Status Titipan

Status Titipan
Bab. 18


__ADS_3

"Hey, ngomong-ngomong Via kok lama banget perginya ke toilet, apa dia baik-baik saja?" Tanyanya Mika yang baru menyadari temannya itu belum pulang juga.


"Mungkin banyak antrian kali sehingga belum datang," timpal Gisele Cindy Claudia yang mengunyah sambil berbicara.


"Kamu kebiasaan makan sambil bicara," ketus Mike.


Via berjalan cepat menuju dalam ruangan bioskop karena tidak ingin membuat sahabatnya menunggunya terlalu lama.


"Kalau memang mami dan papi sudah meninggal dunia,maka ijinkan aku Tuhan untuk menemukan makamnya kalaupun makamnya enggak ada maka perlihatkan aku dalam mimpi jika beliau benar-benar sudah meninggal dunia," gumamnya Via hingga ujung sudut ekor matanya melihat ada benda yang dijatuhkan oleh seseorang yang berjalan ke arah pintu keluar yang terburu-buru memakai jas lengkap pakaian kerja.


"Hey Tuan berhenti!! Barang milik Anda terjatuh!" Teriaknya Via seraya memungut benda tersebut sambil berlari.


Via berlari kencang ke arah pintu keluar tanpa memperdulikan pandangan dan tatapan orang-orang terhadapnya dan orang yang berlalu lalang di dalam salah satu mall tersebut di pusat ibu kota Jakarta.


Via terus berlari secepat mungkin sembari tangannya menggenggam erat sebuah benda yang seperti map yang berwarna coklat.


"Pak, Tuan! Tunggu milik Anda terjatuh, tolong stop!" Jeritnya Via yang semakin menambah kecepatan laju larinya hingga mobil yang terparkir dia lompati begitu saja hingga empat unit ia dijadikan tumpuan untuk melompat.


Pria itu seperti orang yang tidak mendengar sedikit pun apa yang diteriakkan oleh Via Oktanara Edward. Via berinisiatif untuk menghadang mobil berwarna putih itu dengan menaiki mobil di depannya lalu melompat dengan kencang.


Ciiitttt!!


Suara decitan mobil bergesekan dengan aspal yang cukup panas disiang hari itu yang cuaca dan sinar matahari sangat terik disiang bolong. Via sama sekali tidak gentar untuk mundur atau menghindar ketika mobil itu terus melaju ke arahnya.


Via hanya merentangkan kedua tangannya agar mobil itu segera berhenti seusai keinginannya. Tanpa ada rasa grogi, cemas yang mendera hatinya Via,dia malah seperti seakan menantang pengendara mobil tersebut untuk apa berani atau malah ketakutan.


"Kenapa kamu berhenti!?" Teriak Tuan tersebut yang duduk di kursi jok belakang.


Sang supir pribadi tersebut sudah panik, ketakutan, cemas hingga keringat bercucuran membasahi pipi dan sekujur tubuhnya itu.


"Ehh itu Tuan ada gadis yang tiba-tiba melompati ke hadapan mobil lalu berdiri di sana Tuan Besar," jelas Pak Miming supir pribadinya itu.

__ADS_1


Pria yang dipanggil Tuan itu segera keluar dari mobilnya, Via membelalakkan matanya saking terkejutnya melihat pria yang berjalan ke arahnya dengan tatapan matanya yang tajam.


"Papi William," beonya Via yang meneteskan air matanya karena pria yang dilihatnya di depannya dengan berdiri tegak.


Pria itu tanpa sengaja mendengar cicitannya Via lalu tersenyum tipis.


"Maaf nama saya bukan William tapi, Raka Zaidan Wils," ujarnya Pria itu yang menampilkan wajah ramahnya.


"Maaf Pak saya teringat dengan papi saya, oiya ini sepertinya milik Anda Pak karena tadi saya lihat dan perhatikan kalau benda yang jatuh itu miliknya Bapak dan kebetulan saya melihatnya sehingga buru-buru untuk memungut dan mengantarkan barang ini yang menurutnya saya sangat penting," terangnya Via sembari mengangkat map cokelat itu di hadapan matanya Pak Raka.


Raka tersenyum tipis sambil meraih berkas yang sangat penting hasil dari kerja sama perusahaannya dengan perusahaan asing dari Shanghai Cina.


"Makasih banyak kamu sudah membantuku padahal setahu saya berkas ini berada di dalam tasku," imbuhnya Raka seraya memeriksanya dengan seksama berkas itu.


