pendekar Lima, tolong aku!'


Seketika itu juga, datanglah seorang-orang yang berpakaian serba hitam, dari tempat yang gelap, memburu Samsu dengan sebilah keris terhunus di tangannya.


Melihat bahaya yang akan menimpa Samsu ini, menjeritlah Nurbaya sekuat-kuatnya, minta tolong, sehingga bergemparanlah orang sebelah menyebelah, terperanjat, berlari-lari ke luar.


Tatkala dilihat Samsu keris Pendekat Lima ditikamkan kepadanya, melompatlah ia ke sisi dengan merendahkan dirinya, lalu menyepak tangan Pendekar Lima, sehingga terpelantinglah senjata itu ke udara.


Pendekar Lima tak dapat menyerang Samsu lagi, karena dilihatnya orang berlari-lari datang ke sana, lalu larilah ia menyembunyikan dirinya.


Sekalian orang yang datang yang di antaranya ada ayah Samsu bertanya, apakah sebabnya maka berteriak minta tolong? Akan tetapi seorang pun tiada menyahut. Oleh sebab itu, bertanyalah Sutan Mahmud kepada Datuk Meringgih, apakah yang telah terjadi.


"Tanyakanlah kepada anak Tuanku! Setelah diperdayakan hamba bersama-sarna istri hamba, dipukulnya pula hamba," jawab Datuk Meringgih.


Sutan Mahmud maklum, apa maksud pekataan Datuk Meringgih ini dan ia sangatlah malu akan kelakuan anaknya. Oleh sebab itu berkatalah ia, "Percayalah Engku, perkara ini akan hamba periksa benar-benar.


Siapa yang bersalah, tentulah tiada akan luput dari hukuman, walaupun anak hamba sekalipun." Lalu pulanglah ia membawa Samsu ke rumahnya.


Setelah berangkat Sutan Mahmud, kelihatan Baginda Sulaiman keluar dari biliknya, karena ia sangat terperanjat, men- dengar suara anaknya minta tolong, sehingga ia bangun dari tempat tidumya.


Walaupun badannya sangat lemah, sehingga ia dilarang dokter bergerak-gerak, tetapi karena ia takut anaknya akan mendapat kecelakaan, lupalah ia akan dirinya. Tatkala ia hendak turun di tangga yang gelap itu, jatuhlah ia terguling- guling ke bawah.


Melihat hal ayahnya ini, berlari-larilah Nurbaya dengan beberapa orang, akan menolong Baginda Sulaiman. Akan tetapi, ketika diangkat, nyatalah orang tua itu, telah berpulang ke rahmatullah. Inna lillahi wa inna ilaihi rajiun!


Maka menjeritlah Nurbaya menangis tersedu-sedu dengan mengempas-empaskan dirinya, tak dapat disabarkan lagi, lalu jatuh pingsan.


Mayat Baginda Sulaiman dan Nurbaya yang pingsan, diangkat oranglah ke dalam rumahnya, dibaringkan di ruang tengah dan Nurbaya dibawa masuk ke dalam biliknya.


Setelah dibasahi orang kepala Nurbaya dan diciumkan minyak kelonyo ke hidungnya, barulah ia sadarkan dirinya pula, lalu meratap amat sedih.


"Tak perlu engkau menangis," kata Datuk Meringgih, "karena salahmu sendiri. Engkaulah yang membunuh ayahmu." Mendengar tempelak ini, berdirilah Nurbaya sekonyong- konyong. Air mukanya yang sedih itu hilang sekaliannya, ber- tukar dengan marah yang amat sangat.


Air matanya kering, matanya yang telah merah, karena menangis, bertambah-tambah merah, bibir dan sekujur badannya gemetar. Sangatlah dahsyat rupanya pada waktu itu, seakan-akan singa yang kelaparan, hendak menerkam musuhnya.


"Apa katamu?" kata Nurbaya. "Aku membunuh ayahku, celaka? Engkau yang membunuhnya! Pada sangkamu aku tiada tahu, perbuatanmu yang keji itu kepada ayahku? Engkaulah yang menjatuhkan dia, karena dengki khianatmu dan busuk hatimu.


Perbuatanmulah, maka toko ayahku terbakar, perahunya tenggelam kelapanya mati, sekalian langganannya tak hendak mengambil barang-barang dari padanya lagi, serta mungkir membayar utangnya dan segala orangnya lari, merribawa uang ayahku.


