Siti Nurbaya Kasih Tak Sampai

Siti Nurbaya Kasih Tak Sampai
Episode 17


__ADS_3

"Bum, bum!" bunyi tabuh. Seketika lagi kedengaranlah orang bang di langgar dan mesjid, karena magrib telah ada, waktu orang akan sembahyang.


Ahmad Maulana dan istrinya, kelihatan berjalan menuju ke tikar sembahyang, lalu sujud ke hadirat Tuhan, dua laki-istri.


Tiada berapa lama kemudian, selesailah mereka daripada berbuat bakti kepada Tuhannya, itu: tetapi Ahmad Maulana tiada lekas- lekas berdiri dari tikar sembahyangnya, melainkan terus membaca doa, sampai kepada waktu isya, lalu sembahyang pula.


Tatkala itu kelihatan Alimah dan Nurbaya menyediakan makanan di atas tikar rumput, yang telah dialas dengan kain putih, terbentang di tengah rumah.


Tiada berapa lamanya kemudian daripada itu, duduklah Ahmad Maulana makan, dihadapi istrinya; sedang Alimah dan Nurbaya, duduk jauh sedikit dari sana, sebagai menunggu, kalau-kalau Ahmad Maulana minta apa-apa.


"Sedih hatiku melihat untung Rapiah tadi. Baru berumur delapan belas tahun, telah meninggal dunia. Lebih-lebih sebab ia meninggalkan dua orang anak yang masih kecil-kecil.


Yang tua, perempuan, baru berumur tiga tahun dan yang bungsu, laki-laki berumur tengah dua tahun," kata Ahmad Maulana, sambil menyenduk sayur-sayuran ke piringnya.


"Ya, memang kasihan benar," jawab istrinya. "Siapakah yang akan memelihara anak-anak ini?" .


"Itulah yang menambahkan sedih hatiku," kata Ahmad Maulana pula, "sebab tak ada kaumnya yang mampu, yang akan mengambil dan memelihara kanak-kanak ini.


Yang mati, sudahlah; tidak dipikirkan lagi; barangkali ia telah senang, karena telah terlepas daripada segala azab dunia; melainkan dengan doalah harus dibantu, supaya dilapangkan Allah juga ia dalam kuburnya. Tetapi anak-anak yang tinggal ini, bagai- manakah halnya kelak?


Sekecil itu, sudah tak beribu lagi."


"Ayahnya bukankah masih ada? Masakan tiada diperdulikan- nya anak-anaknya?" jawab Fatimah, istririya.


"Ayahnya?" tanya Ahmad Maulana, sambil memandang istrinya dengan merengut. "Uh, masakan mau ia menanggung beban itu! Bukankah telah menjadi adat di sini, anak pulang kepada mamak.


Orang bangsawan sebagai Sutan Hamzah pula, 'kan suka menyelenggarakan anaknya; sedangkan dirinya sendiri tak terurus olehnya! Berapa banyak anaknya di kota Padang ini, yang tiada diindahkannya. Lebih-lebih sekarang ini, karena ia rupanya sedang asyik kepada istri mudanya.


Walaupun ia sudi memelihara anak-anaknya ini sekalipun tentulah akan bertambah-tambah juga sengsara anak ini; sebab mereka niscaya akan diserahkan kepada ibu tirinya itu. Engkau tahu sendiri betapa kelakuan perempuan kepada anak tirinya. Dalam seratus, jarang seorang yang baik.


Hampir sekaliaiinya memandang anak tirinya, sebagai musuhnya; sebab anak madu- nya.


Anak-anak yang tiada bersalah dan tiada tahu apa-apa dalam perkara orang tuanya, disiksanya dan dideranya akan melepaskan sakit hatinya kepada madunya yang telah tak ada lagi dan yang acap kali tiada berdosa, bahkan teraniaya, karena suaminya dirampas orang."


Rupanya kebenaran perkataan ini tiada dapat dibatalkan oleh Fatimah; oleh sebab itu berdiamlah ia sejurus kemudian bertanya pula ia dengan memutar haluan percakapannya, "Tetapi apakah sakitnya Rapiah itu?"


"Sakitnya yang sebenarnya tiada kuketahui. Kata setengah orang demam-demam saja dan kata setengahnya batuk darah. Ada pula yang mengatakan sakit dalam badan.


Khabarnya, semenjak ia berkelahi dengan suaminya, sebab ia marah, Sutan Hamzah kawin dengan istrinya yang baru ini, tiadalah ia bangun lagi, sampai kepada waktu mautnya, karena ia kena terjang suaminya itu.


Entah mana yang benar, tiada kuketahui. Tetapi kabar ini tak guna diceritakan pula kepada siapa pun; kalau kedengaran oleh polisi, jadi perkara, nanti.


Bukannya kita boleh terbawa-bawa saja, tetapi kalau sampai Sutan Hamzah terhukum, bermusuh- musuhanlah kita dengan Penghulu Sutan Mahmud. Dan lagi apakah jadinya dengan anaknya yang masih kecil-kecil itu kelak? Ibu mati, bapa terbuang."