"Sama-sama Pak,saya tadi kebetulan lewat di sekitar area tempat itu kok jadi saya yang lihat punya bapak terjatuh jadi saya tolongin," jelasnya Via.


"Sekali lagi makasih banyak dek, kamu sudah bantuin saya, sebagai rasa terima kasihku saya undang kamu datang ke rumahku untuk makan malam, silahkan datang saja kapanpun yang kamu inginkan panggil juga beberapa teman kamu juga," pintanya Raka.


"Enggak enak Pak entar ngerepotin lagi,"tukasnya Via lagi.


Via meraih kartu nama itu, "Makasih banyak kalau begitu Pak atas undangannya," imbuhnya Via.


Setelah mereka berbincang-bincang santai, Raka pria yang mirip papinya itu segera pergi dari hadapannya Via. Sedangkan Via sama sekali tidak berkedip terus memandangi Pria itu hingga mobilnya tidak nampak dari pelupuk matanya.


"Dia sangat mirip dengan Papi, tapi hanya wajahnya saja sedangkan sikapnya pria tadi lebih humble dan ramah kepada orang lain sedangkan papi terkesan dingin dan arogan serta wajahnya garang dan tegas," cicitnya.


Raka tersenyum penuh arti melihat Via dari kaca spion mobilnya. Sedangkan Via masih betah berdiri di tempatnya semula tanpa bernuat untuk bergerak sedikitpun.


"Apa di dunia ini ada yang namanya kebetulan mirip?" Lirihnya Via.


Raka saling bertatapan satu sama lainnya dengan Pak Miming lalu tersenyum penuh maksud.

__ADS_1


"Rencanaku berhasil semoga saja tidak ada yang cepat sadar dengan apa yang aku lakukan ini," bathinnya.


"Tuan Muda,apa kita harus segera menghubungi Nyonya Muda mengabarkan semua ini?" Pak Miming menatap tuannya melalui kaca spion.


"Nanti setelah berhasil barulah kita hubungi Nyonya Muda pasti ia sangat bahagia mendengar kabar ini," tuturnya Raka.


Via menatap ke arah langit karena berusaha untuk mencegah air matanya menetes membasahi pipinya itu.


"Saya berharap pria tadi adalah papiku Tuhan, apakah aku masih punya waktu dan kesempatan untuk bertemu dan berkumpul dengan keluarga kecilku lagi?" Batinnya Lila Oktavia Pricillia atau nama samarannya Via Oktanara Edward.


Via berbalik badan ingin melangkahkan kakinya menuju ke arah dalam area mall tersebut. Tapi, dia sedikit terkejut melihat semua temannya sudah berlari ke arahnya sambil memeluk tubuhnya Via.


"Via!" Jeritnya Mika dan Gisele seolah seperti orang yang lama tidak bertemu saja.


"Auhh! Aku enggak bisa bernafas gara-gara pelukannya kalian, kalau gini terus aku bisa kehabisan oksigen aku mati deh," candanya Via yang melihat raut wajah ketiga sahabatnya itu nampak jelas terlihat kepanikannya itu.


"Kamu yah sering banget buat kami khawatir, untungnya kami lihat video seorang gadis yang melompati banyak mobil dengan aksi heroiknya dan nekatnya itu mampu menjadi trending topik di semua jejaring sosial," ujarnya Mike yang sedikit tidak suka karena kemampuannya Via terekspos keluar dunia umum.


"Kalian pasti salah lihat, itu pasti bukan saya kali mungkin itu orang lain yang mirip dengan saya saja," kilahnya Via sambil menatap ke arah Mike dan memberikan kode agar segera bertindak mengatasi hal itu.


Mike yang mengerti dengan tatapan penuh arti itu segera bertindak cepat untuk menghentikan berita tersebut.


"Aku pamit pulang duluan yah, soalnya kakakku meminta sesuatu padaku," ucapnya Mike yang tatapan matanya terus tertuju pada Via yang diam-diam menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan kepergian Mike.


"Kalau itu benar video kamu pasti kami sangat bangga dan bahagia punya teman yang jago aktraksi gitu apalagi kalau kamu jago berkelahi pasti buat semua orang terkagum-kagum terutama aku akan menjadi penggemar kamu loh," pujinya Giselle.


Jangan lupa untuk memberikan dukungannya yah! mampir juga dinovel aku yang judulnya:


Majikan Ayah Dari Anakku


Rindu Bintang Kejora

__ADS_1


Garis Tanganku


Makasih banyak all readers..


__ADS_2