Tatkala ayahku telah jatuh miskin, pura-pura kautolong ia dengan meminjamkan uang kepadanya, tetapi maksudmu yang sebenarnya, hendak menjerumuskannya ke jurang yang terlebih dalam, karena hatimu yang terlebih bengis daripada setan itu, belum puas lagi.


Aku pun kauseret pula ke dalam kekejian, untuk memuaskan kan hawa nafsumu, yang terlebih hina pada hawa nafsu hewan. Sekarang ayahku telah mati; barulah senang hatimu, bukan? Akan tetapi pada waktu inilah pula, aku terlepas dari tanganmu, hai bangsat!


Aku dahulu menurut kehendakmu, karena hendak membela ayahku, supaya jangan sampai engkau penjarakan dia. Sekarang ayahku tak ada lagi, putus pula sekalian tali yang mengikatkan aku kepadamu. Janganlah engkau harap, aku akan kembali kepadamu.


Manusia yang sebagai engkau, tiada layak bagiku. Rupamu sebagai hantu pemburu, tuamu sama dengan nenekku, tabiatmu terlebih jahat dari tabiat binatang yang buas. Apa yang dapat kupandang padamu?


Uangmu yang engkau peroleh dengan tipu daya, darah keringat mereka yang telah engkau aniaya itu? Apa gunanya uang itu bagiku? Karena kikirmu, engkau sendiri pun tak dapat memakai uang itu. Siapa tahu barangkali hartamu itu kau peroleh dengan jalan mencuri dan menyamun.


Seram badanku, jika kuingat akan hal itu. Daripada bersuamikan engkau, terlebih suka aku bersuamikan anjing. Nyah engkau dari sini! Tiada sudi aku memandang engkau sebelah mata pun, terlebih daripada aku melihat najis. Cis! Ceraikan aku sekarang ini juga!


Jika tiada, bukanlah laki-laki."


"Jangan engkau lupa, ayahmu berutang kepadaku. Oleh sebab itu rumah ini, akulah yang punya dan berkuasa atasnya. Jadi bukan engkau yang dapat mengusir aku, tetapi akulah yang harus mengusir engkau dari sini.


Jika banyak juga mulutmu, tentu malam ini juga kukeluarkan engkau dengan ayahmu sekali, dari rumah ini," jawab Datuk Meringgih, yang pucat mukanya karena menahan marahnya.


"Apa katamu? Rumah dan sekalian barang ini, bukan harta ayahku, melainkan milikku sendiri, karena tertulis di atas namaku. Tiada siapa berkuasa atasnya, melainkan aku seorang.


Kalau benar engkau laki-laki dan berkuasa atas rumah ini, cobalah kaukeluarkan aku dari sini!" lalu Nurbaya mengambil palang pintu, sambil berkata, "Tandanya aku berkuasa atas rumah ini, kuusir engkau seperti anjing dari sini.


Bila lama juga engkau di sini, takkan tiada makanlah palang pintu ini kepalamu yang besar, sulah dan beruban itu," lalu Nurbaya menghampiri Datuk Meringgih, sambil mengayunkan palang pintu ke kepala- nya; tetapi lekaslah ia dipegang orang, disabarkan dengan per- kataan yang lemah-lembut.


Datuk Meringgih turun dari rumah Nurbaya, seraya berkata, "Nanti!" lalu pulang ke rumahnya.


Sepanjang jalan tiada lain yang dipikirkan, melainkan jalan akan membinasakan Nurbaya.


Tatkala Datuk Meringgih diusir oleh Nurbaya dari rumahnya, ketika itu pula Samsu diusir oleh ayahnya dari rumahnya. Demikian kata Sutan Mahmud kepada anaknya, "Perbuatanmu ini sangat memberi malu aku, sebab tak patut sekali-kali. Ke manakah akan kusembunyikan mukaku?


Bagaimanakah aku akan menghapus arang yang telah kaucorengkan pada mukaku ini?


Perbuatan yang sedemikian, bukanlah perbuatan orang yang berbangsa, anak orang yang berpangkat tinggi, orang yang terpelajar, melainkan pekerjaan orang yang hina, yang tak tahu adat dan kelakuan yang baik. Pada sangkaku, engkau bukan masuk bangsa yang kedua itu.


Namaku yang baik selama ini, yang dimuliakan dan dihormati orang, bangsaku yang tinggi dan belum bercacat, sekarang kau kotorkan dengan noda yang tak dapat dihapus lagi. Inikah balas usahaku memajukan engkau, sampai ke mana-mana.