"Masakan hamba gila, membukakan rahasia ini," jawab Fatimah.


Tatkala itu kelihatan Nurbaya berdiri, lalu masuk ke dalam biliknya, sebagai hendak mengambil apa-apa, tetapi sesungguh- nya hendak menyembunyikan air matanya, yang keluar, tak dapat ditahannya, karena ingat akan nasibnya sendiri, hampir sama dengan perempuan yang baru berpulang dan anaknya yang ditinggalkannya itu.


Setelah keringlah air matanya, barulah ia keluar pula dan kelihatan olehnya mamandanya sudah selesai makan, lalu membasuh tangannya.


"Alimah, coba ambil rokokku dari dalam bajuku!" kata Ahmad Maulana. Alimah segera berdiri mengambil rokok itu dan memberikannya kepada ayahnya.


"Sekarang makanlah kamu sekalian!" kata Ahmad Maulana pula, sambil membakar rokoknya.


Alimah dan Nurbaya mendekatlah ke sana, lalu makan bersama-sama dengan Fatimah.


"Sebenarnya pikiranku, sekali-kali tiada setuju dengan adat beristri banyak; karena terlebih banyak kejahatannya daripada kebaikannya," kata Ahmad Maulana, sambil termenung mengembuskan asap rokoknya.


"Banyak kecelakaannya yang sudah kudengar dan banyak sengsaranya, yang sudah kulihat dengan mata kepalaku sendiri."


"Ya, tetapi sudah adat kita begitu; bagaimana hendak diubah? Dalam agama kita pun tiada dilarang laki-laki beristri lebih dari seorang.


Bila kita beranak laki-laki, alangkah malunya kita, walaupun kita bukan orang berbangsa tinggi sekalipun bila anak kita itu hanya seorang saja istrinya; sebagai orang yang tak laku kepada perempuan," jawab Fatimah.


"Jadi aku ini tak laku kepada perempuan, sebab istriku hanya engkau scorang? Engkau tiadakah malu pula Alimah, sebab ayahmu tak laku kepada perempuan lain?" tanya Ahmad Maulana kepada anaknya, seraya tersenyum.


Aliniah tiada menjawab pertanyaan ayahnya ini, melainkan tunduk kemalu-maluan.


"Rupanya Mak Mudamu ini, suka kepada laki-laki yang beristri banyak, Nurbaya; sebab itu baiklah kaupinangkan aku perempuan barang selusin lagi.


Kalau tiada, ia nanti minta surat cerai kepadaku, sebab malu, kepada orang, suaminya tak laku kepada perempuan," kata Altmad Maulana pula.


Nurbaya pun tiada berani menjawab olok-olok itu hanya tersenyum, karena dilihatnya Mak Mudanya merengut.


"Suatu lagi yang tak baik," kata Ahmad Maulana; sedang senyumnya hilang dari birinya, "perkawinan itu dipandang sebagai perniagaan.


Di negeri lain, perempuan yang dijual kepada laki-laki, artinya si laki-laki harus memberi uang kepada si perempuan; akan tetapi di sini, laki-laki dibeli oleh perempuan, sebab perempuan; memberi uang kepada laki-laki.


Oleh sebab adat yang sedemikian, laki-laki dan perempuan hanya diperhubungkan oleh . tali uang saja atau karena keinginan kepada keturunan yang baik; sekali-sekali tidak dipertalikan oleh cinta kasih sayang.


Itulah sebabnya tali silaturahim antara suarni dan istri mudah putus, sehingga lekas bercerai kedua mereka. Bila telah bercerai, tentulah si laki-laki beristri pula dan si perempuan bersuami kernbali. Jadi laki-laki banyak istrinya dan perempuan banyak suaminya.


Pada bangsa Barat, biasanya suami dan istri tiada diper- hubungkan oleh tali uang atau harta, melainkan terutama oleh tali percintaan dan kasih sayang.


Karena itulah maka perhubungan mereka lebih erat sebab cinta kasih sayang itu, acap kali tiada mengindahkan harta, bangsa atau pangkat, Lagi pula, mereka itu terikat oleh perjanjian setia yang seorang kepada yang lain; tak boleh bercerai, bila tak ada sebab yang penting, sehingga bertambah kuatlah perhubungan itu."


"Ah, mengapa pula kita kan menurut adat kafir itu," jawab Fatimah, sambil membasuh tangannya, sebab telah selesai makan:


Alimah dan Nurbaya mulailah mengangkat sisa-sisa makanan, lalu menyuruh cuci piring dan mangkuk, bekas tempat makan, kepada bujang.


Sungguhpun Nurbaya bekerja, tetapi telinganya selalu dipasangnya, akan mendengar perkataan Bapa Mudanya, karena buah pikirannya sesuai benar dengan pendapatnya.


