Status Titipan

Status Titipan
Bab. 8


__ADS_3

"Tunggu waktu yang tepat hingga Nona akan menyadari arti penting dari kehidupan, disaat itu Anda akan hidup seorang diri dalam kubangan penyesalan!" Umpatnya Edward yang wajahnya sudah menetes darah segar.


Hahaha, suara tawanya Natali tidak berhenti terus menggema dan menggelegar memekakkan gendang telinga semua orang yang berada di dalam kamar pribadinya Natalie yang sudah seperti kapal pecah saja.


Rena tanpa sengaja melihat kekasihnya diperlakukan kasar oleh Natalie majikannya.


Rena menggenggam erat kepalan tangannya," aku akan membalas perlakuan Nona kepada kami!" Umpatnya Rena.


"Edward bereskan semua kekacauan ini, aku akan ke dokter untuk bertanya kapan aku bisa kembali ke Indonesia," perintahnya Natalie Naomi Hawks.


Edward hanya menundukkan kepalanya tanpa berniat untuk menimpali perkataannya Natalie. Edward segera membersihkan sisa dari barang-barang pecah belah dan beling yang sudah tidak berbentuk lagi.


"Edward, sepertinya Nona Natalie butuh ke psikiater bukan ke dokter kecantikan," sarkasnya Christy asisten rumah tangganya Natali.


"Hush hati-hati jangan sampai ada yang orang lain yang dengar bisa-bisa nyawa kamu melayang," larangnya Edward.


Mereka membersihkan kamar itu dalam beberapa saat kemudian, agar tidak mendapatkan amarah dari majikannya.


Sedangkan jauh dari tempat itu, Pinkan Angelina dan William sedang menikmati kebersamaan dengan keluarga kecilnya. Pinkan melayani suaminya itu dengan sepenuh hatinya dan kedua anaknya. Lila Oktavia Pricilla sudah dinyatakan membaik dan sembuh total dari penyakitnya.


"Sayang, gimana dengan Lionel Richie putra kita apa masih tidur?" Tanyanya William sambil mengoles roti tawar untuk Pinkan padahal sudah dicegah oleh istrinya.


Kebiasaan yang sering dilakukan oleh William setelah menikah dengan Pinkan mengalami perubahan yang cukup besar dan signifikan. Banyak yang senang karena berkat Pinkan, William sudah lebih bersifat tidak kejam lagi terhadap semua orang yang melanggar aturan yang dibuatnya.


"Lionel sudah bangun lagi, tapi dimandiin sama baby sitternya," jawabnya Pinkan Angelina.


"Kamu sesekali bawa jalan-jalan ke taman supaya kulitnya terkena sinar matahari," ujarnya William yang menampilkan sisi lembutnya hanya di depan anak dan istrinya.


Richard segera berjalan ke arah tuannya dan memberitahukan jika sudah waktunya Lila berangkat ke sekolahnya.


"Maaf Tuan Besar sudah waktunya Nona Lila berangkat ke sekolahnya," ujarnya Richard yang menundukkan kepalanya di hadapan William dan Pinkan


"Mami, boleh tidak hari ini aku tidak ke sekolah saja!" Rengeknya Lila dengan wajah memelasnya.


Pinkan segera mengangkat tubuhnya Lila ke atas pangkuannya," sayang putrinya Mami hari minggu nanti kita akan jalan-jalan ke Singapura sama Papi jadi hari ini harus sekolah dulu yah," bujuknya Pinkan agar anaknya bisa mengerti dengan perkataan darinya.


Kedua matanya berbinar terang saking bahagianya dan antusiasnya mendengar perkataan dari mulut mamanya itu.

__ADS_1


Lila mengayunkan jari kelingkingnya di hadapan maminya itu," janji kali ini tidak akan batal lagi," Tanyanya Lila yang mulai serius berbicara dengan maminya itu.


Pinkan menganggukkan kepalanya lalu menatap kearah suaminya,"Papi benar kan kalau hari minggu nanti kita akan ke Singapura jenguk Kakek Luis?"


"Iya sayang,Papi janji kali ini tidak akan batal lagi, tapi ingat Lila tidak boleh nakal dan rewel selama kita dalam perjalanan," pinta William kepada anak sulungnya itu.


Lila segera turun dari pengakuannya Pinkan kemudian berlari kecil ke arahnya William lalu mengecup pipi kanannya papinya itu.


Mereka bercengkrama pagi itu hingga waktu yang memisahkan keluarga kecil bahagia itu. Sedangkan ada seseorang yang sedari tadi tersenyum penuh arti mendengar rencananya William yang akan bepergian ke Singapura.


"Saya harus segera menghubungi Tuan secepatnya agar mereka segera bersiap untuk melanjutkan rencana yang beberapa bulan ini tertunda," gumamnya.


Waktu terus berlalu, tiba saatnya hari minggu. William dan istrinya bersiap untuk berangkat ke Singapura karena sudah hampir enam bulan tidak pernah mengunjungi kakek buyutnya Lila dan Lionel.