Inikah buah pelajaran yang engkau peroleh di sekolahmu? Sayang aku, akan uangku yang sekian banyaknya, yang telah kukeluarkan, untuk mendidik dan memandaikan engkau. Inikah yang engkau pelajari di Jakarta? Pelajaranmu belum tentu lagi, pekerjaan yang sedemikian telah kauperbuat."


Setelah berhenti sejurus, berkata pula Sutan Mahmud, "Kesalahanmu ini tak dapat kuampuni, karena sangat memberi aib. Pergilah engkau dari sini! Sebab aku tak hendak mengakui engkau lagi. Yang berbuat demikian, bukan anakku."


Samsulbahri tiada menyahut sepatah pun perkataan ayahnya ini, melainkan tunduk berdukacita. Hanya ibunyalah yang menangis tatkala mendengar anaknya diusir oleh suaminya.


"Jika engkau pun hendak mengikuti anakmu, pergilah bersama-sama! Aku tak hendak melihatnya lagi," kata Sutan Mahmud pula kepada istrinya, lalu turun dari rumahnya, pergi ke rumah saudaranya di Alang Lawas:


Setelah berangkat Sutan Mahmud, dibujuklah Samsulbahri oleh ibunya dengan beberapa perkataan yang manis-manis, supaya jangan dimasukkannya ke dalam hatinya, amarah ayahnya itu.


Akan tetapi Samsulbahri tiada menyahut pula melainkan minta masuk ke biliknya, karena sangat mengantuk, hendak tidur katanya.


Mendengar permintaan anaknya ini hilanglah kuatir Sitti Maryam. Pada sangkanya, tiada diindahkan Samsu amarah ayahnya tadi.


Tetapi sebenarnya Samsu semalam-malaman itu tiada dapat memejamkan matanya, barang sekejap pun; melain- kan menangislah ia dengan amat sedih mengenangkan nasibnya dan nasib Nurbaya kekasihnya yang malang itu.


Tatkala hari telah pukul tiga malam, bangunlah ia perlahan-lahan dari tempat tidurnya, lalu dimasukkannya sekalian pakaiannya ke dalam petinya dan keluarlah ia dari jendela biliknya.


Setelah sampai ke pintu pekarangan rumah orang tuanya, menolehlah ia ke belakang, ke rumah itu dan rumah Nurbaya, lalu berhenti sejurus lamanya dan berkata perlahan-lahan, "Selamat tinggal Ibu dan kekasihku! Aku hendak berjalan, barang ke mana dibawa nasib- ku yang malang ini.


Jika ada umurku panjang, mungkin akan bertemu juga kita dalam dunia ini; jika tidak, bernanti-nantilah kita di akhirat. Di sanalah kita dapat bertemu pula, bercampur selama-lamanya, tiada bercerai lagi.


Tatkala ia berkata-kata sedemikian, bercucuranlah air mata- nya, karena hatinya sangat sedih. Terlebih-lebih, sebab sebagai adalah suatu perasaan yang timbul dalam hatinya, yang mengatakan, ia tiada akan dapat bertemu lagi dengan kedua perempuan yang sangat dicintainya ini.


Kemudian berjalanlah ia menuju pelabuhanTeluk Bayur. Walaupun hari amat gelap dan jalan amat sunyi tetapi tiadalah ia merasa takut, sebab pikirannya masih terikat kepada hal yang baru terjadi itu.


Kira-kira pukul lima pagi, sampailah ia ke pelabuhan Teluk Bayur, lalu naik kapal yang akan berlayar hari itu ke Jakarta. Karena takut akan diketahui orang, yang barangkali mengikutinya dari belakang, bersembunyilah ia dalam sebuah kamar kelasi kapal yang dikenalnya.


Pukul tujuh pagi diangkatlah jangkar dan berlayarlah kapal itu menuju pelabuhan Tanjung Periuk.


Ketika diketahui oleh ibunya pada keesokan harinya, bahwa anaknya tak ada lagi, ributlah ia menyuruh cari ke sana kemari, tetapi tiadalah bertemu, dan seorang pun tiada tahu ke mana perginya.

__ADS_1


Sebab sedih hatinya, berangkatlah ia tiga hari kemudian ke Padang Panjang, ke rumah saudaranya. Di sanapun rupanya tak dapat dilipurnya hatinya, sehingga badannya makin lama makin kurus dan akhirnya jatuhlah ia sakit, karena bercintakan anaknya.


__ADS_2