"Mereka itu kafir, kata kita; tetapi mereka barangkali berkata, kitalah yang kafir, sebab tak menurut agama mereka. Mana yang benar, wallahualam! Tak dapat kita putuskan; hanya Allah yang mengetahui. Sekalian agama datang dari pada-Nya, untuk keselamatan manusia.


Tentu saja tiap-tiap bangsa akan memuji agamanya sendiri, sebagai tiap-tiap orang memuji dirinya sendiri pula; tetapi pujian kepada diri sendiri itu, tak boleh menjadi sebab, untuk mencela diri orang lain; apalagi kalau pengetahuan kita hanya baru sekadar tentang diri kita sendiri saja.


Bagaimana dapat kita perbandingkan dua buah benda, kalau kita hanya tahu satu saja, daripada keduanya?


Tentang agama itu, yang kita ketahui hanya agama kita sendiri, itu pun belum sempurna pula. Agama lain sekali-kali tiada kita ketahui. Bagaimana dapat kita katakan buruk baiknya? Bagaimana dapat kita perbandingkan, mana yang benar, mana yang salah, antara kedua agama itu?


Cobalah pikir benar-benar! Bila aku mempunyai sebuah batu dan engkau mempunyai pula sebuah, dapatkah kaukatakan, mana lebih berat di antara kedua batu itu, jika tiada kauketahui berat keduanya?


Dan bagaimana- kah dapat kaukatakan, batumu lebih berat daripada batuku, kalau kau belum tahu berapa besar dan berapa berat batuku? Sedang- kan batumu sendiri pun belum kauketahui benar-benar, berat dan ringannya."


"Tetapi bukankah dapat dilihat dengan mata, ditaksir dengan pikiran, menurut besarnya?" jawab Fatirnah.


"Penglihatan dan taksiran tiada selamanya benar. Tirnah yang kecil, terkadang-kadang lebih berat daripada kayu yang besar. Sungguhpun demikian, harus juga kaulihat dahulu besar kedua benda itu, supaya dapat kautaksir beratnya.


Sekarang apakah pengetahuanmu tentang agama si kafir itu?


Lain tidak, hanya tentang keburukannya saja; itu pun karena mendengar cerita orang dan engkau turutlah menyebutnya sebagai seekor burung tiung meniru perkataan yang diajarkan kepadanya, dengan tiada tahu sekali-kali apa artinya.


Tidak baik begitu, sesuatu yang belum kauketahui benar- benar, janganlah kaucela lekas-lekas. Dalam agama kita pun dilarang menuduh seseorang kafir atau Islam, karena sekalian itu, hanya Tuhanlah yang tahu.


Apalagi sebab hati manusia itu tiada tetap, bertukar-tukar juga sebilang waktu. Sekarang baik, besok barangkali jahat; tak dapat ditetapkan, karena manusia itu bersifat lemah. Janganlah menilik yang lahir saja, sebab yang batin itulah yang lebih berharga.


Dan tahukah engkau akan batin orang?

__ADS_1


Walaupun pada lahirnya ia kafir, siapa tahu, pada batinnya barangkali ia Islam. Biarpun sekarang ia kafir, boleh jadi nanti berpaling hatinya, menjadi Islam.


Dan lagi pada pikiranku, agama itu tak ada yang jahat, sekaliannya baik, karena maksudnya baik belaka dan tujuannya kepada Tuhan Yang Esa." Perkataan itu tiada juga dijawab oleh Fatimah, sebab itu berkata pulalah Ahmad Maulana, setelah berdiam diri sejurus, "Sungguhpun mereka itu bangsa kafir, kata kita, ada juga adat dan aturannya yang baik.


Aturan, lain, dan agama pun, lain; jangan disamakan saja. Adat dan aturan kita benar banyak yang baik, tetapi ada juga yang salah. Apakah salahnya, kalau ditiru adat bangsa lain yang baik dan dibuang adat kita yang buruk?


Adat mereka yang jahat itu jangan kita ambil dan adat kita yang baik disimpan benar-benar.


Banyak aturan dan adat bangsa asing yang sudah kita tiru dengan tiada dipikirkan dalam-dalam buruk baiknya. Baju jas dan sepatu, pakaian siapa itu? Bukankah pakaian orang Barat? Mengapakah dipakai juga? Orang haji dan Arab pun banyak pula yang meniru pakaian Barat itu.


Berkursi, bermeja, berlampu gantung, bukan adat nenek moyang kita turut juga. Piring dan mangkuk, perbuatan siapa? Tetapi dipakai juga? Adat dan aturan siapakah yang harus diturut orang Islam? Adat orang Arab? Orang Arab makan kurma dan minum susu unta; mengapa tidak ditiru pula?


Manakah adat dan aturan kita yang asli?


Ah Fatimah, sekalian itu, hanya dunia saja; bukan akhirat; lahir, bukan batin. Pada pikiranku, walaupun apa juga yang engkau pakai atau perbuat, asal hakikatmu suci dan hatimu tiada bcrubah, tiada jadi apa-apa.