Mereka melakukan perjalanan menggunakan jet pribadi. Raut bahagia tak pudar dari wajah mereka semua. Karena setelah pernikahannya dengan Wiliam yang sudah hampir tiga tahun itu, ini yang kedua kalinya mereka kembali menginjakkan kakinya di tempat kelahiran William.


"Apa kamu bahagia sayang?" Tanya William yang kebetulan duduk berdampingan dengan putri kecilnya itu.


Lila menganggukkan kepalanya tanda setuju dengan perkataan dari papanya.


Berselang beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di bandara,tapi entah kenapa perasaan Lila tidak enak ia ingin buang air kecil setelah turun dari pesawat.


Lila yang sudah duduk di kursi jok belakang bersama adiknya yang baru jalan tiga tahun lebih itu "Mami, apa boleh Mami Lila ke kamar kecil, soalnya kebelet sudah," tuturnya Lila yang sudah menyentuh bagian bawahnya.


William segera memberikan kode kepada Lila agar mengijinkan anaknya ke toilet diantar oleh anak buahnya itu.


"Lila mau diantar sama mami saja, Lila tidak mau kalau orang lain yang anterin Lila," tolaknya Lila yang merengek meminta apa yang diinginkannya dipenuhi.


"Baiklah kalau begitu, kalian pergilah biarkan saya yang disini, kamu juga periksa pampersnya Lionel sepertinya butuh diganti," terangnya William lalu kembali melanjutkan pekerjaannya menghadapi laptopnya yang sedari tadi dipangkunya itu.


Baru sekitar sepuluh menit kepergian Pinkan dan kedua buah hatinya itu berjalan ke arah toilet, tiba-tiba mobil yang ditumpanginya berjalan. Karena saking seriusnya bekerja sampai-sampai William tidak fokus dan tak menyadari jika mobilnya sudah berjalan terus.


Anak buahnya segera menghentikan laju mobilnya itu disaat sudah jauh dari bandara. Ada beberapa orang yang menghadang dan membuka paksa pintu mobilnya William lalu membius William hingga dia pingsan.


William berusaha untuk melawan beberapa orang yang berpakaian jas lengkap dengan topeng menutupi seluruh wajahnya itu.


William memberontak dan berusaha untuk melawan pria yang bertubuh kekar tersebut, "Kalian siapa? Berani-beraninya kalian me…," ucapannya terpotong karena sudah tidak sadarkan diri.

__ADS_1


William menatap ke arah belakang dan ternyata anak buahnya yang berjumlah hanya lima orang itu sudah tidak nampak. Sebelum ia kehilangan kesadaran sempet berbicara menyebut nama anak dan istrinya.


"Semoga mereka tidak ketangkep," Lirihnya lalu tidak sadarkan diri.


"Beritahukan segera ke Bos kalau Tuan Besar William sudah tidak sadarkan diri lagi,apa kita langsung terjunkan mobilnya ke dalam jurang yang dipinggir laut?"


Salah satu dari mereka segera menghubungi Bos besarnya. Dan tidak lama mobil tersebut segera berjalan ke arah pantai yang tidak terlalu jauh dari lokasi mereka sekarang.


Setelah tiba di ujung jurang, seseorang segera melompat dari dalam mobil, mobil tersebut terjatuh ke dalam air laut yang cukup dalam. Dan tidak lama mobil itu meledak dan terbakar.


"Tamatlah riwayatmu, dendam adikku sudah terbalaskan," geramnya pria yang bertopeng itu.


Sedangkan di sekitar bandara, Pinkan sama sekali tidak mengetahui apa yang terjadi pada suaminya itu. Dia menyimpan anaknya di luar toilet tidak jauh dari tempatnya berada, karena tiba-tiba perutnya sakit.


"Kamu yang masuk amankan istrinya biarkan aku yang mengantar anak itu ke tempat pengeksekusiannya," ucapnya pria yang paling tinggi dari mereka semua.


"Oke, aku yakin akan masuk untuk membius perempuan itu tapi, ingat lakukan yang terbaik jangan sampai kamu buat kecewa bos kita," pungkasnya.


Pria itu menaikkan jempolnya," tenang saja, saya akan menjalankan dengan baik sesuai dengan perintah," timpalnya.


"Hati-hati dan segera kembali ke markas setelah kamu membereskan kedua anak sial itu,"


Mereka segera menjalankan masing-masing tugasnya yg sudah diberikan kepada mereka.


"Saya emang jahat, tapi tidak akan membiarkan kedua anak yang tidak berdosa itu mati, karena saya akan membiarkan dia hidup dan suatu saat dia yang akan membalas dendam kepada kalian semua atas kejahatan dan kebiadaban kalian semua," cicitnya dengan senyuman penuh maksudnya.


Pinkan yang baru saja keluar dari toilet tanpa disadarinya dibekap mulutnya dari belakang. Ia terus memberontak terhadap pria itu, tapi apa lah daya kekuatannya kalah karena sudah hampir kehilangan kesadarannya.


Jangan lupa untuk memberikan dukungannya yah! mampir juga dinovel aku yang judulnya:


Majikan Ayah Dari Anakku


Rindu Bintang Kejora


Garis Tanganku


Makasih banyak all readers..

__ADS_1


__ADS_2