Status Titipan

Status Titipan
Bab. 27


__ADS_3

Raka Zaidan Wils atau William Edward Liem adalah papa kandungnya Via. Pak William terpaksa menyamar menjadi Tuan Muda Raka setelah mengalami kecelakaan maut bersama istrinya.


Hari ini Tuan William ingin menemui Via secara langsung dan menjelaskan apa sebenarnya terjadi dan berencana untuk menemukan otak dalang penyebab kecelakaan mobilnya beberapa tahun silam.


"Aku harus bekerjasama dengan putriku sendiri, aku sudah mengetahui kemampuannya, untuk menemukan siapa pelakunya yang sebenarnya, karena aku yakin ini semua berkaitan dengan saudari kembarnya Pinkan, tapi aku tidak boleh gegabah mengatakan secara gamblang apakah Natalia benar-benar pelakunya atau bukan, tapi semua bukti yang saya dapatkan mengarah kepadanya," gumamnya William sambil menyimpan berkas penting ke atas dasboard mobilnya itu.


William segera mengemudikan mobilnya menuju rumahnya Via tempat tinggalnya selama di Jakarta. Rumah salah satu sahabatnya sekaligus asisten terbaiknya sejak mereka masih muda hingga detik ini.


Sedangkan Mika Tambayong Lampard, Mike Lewis Hamilton, Giselle Cindy Claudia, Via Oktarani William mereka adalah sahabat empat sahabat mereka menjalin hubungan persahabatan sejak mereka baru pertama kali kuliah hingga sekarang mereka sudah duduk di semester terakhir.


Mereka menyantap makan siang bersama mereka di salah satu cafe terdekat dari kampusnya mereka.

__ADS_1


"Ngomong-ngomong apa kamu akan menikah dengan Arsene Antonio Leonardo?" Tanyanya Mika sambil menyeruput minuman dinginnya.


"Rencananya belum ada niat sih dalam waktu dekat ini, soalnya aku belum menemukan papi dan mami apakah benar-benar mereka sudah meninggal atau masih hidup, karena aku baru-baru ini mendapatkan informasi yang sangat akurat jika, mereka masih hidup, apakah kalian percaya jika Du dunia ini ada orang yang tidak kembar ataupun tidak ada sama sekali hubungan darah tapi bentuk tubuh, warna kulit, wajahnya sangat mirip hanya 1 persen perbedaan mereka," ungkap Via.


"Serius apa yang kamu katakan?" Tanyanya Mike mulai serius dengan menatap intens Via yang berbicara penuh kesungguhan.


"Kalau menurut aku nih kan kamu hingga detik ini tidak menemukan makamnya kedua orang tuamu berarti besar kemungkinannya adalah mereka masih hidup, feelingku mengatakan seperti itu," timpalnya Gisele yang masih sesekali mengunyah makanannya karena piringnya masih penuh dengan makanan pesanannya yang porsi jumbo.


"Kami bantu kamu sebisa kami apapun itu agar kamu bisa berkumpul dengan beliau," pungkasnya Mika.


"Apa kamu enggak meminta bantuan kepada Abang Arsene saja karena aku yakin dia bisa percepat pencarian kamu itu, apalagi mengingat Arsene bukan orang biasa seperti kami ini," ucapnya Gisel.

__ADS_1


"Apa yang dikatakan oleh Gisele benar adanya, kalau menurut aku sih itu ide yang bagus kenapa nggak segera kamu jalankan saja secepatnya," ujarnya Mike.


Berselang beberapa menit kemudian, mereka terdiam sesaat ketika seorang pria yang masih kelihatan tampan di usianya sudah kepala empat itu duduk di antara mereka. Semua kaum hawa yang duduk di sampingnya Via membelalakkan matanya saking tidak percayanya melihat pria dewasa yang cukup tampan itu duduk tepat di depan Via.


Bahkan Via sama sekali tidak berkedip melihat pria yang berada di depannya itu, bukan karena sebagai perempuan kepada laki-laki tapi, kagum melihat pria yang sangat mirip dengan papanya yang sudah lama tidak melihatnya, sudah bertahun-tahun tidak merasakan kebahagiaan.


"Papi Wild," sapanya Via dengan raut wajahnya yang sumringah saking gembiranya melihat pria yang barusan menjadi bahan topik pembicaraan hangat mereka berempat.


"Maafkan uncle sudah menggangu kegiatan dan kenyamanan kalian berempat, apakah saya bisa berbicara empat mata dengan Via sebentar saja?" pintanya Pak William papa kandungnya itu.


Keempatnya segera berlalu dari hadapan kedua tanpa banyak tanya ataupun protes. William dan Via segera berbicara serius, terkadang dari raut wajah mereka menyiratkan kebahagiaan, keseriusan dan terkadang ada semangat ketakutan dan juga kecemasan dan kemarahan mengingat pembicaraan mereka sungguh serius.

__ADS_1


__ADS_2