Tetapi walaupun kauturut bcnar tiap- tiap perkataan yang tersebut dalam kitab, kalau hatimu tiada suci dan lurus, tak ada gunanya."


"Ya itu betul; tetapi adat kita, pusaka nenek moyang kita, tak boleh disia-siakan atau ditukar-tukar saja. Dan lagi, tak baik kita membuang-buangnya; buruk dan baik harus diturut. Itu tandanya kita beradat.


Kalau hendak menambahnya dengan aturan lain, baik, tetapi adat kita, dipakai juga."


"Memang kurang baik membuang yang lama, karena nrendapat yang baru. Tetapi ada di antara adat dan aturan lama itu, yang sesungguhnya baik pada zaman dahulu, tetapi kurang baik atau tak berguna lagi waktu sekarang ini.


Adalah halnya seperti pakaian tatkala mula-mula dibeli, boleh dan baik dipakai, tetapi makin lama ia makin tua dan lapuk; akhirnya koyak- koyak, tak dapat dipergunakan lagi.


Kalau sayang membuang pakaian tua ini, karena mengingat jasanya, sudahlah, simpanlah ia, untuk jadi peringatan! Tetapi pakaian baru, harus juga dibeli, bukan?


Demikian juga adat itu; bertukar-tukar, menurut zaman. Walaupun tiada disengaja menukarnya, ia akan berganti juga; sebab tak ada yang tetap. Sekali air pasang, sekali tepian beralih, kata pepatah. Dan memanglah begitu."


"Baiklah, sekarang cobalah Kanda terangkan apa kejahatan adat kita di Padang ini, tentang beristri lebih daripada seorang?" tanya Fatimah pula.


"Dengarlah," sahut Ahmad Maulana. "Pertama, makir. banyak istri makin banyak belanja; scbab tiap-tiap istri itu harus dibelanjai dengan secukupnya. Bila kurang belanja, tentu saja kurang hati istri-istri itu.


Dengan demikian, mudah timbul perselisihan; dan bila selalu berbantah saja, dengan tiap-tiap istri yang banyak itu, tentulah kehidupan kurang senang."


"Rupanya Kakanda lupa akan perkataan Kakanda tadi dan adat kita yang asli, yaitu laki-laki tak usah memberi belanja istrinya atau anaknya, karena anak istrinya itu tanggungan mamaknya.


Laki-laki dipandang sebagai orang semenda, orang menumpang saja; jadi walaupun istri dan anak banyak, tiada menyusahkan."


"Bukan aku lupa," jawab Ahmad Maulana. "Itulah yang lebih terasa di hatiku. Laki-laki tak usah memberi belanja dan memelihara anak istrinya, bahkan dapat makan dan pakaian pula dari perempuan.


Dan apabila laki-laki itu berbangsa, tatkala kawin, dijemput pula oleh perempuan, dengan uang dan pakaian. Jadi apa namanya laki-laki itu? Karena sesungguhnya laki-laki itulah yang harus memberi nafkah dan memelihara anak istrinya, sebab perempuan lebih lemah dari laki-laki.


Bila dibandingkan laki-laki dengan perempuan, tentang bentuk badannya, kekuatannya, akalnya dan lain-lain, nyatalah laki-laki bangsa yang melindungi anak-istri, sanak saudara, harta benda, kampung halaman, baik tentang musuh ataupun keperluan yang lain-lain, untuk kehidupan.


Perempuan tempat menyimpan dan mempertaruhkan anak dan harta benda. Tetapi menurut adatmu tadi, perempuari menjadi laki-laki dan laki-laki menjadi perempuan. Tiada sesuai dengan aturan alam."


"Boleh jadi." jawab Fatimah, "tetapi bukan perempuan itu sendiri yang memberi makan suaminya, melainkan mak-bapa dan ahli si perempuan itu."


"Baik, aku terima jawabmu itu, walaupun memang ada negeri yang sesungguhnya perempuannya yang mencari penghidupan, karena ialah yang bekerja, berniaga dan lain-lain sebagainya, sedang suami tidur-tidur, bersuka-suka hati, mengadu ayam, mengadu burung atau berjudi.


Tetapi apakah namanya laki-laki yang sedemikian itu? Bukankah laki-laki ini dapat disamakan dengan bapa kuda atau bapa sapi, yang dipelihara baik-baik dan diberi makan cukup, semata-mata hanya karena hendak meng- harap keturunannya saja?


Kalau laki-laki itu bangsawan atau iupawan, sudahlah; sebab ada yang diharapkan dari padanya yaitu rupa yang balk atau bangsanya yang tinggi itu, supaya turun kepada anaknya, meski- pun bangsa itu makin lama makin berkurang harganya dan makin kurang dipandang orang.


'Fetapi, kalau laki¬laki itu tiada berbangsa tinggi, tiada berupa baik, kepala bersegi, telinga lebar, mata juling, hidung penyek, mulut lebar, gigi keluar, punggung bungkuk, kaki timpang pula sebelah, apakah yang diharapkan dari orang yang sedemikian?


