
“kenapa kau menabrak lenteraku…” ucap anak perempuan itu ketus, bagaimana tidak kesal, Lentera yang telah lama dia buat harus hancur karena tertabrak Lentera Yan San.
“Ma-Maaf, aku tidak tahu kalau kau juga akan menaruh Lentera di sana” ucap Yan San beralasan, walau fisik Yan San berusia 10 tahun tetapi usia Yan San sebenarnya 20 tahun jadi mana mungkin Yan San menyukainya.
“Apa mungkin lentera itu rusak” batin Yan San, dia menatap Lenteranya yang menabrak Lentera milik anak perempuan itu, walaupun Sistem tidak pernah berbohong, dan bisa dibilang gila akan kejujurannya, tapi tetap saja Yan San masih ragu untuk menggunakanya.
“Untuk apa kau menatapnya terus…Percuma saja barang yang sudah hilang tidak akan kembali” ucap anak perempuan itu menyindir Yan San, dia memandang Yan San sebagai anak yang masihlah polos walau begitu dia tetap waspada jika saja Yan San termasuk salah satu orang yang mengetahui soal matanya.
memang benar Yan San menatap lekat mata milik anak perempuan itu, mata yang dia miliki termasuk mata yang langka yang sistem punya dan harganya sangat lah mahal, bahkan jika dewa mengetahuinya mungkin mereka akan memperebutkan mata itu.
“Mata peri bulan… Aku harus mendapatkannya!”ucap Yan San di dalam hatinya penuh gairah, anak perempuan itu membuang muka untuk menutupi pipinya yang merah malu saat melihat wajah Yan San lebih teliti, ternyata jika di perhatikan lebih teliti Yan San memiliki wajah yang tampan yang menjadi idaman semua wanita hanya saja usia Yan San masih lah anak berusia 10 tahun, jika saja usiannya lebih matang mungkin sudah diperebutkan sejak tadi.
Belum lagi tatapan matanya seolah ingin menelanya hidup-hidup, membuatnya bingung harus mengatakan apa, “Wajah itu…Wajah yang selalu jadi idamanku, kenapa harus wajah itu muncul di waktu yang tidak tepat, bahakan aku berani mengatainya…Bodohnya aku!” di dalam hati perempuan itu mengumpati dirinya sendiri, andai dia tahu kalau wajah seseorang yang dia idam-idamkan akan muncul di Pesta Seribu Lentera, mungkin sebelum keluar dari kereta dia akan merias wajahnya lebih cantik lagi.
Yan San mengerutkan keningnya, walau tahu anak perempuan itu kagum dengan ketampanan yang dia punya tapi apa harus sebegitunya, sampai-sampai dia bisa membuat malu seorang bocah, pikir Yan San terus memuji dirinya sendiri.
__ADS_1
Setelah puas memuji dirinya sendiri Yan San berjalan pergi meninggalkan anak permpuan yang masih tidak mau menatapnya itu.
“Tu-Tunggu…” Yan San menghentikan langkahnya, dia menoleh kembali ke arah anak permpuan yang kini sedang tertunduk.
“Ada apa…Katakan saja, lagi pula aku tidak akan marah kok” ucap Yan San menenangkan anak perempuan yang masih merasa bersalah,mendengar ucapan Yan San membuat perasaan senang bercampur gugup muncul di benaknya, dengan suara yang di buat-buat.
“Boleh aku tahu namamu…kak” tanya anak perempuan itu dengan suaranya yang imut di buatnya, dan pipinya yang semburat merah walau di usia yang masih anak-anak tetapi sudah menunjukan kecantikan yang luar biasa, apa jadinya nanti mungkin kalau sudah dewasa.
“Nama…Namaku Yan Hao” ucap Yan San memperkenalkan dirinya dengan Nama yang baru sebagai penyamaran, Yan San tersenyum puas, jika dia bisa dekat dengan anak perempuan itu ketika sudah di usianya yang matang maka kekuatan yang dia dapat akan sangat besar.
Deg…
“Kau belum menyebutkan Namamu?” tanya Yan San, meski merasa kesal karena anak perempuan tidak mengenalkan diri saat Yan San sudah mengenalkan dirinya dengan Nama palsu, tapi melihat tingkahnya yang salah tingkah membuat Yan San merasa harus menahan amarahnya, dan harus terus menjaga senyuman tulus yang dia paksakan.
“Ma-Maaf, Nama saya Xu Yu” ucap anak perempuan yang mengenalkan dirinya sebagai Xu Yu.
__ADS_1
Yan San yang sudah mengetahui Nama anak perempuan itu pergi ke dalam kerumunan orang meninggalkan Xu Yu, saat tahu Yan San pergi ke dalam kerumunan orang banyak Xu Yu menyebrangi sungai melewati jembatan yang berhiaskan lentera berbentuk kelinci yang imut.
walau Xu Yu menyukai lentera berbentuk kelinci yang menempel di jembatan itu, Xu Yu tidak memikirkan nya dan terus berlair memasiki kerumunan yang di lewati Yan San.
dia terus berlari di kerumunan sampai banyak tempat yang di sukai Xu Yu terlewat seakan dia tidak mengenal tempat itu, Xu Yu terus berlari di dalam kerumunan, dia tidak menyadari ternyata Yan San sedang menyantap makanan di salah satu toko terkenal yang di sukai oleh Xu Yu.
tempat itu sebenarnya sudah di pesan oleh keluarga Xu milik Xu Yu, hanya saja bayaran yang di tawarkan Yan Dan lebih besar hanya untuk sebuah meja kosong, dan untuk makanannya yang dia pesan adalah makanan terbaik yang tempat ini miliki.
Yan San menyantap makanan yang telah di siapkan, sementara orang-orang keluarga Xu masih menunggu seseorang.
“Hah…Yu’er pergi terlalu lama. Han” seorang pemuda yang di panggil laki-laki itu mendekat, dan membungkuk hormat, “saya kepala Xu?” ucap pemuda itu sopan.
“Iya, cari Yu’er sampai ketemu, dan bilang untuk cepat kemari Ayah dan Kakek telah lama menunggunya” titah pria yang menyebutkan dirinya sebagai ‘Ayah Yu’er’, entah siapa anak dari kepala keluarga Xu membuat yan san penasaran dan ingin bertemu dengan nona muda keluarga Xu itu.
Yan San memakan makanannya dengan begitu anggun dan tiu jelas menarik perhatian kepala keluarga Xu\, dirinya baru menyadari bahwa Yan San ternyata memiliki ketampanan yang jauh di atas rata-rata keanggunan Yan San ketika menyantap makanan\, belum lagi pencapaian yang telah berada di ranah pemula*9 yang keluarga Xu lihat sebenarnya pelatihan Yan an telah di sembunykan sejak dirinya mencapai tahap transformasi qi*1 secara otomatis oleh sistem dengan harga 100 poin bintang sebagai bayaranya\, karena itu lebih baik yan san menunjukan pelatihannya yang berada di Pemula*9\, dari pada menunjukan pencapaianya yang akan membuat orang mengejarnya dan itu sangatlah buruk untuk kedepanya.
__ADS_1
Malampun semakin larut dan perbangan Lentera akan segera di mulai, jadi Yan San memutuskan untuk meninggalkan tempat ini.
“Ternyata kamu di sini Kak Hao…” Yan San menoleh ke arah sumber suara, dan mendapati Xu Yu di depan pintu masuk sedang melambaikan tanganya ke arahnya dengan wajah senang.