Segala cacatnya itukah, supaya anak cucunya sama bagusnya dengan dia?"


"Laki-laki yang serupa itu masakan laku! Yang dibeli, tentulah yang bangsawan, rupawan, pintar, berpangkat atau lain- lainnya," jawab Fatimah.


Tetapi adat yang kita perbincangkan tadi, yaitu laki-laki dipandang sebagai orang yang inenumpang saja, kedapatan juga pada orang kebanyakan, jadi bukan pada orang yang istimewa saja.


Lagi pula, daripada sifat-sifat yang kausebut itu, hanyalah kebangsawanan dan rupawan saja yang dapat diturunkan kepada anak cucu. Tetapi pangkat yang tinggi atau ilmu yang dalam itu apa gunanya, kalau tak dapat menolong anak?"


Maka tiadalah pula dapat Fatimah memberi jawaban.


"Kedua," kata Ahmad Maulana, setelah berhenti sejurus, "makin banyak istri; dan makin banyak anak, makin banyak pula belanja..."


"Tunggu dulu," kata Ahmad Maulana, sebab dilihatnya istrinya hendak menjawab, "aku tahu, apa yang hendak kau katakan, yaitu anak yang banyak itu tiada menjadi alangan, bukan? Sebab sekalian anak itu ada bermamak, yang harus memeliharanya.


Tetapi karena hal itulah, tak ada pertalian cinta kasih sayang antara anak dan bapa, sebagai antara laki dan istri tadi itu pula. Dengan demikian, laki-laki itu tiadalah tahu yang dinamakan: Cinta kasih sayang kepada anak dan istrinya.


Yang dikenalnya hanya sayang kepada kemanakannya. Tetapi kesayangan kepada kemanakan, tiada dapat disamakan dengan cinta kepada anak, darah daging sendiri.


Dan anaknya itu takkan tahu pula cinta kepada bapanya, hanya kepada ibunya saja, sedang cinta kepada mamaknya tiada seberapa.




Istrinya hanya cinta kepada anaknya, sebab darah dagingnya, tetapi suaminya orang lain pada perasaannya. Sebab itu jaranglah mereka mendapat persatuan suami-istri dan kesenangan berumah tangga, yang sangat berharga bagi bangsa Barat.


Dan lagi, pikirlah! Kesalahan siapa maka anak itu sampai ada di dunia? Bukannya ia yang minta dilahirkan, melainkan mak- bapanya yang menjadikannya. Sekarang sesudah anak itu lahir, ia diserahkan kepada orang lain, yang sekali-kali tiada bersalah dalam hal ini.


Walau mamaknya sekalipun, kesayangannya tiadalah akan sama dengan kesayangan ayahnya sendiri...


Bagaimana rasanya itu? Cobalah kaupikir benar-benar! Jangan buta tuli, memandang adat saja. Mana yang dekat kepada si bapa, anaknya atau kemanakannya? Anaknya darah daging- nya, kemanakannya anak saudaranya, walaupun yang sedarah dengan dia.


Ada orang yang bersangka, anak itu sesungguhnya terlebih dekat kepada mamaknya daripada bapanya, karena itu terang kemanakan mamaknya, sebab kelihatan dilahirkan oleh saudara si mamak itu, yang sedarah dengan dia.


Tetapi ia belum tentu anak si bapa; boleh, jadi juga anak laki-laki lain, yaitu kalau ibunya tiada setia kepada suaminya. Jadi si bapa itu sebagai kurang percaya kepada anak dan istrinya.


Hal yang ganjil ini pada sangkaku, asalnya dari adat zaman dahulu kala, tatkala perempuan boleh bersuami banyak atau tatkala perkawinan belum teratur benar sebagai sekarang ini. Tetapi adat itu tiada sesuai lagi dengan keadaan dewasa ini.


Perkara perkawinan pun telah teratur dengan baik, artinya tiap- tiap laki-laki tentu istrinya dan perempuan tentu pula suaminya, disaksikan oleh orang banyak, waktu mereka kawin.


Aku tiada hendak mengatakan, bahwa tiap-tiap anak itu, tak dapat tiada anak bapaknyalalt; tentu boleh jadi juga anak laki- laki lain.


Tetapi hal yang sedemikian, jarang terjadi sehingga sekali-kali tak patut menjadi alasan, anak mengganjilkan diri dari apa adat orang sedunia ini, yaitu pusaka turun kepada anak.


Kaulihat, itulah suatu contoh yang menyatakan, bahwa sesuatu adat yang dahulu barangkali baik, tetapi sekarang ini, mungkin tiada berharga lagi.


Tak baiklah adat yang telah lama seperti ini, disimpan saja dalam peti, kalau perlu, akan jadi tanda mata daripada'nenek moyang kita dahulu kala?"


Perkataan itu pun tiada dapat disalahkan oleh Fatimah, sebab itu diputarnya tujuan perbincangan ini sedikit dengan berkata, "Tetapi bukankah baik banyak anak, supaya bangsa kembang biak."


"O, kalau itu maksudmu, memang benar sekali. Seharusnya- lah tiap-tiap bangsa itu mengembangkan bangsanya, sebagai tersebut dalam agama. Tetapi memelihara bangsa itu, kewajiban pula. Jangan menjadikan saja pandai, mernelihara tak mau.


Betapa bangsa itu dapat kembang dengan sempurna, jika tiada dipelihara sendiri baik-baik? Bekerja jangan tanggung, Mah!


Ketiga, walaupun tersebut dalam kitab (agama), laki-laki boleh beristri sampai empat orang, tetapi haruslah harta si laki- laki itu berlebih dahulu daripada untuk memelihara seorang istri dengan sempurna dan haruslah pula ia adil dengan seadil-adil- nya, dalam segala hal, kepada keempat istrinya itu; haruslah boleh.


Kalau tiada, menjadi dosa; sebab kelakuan yang tak adil itu mendatangkan dengki khianat antara istri-istri itu. Tetapi kebanyakan laki-laki itu tiada adil kepada sekalian istrinya.


Biasanya yang baru itulah yang lebih disayanginya, daripada yang lama; yang muda lebih digemari daripada yang tua; yang bagus, lebih disukai daripada yang buruk. Itu tak boleh; sekalian- nya harus sama, belanja, pakaian, rumah tangga, cinta kasih sayang dan lain-lain sebagainya.

__ADS_1


Adakah laki-laki kita yang dapat berbuat sedemikian? Dalam seribu jarang seorang. Kebanyakan, dalam segala hal, dilebih- kannya yang terlebih dicintai.


Mustahil akan dapat sama cinta kepada segala istri, sebab telah ditakdirkan Tuhan, manusia itu terlebih ingin dan terlebih sayang kepada yang molek daripada yang buruk.


Kelakuan yang serupa itulah yang acap kali menimbulkan cemburu dan dengki, antara istri-istri itu, sehingga terbitlah perbantahan, antara laki-laid dengan istrinya dan antara istri dengan istri.


Walaupun kepada istri yang mana laki-laki itu pergi, yang diterimanya tiada lain daripada muka masam, per- kataan yang kurang sedap didengar, penjagaan yang kurang sempurna, terkadang-kadang umpat dan maki, sehinb ga akhirnya jadi berkelahi.


Adakah senang kehidupan yang sedemikian?


Lagi pula, istri-istri yang dipermadukan itu, tiada lurus hatinya kepada suaminya, baik dalam perkara apa juga. Ada pula istri itu yang menjadi jahat, yang berbuat kelakuan yang tak senonoh, karena hendak membalaskan sakit hatinya kepada suaminya.


Perhubungan yang memang kurang kuat tadi, menjadi bertambah-tambah longgarlah, sehingga akhirnya, hanya tinggal surat kawin saja lagi, yang memperaihatkan kedua mereka.


Meskipun aku laki-laki, tetapi pada pikiranku, tiada boleh suami berkecil hati, bila istrinya yang dipermadukannya itu tiada mengindahkan suaminya, karena suami itu pun tiada pula mempedulikan perasaan hati istrinya.


Perempuan manakah yang dapat menahan hati, meliltat suaminya dengan perempuan lain? Adakah laki-laki yang dapat senang hatinya, melihat istrinya dengan laki-laki lain? Pada pikiranku tak ada.


Keempat, ada juga perempuan yang rupa-rupanya, tiada mengindahkan kelakuan suaminya, yang suka beristri banyak itu, sebab perempuan itu sangat sabar. Tetapi acap kali kesabaran inilah, tanda kurang sayang kepada suaminya.


Karena cemburu itu bukankah timbulnya daripada hati yang cinta?


Apabila istri-istri itu sama cinta kepada suaminya, tentulah masing-masing mencari akal supaya ia lebilt disayangi suaminya daripada madunya.


Kebanyakan akal ini bukan dijalankan dengan memperbaiki kelakuan atau rumah tangga atau apa saja yang dapat menarik hati suami tadi, melainkan dengan jalan berdukun dan pekasih.


Tiap-tiap istri, mencari dukun yang pandai akan mengobati si suami, supaya ia lebih dicintai daripada madunya; terkadang- kadang sampai berhabis harta benda.


Si dukun bukannya mempergunakan ilmu saja, melainkan acap kali memakai ramuan dan obat-obatan yang harus dimakan si laki-laki.


Betul maksudnya baik, tetapi sebab ramuan pekasih itu tiada selama- nya barang yang bersih, lama-kelamaan, karena terlalu banyak makan obat itu, dari sana-sini, dari sekalian istrinya rusak juga badannya.


Bukan seorang dua orang laki-laki yang telah menjadi kurban perbuatan dukun seperti itu. Sayang!


Perempuan yang tiada sabar, terkadang-kadang, karena sangat sakit hatinya dipermadukan, bukan pekasih yang diberi- kannya kepada suaminya yang sedemikian, tetapi racun; sehingga bertambah-tambalt lekaslah ia berpulang ke negeri yang baka.


Alimah, coba beri aku air teh segelas! Kering mulutku rasa- nya bercerita ini," kata Ahmad Maulana kepada anaknya.


Alimah segera keluar dari dalam biliknya, mengambil apa yang diminta oleli ayahnya itu. Kemudian kembali pula ia ke dalam biliknya, sedang Nurbaya di sana, pura-pura duduk men- jahit, tetapi sesungguhnya didengarkannya benar-benar segala perkataan bapa mudanya ini.


"Kelima, apabila perempuan tadi hatinya kurang baik." kata Ahmad Maulana pula, sesudah minum teh, "bukannya suarninya saja yang diberinya ramuan itu, tetapi madunya pun diberinya juga; bukan supaya sayang kepadanya, hanya supaya dibenci oleh suaminya, ada pula yang membuat, agar madunya itu lekas berkalang tanah.


Siapa tahu, barangkali Rapiah ini kurban per- buatan yang sedemikian pula. Kasihan!


Keenam, banyak perempuan yang telah dipermadukan itu, karena takut beroleh kesakitan dan kesedihan pula, tiada hendak kawin lagi, bila ia telah diceraikan oleh suaminya. Jika sekalian perempuan berbuat demikian bagaimanakah akhirnya?


Bagai- manakah engkau dapat mengentbangkan bangsamu dengan perempuan yang tak hendak kawin?


Barangkali waktu ini hal ini belum memberi khawatir, karena kebanyakan perempuan, belum dapat mencari kehidupan sendiri akan tetapi kalau mereka telah pandai pula sebagai laki-laki, tentulah lebih suka mereka mencari penghidupan sendiri daripada selalu makan hati, sebab dipermadukan oleh suaminya.


Perempuan pun kawin, karena hendak mencari kesenangan juga, bukan karena hendak mengabdi kepada laki-laki."


"Itulah sebabnya tak baik arak perempuan disekolahkan," kata Fatimah.


"Supaya tinggal budoh dLn selama-lamanya menjadi budak laki-laki, bukan? Boleh diperbuat sekeh ndak hati; sebagai kerbau, diberi bertali hidungnya, supaya dapat ditarik. Dan disuruh ke mana suka oleh yang mengembalakannya.


Jika engkau sendiri, sebagai seorang perempuan, suka bangsamu diperbuat sedemikian, suka hatimulah! Tetapi kalau aku menjadi perempuan, sekali-kali aku tak mau menerima peraturan ini." Tatkala itu terdiamlah pula Fatimah, karena tak dapat men- jawab perkataan suaminya. ,


"Ketujuh, perempuan yang dipermadukan itu, hatinya tiada lurus kepada suaminya dalam segala hal, seperti telah kukatakan tadi.


Janganlah dipandangnya suaminya sebagai kekasihnya,, sebagai sahabatnya pun tak dapat dibenarkannya; karena pada penglihatan dan perasaannya, laki-laki itu ialah tuannya yang bengis. Bagaimanakah dapat hidup senang dan sehati dengan musuh yang dibenci?


Ah Fatimah, banyak lagi kejahatan adat beristri banyak itu; kemudian boleh kuceritakan pula. Sekarang mataku sudah mengantuk, suruhlah, si Hasan memadami lampu dan menutup pintu!"


Tiada berapa lamanya kemudian daripada itu, gelaplah rumah Ahmad Maulana, sunyi senyap; karena lampu sudah dipadami dan sekalian pintu jendela sudah ditutup.


Hanya di belakang rumah itulah masih kedengaran suara si Hasan, bujang Ahmad Maulana, bersenandung perlahan-lahan, akan menggolekkan dirinya sendiri.


Di dalam biiik Alimah, kelihatan Nurbaya dengan saudara sepupunya ini, masih menjahit. Sebentar-sebentar Nurbaya berhenti, lalu termenung, sebagai ada yang dipikirkannya.


"Nur, datang pula penyakitmu?" tanya Alimah.


"Bukan. Lim; hanya aku masih ingat akan perkataan bapa tadi sebab pikirannya itu sangat terbenar dalam hatiku dan menimbulkan ingatan kepada untung kita bangsa perempuan ini," jawab Nurbaya.


"Nur, jangan kau banyak menyusahkan pikiranmu dengan ingatan yang sedih-sedih! Penyakitmu rupanya masih ada. Segala kenang-kenangan yang pilu-pilu, belum hendak hilang dari hatimu.


Bukankah engkau sudah berjanji kepadaku, akan menetapkan pikiranmu supaya jangan tergoda pula lagi?"


"Bukan hatiku rawan, Lim; memang hal ini sudah lama terpikir olehku. Cobalah kaupikir benar-benar, nasib kita perempuan ini! Demi Tuhan yang bersifat rahman dan rahim, kita telah dikurangkan daripada laki-laki, teman kita itu.


Sengaja kukatakan teman kita laki-laki itu, karena sesungguhnyalah demikian walaupun banyak di antara mereka yang menyangka, mereka itu bukan teman, melainkan tuan kita dan kita hambanya. Pada persangkaan mereka, mereka lebih daripada kita, tentang kekuatan dan akal mereka.


Betul kita lemah daripada laki-laki dan barangkali juga tiada sepandai laki-laki, akan tetapi kelemahan tubuh kita dan kekurangan akal kita itu, bukanlah sebab kelihatan kita yang kurang atau otak kita yang tiada sempurna; hanya karena tubuh kita, sangat berlainan dengan laki-laki. lngatlah.


kita ini bangsa ibu, karena anak itu kita yang mengandungnya melahirkannya, menyusukannya, memelihara- nya dan membesarkannya. Laki-laki tak tahu apa-apa, hanya tahu senangnya saja.


Ingatlah perasaan perempuan yang hamil itu, muntah-muntah sakit-sakit, tak sedap perasaan badan. Bukanlah sekalian itu penyakit? Oleh sebab kira-kira dua bulan sesudah kita beranak, kita telah bunting pula, bolehkah dikatakan, kita hampir selamanya dalam sakit-sakit.


Lihatlah perempuan yang tiap-tiap tahun beranak! Bagaimana halnya? Badan rusak, lekas tua, umur pendek. Bagaimana kita dapat menyamai kekuatan laki-laki, yang boleh dikatakan selalu dalam sehat?


Lagi pula, segala pekerjaan laki-laki menambah kekuatan badannya dan tajam pikirannya, tetapi pekerjaan kita perempuan dari rumah ke dapur dan Jari dapur ke rumah, menjaga anak, rnemasak, mencuci dan membersihkan rumah tangga; sekali-kali bukan pekerjaan yang rnenambahkan kekuatan dan pikiran.


Laki-laki tahu perbedaan ini dan ia tahu pula penanggungan kita tatkala kita hamil. Akan tetapi pengetahuannya itu jangan- kan menjadi pandangan padanya, yang menimbulkan iba kasihan kepada kita, tidak, melainkan ditertawakan dan dipermainkan pula kita.


Ada pula yang kawin, di waktu istrinya bunting atau beranak. Kitakah yang berkehendak akan nasib yang malang ini? Kitakah yang meminta, supaya dijadikan begitu?


Oleh sebab laki-laki itu tiada merasai penanggungan, kesengsaraan dan kesakitan kita ini, itulah sebabnya tiada diindahkannya hal kita.


Jarang laki-laki yang ingat, bahwa ibunya yang telah bersusah payah mengandung, melahirkan dan memeliharanya, bangsa perempuan juga, bukan bangsanya sendiri, yaitu laki-laki."


"Benar sekali katamu itu, Nur," jawab Alimah, sarnbil termenung memikirkan perkataan adiknya ini.


"Marilah kuteruskan uraian ini! Terlebih dahulu penanggungan perempuan, karena anaknya, yang sebetulnya bukan anaknya sendiri, melainkan anak berdua dengan laki-laki.


Oleh sebab itu haruslah kesusahan dan kesenangan yang diperoleh, karena anak itu, terbagi sama rata atas ibu dan bapa. Tetapi bukan begitu halnya, sebagai yang telah kupaparkan tadi.


Dan walaupun perempuan yang terlebih bersusah payah atas anak itu, bahagia yang diperoleh lebih kepada bapanya daripada kepada ibunya, karena anak itu kelak lebili dikenal sebagai anak ayahnya daripada anak ibunya.


Bila anak itu menjadi orang yang berpangkat tinggi misalnya, siapakah yang terlebih beroleh nama baik, bapanya atau ibunya? Bila orang bertanya. "Anak siapakah yang baik, itu?" Yang disebut nama ayahnya, bukan nama ibunya. Perempuan Barat, harus pula memakai nama suaminya.


Adakah adil perempuan ini?


Ah, keadilan! Adakah engkau dalam dunia ini atau tidak? Kalau ada, di manakah engkau tersembunyi? keluh Nurbaya, lalu termenung seketika.


Kemudian berkata pula ia, "Apabila kita hamil dua tiga bulan bedan kurang segar kepala pening-pening, penglihatan kurang terang pendengaran kurang nyata, perut selalu tak enak, acap kali muntah, nafsu makan tiada tentu, yang enak, tak lazat rasanya tetapi yang tak enak, disukai.


Terkadang-kadang barang yang tak ada atau sukar dicari atau tak patut dimakan, itulah yang diidamkan. Kalau tak dapat, hati susalt dan sedih.

__ADS_1


Pikiran pun kurang sempurna, acap kali suka marah dan benci kepada seorang, tetapi sayang kepada yang lain, dengan tak ada sebab karenanya.


__ADS_2